TERGODA

TERGODA
Tergoda 16


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Akmal sering mendapat kiriman makanan pada saat jam makan siang. Paper bag yang sama, kotak yang sama dan secarik kertas pun bertuliskan kalimat sama dengan hari sebelumnya.


Pria berwajah tampan itu bahkan memberikan bonus kepada karyawannya yang setia menerima paket makan siang itu. Yah, karyawan tersebut memang sudah tahu jadwal.


Akmal senang karena merasa itu bentuk kepedulian Arumi terhadapnya dan dia sudah terbiasa. Akmal juga tidak pernah membahas itu jika bersama Arumi. Yah, karena Arumi pun demikian.


*****


Jam istirahat, Debby menatap sebuah profil seseorang dengan senyum. Dia ingin follow akun tersebut tapi dia ragu. Beruntung pria itu tak mengunci akunnya sehingga ia bebas berkunjung.


"Kurasa kamu sudah gila, By." Wanita itu bermonolog sendiri seraya memukul pelan kepalanya.


Dia tak tahu apa yang terjadi padanya sehingga seperti itu. Debby tak tahu mendefinisikan rasanya. Yang jelas jika mengingat hal-hal tentang pria tersebut dia selalu bahagia. Namun sejurus dengan itu, ingatannya juga tertuju pada status sang pria. Yah, dia sudah menikah.


Ini hanya rasa kagum, tak lebih. Aku tahu dia sudah ada yang punya.


Seperti itu dia mengobati kegundahannya. Ah, mau bagaimana, perlakuan pria tersebut yang membuatnya tersentuh.


Sikap dasar seorang wanita adalah lembut dan selalu melibatkan perasaan. Jika lawan jenis memperlakukannya dengan sangat baik, apakah salah jika dia menyukai orang itu?


Tapi Debby selalu mengklaim pada dirinya sendiri bahwa rasanya hanya sebatas kagum. Yah, kagum pada milik orang lain.


Tanpa sadar, seorang menguntitnya dari belakang. Setiap kali melihat Debby termenung memandangi ponsel, temannya akan begitu penasaran. Lagi-lagi orang yang sama.


"Sepertinya kamu sudah kecantol," ucap Zira. Temannya yang bersuara cempreng sempat memergokinya berbincang dengan pria tersebut.


Debby secara spontan menutup layar ponsel dengan telapak tangan. Dia berbalik menatap Zira dengan napas yang berdengus.


"Tidak!" elak Debby.


Zira tertawa dan menggeleng. Sekuat apapun Debby menyembunyikan tapi matanya selalu memancarkan ketertarikan pada pria tersebut. Zira tidak tahu kenapa temannya itu selalu menyangkal.


"Aku tahu, By. Kamu yang kukenal dari dulu, jarang seperti ini. Bahkan mantan-mantanmu tak pernah kamu pandangi fotonya berhari-hari seperti sekarang."


Debby membenarkan ucapan Zira dalam hati. Yah, sejauh ini memang Zira tahu tentang selak beluk hubungannya dengan mantan-mantannya.

__ADS_1


"Please! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ada rasa tidak percaya diri dalam nada suaranya.


Zira duduk di samping teman baiknya itu. "Kamu cantik, Debby. Bahkan sangat cantik. Kadar kecantikan seorang Debby selalu membuat pria bertekuk lutut," ucap Zira dengan menepuk punggung tangan temannya.


Tapi tidak untuk pria yang satu ini karena beda, Ra. Kamu tidak tahu pria ini sudah punya istri dan betapa cintanya ia terhadap wanitanya.


Debby hanya menghela napas panjang. Dia tak tahu bagaimana ia harus menjelaskan kepada temannya.


"Kalau dilihat-lihat, pria itu memang tampan. Kelihatannya juga orang berada." Zira membayangkan wajah pria tersebut. "Cantik dan ganteng!"


Debby hanya mengedikkan bahu lalu meninggalkan temannya yang masih mengoceh. Dia lebih baik menghindar. Namun ternyata apa yang dikatakan Zira sedikit menyentil otak dan hatinya.


"Yah, ini hanya sebatas kagum," monolognya.


*****


Jam pulang kantor, Debby tak langsung ke rumahnya. Dia singgah di toko swalayan untuk membeli kebutuhan. Debby memarkir kendaraan di area parkir dan segera membuka helm.


Kaki jenjangnya melangkah dengan sempurna bak sedang melakukan catwalk di atas panggung. Beberapa pengunjung pria memandangi Debby dengan penuh minat namun tak dipedulikan.


Dia mengambil troli dan mendorong. Memasukkan barang kebutuhannya satu persatu dalam benda tersebut. Namun tanpa sengaja lengannya menyenggol beberapa bungkus krupuk hingga terjatuh.


"Kalau jalan hati-hati."


Sebuah suara bariton membuatnya mematung. Jantungnya berdetak dengan kencang. Dia menelan ludah gugup.


Suara itu ....


Sedikit demi sedikit dia menegakkan kembali badannya dan menatap pria yang berdiri di depannya. Debby mematung sejenak. Rasa bahagia mulai melingkupi hatinya. Dia tak menyangka jika takdir mempertemukannya lagi dengan Akmal Anggara Dinata.


"Em ... k-kamu sudah l-lama di sini?" Debby sesali adalah dia tiba-tiba gagap.


"Barusan," jawab Akmal sekenanya.


Debby mengangguk. Tak sedikitpun dia mengalihkan tatapan dari wajah pria di depannya. Ribuan kali dia dipertemukan dengan pria berwajah rupawan, tapi mengapa Debby merasa Akmal menempati posisi teratas.

__ADS_1


Iya, ini hanya sebatas kagum.


"Belanjamu cukup banyak."


Suara Akmal membuyarkan konsentrasi Debby yang sedang menikmati ciptaan Tuhan. Seketika dia tersenyum simpul. "Kamu tahu, kan, kebutuhan wanita itu banyak," ucap Debby.


Akmal membetulkan ucapan Debby. Sepertinya memang kebutuhan wanita lebih banyak. Seperti halnya dirinya sendiri yang harus membeli pesanan istrinya.


"Mas." Debby mulai melatih lidahnya dengan panggilan 'Mas' kepada Akmal Anggara Dinata. Hal itu, untuk menghilangkan sekat kecanggungan diantara keduanya.


"Ada apa?"


"Apa ... aku boleh sering berkunjung ke rumahmu?" Dia tak tahu harus berbicara apa. Hanya saja pertanyaan itu spontan keluar semata-mata untuk menahan agar Akmal tak cepat pergi.


Akmal tersenyum. "Boleh! Arumi akan senang jika kamu sering berkunjung bersama Dini."


"Kantormu?" Lagi-lagi pertanyaan bodohnya meluncur begitu saja.


Pria itu mengerutkan kening. "Untuk?" Akmal balik bertanya.


Kini Debby tak tahu harus menjawab apa. Yah, dia bingung dengan pertanyaannya sendiri. Untuk apa dia berkunjung ke kantor Akmal? Otaknya berputar mencari alasan yang cocok. "U-untuk m-melihat-lihat." Debby menggigit bibirnya.


"Oh. Ya sudah! Datang saja jika kamu mau."


Serasa mendapat angin segar. Debby tersenyum bahagia. Awalnya dia tak tahu untuk apa kesana. Ternayata pertanyaan spontannya memberikan jalan. Yah, jalan untuk bertemu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2