TERGODA

TERGODA
Tergoda 14


__ADS_3

Tanpa sadar mobil sudah terlalu jauh meninggalkan kediaman Akmal. Debby menghentikan laju kendaraan. Dia menghela napas. Bidadari penunggu itu bersandar pada jok mobil dan memejamkan mata.


"Akmal."


Tanpa sadar dia menyebut nama pria di sampingnya. Yang mendengar namanya dipanggil pun berbalik. Dia menetralkan tawa.


"Bagaimana? Apa kamu sudah puas?"


Debby tersenyum. "Puas! Bahkan sangat puas," jawab Debby. Dirinya benar-benar terhibur.


"Baguslah," jawab Akmal sekenanya. Dia memang melihat bagaimana semangat wanita itu.


"Terima kasih," ucap Debby. Dia membuka matanya dan berbalik menatap lembut pria yang telah menemaninya.


"Santai saja. Ini bukanlah apa-apa."


Debby mengangguk pelan. Wanita cantik itu memperbaiki posisi duduk. dia menghadap pria tersebut. "Apa yang perlu aku lakukan untuk membalasnya?"


Akmal dengan cepat menggeleng. Menurutnya, ini bukanlah apa-apa. Hanya sekedar mengajari dan menemani mengemudi. Hal yang lumrah.


"Simpan rasa tidak enakmu, By. Kau sudah kuanggap temanku dan teman baik istriku. Sudah sewajarnya aku membantu hal-hal kecil seperti ini," kata Akmal dengan berpanjang lebar.


Debby mematung mendengar penuturan pria tampan itu. Akmal betul-betul pria yang baik. Sungguh beruntung seorang Arumi Anggun mendapatkan suami sepertinya.


"Baiklah." Itu hanya kata penutup Debby. Tapi Dia akan tetap membalas kebaikan Akmal. Sudah sering pria itu membantu. Memang seharusnya dia juga merasa.


"Kalau kamu lelah, aku akan menggantimu menyetir." Akmal menawarkan hal tersebut kepada Debby.


Debby mengangguk. Dia memang sedikit lelah mengingat power yang dikeluarkannya. Namun sebelum bertukar posisi dengan Akmal, spontan dia menyentuh ujung lengan pakaian pria itu.


Akmal terdiam. Dia menatap tajam Debby. Yang ditatap pun dengan cepat menarik kembali tangannya. Dia gugup dan menelan ludah.


"M-maaf," ungkap Debby dengan nada penyesalan. "A-aku hanya ingin memberi tahumu sesuatu."


"Katakan."


Debby menghela napas sebelum berucap, "B-bisakah aku memanggilmu, Mas?" wanita itu menggigit bibirnya takut-takut.

__ADS_1


Akmal tersenyum. "Kau hanya ingin bilang 'Mas' sampai-sampai wajahmu menegang seperti itu?" Akmal menampakkan deretan giginya yang rapi. "Kupikir itu hakmu. Mau panggil Kakak, Mas atau Abang pun saya kira itu tidak ada masalah."


Mata Debby membulat sempurna. Pipinya merona merah. Serasa mendapat angin segar setelah mendengar perkataan seorang Akmal Anggara Dinata.


"J-jadi kamu tidak marah, kan?" Debby mengulang pertanyaan untuk memastikan.


"Yah!"


Debby tersenyum senang. Dia mengangguk dan berterima kasih. Akmal yang melihat itu hanya menggeleng. Debby memang sedikit kekanak-kanakan. Hanya karena panggilan 'Mas' wajahnya menegang bak ingin mengatakan sesuatu yang sangat menakutkan.


*****


Mobil sport merah memasuki garasi. Mereka sampai di rumah tepat saat matahari memasuki peraduannya. Semua penghuni menyambutnya di teras.


"Bagaimana, By?" Arumi memandangi temannya dengan raut wajah bahagia.


"Keren, Mi. Akhirnya impianku tercapai," jawab Debby. Bidadari penunggu itu juga menjelaskan secara detail perjalanannya tadi.


"Lain kali aku juga, dong!" imbuh Dini.


Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Dini dan Debby berpamitan. Mengingat besok mereka masih ngantor, dia harus pulang untuk beristirahat.


Kedua gadis cantik itu tak lupa berpamitan dengan ibu Susan dan mereka mengucap terima kasih karena memyambutnya dengan sangat ramah.


******


"Teman kamu itu sudah punya suami?" Ibu Susan cukup penasaran dengan kehidupan kedua sahabat Arumi.


"Mereka masih lajang, Bu." Arumi menjawab seraya menyuap potongan buah ke dalam mulutnya.


"Cantik-cantik tapi sayangnya belum menikah. Apalagi si rambut keriting." Bu Susan membayangkan kedua sahabat Arumi. Terlebih Debby.


"Tidak laku kali!" Akmal ikut nimbrung dengan meminta Arumi untuk menyuapnya. Bukannya dikasih, pria itu hanya mendapat cubitan. "Aw!"


"Husst! Mereka cantik, Mas. Kerjaannya juga oke. Mungkin memang waktunya belum tiba." Arumi membela sahabat-sahabatnya. Ibu Susan pun mengiyakan ucapan menantunya.


"Bercanda, Sayang. Mereka cantik, tapi Arumi Anggun lebih cantik." Akmal mengecup hidung istrinya.

__ADS_1


Ibu Susan yang melihat tingkah mereka, ikut tersenyum bahagia. Dia bersyukur hubungan anaknya sangat baik.


Bahagialah kalian selalu.


Ibu Susan juga mendo'akan semoga anak cepat hadir diantara mereka agar semakin mempererat ikatan keduanya.


"Istriku cantik, kan, Bu?" Akmal tak hentinya menggoda. Bahkan meminta pendapat kepada ibunya membuat pipi Arumi merona merah.


Ibu Susan mengangguk mantap. "Sangat cantik! Kecantikannya bukan hanya fisik, tapi hati."


******


"Mas, Aku ingin bibit bunga mawar," ucap Arumi seraya mengupas buah untuk Akmal.


Akmal mengerutkan kening. "Untuk apa?"


"Aku ingin menanam dan merawatnya, Mas." Arumi membayangkan bunga mawar merah yang bermekaran dan aromanya yang menenangkan.


"Mas, bisa membelinya setiap hari untukmu kalau mau. Jadi tidak perlu repot dan capek untuk mengurusnya."


"Yah, bedalah, Mal. Itu hiburan tersendiri buat Arumi kalau kamu lagi tidak di rumah," imbuh Bu Susan. Dia juga tahu menantunya sangat hobi dengan bunga merah itu.


"Ya sudah. Besok, Mas, Belikan untuk Tuan Putri Arumi."


.


.


.


.


.


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2