
Satu persatu semua telah berkumpul memadati kediaman Ibu Susan. Mereka datang memberi ucapan berbela sungkawa kepada keluarga almarhum.
Arumi masih setia di samping mayat mantan ibu mertuanya yang telah ditutup kain. Wanita itu masih terus saja menangis. Meski bibir berkata ikhlas namun berbanding terbalik dengan hati kecilnya.
Semua telah bersepakat untuk memakamkan Ibu Susan secepatnya. Biaya pemakaman ditanggung oleh Arumi sendiri. Yah, ini memang atas permintaan wanita itu.
Banyak yang mempertanyakan keberadaan anaknya.
"Kemana Akmal?"
"Kenapa anak Ibu Susan tidak ada?"
"Dari tadi saya cari-cari tapi tidak nampak."
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Bagi orang-orang yang tahu kemelut kehidupan seorang Akmal Anggara Dinata memilih diam. Mereka tidak mau membeberkan aib pria tersebut.
Arumi pun seperti itu. Dia hanya terdiam jika ada yang bertanya kepadanya. Memang Arumi harus jawab apa?
*****
Mayat Ibu Susan dimandikan sedangkan yang lain sedang menyiapkan kain kafan. Arumi membantu mempersiapkan segalanya. Dia menggigit bibirnya menahan isakan. Mungkin ini bentuk pengabdian terkahirnya kepada wanita itu.
Semua tetangga yang melihat keikhlasan wanita itu sungguh sangat kagum. Yah, Arumi dan Akmal beserta ibunya sudah tak memiliki ikatan sama sekali. Namun mengapa wanita itu masih melakukan segalanya?
Saat semua telah selesai dan siap untuk dishalatkan. Tiba-tiba ....
"Ibu!"
__ADS_1
Seorang pria dengan penampilan berantakan datang. Semua mata tertuju pada sosok tersebut.
Arumi yang mendengar itu mundur. Dia masih sangat kenal dengan suara tersebut. Wanita itu tak mau menoleh sama sekali menuju sumbernya. Arumi memilih bersembunyi dibalik kerumunan.
Akmal Menangis. Dia berjalan cepat dan bersujud dibawa kaki Ibu Susan yang telah terbungkus kain kafan. Dia menangis sejadi-jadinya. Pria itu terpukul.
"Maafkan Akmal, Bu ...."
Terlambat! Kini wanita yang telah melahirkannya dan telah ia kecewakan sudah tak bernapas lagi. Terkahir pertemuan dengan ibunya, pada saat dia datang dan meminta restu untuk menikahi selingkuhannya.
"Ibu .... Bangun! Maafkan Akmal, Bu ...."
Pria itu memegang erat kaki Ibu Susan. Menciumi berulang kali. Tangisnya begitu pilu dan menyayat hati.
Akmal datang membawa penyesalan yang sedalam-dalamnya. Namun percuma, tidak ada yang tersisa.
"Tolong! Bangunkan Ibuku ...."
Ucapan Akmal sudah tidak terkontrol lagi. Di luar batas kesadarannya.
"Sudah, Nak. Ibumu sudah pergi dengan tenang. Lebih baik, kamu mendo'akan beliau." Ustadz yang hendak memimpin shalat mendekati pria lusuh itu.
Pak Ustadz memegang lengan Akmal mencoba membangkitkannya. "Ibuku sakit karena saya, Pak. Dia pergi karena ulah saya ...."
Pak Ustadz menggeleng. "Semua sudah kehendak yang di atas. Jangan berkata seperti itu, Nak. Ikhlaskan beliau. Do'akan beliau."
"Biarkan saya melihat wajah ibu saya untuk terakhir kalinya, Pak ...." Pilunya pria itu memohon.
__ADS_1
Ustadz tersebut mengabulkan permintaannya. Dia membuka kain bagian wajah Ibu Susan. Saat kain tersebut terbuka Akmal begitu kembali meraung.
"Ampuni dosa-dosa Akmal, Bu ...."
Tidak ada balasan dari ibu Susan.
Andai dirinya bisa kembali ke masa lalu, pria itu akan memperbaiki segalanya. Dia takkan pernah menghancurkan hati 2 wanita mulia dalam hidupnya.
Tapi sekarang apa? Tangisnya pun sudah tak ada artinya lagi.
Pria malang itu bangkit dengan bantuan Ustadz tersebut. Dia menyembunyikan isakannya di balik lengan bajunya. Bibirnya tak berhenti melafadzkan ampunan.
Apakah tidak ada kesempatan kedua?
.
.
.
.
.
LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE 😉
Salam
__ADS_1
AAH♥️