
Arumi meletakkan benda kecil di depan dua pria berharga dalam hidupnya. Air mata bergulir begitu saja membasahi pipi. Mulutnya bungkam. Tak mampu berucap sepatah kata.
Harun tertegun menatap benda tersebut. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Tenggorokannya tercekat.
"Positif."
Satu kata yang keluar dari mulut Bunda Ira membuat tangan Harun bergetar menyentuhnya.
"Alhamdulillah ...."
Syukur yang diucapkan Ayah Kamil membuat bola mata Harun berkaca. Benda kecil itu telah berada diantara jempol dan telunjuknya.
"A-" Pria itu tak mampu meneruskan kalimat. Dia menatap Arumi yang terisak namun sesaat mengangguk pelan.
Harun memejamkan mata sejenak lalu membuka perlahan. Pria itu berdiri. Menangkup kedua sisi wajah Arumi dan memandang lekat.
"T-terima kasih ...."
Harun memeluk erat wanitanya. Menenggelamkan wajah Arumi seakan tak ingin melepas. Tetes air keluar diantara pelupuk mata.
Kedua insan itu dilingkupi rasa haru yang mendalam. Pun kedua paruh baya itu ikut larut dalam suasana tersebut.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih ...."
Arumi membalas pelukan Harun. Tuhan memercayakan makhluk yang kini bersemayam dalam tubuhnya. Wanita itu tak pernah menyangka, jika hal ini begitu cepat terjadi di luar pemikiran.
Lihatlah! Bagaimana takdir bermain. Dulu, waktu pernikahannya dengan Akmal, Arumi harus memikirnya setiap hari sampai peristiwa itu terjadi.
Sekarang, dirinya bahkan santai dalam prihal tersebut. Arumi begitu menikmati masa-masa pacaran halalnya bersama Harun hingga Tuhan berkehendak dan memberikan amanah besar kepada keluarga kecilnya.
Dia akan menjadi seorang ibu. Gelar tertinggi untuk seorang wanita. Buah cintanya dengan Harun. Pria terkasihnya.
Harun mendaratkan bibir di seluruh wajah istrinya tanpa sisa hingga air mata mereka menyatu. "Aku mencintaimu Arumi ... aku mencintaimu ...."
Ungkapan pria itu begitu dalam.
"Aku ... mencintaimu Suamiku ... Ayah dari anakku ...."
Harun mengangguk. "Iya, Sayang."
Pria itu sedikit demi sedikit menjajarkan tingginya dengan perut rata Arumi. Harun menatapnya dengan takjub.
"Assalamualaikum, anak Ayah ...." Harun mengusap dengan lembut. Perasaan bahagia membuncah kala menyebut dirinya 'Ayah'.
"Terima kasih, Nak ... telah hadir."
Semua orang melihat interaksi indah itu. Sangat indah. Ayah Kamil dan Bunda Ira mengusap sudut mata mereka.
"Terima kasih ... telah menjadi pelengkap kami."
Telapak tangan Arumi berada di atas kepala Harun. Melakukan gerakan yang begitu menenangkan. Tuhan begitu baik menghadirkan pria itu dalam hidupnya.
__ADS_1
"Sehat selalu, Anakku agar Ayah dan Bunda bisa memegang dan memelukmu."
*****
Kabar bahagia itu telah sampai ke telinga Mama Reni dan kelurga yang lain. Wanita paruh baya itu tak hentinya melafazkan kalimat syukur.
Dia memberikan wejangan-wejangan kepada anak semata wayangnya. Salah satu adalah tidak boleh bepergian jauh. Tidak boleh banyak gerak juga menyewa asisten rumah tangga untuk membantu menyelesaikan pekerjaan.
Tentu Harun dan Arumi menyetujui. Apalagi di awal-awal kehamilannya wanita itu begitu malas melakukan apapun.
Hari-hari yang dilalui Harun sebagai suami yang begitu siaga. Apa saja keinginan istrinya, akan berusaha dipenuhi dengan senang hati.
