TERGODA

TERGODA
Tergoda 31


__ADS_3

Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!


Selamat Membaca😘


.


.


.


Akmal membopong tubuh wanita itu. Debby tanpa sadar tertidur dipelukannya. Mungkin efek menangis dan sakit akhirnya dia terlelap. Pria itu membaringkan di atas tempat tidur.


Akmal menatap lamat-lamat wanita itu. Mengapa dia sangat emosional hari ini. Ada apa? Menangis tanpa sebab namun tak lama berperilaku manja padanya.


Debby mengatakan dirinya sakit. Tapi ketika Akmal mengecek suhu tubuh wanita itu, panasnya normal. Apakah dia berpura-pura hanya untuk menahan Akmal?


Untuk lebih memastikan, Akmal menelpon salah satu dokter kepercayaannya. Yah, dia ingin mengetahui Debby sakit apa.


*****


Arumi menggeledah ruangan Akmal. Dia memeriksa satu persatu lemari suminya. Dia mencari sesuatu dengan harapan tak menemukan. Dia mencoba menenangkan dirinya yang semakin sesak.


Arumi melupakan sakitnya. Entah dari mana dia mendapat kekuatan hingga mampu berjalan normal. Arumi mendekat laci meja Akmal. Dia memejamkan mata dan menghembuskan napas panjang.


Tangannya gemetar mendekati benda itu berharap tidak menemukan sesuatu. Dia menelan ludah. Jemarinya sedikit demi sedikit menarik benda tersebut.


1 hembusan


2 hembusan


3 hembusan


Laci terbuka. Arumi menggigit bibirnya hingga berbekas kala menemukan benda berbentuk lingkaran berwarna hitam. Tangannya memegang benda tersebut dan memperhatikan dengan lekat.


*****


Hampir 20 menit dia menunggu, dokter yang disewa Akmal pun datang. Dokter tersebut yang pernah menangani Arumi waktu di rumah sakit. Akmal kenal dengan beliau.


Beruntung rumah dokter Arifin tak terlalu dari kediaman Debby dan hari ini pun dia tak ke rumah sakit, secepat dia datang saat Akmal meneleponnya.


"Dokter Arifin." Akmal menyambut sang dokter di luar. Dia menceritakan segalanya tentang gejala yang dialami oleh Debby kepada pria yang berusia kurang lebih 40 tahun.


"Apa istri, Pak Akmal mengalami mual?" Dokter Arifin berprasangka bahwa yang sakit adalah istri pria itu.


Akmal termangu mendengar pertanyaan sang dokter yang menyebutkan bahwa orang yang akan ditangani adalah istrinya. Dia bingung harus berkata apa sedangkan dokter Arifin mengetahui bahwa Arumi adalah wanita halal dari Akmal Anggara Dinata.


"D-dia bukan istri saya dok." Akmal jujur kepada sang dokter. Toh kenyataannya Debby memang bukanlah istrinya.


Dokter Arifin mengerutkan kening. "Lalu yang di dalam siapa, Pak?"


Akmal menelan ludah. Tidak mungkin baginya mengatakan kalau Debby adalah selingkuhannya. Dia tidak setolol itu untuk berkata demikian. "D-dia ...."

__ADS_1


"Mas ...." Tiba-tiba terdengar sahutan dari dalam. Kedua pria yang berbeda usia itu bersamaan menoleh.


"Lebih baik kita langsung ke dalam, dok." Akmal mempersilahkan dokter Arifin. Dia berjalan lebih dulu diikuti sang dokter dibelakangnya.


Keduanya memasuki kamar tempat Debby dibaringkan. Dokter Arifin mengerutkan kening. Karena memang wanita di depannya berbeda dengan yang ditemuinya di rumah sakit puluhan hari yang lalu.


*****


Debby memegang tangan Akmal. "Mas dari m-mana?" Wanita itu lagi-lagi menangis.


Akmal ingin menenangkan tapi juga merasa sangat tidak enak dengan dokter yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. "Debby, kamu diperiksa dulu, yah." Akmal mencoba melepas pegangan Debby. Tentu dia melakukan itu dengan lembut.


Debby menghentikan isakannya. Dia menolehkan kepala melihat bahwa di kamar itu bukan hanya mereka berdua saja. Ternyata ada orang lain. Debby memperbaiki posisi baringnya. Dia menghapus air matanya menggunakan selimut.


"Sudah bisa?" tanya dokter Arifin.


Akmal mengangguk lemah dan mengiyakan. "Iya, dok."


Dokter Arifin mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Dia membuka tasnya mengeluarkan benda yang menjadi ciri khasnya sebagai seorang dokter. Stetoskop.


Dokter Arifin melakukan rangkaian pemeriksaan kepada wanita itu seraya mempertanyakan kembali gejala-gejalanya.


