
Dini mengganti sahabatnya menyetir. Hari ini benar-benar menguras tenaga dan emosinya. Tubuh wanita itu lemas, bahkan sangat lemas. Saat Dini membelokkan mobilnya hendak pulang ke rumahnya dengan Akmal Arumi menahannya.
"Antar aku ke rumah, mama. Itu bukan lagi tempatku untuk berpulang," katanya dengan suara yang amat parau.
Memang, itu bukanlah tempatnya untuk berpulang. Rumah dan segala isinya bukanlah milik Arumi, melainkan milik Akmal. Pria itu yang membelinya.
Dini termangu mendengar ucapan sahabatnya. Sungguh kasihan melihat nasib wanita itu.
Arumi tak membawa apa-apa selain mobil yang dikendarainya dan pakaian yang dipakai. Arumi tak ingin kembali ke rumah itu lagi. Rumah yang menyimpan banyak kenangan dengan mantan suaminya.
Kenangan pahit dan manis telah terlukis di setiap dinding rumah itu.
Diperjalanan mereka sama-sama terdiam. Tidak ada yang bicara satu pun. Air matanya terus saja mengalir. Lelah, dirinya benar-benar
lelah.
*****
Mama Reni melihat mobil yang singgah di depan rumahnya. Dia tahu itu kendaraan Arumi. Wanita paruh baya itu menerbitkan senyum dan segera menghampiri kendaraan tersebut.
"Arumi ...." panggil Mama Reni sangat antusias.
Namun senyumnya lenyap kala anaknya turun dari mobil. Dia melihat penampilan putrinya berantakan dan wajahnya yang layu. Ada apa? Apa yang terjadi?
"Arumi ... kamu kenapa?"
Sang pemilik nama yang dipanggil pun menatap sumber suara tersebut. Wanita itu berjalan dengan cepat dan memeluk ibunya. Dia tak kuasa menahan tangis.
"Ya Allah ... kenapa, Nak?" Mama Reni membalas pelukan putrinya. Dia mendengar tangis wanita itu sangat pedih.
Namun Arumi tak menjawab. Mama Reni menatap sahabat anaknya meminta penjelasan. Tapi sama. Dini juga tak memberikan jawaban.
Mama Reni memegang lengan putrinya. Dia memperbaiki posisi wanita itu. "Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Mama Arumi terus merongrongnya dengan pertanyaan.
Arumi menutup wajahnya menahan isakan. Rasanya sangat sulit untuk mengeluarkan kata. "Akmal mana?" Dia kembali menatap kembali sahabat anaknya. "Dini! Suami Arumi kemana?" tanya Mama Reni yang mulai geram.
Dini hanya menggeleng lemah. Dia tak tahu harus memulai penjelasan dari mana. "Kalian kenapa tidak ada yang jawab?! Apa kalian bisu?!" Jantung Mama Reni mulai memompa dengan cepat.
"Ma ... hiks!" Arumi tersedu-sedu.
Mama Reni memejamkan mata. Dia merangkul pundak anaknya. Mengajak untuk masuk. Mereka akan membicarakan di dalam.
*****
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tamu. Arumi tak berhenti menangis. Dia tak sekalipun melepas pelukannya dari sang ibu.
"Ada apa, Nak?" tanya Mama Reni.
"Pria i-itu .... hiks!" Arumi tak sudi lagi menyebut nama mantan suaminya.
Mama Reni yang mendengarnya menelan ludah. "Siapa maksudmu, Arumi?"
"Hiks! Man-tan suamiku ...." Arumi menyebut nama itu dengan pedih.
DEG!
Mantan suami? Itu berarti yang dimaksud putrinya adalah Akmal. Lalu kenapa dia mengatakan mantan suami? Apakah hubungan mereka telah berakhir? Inikah jawaban dari firasatnya yang tak enak?
"Arumi!" Mama Reni mulai meninggikan nada suaranya. Dia tak menyangka jika putrinya berbicara seperti itu.
"Ma .... dia jahat, hiks!"
Apa yang telah pria itu perbuat kepada anaknya? Jantungnya semakin memompa hebat. "Apa yang terjadi?!" Mama Reni kembali merongrong Arumi dengan pertanyaan.
Arumi menggigit bibirnya. "Dia .... se-lingkuh, Ma ...." Suaranya melemah dan hampir tak terdengar.
DEG!
Hubungan anak dan mantan menantunya selama ini baik. Bahkan sangat baik. Jika dia mengingat Akmal sulit rasanya mempercayai jika pria itu bermain curang.
Mama Reni mencengkram bahu putrinya. "Dia selingkuh?!"
Arumi mengangguk lemah sebagai kepastian dari pertanyaan Mamanya. Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya. Dia menelpon besannya. Lebih tepatnya mantan besannya.
"Hal-"
"Berikan didikan kepada putramu, Susan!" Mama Reni memotong ucapan dari seberang. Emosinya betul-betul tak terkontrol lagi.
Arumi menahan mamanya. Namun telak, wanita yang telah melahirkannya itu tidak mengikutinya.
"Ada apa ini?" Tentu Ibu Susan merasa sangat bingung. Dia tak mengetahui selak beluk permasalahan.
"Anakmu itu menyakiti putriku!"
Ibu Susan membelalakkan mata. "Apa?! Akmal menyakiti Arumi?!" Wanita itu pun sama sulitnya mempercayai. Hubungan keduanya harmonis. Perlakuan Akmal selama ini sangat baik kepada istrinya.
"Dia membuat putriku menangis!" Arumi mencengkram tangan Mamanya, tatapannya mengiba. Maksudnya mantan mertuanya tidak mengetahui.
__ADS_1
"Dimana m-menantuku?" Ibu Susan mulai gemetar.
"Anakku sudah kembali padaku. Takkan kubiarkan dia bersama putramu lagi!" Yah, dia sebagai ibunya takkan rela jika melihat anak semata wayangnya disakiti.
Ibu Susan yang mendengar itu memejamkan mata. Apa yang telah Akmal perbuat kepada istrinya hingga wanita itu kembali kepada orang tuannya?
Kemarahan besannya cukup memberinya gambaran jika masalah ini besar.
"Satu lagi! Mulai sekarang, keluarga kita putus hubungan!"
*****
Ibu Susan tampak syok mendengar penuturan itu hingga merasa nyeri di bagian dadanya. Dia termangu. Wanita paruh baya itu mencoba mencerna baik-baik ucapan Reni.
Satu kuncinya yaitu Akmal. Putra kebanggaannya. Rumah tangga anaknya selalu tampak bahagia. Akmal begitu perhatian dengan istrinya, penuh kehangatan dan kasih sayang. Namun tiba-tiba dia mendengar kabar yang sangat tidak mengenakkan.
Dia meraih ponselnya dan menghubungi Asisten Rian. "Hallo, Rian."
"Iya, Bu," jawab pria tersebut.
"Jemput saya sekarang. Antar saya ke rumah Akmal."
Asisten Rian sudah bisa menebak sesuatu yang tidak beres terjadi. Ini berhubungan dengan kedatangan istri bosnya ke kantor. "Baik, Bu." Tanpa bertanya dia mengiyakan langsung.
Ibu Susan mematikan ponselnya. Dia menarik napas dan membuangnya sebagai upaya untuk meminimalisir sakit yang di bagian dadanya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
Agar jadwalnya lebih jelas dan teman-teman tidak menunggu tanpa kepastian (Ciee), silahkan follow akun IG: asriainunhasyim
"INFONYA DAPAT DILIHAT DI INSTASTORY"
Salam
__ADS_1
AAH♥️