TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 67


__ADS_3

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE. DUKUNG TERGODA DENGAN CARA TERSEBUT.


Follow IG : asriainunhasyim


Selamat membaca😘


.


.


.


Arumi memandangi ponsel kala sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal 'Selamat Malam'. Mata indah Arumi tak berkedip. Siapa gerangan?


Wanita cantik itu memilih untuk tidak membalas. Mungkin saja salah sambung atau bahkan orang yang iseng.


Namun tak lama kemudian, pesan kedua kembali menyusul 'Aku Harun, maaf kalau mengganggu'. Arumi terpaku melihat nama yang tertulis.


Aku Harun. Izinkan Aku mengenalmu lebih jauh.


Wajah pria yang datang ke tokonya beberapa jam yang lalu kembali terlintas. Arumi mendengus. Ada apa lagi pria itu? Apakah dia tidak lelah mengganggunya?


Yang ketiga 'Apakah kita bisa bertemu besok? Jangan takut, aku cuma ingin ngobrol.'


Dengan cepat Arumi mengetik balasannya 'Aku sibuk.' Terlalu malas baginya jika harus membuang waktu untuk bertemu dengan pria yang baru dikenalnya.


*****


Bukannya marah atau kesal dengan sikap Arumi. Justru dirinya semakin penasaran. Berarti wanita tersebut tidak gampangan. Diajak ketemu dan langsung mengiyakan. 'Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?'


Yah, jika Arumi tak ingin bertemu di luar, maka dirinya memilih untuk datang ke rumahnya. Walau dengan resiko dia harus berhadapan dengan bundanya, karena hanya paruh baya itulah yang mengetahui alamat pasti rumah dari owner dessert tersebut.


Sedangkan Arumi, matanya membulat penuh. Apakah pria itu masih waras? Untuk apa juga dia datang ke rumahnya? Kepalanya betul-betul pusing dibuatnya.

__ADS_1


Lebih baik dia tidak membalasnya. Arumi menonaktifkan ponsel dan menyimpannya di atas nakas. Meladeni pria seperti itu tidak akan pernah ada akhirnya.


Arumi mematikan lampu dan memilih tertidur.


*****


Harun kembali menemui bundanya di ruang keluarga. Jujur dia deg-degan. Tapi itulah jalan satu-satunya. Karena yang tertera di kemasan dessert tersebut hanya nomor telpon dan alamat tokonya.


Pria berusia 29 tahun tersebut mendudukkan dirinya di samping orang yang telah melahirkannya.


"Bunda." Harun memulai pembicaraan. Bersyukur adik dan ayahnya sudah tak berada di tempat yang sama. Mungkin mereka berdua telah kembali ke kamar, jadi dirinya leluasa untuk bicara.


"Ada apa, Nak?" balas Bunda Ira.


"Bunda tahu alamat rumah owner dessert Arumi?"


Bunda Ira tertegun mendengar pertanyaan sang anak. Apakah dia tidak salah dengar? Putranya mempertanyakan alamat rumah Arumi?


"Hei, untuk apa?" tanya Bunda Ira dengan penasaran.


Satu kalimat yang keluar dengan lugas dari mulut Harun membuat bunda Ira senang bukan kepalang. Apa jangan-jangan anaknya menyukai wanita itu?


Bunda Ira memperbaiki posisi duduknya yang semula bersandar. Wanita paruh baya itu menghadap putra semata wayangnya. "Harun, jujur sama Bunda. Apakah kamu menaruh hati kepada Arumi?" Harap-harap cemas Bunda Ira menanti jawaban putranya.


Harun menipiskan bibir. Selang beberapa detik dia mengangguk. "Do'akan Harun."


Ingin Bunda Ira sujud syukur saat ini juga. Harapannya terkabul. Sekian lama wanita paruh baya itu menunggu saat-saat Harun memperkenalkan dengan wanita pilihannya, dan sebentar lagi tiba.


"Apa perlu ayah dan Bunda lamarkan untukmu malam ini juga?" Tidak ada masalah jika cepat. Toh, ini memang keinginannya dari dulu. Bunda Ira juga sudah kenal dengan mama Reni.


Harun sudah menduga hal ini akan terjadi. Dirinya baru memulai tahap pendekatan, akan tetapi bundanya sudah antusias ingin melamar. Harun menggaruk dahinya yang tidak gatal. Bagaimana dia menjelaskan?


"Harun katakan iya! Saat ini juga Bunda berangkat." Bunda Ira mendesak putranya.

__ADS_1


"Bunda ... Harun juga sementara berusaha untuk pendekatan dengannya. Kalau semua sudah siap, pasti Harun akan memberitahu." Pria itu menjelaskan dengan lembut kepada sang ibu. Takut jika wanita itu salah paham.


"Baiklah, Bunda mengerti. Tapi pergerakanmu jangan terlalu lama. Nanti orang lain mendahuluimu," wanti-wanti bunda Ira.


Harun mengangguk. "Bunda tidak usah khawatir. Bunda cukup restui langkah Harun. Dan jika memang dia jodohku, maka Allah akan satukan kami." Bijaksananya pria itu berucap.


Wanita paruh baya itu tersenyum sumringah dan mengangguk. "Aamiin. Pasti, Nak!" ucapnya seraya menepuk punggung tangan Harun.


*****


Malam semakin larut namun Akmal masih duduk memandangi putri yang tertidur lelap. Dari raut wajah pria itu jelas tergambar kegundahan.


Ingatannya tertuju kepada Arumi. Ingin sekali dia menemui wanita itu untuk meminta maaf. Bayang-bayang rasa bersalah masih jelas menghantuinya.


"Arumi ...."


Apakah dia harus nekat mendatangi rumah Arumi? Tapi apa kabar dengan mantan ibu mertuanya? Mungkin dia akan menolak mentah-mentah kedatangannya. Jangan sampai hal tersebut menimbulkan masalah baru.


Akmal mengusap wajahnya.


Dia hanya berharap, waktu berbaik hati mempertemukan mereka dalam ketidaksengajaan. Melepas kerinduan yang lama terpendam. Mengakui ketidak berdayanya selama ini.


Yah, kemungkinan terburuk adalah wanita itu masih menyimpan dendam padanya. Tapi dia akan tetap berusaha.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2