TERGODA

TERGODA
TERGODA


__ADS_3

Seorang pria dengan topi bertengger di kepalanya berjalan keluar melalui pintu kedatangan Bandar Udara Kota J. Terlihat senyum menawan menginjakkan kaki kembali ke tanah air. Terhitung sembilan hari ia pergi namun terasa begitu lama.


Ada wanita yang menjadi alasan kepulangannya dan telah menunggu di balik pagar besi. Wanita cantik itu melambaikan tangan dengan semangat.


Harun menyeret koper dengan langkah panjang menghampiri Sang Pujaan yang kini mengandung darah dagingnya.


Mereka berhadapan dengan jarak beberapa meter, saling berpandangan dengan pancaran kerinduan. Tak dapat dipungkiri, jika Arumi tampak kurus, dan itu membuat rasa kasihan menghampiri Harun.


"Assalamualaikum ... apakah terus seperti ini?" Harun membuka percakapan.


Pipi Arumi merona merah. Dengan gerakan impulsif tubuh keduanya telah menyatu. Saling melepas belenggu yang membuat dada terasa sesak meminta hak ingin bertemu.


Arumi menenggelamkan wajah pada dada bidang suaminya. Seakan ingin menghirup habis aroma yang menjadi candunya. Harun pun demikian semakin mengeratkan lilitan lengan kokohnya.


Arumi menengadah untuk memastikan kembali bahwa itu adalah pria andalannya.


Cepat pula, Harun menyentuh kening, kedua pipi dan hidung istrinya. Mereka telah lupa bahwa di tempat itu ada manusia selain mereka. Tatapan sebagian orang tertuju pada kedua insan tersebut.


Bahagia jelas terpancar dari raut wajah Harun dan Arumi.


"Si Baby tahu, jika Ayahnya akan datang. Jadi gak rewel," ucap Arumi disela-sela perlakuan Harun.


Pria itu menyentuh perut Arumi dengan bibir tak pernah memudarkan keindahannya. "Rindu Ayahnya ...."


Arumi tersipu mendengar.


Harun mengedarkan pandangan. "Dek, sendiri?"


"Diantar sama supir."


"Bunda? Mama?" Harun lagi-lagi melayangkan pertanyaan.


Arumi menggeleng. "Aku yang minta, Bang. Kasihan mereka. Selama Abang gak ada, Bunda dan Mama gak pernah ninggalin aku. Ditambah ngidam yang terlalu banyak merepotkan ...," sesal wanita cantik itu.


Harun mengangguk pelan. Pun seperti itu yang ia rasakan. "Ibu hebat."


*****


Sesampainya di rumah, Harun dan Arumi disambut oleh ketiga paruh baya. Mereka menanti kepulangan pria itu.

__ADS_1


"Sepertinya memang istrimu tak bisa jauh, Run." Bunda Ira menggoda keduanya.


Wajah Arumi memerah bukan main.


"Persis kayak Mama dulu waktu hamil. Bawaannya pengin dekat suami terus," imbuh Mama Reni.


"Beda dengan Bundamu, Nak. Jarang dekat-dekat Ayah." Ayah Kamil bercerita yang disambut gelak tawa.


Akhirnya nostalgia pun terjadi.


"Tapi waktu begitu cepat. Rasanya baru saja kemarin mengandung, sekarang puteraku sebentar lagi jadi Ayah." Wanita paruh baya itu mengusap matanya yang berair.


"Aku juga merasa hal yang sama," imbuh Mama Reni.


Harun dan Arumi hanya mampu menipiskan bibir. "Semoga keluarga kita diberi kesehatan agar bisa melihat tumbuh kembang baby-ku," harap Harun.


"Aamiin ...."


*****


Arumi selesai membereskan isi koper milik suaminya. Ada yang menarik perhatian wanita itu kala melihat bungkusan yang berisi dua sepatu bayi dengan model dan warna berbeda.


"Lucu, yah," bisik Harun di telinga wanita cantik itu. "Jadi gak sabar ...."


Arumi mengangguk pelan. "Insya Allah tinggal beberapa bulan lagi ...."


Harun membalikkan Arumi menghadap dirinya. Menatap dalam kedua manik indah tepat di depan. Harun menyusuri garis wajah menggunakan punggung jemari.


"Tetaplah seperti ini," desahnya. "Jangan pernah berubah." Harun mengucap dengan sepenuh hati.


Arumi memejamkan mata. Merasakan setiap getaran yang ditimbulkan oleh pria di depan. Untaian kata yang diucapkan seolah memberi kesejukan dan ketenangan. Mengubur setiap memori perih yang pernah dialaminya.


"Merindukan, menyayang dan membutuhkanku setiap waktumu," Harun semakin mengikis jarak wajahnya.


Arumi merekam hal tersebut dengan sebaik-baiknya.


"Jika Abang boleh meminta ... Abang hanya ingin bersama Arumi sekarang dan kehidupan Abang selanjutnya ...," harapnya dengan sungguh. Suara begitu berat.


Arumi membuka mata. Mengangkat tangan hingga membalas sentuhan Harun. "A-apa hanya Abang yang berharap seperti itu ...."

__ADS_1


Harun mengecup sayang telapak tangan Arumi.


"Aku juga ingin bersama Harun sekarang dan di kehidupanku selanjutnya ...." seketika Arumi mengangguk pelan. "Ya ... aku tak akan pernah berhenti merindukan, menyayang dan membutuhkan suamiku ...," yakinnya.


Arumi berjanji pada dirinya sendiri tak akan menyia-nyiakan rasa pria itu. Pun sebaliknya.


Harun menyatukan wajah mereka. Menyesapi dan merasakan cinta satu sama lain yang tak terbendung. Melepas kemelut selama sembilan hari tak berjumpa.


Arumi menyatukan tangan pada tengkuk Harun. Mendorong pria itu untuk melakukan hal yang lebih menyenangkan.


Selang beberapa detik, kedua insan itu telah berpindah ke tempat yang semestinya.


Gerakan perlahan penuh perasaan, Harun telah berhasil melambungkan istrinya dan menuntun merasakan kenikmatan yang tiada tara. Mereka saling menginginkan dan salin membutuhkan tanpa ingin melepas satu sama lain.


Bibir Harun maupun Arumi tak hentinya melafadzkan kata-kata yang semakin membakar perasaannya.


"Apa Abang menyakitimu?" pertanyaan yang spontan dibalas gelengan oleh Arumi.


"Baby-nya Abang?" Jemari lebar Harun mengusap dengan halus permukaan kulit padat yang sudah menampakkan sedikit bentuknya.


"Dia ... yang ingin," jawab Arumi dengan tersipu.


Harun terkekeh dan mengecup sayang perut Arumi. Kembali ia melanjutkan sesuatu yang sempat terhenti.


.


.


.


.


.


Jangan lupa mainkan jempolnya😁♥️


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2