
Arumi keluar dari toilet. Yah, dia selesai membersihkan badan dan mengganti pakaian. Keringat yang dihasilkan pada saat berjuang di dapur cukup membuatnya tak nyaman.
"Tadi, Debby menelpon," ucap Akmal.
"Kenapa, Mas?"
Akmal mengedikkan bahu. "Tiba-tiba saja panggilannya diputuskan." Belum sempat dia mempertanyakan maksudnya tapi wanita itu telah lebih dulu memutuskan panggilan.
Arumi meraih benda canggihnya yang berada di atas nakas. Dia memainkan jempol mengirimkan pesan melalui WhatsApp. Meminta alasan menghubunginya. Tak lama kemudian, balasannya pun sudah ada.
'Besok aku akan berkunjung ke rumahmu. Jadi aku menghubungimu.'
Arumi seperti biasa. Hanya mengiyakan. Besok dia dan Akmal memang hanya di rumah. Tak kemana-mana. Jadwal suaminya kosong.
"Arumi."
"Iya, Mas." Wanita itu menyimpan kembali ponsel di atas nakas. Arumi bersandar pada sandaran springbed.
"Beberapa hari lagi, Mas akan ke Kota B. Kamu ikut, yah?" ajak Akmal.
Arumi menggeleng. "Tidak, Mas. Lebih baik aku di rumah ajah," tolak wanita cantik itu. Dari dulu, dia memang tidak suka ikut-ikut dengan Akmal.
Pria itu terdiam. Ada sedikit kecewa terpancar di matanya. Dia memang sudah menebak jawabannya. Mau bagaimana jika Arumi tak mau. Akmal juga tidak ingin memaksakan kehendak.
Keinginan seorang Akmal agar Sang Istri selalu mendampingi jika ada perjalanan ke luar. Baik itu pertemuan dengan rekan bisnisnya atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan.
"Aku perginya berdua dengan Rian lagi, yah, Sayang."
Arumi seketika tertawa melihat dan mendengar suara Akmal yang begitu pasrah. Dia mengangguk mantap. "Kan, hanya sebentar, Sayang." Arumi menarik hidung suaminya dengan gemas.
"Kalau sebentar, kenapa gak ikut, Mi ...."
"Malas, aja, Mas Akmal tampan." Entah mengapa, dia tak ada minat sama sekali meski Sang Suami sudah mengiba.
*****
Keesokan hari, Debby bangun pagi. Wanita itu melakukan perawatan rutin. Melulur seluruh tubuhnya membuat kulit yang memang semula putih mulus semakin cerah. Sekitar 2 jam hingga mandinya pun selesai.
Debby memakai hot pants levi's dengan atasan putih tanpa lengan. Sepertinya, wanita itu memang senang dengan pakaian memamerkan kulitnya yang elok.
Wajahnya dilapisi dengan make up yang membuatnya tampak semakin fresh. Berkali-kali dia menatap pantulannya di cermin. Serong kanan dan serong kiri melihat kerapian setiap sisinya.
__ADS_1
Aksesoris pelengkap hanya berupa jam tangan bewarna senada dengan baju serta tas.
Sebelum berangkat, dia sempat memotret wajahnya dan upload ke media sosial. Selang beberapa detik, pujian mulai menghiasi kolom komentarnya.
*Cantik bener, Mbak.
Sumpah, aku tidak berkedip. Izin save.
Debby ... oh Debby. Jelmaan bidadari.
Princess Debby.
Beruntungnya yang bisa dapat, nih orang*.
Kurang lebih seperti itu. Wanita yang memiliki puluham ribu followers pun hanya mampu menggeleng dan tersenyum simpul. Sepertinya wanita itu sudah bosan dan kebal mendengar sanjungan.
Debby berjalan keluar rumah. Hari ini, dia tak menggunakan motornya melainkan memesan taksi online sebagai transportasi ke rumah Arumi.
******
Arumi dan Akmal menyiram bunga mawar bersama. Mereka punya rutinitas baru setiap pagi selama Akmal membeli bunga tersebut.
"Mawarnya semakin subur, yah, Mas."
Tak lama kemudian keduanya melihat seorang wanita tampak sangat tak asing berjalan masuk. Debby melambaikan tangan kepada Akmal dan Arumi. Mengikis jarak sehingga ia semakin mendekat.
"Selamat, pagi," sapa Debby kepada pemilik rumah.
Arumi langsung menghambur memeluk wanita itu. Mereka bercipika-cipiki dengan penuh gembira. Sedangkan Akmal hanya berdiri mematung memandangi wanita tersebut.
"Apa aku mengganggu?" tanya Debby menggoda keduanya yang disambut gelengan oleh Arumi.
"Tidak sama sekali. Kami hanya sedang menyiram bunga."
Mata Debby beralih melihat setangkai tanaman yang berada diantara mereka berdua. Senyuman mengembang hingga menampakkan gigi ginsulnya. "Cantik sekali," ucap Debby seraya mendekat.
"Kamu juga suka, mawar?" tanya Akmal kepada wanita berambut gelombang itu.
Debby menengadah melihat sumber suara tersebut. "Wanita akan menyukai hal-hal yang indah, Mas."
"Masuk, yuk!" ajak Arumi kepada Akmal dan Debby.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk menuju ruang keluarga. Arumi menyuguhkan minuman di atas meja beserta camilan. Berbincang tentang segala hal termasuk permintaan Akmal kepada Arumi.
"Mas Akmal selalu ingin didampingi jika ada pekerjaan keluar atau bertemu dengan rekan bisnisnya. Tapi aku tak tertarik, By. Aku lebih senang tinggal di rumah."
Akmal yang mendengar hanya menghela napas. "Ya sudah, Sayang."
Debby tersenyum. "Harusnya memang kamu dampingi, Mi. Itukan resiko punya suami pengusaha. Kalau aku diposisimu, setiap kali suamiku keluar aku akan menemaninya. Yah, mau bagaimana, itu juga sudah tugas kita sebagai istri."
Akmal memandangi Debby. Dia membenarkan ucapan wanita itu dalam hati. Akmal bahkan berharap sang istri sepemikiran dengan temannya itu.
Arumi hanya menyengir. "Nanti aku pikirkan kembali."
Debby mengangguk. Dia menatap kedua pasangan itu. Ternyata dibalik hubungannya yang sempurna, ada perbedaaan menampakkan keegoisan satu sama lain.
"Emang, Mas Akmal mau kemana?" tanya Debby yang begitu penasaran.
"Aku ingin melihat lokasi di Kota B yang akan kujadikan sebagai tempat pembangunan cabang," jelas Akmal.
"Bagus, dong! Ini sebuah peningkatan." Debby tampak antusias mendengar penuturan pria di depannya. Wanita itu semakin bangga.
Lama mereka membahas persoalan perusahaan dimana percakapan tersebut lebih dominan antara Akmal dan Debby. Seperti sebelumnya, mereka sangat nyambung karena bergelut dibidang yang sama.
Tapi Arumi tampak biasa-biasa. Dia sama sekali tak mempermasalahkan. Toh, wanita itu memaklumi karena memang dia hanya mantan bankir yang tak paham masalah otomotif.
"Ya sudah. Kalian lanjutkan. Aku mau ke toilet sebentar," ucap Arumi seraya beranjak dari duduknya.
******
Tinggal mereka berdua. Tiba-tiba kecanggungan menyelimuti perasaan Debby. Dia salah tingkah karena keadaan. Dia meraih minuman dan meneguknya sedikit demi sedikit.
"Seandainya Arumi sepemikiran denganmu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️