TERGODA

TERGODA
Tergoda 21


__ADS_3

Setelah isakannya terhenti, Arumi duduk berhadapan dengan sang suami. Matanya basah, air menggenang di pelupuk matanya meluncur kembali.


"Apa maksud makan siang itu? Siapa yang memberikan, Mas?" Begitu pilunya dia berbicara. Jemarinya mencengkram tangan Akmal.


Akmal hanya terdiam. Dia mencoba mencerna situasi sekarang. Kecewa jelas pria itu rasakan. Bagaimana tidak, selama ini dirinya mengira Arumi yang mengiriminya paket beserta dengan secarik kertas.


Sebisa mungkin Akmal tak menampakkan. Dia juga kasihan melihat Arumi. Dengan bodohnya dia dikuasai emosi sehingga membuat wanitanya menangis.


Akmal meraup kembali Arumi dalam pelukannya. Dia berulang kali meminta maaf kepada wanita itu.


******


"Mas mengira, kamu memberikan kejutan dengan mengirimkan, Mas, makan siang." Akmal menjelaskan segalanya kepada Sang Istri. "Mas, tidak memberitahumu karena mengira kamu tak mau membahasnya."


Arumi menggeleng lemah. Dia tidak pernah mengirim sesuatu ke kantor Akmal. Yah, termasuk makan siang itu. Perasaannya kembali bergejolak namum sebisa mungkin dia mencoba mengendalikan.


"Mas, salah sangka." Akmal mengingat bagaimana semangatnya menunggu paket itu datang. Meskipun sederhana tapi dia suka. Dia merasa hal tersebut bentuk kepedulian Arumi terhadapnya. Tapi kenyataan berbanding terbalik.


"Mas, suka?" tanya Arumi dengan suara yang amat serak.


Akmal tersenyum getir. "Awalnya, Mas, suka karena mengira kamu yang mengirimnya."


Arumi hanya terdiam tanpa kata. Banyak hal yang berputar di otaknya. Baru saja dia melakukan pemeriksaan dan disarankan untuk tidak stres tapi masalah yang menimpanya membuatnya berpikir keras.


******


Malam harinya. Arumi tidur lebih dulu sedangkan Akmal berada di ruang kerjanya. Pria itu tampak melamun. Dia mengabsen satu persatu wajah yang memungkinkan terlibat dalam pengadaan kotak makan tersebut.


Ibunya tidak mungkin karena secarik kertas tersebut menyebut kata 'Mas'. Siapakah gerangan yang sudah mengorbankan waktu untuk menyiapkan makanan tersebut untuknya selain istri dan ibu?


Otaknya betul-betul dipaksa untuk berpikir. Dia mengingat mantan-mantannya. Tapi tidak ada yang dicurigai. Karena Akmal memang tak memiliki mantan pacar yang lama selain Arumi. Dan sekarang wanita itu telah menjadi istrinya.


Akmal mengingat temannya bersama Arumi, termasuk Dini. Tapi secepat mungkin dia menggilas.


Selanjutnya, wanita berambut gelombang. Akmal mengerjabkan mata. Apakah orang tersebut yang melakukan? Yah, banyak hal yang memungkinkan bidadari itu pelakunya.


Pria itu menegakkan duduk. Meraih ponsel yang ada di atas meja dan beranjak dari duduknya kembali ke kamar. Akmal mencari ponsel istrinya dan menyalin sebuah nomor.

__ADS_1


Pria itu kemudian keluar balkon agar percakapannya tak mengganggu tidur Arumi. Dia segera menghubungi nomor tersebut.


"Hallo." Terdengar sapaan dari seberang sana.


Akmal memejamkan mata. Biar bagaimanapun dia harus memastikan untuk menjawab kegundahannya. "Kamu dimana?"


Sejenak wanita di seberang sana terdiam. Dia tidak menyangka jika Akmal menghubungi "Di rumah."


"Kirimkan sekarang lokasi rumahmu." Setelah mengatakan itu, Akmal memutuskan sambungan telpon.


Tak lama kemudian, pesan masuk dari wanita yang ditelponnya beberapa detik lalu. Akmal membuka pesan tersebut dan membaca alamat yang dikirimkan bidadari penunggu itu.


******


Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Akmal bersiap-siap. Dia mengambil jaket kulit dan meraih kunci mobil.


Sebelum keluar, dia menatap Arumi yang tidur begitu pulasnya. Wanita itu kelelahan karena menangis selama berjam-jam.


Akmal mengecup kening istrinya dan melafadzkan kembali permintaan maaf yang amat tulus. Setelah itu, dia melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.


Diperjalanan, Akmal memutar musik kesukaannya dengan Arumi. Kembali dia mengenang masa-masa pacarannya dengan wanita itu.


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan


cinta datang dan bertakhta


Cinta karena cinta


jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan


karena hati ini telah bicara*


*****

__ADS_1


Debby masih memandangi ponsel. Dia tak percaya jika Akmal menghubungi dan meminta alamat rumahnya. Dia tak tahu maksud dari pria itu.


Apakah dia akan datang?


Debby menggeleng. Hal itu tidak mungkin mengingat ini sudah larut. Lagi pula, untuk apa dia datang ke rumahnya? Ada urusan apa?


Dia menghempaskan benda tersebut dan berbaring kembali. Debby menatap langit-langit kamar dengan sedikit cahaya. Dia membayangkan wajah pria itu.


Semenjak insiden yang menimpa, dia tak ada niat ke rumah Arumi untuk sementara waktu. Debby takut tak bisa mengontrol perasaannya.


*****


Kurang lebih 30 menit, pria itu telah sampai di depan sebuah rumah yang berukuran sedang. Lampu terasnya menyala dengan benderang. Menampakkan sedikit halaman rumah yang tak begitu luas namun asri.


Sebenarnya dia ragu untuk masuk ke dalam. Akmal menimbang-nimbang sesaat dan melihat jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan.


Akhirnya dia memutuskan untuk masuk. Semakin lama dia berpikir maka malam akan semakin larut.


Dia keluar dari mobil dan melangkah mendekati pintu. Akmal memencet bel untuk memberi tahu kepada pemilik rumah bahwa dirinya ada di luar menunggu.


1 kali


2 kali


3 kali


Tak lama kemudian pintu sedikit demi sedikit terbuka dan ....


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2