TERGODA

TERGODA
Tergoda 34


__ADS_3

Jam istirahat, Dini berjalan memasuki kawasan rumah sakit. Dia dan kedua temannya mengunjungi salah satu rekan kerja yang di rawat.


Ketika hendak bertanya kepada perawat, tiba-tiba matanya menangkap dua sosok yang tak asing. Yah, dia Debby dan Akmal. Dini membulatkan mata. Kenapa mereka berdua? Kemana Arumi? Terlebih tangan wanita itu bergelayut.


Ada yang tidak beres, batin Dini.


Dini meminta izin kepada ketiga temannya. Dia berjanji akan menyusul nantinya. Secara diam-diam dia mengikuti dari belakang. Arah mereka menuju ruang pemeriksaan ibu hamil.


Jantung Dini mulai berdetak hebat. Dia menelan ludah. Tanpa terasa dia gemetar. Bayang-bayang saat Dini berkunjung ke rumah wanita itu dan melihat gerak gerik yang aneh.


Apa jangan-jangan ....


Dini menggeleng cepat. "Aku harap tidak," ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar.


Pandangannya tak pernah lepas dari kedua insan itu. Namun sialnya Debby terus saja menempel pada Akmal membuat Dini menggertakan gigi. Dia mengepalkan tangannya.


Saat Keduanya memasuki ruangan, Dini tak sekalipun bergeser dari posisinya. Dia menunggu Akmal dan Debby keluar. Darahnya betul-betul memanas.


"Apakah mereka bermain curang di belakang?" monolog wanita itu dengan keadaan emosi.


Jika sampai sesuatu terjadi, dialah yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Bagaimana tidak, Dini yang membawa Debby masuk dalam kehidupan sahabatnya.


Lama wanita itu menunggu, dia melihat Akmal keluar dari ruangan tersebut dalam keadaan frustasi. Tanpa sadar, Dini terhuyung ke belakang.


"A-apa yang terjadi ...."


Dia harus memastikan segera. Wanita itu menunggu kepulangan mereka dengan perasaan berkecamuk. Saat keduanya pergi Dini mendatangi perawat yang bertugas dalam keadaan kalut.


"Mo-hon maaf, sus ...." Dini menelan ludah sebelum berucap. Kalimatnya tercekat di tenggorokan. Dia betul-betul takut.


"Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya perawat tersebut.


"P-pasien yang b-baru keluar i-itu kenapa, yah?" Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


"Oh iya. Dia memeriksakan kehamilan."


DEG!


Bagai disambar petir. Wanita itu mendengar kenyataan yang betul-betul membuatnya terguncang. "Ham-" Dini memejamkan mata. Kenapa bisa wanita itu hamil sedangkan dia tak punya suami? Dan mengapa harus bersama suami sahabatnya?


Kakinya lemas seketika. Dia syok. Benar-benar syok. Apa ini? Bagaimana ini? Perawat yang memperhatikan mengerutkan kening. "Ada apa, Bu?"


Dini menggeleng lemah. "Tidak." Tanpa permisi wanita itu memutar haluan kembali pulang. Dia seketika melupakan janjinya dengan temannya.


"A-aku harus mengikuti mereka," tekadnya.

__ADS_1


Dia mengumpulkan tenaga dan berlari keluar rumah sakit. Sesampainya di parkiran di mengedarkan pandangan melihat plat mobil Akmal. Beruntung, kendaraannya belum melaju.


Dini segera masuk dalam mobilnya. Dia langsung menyembunyikan wajahnya pada kemudi. Apa yang telah dia lakukan? Dini telah memasukkan bom pada rumah tangga sahabatnya.


"Aku yang salah. Aku benar-benar salah."


Dini mengangkat wajahnya. Dia menajamkan pengelihatan. Matanya memerah. Emosi betul-betul menguasai dirinya. "Dasar wanita tak tahu diri! Kalau sampai itu terjadi, akan kupastikan kau akan malu." Dini mencengkram kemudi hingga tangannya memerah.


Dia melihat mobil Akmal telah melaju. Wanita itu mengikuti dari belakang. Yah, menuju rumah Debby. Dia lagi-lagi melihat Akmal dan Debby begitu dekatnya.


Dini turun. Dia melihat tetangga dari Debby sedang menyapu halaman. Dini mengulik informasi. "Mohon maaf menganggu, Bu."


Wanita paruh baya itu menghentikan aktivitasnya. Dia menatap ke sumber suara. "Iya. Ada apa, De?" jawabnya seraya mendekati Dini.


"Ibu, tahu wanita yang tinggal di sebelah?" Dini menunjuk rumah Debby.


"Oh, Debby ...." ucap wanita itu.


Dini mengangguk mantap. "Ibu tahu pria yang tadi bersama Debby?"