Arumi begitu manja padanya sehingga ia lebih sering memindahkan pekerjaan kantor ke rumah. Kecuali ada hal-hal urgent yang harus diselesaikan secara langsung. Seperti saat Harun akan berangkat ke negeri seberang tanpa istrinya.
Malam ini, Arumi merajuk. Berbaring memunggungi Harun.
Pria itu sudah menjelaskan dengan baik prihal kondisinya, akan tetapi Arumi tetap bersikukuh ingin ikut. Harun dan seluruh keluarga tentu tak mengizinkan.
"Abang usahakan cepat pulang," ucapnya dengan lembut.
"Tapi aku mau ikut, Bang ...."
"Dek ... kondisi sekarang kan belum bisa. Kasihan kamu sama baby-nya," jelas Harun. "Ada bunda sama mama selama Abang gak ada."
Arumi menangis. "Bilang, kalau memang Abang tidak mau diganggu ... jadi aku gak diikutkan."
Harun tak berkedip mendengar penuturan Sang Istri. Sama sekali bukan itu maksudnya. Harun hanya ber-istighfar. Mungkin karena hormon kehamilan.
Jarum jam berkuasa di tempat tersebut. Arumi masih setia dengan posisinya namun mata yang sulit terpejam. Sedangkan Harun, pria itu bersandar pada sandaran tempat tidur. Bujuk rayu telah terlontar namun tidak memberikan reaksi apa-apa.
Pukul satu malam. Arumi menggeliat resah. Dia mengubah posisi menjadi terlentang dengan suara helaan napas yang cukup mengusik.
"Dek ... Abang peluk dan usapin perutnya, yah?" Harun bertanya dengan sangat hati-hati.
Arumi tak bergeming sama sekali. Dia hanya bungkam.
Harun tidak menyerah. Pria itu duduk sempurna dan mengikis jarak. Arumi memalingkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Abang minta maaf ...."
Tetap tak ada jawaban.
Harun menelusupkan tangannya dibalik pakaian tidur yang dikenakan Arumi. Pria itu mulai mengusap perut istrinya dengan sayang.
Benteng pertahanan Arumi runtuh. "N-nanti siapa yang giniin aku ...," ucapnya dengan serak.
Harun membalikkan wajah istrinya dan mengecup. Dia sama sekali tak bisa melihat Arumi seperti itu. "Insya Allah Abang usahakan pulang secepatnya, Sayang ...."
Arumi memegang erat tangan Harun.
"Abang akan sesering mungkin menghubungi."
__ADS_1
Rasa sayang wanita itu melebihi ego. Yah, semata-mata untuk kehamilannya. Lagi pula, pertama kali Harun tak mengikut sertakan Arumi ketika melakukan perjalanan bisnis.
"Peluk ...."
Harun terkekeh. "Sini ...."
Seketika kedua insan itu menyatu.
*****
"Barangnya sudah siap, Run?" tanya Ayah Kamil yang disambut anggukan oleh putranya.
Harun segera menyalami Bunda Ira dan Mama Reni sebelum berangkat.
"Hati-hati, Nak. Sampai di sana langsung kabari." Mama Reni menepuk pundak menantu kesayangannya.
"Iya, Ma."
Terakhir adalah istrinya. Wanita itu memaksakan senyum kaku.
"Hanya sebentar," seloroh Mama Reni.
"Iya, Nak. Bunda yang jemput kalau dia lama." Bunda Ira meyakini.
Harun mendekati wanita hamilnya. "Jaga diri baik-baik." Pria itu memegang perut Arumi.
"Abang juga hati-hati. Jaga mata dan ini," seraya menunjuk bagian hatinya.
Harun mengangguk pasti. "Semua hanya untuk Arumi. Tak ada ruang untuk yang lain."
"Aamiin ...."
Harun berjongkok. "Sehat terus, Nak ... jangan rewel. Kasihan Bunda."
"Iya Ayah ...," Arumi menirukan suara anak kecil yang disambut kekehan yang lain.
.
.
.
.
.
Ada yang punya usulan nama cewek dan cowok? 😁
*Tulis di kolom komentar*
Ig : asriainunhasyim
__ADS_1
Salam
AAH♥️