TERGODA

TERGODA
Tergoda 3


__ADS_3

Secangkir kopi dan nasi goreng telah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Yah, sudah 3 hari mereka berpindah ke rumah baru yang berada di kompleks elit. Merupakan hadiah pernikahan dari Akmal. Rumah bernuansa putih yang cukup besar untuk mereka tinggali.


Arumi telah berdandan dengan begitu manisnya untuk menyambut sang suami sarapan. Dress biru langit selutut membalut indah tubuh rampingnya. Senyuman selalu berkembang di bibir tipis wanita cantik itu.


"Selamat pagi, Sayang."


Sapaan pagi suaminya mengayun merdu di telinga wanita itu. Semenjak menikah, panggilannya pun sudah berubah 'Sayang'. Ditambah kecupan hangat di pelipis membuat pipi Arumi merona merah.


"Pagi, juga ...."


Akmal tersenyum melihat itu. Sudah menjadi kebiasaan setelah menikah, membuat sang istri malu. Bahkan dia suka.


Akmal duduk dan menyesap kopi buatannya istrinya.


"Bagaimana, Mas?" tanya Arumi meminta pendapat akan buatannya.


"Seperti biasa. Manis ... semanis wajah istriku."


Spontan Arumi mencubit gemas lengan suaminya. "Raja gombal!"


Tawa keduanya menggema di ruangan itu. Betapa mesra setelah menikah. Mereka memulai paginya dengan candaan, menambah harmonis hubungan pernikahan.


Dentuman sendok dan garpu mengambil alih pembicaraan mereka. Yah, sangat tahu etika untuk tidak berbicara pada saat makan.


****


"Berangkat dulu, yah." Akmal berpamitan kepada istrinya. Dia mengulurkan tangan dan


disambut lembut oleh Arumi.


Wanita itu memberikan tas kerja suaminya. "Hati-hati, Mas," pinta Arumi.


Akmal mengangguk dan masuk ke dalam mobil hitamnya. Tanpa menunggu lama, kendaraan itu melaju meninggalkan Arumi sendiri.


Setelah kepergian suaminya, dia pun masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Yah, meski usaha suminya sukses dan memiliki uang lebih untuk menyewa pembantu, akan tetapi Arumi memilih untuk bekerja sendiri. Bukan tanpa alasan, dia ingin menikmati perannya sebagai seorang istri.


Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melewati ruang tamu. Bola matanya memandang sebuah figura yang terpasang dengan lebar di dinding. Itu adalah foto pernikahannya seminggu yang lalu.


Dia melipat tangannya di depan dada dan tersenyum hingga menampakkan deretan giginya yang putih bersih. Sekelebat ingatannya terputar di kepala akan kejadian semalam, saat dia menunaikan ibadah pertamanya dengan sang suami.


"Ih ... dasar!" Monolognya seraya memukul kepala dengan pelan.


*****


Mobil dengan berbagai merk berjejer dengan rapi. Yah, bisa dibilang usaha Akmal berkembang dengan pesat. Jual beli mobil mewah (bekas) dan bengkel iya tekuni selama beberapa tahun belakangan ini. Bukan tanpa alasan, ini semua berkat Arumi yang selalu mendukungnya mulai dari titik terbawah.


Dulu Akmal bukanlah siapa-siapa. Berasal dari keluarga yang kurang berada. Terlebih setelah Ayahnya meninggal. Ibunya bekerja sebagai petani di perkebunan milik tetangganya. Namun, semenjak bertemu dengan Arumi, dirinya semakin termotivasi untuk lebih berusaha. Hingga akhirnya sampai dititik seperti sekarang.

__ADS_1


Memang benar, jika cinta adalah sebuah kekuatan.


Dengan penuh wibawa dia berjalan memasuki ruangannya.


"Selamat pagi, Pak." Asistennya menyapa dengan penuh hormat.


"Pagi juga," jawabnya dengan mengembangkan senyum di bibir.


Dia menyimpan tas kerjanya di atas meja, kemudian duduk. Di dalam ruangan yang luas, Akmal memilih untuk tinggal berdua dengan Rian. Tidak seperti bos pada umumnya, yang memilih terpisah tempat dengan sang asisten. Akmal sebaliknya, cara ini memudahkan untuk berkomunikasi.


"Mohon maaf, Pak. Semalam ada undangan dari Perusahaan *****. Mereka ingin Bapak mengahadiri pameran pekan nanti."


