
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE. DUKUNG TERUS TERGODA DENGAN CARA TERSEBUT.
Follow IG : asriainunhasyim
Selamat membaca 😘
.
.
.
.
Sejak hari itu Tika tak hentinya menggoda Arumi. Betapa tidak, gadis hitam manis itu mendukung penuh jika pria tersebut menyukai wanita yang telah dianggapnya sebagai seorang kakak.
"Ngoceh terus!" sindir Arumi.
Bukannya tersinggung Tika hanya tertawa terbahak-bahak hingga seluruh tubuhnya ikut tergoncang. Arumi hanya membalasnya dengan gelengan kepala.
"Khm! Apa Kakak tidak penasaran gitu?"
"Tidak!" Secepat kilat Arumi menjawab. Memang dia tidak penasaran sama sekali.
"Kak Rum, rejeki jangan ditolak. Takabur, loh."
Tika mengeluarkan bahasa bijaksananya yang sama sekali tidak di respon oleh Arumi.
"Permisi! Saya mau dessert."
Beruntung ada pembeli sehingga cerita membosankan menurut Arumi itu terpotong.
*****
Setelah Harun menandatangani tumpukan berkas yang ada di mejanya, pria itu bersandar. Di merenggangkan otot lehernya yang kaku karena kelamaan menunduk.
Dia meraih ponsel. Tangannya bermain di atas benda canggih tersebut. Dia mengetikkan 'Hadiah yang disukai seorang wanita'
Bibirnya mengulum senyum mana kala melihat yang dicarinya terpampang di layar. Banyak, namun pria itu hanya memilih tiga dalam daftarnya.
Harun membuka gambar. Ada perhiasan, coklat dan bunga.
"Kira-kira dia suka apa?" gumamnya.
Semenjak salam yang disampaikan kepada Arumi, ternyata hatinya semakin terdorong untuk melakukan hal-hal selanjutnya. Contohnya saja dia ingin memberikan hadiah.
__ADS_1
Harun tipikal orang yang kaku masalah percintaan. Tidak mungkin juga dia dengan entengnya bertanya kepada bunda dan adiknya masalah rasanya dan aksinya kepada owner dessert Arumi. Bisa-bisa semakin runyam.
Harun berpikir, kalau perhiasan mungkin kesannya berlebihan. Apalagi ini masih awal-awal. Pilihan kedua coklat. Tapi Arumi tak pernah alpa dengan makanan yang satu ini. Yah, termasuk dalam bahan pudingnya.
Dia menimbang pilihan ketiganya 'Bunga Mawar'. Mungkin itu yang paling tepat. Sebelum tokonya tertutup, dia harus tiba disana.
Bermodalkan basmalah dia siap berhadapan dengan owner cantik itu. Harun tak mengandalkan asistennya dalam hal pengadaan bunga tersebut. Dia sendiri yang akan mencarinya.
*****
Pukul lima, Harun meninggalkan kantornya. Dia menuju salah satu toko bunga yang ada di kota tersebut. Entah mengapa jantungnya telah menambah ritme kecepatan.
Harun memarkir mobil. Dia bergegas turun dan berjalan masuk.
"Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?" Sapaan dari sang pemilik toko tersebut.
"Saya ingin satu buket bunga mawar merah kualitas terbaik," ucap Harun.
Pemilik toko memperlihatkan ukuran buket tersebut dan Harun memilih yang sedang agar tak terlalu mencolok.
"Baik, silahkan tunggu sebentar, Pak."
Harun mengangguk seraya melihat-lihat jenis bunga yang ada disekelilingnya. Yah, ini pertama kali dia berurusan langsung dengan toko bunga.
Pria berwajah tampan nan teduh itu mungkin akan sering hadir di tempat tersebut.
Matanya menangkap sosok yang mirip dengan Akmal yang berada di pelataran parkir minimarket seberang jalan.
"Akmal."
Harun menajamkan pengelihatan. Itu sama persis yang ia lihat di bengkel beberapa hari lalu. Harun tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia berjalan cepat menuju arah orang tersebut.
"Akmal!" Panggil Harun.
Pria itu berbalik. "Harun." Suaranya hampir tidak terdengar. Memang benar dia sosok Akmal Anggara Dinata.
*****
Harun dan Akmal duduk berhadapan di sebuah kedai kopi. Mereka direngkuh kediaman. Suasana canggung pun ikut andil dalam pertemuan tak disengaja tersebut.
"Kenapa ini bisa terjadi?" Harun memulai pembicaraan.
Akmal menelan ludah. Yah, mungkin temannya sudah mengetahui bahwa dirinya sudah tak bertakhta di perusahaan itu lagi.
"A-aku ...." Nahas, kalimatnya tercekat di tenggorokan. Pria itu menunduk tak berdaya. Tidak mungkin baginya menceritakan kebodohan terbesar dalam hidupnya.
__ADS_1
"Oke! Jika kamu belum siap untuk bercerita. Tapi setidaknya jika dirimu menemukan kendala dalam usahamu, andalkan aku sebagai seorang teman."
Akmal yang mendengar itu sungguh tersentuh. Yah, Harun memang sosok yang sangat baik. Tapi apa hendak dikata, jika dirinya sungkan untuk meminta bantuan.
"Aku sudah tak memiliki apapun lagi." Hanya kalimat itu yang meluncur bebas dari mulutnya.
Harun hanya menghela napas. Berusaha sekuat tenaga menepis hal tersebut, namun ternyata itulah kenyataannya. Dia telah mendengar langsung dari temannya.
"Sekali lagi, andalkan aku, Kawan."
Akmal menipiskan bibir. Jujur, dirinya terlampau malu. Dia hanya mengangguk mengiyakan hal tersebut.
Mata Harun beralih menatap kantongan yang berisi satu kotak susu. "Oh iya. Kamu sudah punya baby?" Harun mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan sekat kecanggungan.
Akmal mengangguk.
"Kamu pernah berjanji akan memperkenalkanku dengan wanita beruntung itu." Harun mengangkat alis.
Akmal menelan ludah. Mengingat dulu ingin mempertemukan istrinya dengan Harun. Tapi itu masih Arumi, sekarang bukan lagi. Bahkan Debby tak ada bersamanya.
Lalu apa yang akan dia katakan? Apakah Akmal harus bilang jika situasinya telah berbeda?
"Lain kali, pasti aku akan mengenalkanmu." Hanya kalimat itu sebagai tamengnya untuk saat ini.
Harun mengangguk. Meski dirinya penasaran tapi dia juga tak mau memaksakan. Matanya beralih menatap jam yang bertengger di pergelangan tangan. Dia ingat tujuannya.
"Berikan aku nomormu. Aku ingin kita bertemu sesering mungkin." Harun menyodorkan ponselnya kepada Akmal.
Pria itu segera mengetikkan deretan angka di dalam benda canggih tersebut yang mungkin sebagai akhir dari perjumpaannya hari ini.
Harun meraih buket yang ada di samping kursinya. Akmal termangu kala melihat bunga berwarna merah yang sangat tak asing baginya.
Mawar.
Tiba-tiba perasaannya bergejolak. Akmal tak pernah lupa jika itu bunganya dengan Arumi Anggun. Kesayangan Arumi. Mawar yang menjadi saksi cintanya dengan wanita itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️