"Aku pusing, dok. Perutku serasa tidak enak. Tubuhku lemas." Debby berbicara dengan suara serak hampir tak terdengar


*****


Arumi meremas kuat benda tersebut. Dia memejamkan mata. Serasa ada benda tajam yang mengorek segumpal daging yang bersemayam dalam tubuhnya.


Arumi menelan ludah dengan amat susahnya. "S-suamiku s-setia." Dia kembali mengingat rangkaian kata yang pernah diucapkan oleh pria nomor dua setelah ayahnya. Dia mengangguk spontan. "Iya. Hubungan kita kuat." Namun sial. Wanita itu tak mampu berkompromi dengan air matanya.


Pandangan wanita itu kembali menuju laci. Dengan tangan yang semakin gemetarnya dia kembali menarik benda tersebut dengan pelan. Lagi-lagi memupuk harap.


*****


Dokter Arifin melepas stetoskop. Pria paruh baya itu menatap keduanya bergantian. "Saya menyarankan untuk memeriksa ke dokter kandungan untuk lebih detailnya dan pastinya. Karena ini hanya dugaan saya."


Wajah mereka menegang. "K-kenapa dokter kandungan?" Akmal sudah memiliki firasat. Sedangkan Debby mencengkram kuat selimutnya.


"Menurut gejala dan pemeriksaan saya, teman, Pak Akmal sedang ... mengandung."


Bagai disambar petir untuk keduanya. Tanpa sadar, mulut mereka menganga syok. Jantung keduanya sudah berpacu dengan hebatnya.


******


Arumi memejamkan matanya. Napasnya memburu. Air matanya bercampur keringat dingin. Tubuhnya lemas kala tangannya menemukan make up lipstik di laci sang suami yang jelas itu bukanlah miliknya.


Bagaimana ini? Kenapa begini? Dia mencengkram dua benda tersebut di tangannya. Dia bagai orang linglung yang tak tahu harus apa.


Dia mengatur napasnya mencoba menenangkan diri. Arumi harus minta penjelasan kepada Akmal. Dia butuh penjelasan pria itu.


*****

__ADS_1


Sepulang dokter Arifin, Akmal dan Debby duduk saling berhadapan. Wajah mereka betul-betul kalut. Malam panjang yang mereka lalui ternyata membuahkan hasil yang sama sekali mereka tak harapkan.


Debby memegang perutnya yang masih rata. "Dokter Arifin pasti keliru, Mas." Debby tidak percaya sama sekali dengan dokter itu.


Akmal mengangguk. Dia juga berharap seperti itu. "Kita segera pastikan, By."


"Antar aku sekarang, Mas." Debby mencengkram jemari Akmal.


Pria itu lagi-lagi mengangguk. Mereka segera bersiap. Debby mencepol rambutnya dan mengambil jaket yang tergantung di dinding. Dia memakainya dan berjalan bersama pria tersebut keluar dari rumah.


Banyak tetangga yang melihatnya namun tak perduli sama sekali. Terserah mau bilang apa sekali lagi dia tak perduli. Fokusnya hanya dokter kandungan.


Bagaimana kalau sampai dirinya hamil? Harus bagaimana?


Debby menggeleng pelan lalu masuk ke dalam mobil. Dia langsung menuju pusat pemeriksaan yaitu rumah sakit. Diperjalanan tidak ada yang berucap sekalipun. Mereka tegang, benar-benar tegang. Tenggelam dengan pikiran masing.


******


Arumi duduk di sofa. Dia mengambil ponsel dan menghubungi suaminya berkali-kali. Namun sialnya tak ada sahutan dari seberang. Arumi harus memperjelas atas temuannya.


Dia beranjak keluar dan menemui Asisten Rian. Bukan tidak mungkin pria itu mengetahui sesuatu terjadi dengan suaminya.


"Rian! Jangan sembunyikan sesuatu dariku."


Asisten Rian hanya diam. Dia hanya menunduk. Bukan rananya mencampuri urusan rumah tangga bosnya.


"Rian jawab!" Arumi meninggikan suaranya.


"Mohon maaf, Bu. Saya tidak punya kuasa mencampuri urusan keluarga, Bu Arumi dan Pak Akmal." Pria itu betul-betul tak mau memberi tahunya. Jangan sampai gara-gara ucapannya menimbulkan akibat fatal.


Percuma Arumi meminta jawaban. Rian tak akan menjawabnya. Wanita itu mengusap kasar wajahnya. Pikiran buruk menghantui.


Dia berbalik dan berlari menuju keluar. Arumi akan menunggu pria itu di rumahnya. Meminta penjelasan. Perlakuan suaminya, sandi ponsel serta 2 benda yang dia temukan dilaci berpadu dalam prasangkanya.


Napasnya kian memburu. Arumi membalap mobilnya. Menyalip satu persatu kendaraan di depan tanpa ampun.


.


.


.


.


.


(Sediakan minuman dingin untuk episode selanjutnya)


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2