TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 89


__ADS_3

Dini bergandengan dengan Rama menaiki panggung. Tempat Harun dan Arumi bertakhta. Kedua pasangan yang juga dimabuk asmara itu tersenyum sumringah.


"Khm! Selamat buat pengantin baru ...," goda Dini.


Harun dan Arumi hanya mampu tersenyum malu.


Tanpa menunggu lama, wanita cantik itu langsung meraup Arumi ke dalam pelukannya. Rasa haru menyelimuti keduanya. Bagaimana tidak, Dini yang mengiringi kisah percintaan sahabatnya hingga ke titik ini.


Dia tahu suka duka, asam manis bahkan lika-liku Arumi.


Dini tak kuasa membendung air matanya mengingat semua. "Semoga bahagia, Sobat ...," bisiknya dengan suara bergetar.


"Terima kasih. Terima kasih telah menjadi tamengku selama ini ...." Arumi semakin mengeratkan pelukannya.


"Yah ... karena kita saudara." Dini mengusap punggung sahabatnya lalu melepas pelukan.


Mereka mengusap air matanya lalu tertawa. "Kok, jadi melow, sih! Harusnya 'kan bahagia ...," seloroh Dini.


Harun dan Rama yang melihat keduanya hanya mampu menggeleng pelan. Mereka saling berjabat dan menepuk punggung satu sama lain.


"Cepat nyusul!" ucap Harun.


"Aku tergantung Si Dia." Rama melirik wanita di sampingnya yang disambut sentilan.


"Oh, iya! Nih, buat pengantin baru." Dini menyerahkan paper bag motif bunga tulip kepada sahabatnya.


Arumi menerima dengan sumringah. "Wah! Terima kasih."


"Kita selfie dulu," tambah Dini.


"Sampai memorimu penuh."


Keempatnya mengabadikan momen bersejarah tersebut. Banyak pose yang mereka lakukan. Tak terhitung berapa jumlahnya.


"Oke deh!"


Sebelum mereka turun, Dini kembali berbisik di telinga Arumi. "Semangat untuk nanti!"


Arumi membulat. Ingin membalas namun Dini secepat kilat menghindar dan tertawa. Keduanya turun dari panggung setelah berhasil membuat pipi Arumi merah bak kepiting rebus.


"Dia bilang apa?" tanya Harun.


Arumi menggeleng. Dia tak punya nyali untuk mengatakan.


*****


"Ohok!"


Gadis hitam manis pura-pura terbatuk di depan keduanya. "Selamat pasangan idola."

__ADS_1


Harun tersenyum sumringah mendengar itu. Pun sama dengan Arumi.


Tika langsung menyerobot dan memeluk wanitanya yang telah dianggapnya kakak sendiri. Yah, juga termasuk saksi kisah cinta Harun dan Arumi.


"Terima kasih, Adik Kakak yang paling manis."


"Tika nangis, nih Kak ...." Gadis tersebut melepas pelukan dan memegang kedua lengan Arumi. Sudah nampak matanya yang mulai berkaca. "Selamat, Kak. Semoga Kakak dan Pak Ganteng jadi keluarga bahagia."


"Aamiin ...," jawab Harun dan Arumi serentak.


"Berkat celoteh Tika," ucap Arumi.


"Malu-malu tapi meong ...," goda Tika diiringi tawa.


Acara resepsi pernikahan Harun dan Arumi begitu berkesan karena kedatangan teman terdekat mereka.


Waktu pun juga terus berjalan hingga satu persatu meninggalkan aula setelah menikmati hidangan.


Penutup, adalah acara berfoto bersama keluarga besar dan juga foto berdua kedua pasangan mempelai yang diselimuti bahagia.


*****


"Alhamdulillah .... akhirnya selesai." Harun mengusap wajahnya. Syukur tak henti-hentinya terucap dari mulut pria tampan itu.


"Alhamdulillah ... Nak," tambah Mama Reni.


"Sebaiknya kalian kembali ke kamar. Kalian capek melayani tamu yang lumayan banyak," saran Bunda Ira.


"Iya .... Sebentar lagi kami juga kembali."


Jika dilihat keadaan sekitar memang Aula sudah tak terlalu ramai. Hanya beberapa kerabat terdekat yang masih asyik bercerita.


"Ya sudah. Kami pamit," ucap Harun yang disambut anggukan oleh yang lain.


*****


Keduanya telah memasuki kamar. Arumi langsung mendudukkan dirinya di kasur. Dia menghela napas. Matanya menatap punggung Harun yang menutup pintu.


Setelah selesai, Harun berbalik. Mereka saling pandang dan melempar senyum. Oke! Senam jantung dimulai.


Harun mencoba melonggarkan dasi. Spontan Arumi beranjak dan menghampiri suaminya. Tangannya pun ikut membantu.


Harun yang melihat itu hanya mampu diam mematung dan membiarkan Arumi bekerja. Melepas dasi dan jas yang membalut sempurna tubuhnya.


Lagi-lagi Arumi mengendus aroma maskulin. Aroma terharum di dunia, menurut wanita cantik itu.


"Terima kasih ...," ucap Harun.


Arumi hanya mampu tersenyum simpul. "Selesai." Wanita itu menggantung pakaian suaminya.

__ADS_1


Kini giliran dirinya. Arumi melangkah menuju di depan cermin hendak membuka penutup kepala dan gaunnya.


Tanpa kata, Harun mendekati Arumi. Membuat Arumi menghentikan aktivitas. Pria itu melepas satu persatu aksesoris.


Saat Harun membuka pengait hijab Arumi, pria itu menelan ludah.


Jantung keduanya menambah ritme kecepatan.


Harun menghela napas dan sedikit demi sedikit melepas benda tersebut hingga menampakkan rambut Arumi.


Selanjutnya ...


"A-abang b-bantu?" izin Harun.


Arumi mengangguk lalu tertunduk. Tak dapat dipungkiri dia malu namun tak sanggup melepas gaunnya sendiri.


Saat tangan Harun mulai menyentuh resleting dan menurunkannya dengan sangat pelan,


Tok! Tok! Tok!


Pintu terketuk membuyar suasana yang cukup menegangkan itu. Keduanya spontan berbalik. Harun dengan cepat melangkah membuka pintu.


Terlihat pelayan hotel membawa troli berisi kado-kado dari para tamu.


"Oh iya! Silahkan masuk!"


*****


Arumi memandang tumpukan Hadiah pernikahannya dengan gaun yang masih terpasang di tubuhnya. Sedangkan Harun berada di kamar mandi.


Wanita cantik itu tertarik pada paper bag pemberian sahabatnya. Dia meraih benda tersebut dan melihat isi.


Betapa wajahnya memanas seketika.


Astaga Dini!


'Tidak ada alasan untuk tidak dipakai'


.


.


.


.


.


IG : asriainunhasyim

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2