TERGODA

TERGODA
Tergoda 42


__ADS_3

Batang rokok berserakan. Tak terhitung sudah berapa dia habiskan. Matanya pun tak pernah tertidur sejak semalam hingga membuat kantung matanya menghitam. Akmal hanya duduk di balkon kamar entah apa yang dia tunggu.


*Tok! Tok*!


Berulang kali Debby mengetuk pintu kamarnya namun Akmal tak pernah membuka. Pria itu mengunci pintunya rapat-rapat.


"Mas, buka pintunya ...."


Debby terus mengucap kalimat itu namun tak direspon oleh Akmal. Saat sudah capek berteriak, Debby membalikkan badan. Dia melangkah mengelilingi rumah itu.


Matanya menyusuri setiap dinding. Melihat foto Akmal dan Arumi yang tampak sangat bahagia. Foto mulai saat mereka pacaran sampai menikah. Rasa cemburu mulai menggelayuti hatinya.


"Harusnya tempatnya tak disini lagi," gumamnya.


Wanita itu masuk kamarnya kembali. Dia mengambil ponsel. Sejak semalam nomornya tak pernah diaktifkan.


Saat benda canggih itu menyala beserta data selulernya, sudah banyak panggilan tak terjawab dan WhatsApp yang masuk. Yah, dia membuka satu persatu.


'Kamu dimana? Buka sosial mediamu lihat apa yang terjadi!'


Debby menelan ludah saat membaca pesan tersebut dari teman sejawatnya. Dia membuka sesuai dengan perintah temannya.


DEG!


Berita perselingkuhannya yang didapatkan. Fotonya tersebar dimana-mana namun dengan caption yang menyakitkan. Banyak pihak yang menyerangnya.


Memberikan sindiran pedas. Bahkan sangat pedas. Jantungnya berdentum hebat sejurus dengan keringat dingin yang mulai membasahi.


Air matanya sudah tak tertampung lagi. Kata-kata sanjungan yang selalu didapatkan berubah menjadi hujatan tak berperikemanusiaan. Sama dengan sikapnya kepada Arumi.


Debby meremas benda itu hingga tangannya memerah. "Arrggghhh! Kenapa begini ...." Dia terduduk.


Tiba-tiba ponselnya berdering kembali menampakkan nama orang tuanya. Ketakutan semakin menguasainya. Dia menelan ludah dan menahan isakan.


Apa yang harus dilakukan?


Deringan kedua. Dengan segera tangannya bergetar menggeser tombol hijau. "H-"

__ADS_1


"Dimana kamu?!" Suara lantang ayahnya bak ingin memecah benda tersebut.


Debby menggigit bibirnya hingga berbekas. Dia tak pernah mendapat perlakuan seperti itu sebelumnya dari orang tua.


"Dimana kamu?!"


Bentakan kedua. Disela-selanya terdengar pula suara isakan. Yah, itu suara ibunya. Kedua orang tuanya pasti telah mendapat informasi tentang dirinya.


"A-ayah ... hiks!"


"Kembali ke rumahmu sekarang!" titah pria paruh baya itu tak terbantahkan.


kedua orang tua Debby telah berada di rumahnya. Mereka datang saat wanita itu tak ada di sana.


Debby mematikan ponselnya dan berjalan menuju kamar Akmal. "Mas! Buka pintunya! Ayah datang ... aku takut!"


Debby betul-betul syok dengan apa yang terjadi. Masalah beruntun datang kepadanya. "Mas! Buka ...."


Tangis Debby semakin menjadi. Lagi-lagi Akmal tak merespon ucapan wanita itu. Dia masih setia menghisap batang rokoknya.


*****


Debby mengusap air matanya. Wanita itu melangkah keluar. Dia akan pulang menggunakan taksi online. Namun saat dia keluar matanya tertuju pada mobil milik Arumi.


Semalam Dini mengembalikan kendaraan tersebut dan menyimpan kuncinya di depan pintu. Debby tak menyentuh benda tersebut. Dia melaluinya begitu saja.


Tak lama kemudian pesanan taksinya datang. Debby melangkah menuju mobil. Dia segera masuk dan melaju pergi.


Di perjalanan dia hanya terdiam. Menatap kosong ke luar jendela. Wajahnya betul-betul dipenuhi ketegangan.


*****


Kedua paruh baya telah menunggu dengan perasaan yang bergejolak. Dia mendapat kabar tak sedap dari salah satu tetangga yang dikenalnya. Kabar yang seketika mencoreng nama baiknya dan membuatnya malu bukan main.


Saat mobil berhenti di depan rumah semua berdiri. Ibunya semakin menangis saat melihat putrinya keluar dari kendaraan tersebut dan berjalan mendekat. "Hiks! By ...."


"Dari mana kamu?" Pak Wijaya bertanya kepada putrinya dengan suara dingin dan menusuk.

__ADS_1


Debby tak menjawab. Wanita itu terdiam. Dia hanya menunduk. Meremas jemari satu sama lain.


"Jawab?!" Bentaknya yang membuat orang tersentak kaget. Seketika air mata Debby mengalir. Emosi betul-betul menguasai pria paruh baya itu.


"A-aku ...."


"Apa kamu sadar dengan perbuatanmu Debby?!" Suara bentakannya yang keras terdengar hingga ke tetangga seberang. Membuat orang-orang berkumpul.


Pria paruh baya itu mendekati putrinya dan mencengkram kuat lengan wanita itu. Isakan Debby dan ibunya semakin menjadi. "Siapa pria itu?!"


"Hiks! K-kami s-saling m-mencintai, Ayah ...."


Pak Wijaya menggertakan giginya. Dia mengangkat tangan namun cepat istrinya menahan dan memohon. "Jangan ...."


Dada pak Wijaya kembang kempis. "Dia membuat malu keluarga! Dia mencoreng nama baik kita! Bagaimana kita akan menghadapi orang-orang!"


Pak Wijaya melepas tangannya dan menunjuk Debby. "Menikah sekarang atau jangan pernah muncul di kehidupan kami lagi!" tekan Pak Wijaya.


.


.


.


.


.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉


Agar jadwalnya lebih jelas dan teman-teman tidak menunggu tanpa kepastian (Ciee), silahkan follow akun IG: asriainunhasyim


"INFONYA DAPAT DILIHAT DI INSTASTORY"


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2