TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 92


__ADS_3

Arumi mengendarai mobil. Seperti rutinitas sebelumnya setelah 2 bulan menjadi istri dari Harun, wanita cantik itu hendak mengantarkan makan siang ke kantor Sang Suami.



Saat memasuki bangunan tempat pujaannya memimpin, para karyawan menyambut dan menyapanya dengan hangat. Semua orang tahu jika wanita cantik itu merupakan istri dari bos mereka.


Arumi juga melakukan hal serupa, menebarkan senyum ramah bagi siapa saja yang dijumpai. Membalas sapaan sehingga orang-orang tak sungkan. Bahkan tak jarang karyawan akrab dengannya.


Tujuan utama Arumi adalah ruangan suaminya. Kakinya menuntun menuju tempat tersebut.


"Selamat siang, Bu."


"Bapak ada di dalam?" tanyanya kepada pria yang menjabat sebagai asisten.


"Iya Bu. Pak Harun ada di dalam."


Arumi berterima kasih dan mengetuk pintu lalu memasuki ruangan. "Assalamualaikum ...."


"Waalaikumussalam ...." Seorang pria yang masih setia duduk di kursi kebesaran menatap ke arahnya dengan senyum lembut.


"Apa aku mengganggu, Pak?" ucapnya dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.


"Tidak sama sekali untuk wanita yang satu ini." Pria berparas tampan nan teduh itu bangkit dari tempat.


Sesaat keduanya tertawa. Arumi mendekat yang disambut pelukan oleh Harun. "Rindu ...," ungkap Arumi dengan mengeratkan pelukannya.


"Heheh ... manjanya istriku."


"Emang Pak Harun tidak rindu?" Arumi menengadah dengan memanyunkan bibir.


Harun mengecupnya dengan gemas. "Pak Harun rindunya dua kali lipat."


Sudut bibir Arumi tertarik naik dan melepas pelukan. "Aku bawa makanan kesukaan Abang?" dengan menyimpan sebuah paper bag


di atas meja.


Semenjak menikah, Harun pun sudah terbiasa dengan makan siang dari Arumi. Jika bukan istrinya langsung, wanita itu akan mengirim lewat kurir.


"Terima kasih." Harun mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Temani Abang makan, yah?"


Arumi mengangguk. Keduanya berpindah menuju sofa memosisikan duduk berdekatan. Dengan cekatan wanita cantik itu mengeluarkan kotak makan dan menyiapkan.


Harun tak pernah absen memuji masakan Arumi yang menjadi candunya. Bagi Harun, itu adalah masakan terenak kedua setelah Bunda Ira.


"Bang ... aku tunggu, yah, sampai Abang pulang," usul Arumi setelah makan siang selesai.


Harun menoleh. "Nunggunya lama, Dek." Harun menatap jam tangannya. "Masih ada lima jam," jelas pria itu.


"Tapi aku mau di sini ...." Wajah Arumi berubah sendu.

__ADS_1


Harun yang melihat itu segera mengangguk. "Ya sudah. Abang usahakan kerjanya cepat selesai." Dia tersenyum.


*****


Harun melanjutkan urusannya dengan bola mata sesekali melirik wanita yang sedang berbaring di sofa. Matanya terpejam rapat menandakan Arumi tertidur.


Ada perasaan menghangat dalam dada. Harun bisa merasakan bagaimana cinta wanita itu terhadapnya.


Selama menikah, Arumi memberikan perhatian dan melayani dengan sangat baik. Begitu pun sebaliknya. Harun memperlakukan wanita itu bagai ratu. Memerhatikan detail keperluan Arumi. Mengikuti keinginan istrinya.


Benar-benar hubungan yang indah.


Saat selesai, Harun merapikan mejanya dan bersiap-siap untuk pulang. Pria itu mendekati Arumi dan berlutut. Telapak tangan berada di atas lengan istrinya.


"Dek ...," panggil Harun dengan pelan.


Suara itu berhasil menembus alam bawah sadar Arumi. Sedikit demi sedikit dia membuka mata. "Bang ...," ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Iya Sayang ...."


Arumi mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. "Abang sudah selesai?"


Harun mengangguk pelan. "Sekarang kita pulang ...." Arumi bangkit dari pembaringan yang dibantu oleh Harun. Kepalanya terasa sedikit pusing.


"Abang gendong?" tawar Harun yang dibalas gelengan oleh Arumi.


"Malu ...."


"Tapi tetap aja malu ...." Arumi segera berdiri.


"Ya sudah." Harun menggenggam jemari wanita itu dan beranjak pulang.


Seluruh mata karyawan tertuju pada sepasang manusia yang berjalan dengan mesranya. Tanpa sadar hal tersebut mengundang kekaguman.


*****


Keduanya tiba di rumah. Harun duduk sejenak di ruang keluarga melepas penat. Sedangkan Arumi, menyediakan secangkir teh hangat lalu disuguhkan di depan pria itu.


"Terima kasih ...."


Arumi pun ikut duduk di samping Harun dengan mata yang tak pernah lepas dari aktivitas suaminya.


Seulas senyum terbit dari bibir ranum Arumi. "Tampannya suamiku ...," gumam wanita itu namun masih terdengar jelas di telinga Harun.


"Sini ...." Menyuruh Arumi untuk semakin mendekat.


Dengan senang hati wanita itu beringsut. Harun merangkulnya. "Bilang apa tadi?" bisiknya.


"Suamiku tampan."

__ADS_1


"Untuk istriku yang cantik." Mencuri kecupan di pipi.


Arumi tersipu. Wanita itu menyembunyikan wajahnya yang mungkin telah menciptakan rona merah. "Abang, ih!" rengeknya.


Harun tertawa. "Kenapa?"


Arumi tak bergeming. Dia masih setia di tempat persembunyian wajahnya.


"Dek ...."


Arumi menengadah.


"I love you ...."


Hati wanita itu seketika berdesir mendengar ungkapan suaminya. Meski tak jarang Harun mengucapkan untuknya. Entah sebelum tidur atau pun pada saat bangun.


"*I l*ove you too ...," balasnya.


*****


"Abang gak usah mandi."


Harun mengerutkan kening mendengar permintaan Arumi pada saat dia hendak membersihkan diri.


"Kenapa? Abang bau ini."


Arumi menggeleng. "Abang harum, kok. Bahkan lebih harum ..." Wanita itu tak hentinya menempel pada suaminya.


"Masa? Tapi Abang mandinya cuman tadi pagi." Harun sedikit heran dengan ucapan Arumi.


"Aku serius. Abang harum. Aku suka banget ...."


Binar di wajah Arumi serta tingkahnya yang tak menyisahkan ruang sedikit pun dengan pria itu, menunjukkan jika memang Arumi senang dengan kondisi sekarang.


Demi istrinya, Harun mengangguk.


.


.


.


.


.


Lari maraton 😁😋


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2