Akmal yang semula fokus dengan berkasnya, kini mengalihkan pandangan. Dia menatap asistennya dengan berbinar. "Yah, sampaikan pada mereka, kita akan menghadiri acaranya," ucapnya antusias.


Rian sudah tahu akan hal itu. Bosnya dengan senang hati akan menerima setiap undangan jika menyangkut masalah kendaraan bermesin.


"Baik, Pak," jawab asistennya.


*****


Sementara di rumah, Arumi telah selesai melakukan pekerjaannya. Dia merenggangkan otot-otot lalu berbaring di sofa. Berulang kali dia menghembuskan napas panjang pertanda lelah.


Hari ini, dia berencana untuk mengunjungi ibu dan mertuanya. Semenjak menikah, mereka jarang bertemu. Mungkin karena kesibukan yang mendera.


Dia meraih benda canggih berbentuk persegi panjang. Tangannya menari di atas layar mencari nomor pria yang kini menjadi imamnya.


"Waalaikumussalam, Sayang ... kangen, yah."


Arumi tertawa mendengar ucapan suaminya. Tak pernah absen untuk menggoda.


"Aku ingin minta izin, Mas."


Akmal mengerutkan kening. "Untuk?"


"Aku ingin mengunjungi ibu dan mertuaku."


Seketika pria itu tersenyum. Maksud dari mertua Arumi adalah orang tua Akmal sendiri.


"Aku temenin?" tawar Akmal.


Arumi menggeleng meski suaminya tak melihat. "Gak usah, Mas. Kan, kamu sibuk." Wanita itu memang tak mau merepotkan suaminya yang bekerja.


"Ya sudah. Hati-hati, yah."


"Iya, Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Arumi menutup telponnya. Dia segera beranjak dari tempat pembaringannya untuk bersiap-siap.

__ADS_1


*****


Terlebih dahulu, Arumi mendatangi rumah mertua. Sengaja ibunya yang terakhir, agar dia bisa berlama-lama di sana. Tak lupa wanita cantik itu membawakan paper bag yang berisikan kue kesukaan masing-masing, sebagai buah tangan.


Mobil merahnya memasuki gerbang rumah 2 tingkat berwarna hijau. Walaupun tidak terlalu besar, tapi rumah tersebut sangat nyaman untuk ditinggali paruh bayah itu. Yah, dengan pertimbangan Akmal. Mengingat ibunya yang tinggal sendiri.


Arumi memencet bel yang melekat sempurna pada dinding dekat pintu.


Benda tersebut pun terbuka. Menampilkan wanita paruh bayah berambut pendek dengan kulit sawo matang. Tak lain adalah ibu dari Akmal.


"Arumi ...." seraya memeluk menantunya.


Wanita cantik itu tak segan membalasnya. "Bu ...."


"Ayo masuk, Nak." Bu Susan merangkul Arumi menuju Sofa. Kedatangan menantunya membuat antusias.


"Ke sini kok gak bilang, sih, sama Ibu. Harusnya kamu menelpon agar ibu siapin makanan kesukaanmu." Ibu Susan menampilkan ekspresi cemberut yang dibuat-buat.


Arumi yang mendengar itu hanya mampu menyengir. Bagaimana tidak, tingkah ibu mertua sangatlah lucu di matanya. "Ibu tak perlu repot-repot. Arumi, kan, bisa makan apa pun yang sudah ibu siapin," katanya dengan lembut.


Bu Susan menampilkan senyum hangat mendengar penuturan menantunya.


"Oh iya, Bu." Arumi menyodorkan paper bag tersebut. "Ini kue kesukaan, Ibu."


Wanita paruh bayah itu berbinar. Dalam hatinya sangat bersyukur mendapatkan menantu seperti Arumi. Baik dan juga perhatian. "Terima kasih, yah, Nak," ucapnya yang dibalas anggukan oleh Arumi.


Lama mereka berbincang. Mereka membahas banyak hal termasuk tentang Akmal. Saat Arumi bercerita, tiba-tiba fokus mata bu Susan tertuju pada perut rata menantunya. Spontan tangannya terulur untuk menyentuh bagian tubuh yang berbalut kain. Tentu saja hal itu menarik perhatian Arumi.


"Ibu ingin segera punya cucu." Katanya dengan wajah sendu.


Arumi menelan ludah. Bagaimana tidak, ini baru beberapa hari setelah pernikahan dan ibu mertuanya sudah menginginkan cucu. Tapi Arumi memaklumi itu secara Akmal adalah anak tunggal.


"Do'ain, yah, bu ...."


.


.


.


.


.


Terus dukung Author dengan meninggalkan jejak LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2