"Iya! Saya sering lihat pria itu datang ke rumahnya. Pagi dan malam, De. Saya tidak tahu pasti namanya, tapi yang jelas, pria itu tak pernah absen belakangan ini." Wanita paruh baya itu membicarakan dengan ekspresi tidak senang.


"Noh, mobilnya." Wanita itu berucap dengan membulatkan mulutnya.


Dini menggertakan gigi. Kehidupan sahabatnya hancur. Dia menatap tajam rumah tersebut.


Dini berpamitan dengan wanita paruh baya itu. Dia meninggalkan kawasan tersebut. Di jalan tak henti-hentinya dia mengumpat. "Dasar pria brengsek! Wanita tak tahu malu!"


Tanpa terasa air matanya jatuh. "Aku yang menyebabkan kekacauan ini." Dini memikirkan keadaan sahabatnya. Dia tak menyangka jika rumah tangga Arumi yang tampak sempurna ternyata diambang kehancuran.


Dia yang paling bersalah antar keduanya. Dini yang membawa wanita itu datang ke kehidupan sahabatnya. "Arumi harus tahu kelakuan busuk mereka."


Drrrtttt ....


Ponsel Dini bergetar namun tak diperdulikan. Wanita itu menyetir tak karuan. Pikirannya betul-betul kacau. Namun lagi-lagi ponsel tersebut tak hentinya bergetar. Mau tak mau Dini mengangkatnya.


"Kamu dimana? Katanya hanya sebentar. kami sudah mau pulang!" Terdengar seorang wanita yang sedang kesal tak lain adalah temannya yang dia tinggalkan di rumah sakit.


Dini mengerem mobilnya. Dia memejamkan mata. "Aku tak bisa masuk, Liv."


"Maksud kamu apa? Kamu pergi dan Jam tiga ada rapat. Bisa-bisa, Bos, marah kalau kamu tidak ikut," omel Olivia.


Dini menarik napas kasar. Tanggung jawabnya menanti. Mau tak mau dia mengalah. Dia membelokkan mobilnya menuju rumah sakit menjemput temannya dan ke kantor.


Selama pekerjaan berlangsung dia tak fokus. Namun waktu semakin ditunggu semakin lama.

__ADS_1


Dasar wanita tak tahu malu! Pria brengsek! umpatnya dalam hati.


Terkadang dia meremas kertas menyalurkan emosinya. Wajahnya betul-betul memerah. Baginya, tak ada ampun untuk perselingkuhan. Dia pernah mengalami, namun kasus sahabatnya berbeda. Mereka sudah berumah tangga.


Pukul 18.30 seluruh pekerjaannya selesai. Wanita itu tak langsung pulang. Dia ke rumah sahabatnya. Dini akan mengungkap semua. "Salahku ...."


Bagaimana Arumi mengahadapi semua. Suami yang sangat di percaya berkhianat.


Air mata Dini mengalir dengan deras Isakan-isakan mengiringnya menuju kediaman Arumi. Namun nahas, pada saat dia sampai, Akmal dan sahabatnya bertengkar hebat. Dia melihat bagaimana terpukulnya wanita itu.


Benci menguasai dirinya kala melihat pria pengkhianat.


******


Nadini Andrea sahabat Arumi. Dia langsung memeluk wanita itu. Tangisannya pecah. Rasa bersalah menguasai dirinya.


"Maafkan aku ...."


Arumi terdiam. Akmal wajahnya tampak sangat tegang. Jantungnya berdegup kencang. Kenapa tiba-tiba Dini datang? Apakah dia sudah?


"Din ..." Arumi memegang pundak sahabatnya.


"A-aku penyebab semuanya ... aku yang membawa petaka itu ...." Nadini semakin mengeratkan pelukan. Tangisnya semakin menjadi.


Arumi mencengkram pundak sahabatnya. Dia menegakkan posisi wanita itu. "A-apa m-maksudmu?!"


Dini menunjuk pria berdiri di belakangnya. "Dasar pengkhianat! Dia bermain di belakang kita dengan wanita tak tahu malu itu!" Dini berteriak meluapkan amarahnya yang dia tahan sedari tadi.


Arumi menutup mulutnya. Wajah wanita itu tak karuan karena air mata. Dia tak menyangka jika ada orang yang mengetahui kelakuan bejat suaminya. Pria itu benar-benar telah menduakan dirinya.


Akmal-ku ....


Akmal memajukan langkahnya. "Jangan ikut campur kamu!"


"Diam pengkhianat!" Dini meninggikan suaranya. Wanita itu berbalik melihat sahabatnya dengan perasaan yang tercabik. "Dia menduakanmu Arumi ...." Dini memejamkan matanya menahan isakan. "D-dia telah s-selingkuh dengan .... Debby."


.


.


.


.


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2