TERGODA

TERGODA
Tergoda 47


__ADS_3

Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!


Selamat Membaca😘


.


.


.


.


Akmal memegang kepalanya. Meringis menahan sakit bagai ditusuk-tusuk. Pria itu berusaha mengumpulkan puing-puing kesadaran. Dia menatap jam yang jarumnya sudah berada di angka 11.


Akmal bangkit dari pembaringan. Dia terduduk seraya memijat keningnya. Matanya melirik di samping namun tak menemukan istrinya. Dia sudah menebak jika Debby berada di ruangan Samping.


Akmal beranjak ke kamar mandi dia membersihkan tubuhnya. Menghilangkan aroma-aroma alkohol yang jelas menempel pada dirinya.


Setelah selesai, Akmal mengambil pakaian di lemari tanpa menyetrikanya hingga tampak kusut.


Sejak menikah dengan Debby wanita itu jarang menyiapkan hal tersebut seperti perlakuan Arumi kepadanya jika hendak berangkat ke kantor.


Akmal meraih tas dan turun ke bawah. Langkahnya mengajak menuju meja makan. Namun nahas, tak ada apa-apa yang di dapatkan. Atas benda tersebut kosong.


Pria itu menghela napas kasar. "Debby ...." teriak Akmal.


Tak ada sahutan dari atas. Debby tetap terdiam tak menjawab. Dia mendengarnya namun tak mau menanggapi.


"Debby ... makanannya mana?!" Akmal mulai kesal dengan wanita itu. Dia betul-betul tak menjalankan perannya sebagai seorang istri. Rumah berantakan, makanan tak tersedia. Dia sama sekali tak terurus.


Emosi mulai menguasainya. Pria itu kembali naik ke atas dan membuka pintu kamar tempat Debby bersemayam. Namun yang di dapatkan adalah istrinya masih bergelut di atas kasur.


"Debby?!" Suara pria itu naik.


Wanita lagi-lagi hanya terdiam. Dia juga berhak marah atas perlakuan Akmal semalam.


"Suamimu mau berangkat


tapi kamu masih seperti itu! Dimana tanggung jawabmu sebagai istri?!"


Debby menggertakan giginya. Dia membuka mata dan menghempas selimut dengan kasar. Wanita itu bangkit dan turun dari atas springbed dan mendekati suaminya. Dadanya kembang kempis.

__ADS_1


"Selama sebulan menikah, apa kamu pernah menjalankan tanggung jawabmu dengan baik sebagai suami?!" Debby melempar balik pertanyaan suaminya. Dia tidak bisa sepenuhnya disudutkan seperti ini.


"Hampir setiap malam kamu pulang dengan keadaan mabuk-mabukan dan memanggil nama mantan istri pertamamu itu! Apa kau juga tak sadar diri?!" Suara Debby mengeras.


Skak! Akmal yang mendengar itu hanya mampu menelan ludah. Yah, dia tak bisa menampiknya karena memang itu kenyataan.


"Kamu mengagungkan nama Arumi ... Arumi dan Arumi! Saya betul-betul muak mendengar nama wanita sial-"


"Tutup mulutmu!" Akmal sesaat memejamkan mata lalu membukanya kembali. "Jangan coba-coba berkata buruk tentang dia ...." tekan Akmal.


Debby yang mendengar itu matanya mulai berkaca-kaca. Akmal selalu membela istri pertamanya. Tak mau mendengar hal-hal jelek tentang wanita itu.


"Tapi aku istrimu ... istri sahmu ...." Nada suara Debby bergetar. Dia mengepal kuat tangannya.


Akmal membuang muka dan mendengus. Telinganya sungguh tak menerima jika orang lain berkata buruk tentang Arumi. Sekali pun itu adalah Debby.


"Saya hamil. Harusnya saya menjalani dengan bahagia ... tapi kamu sama sekali tak pernah memberikan itu ...." Benteng pertahanannya runtuh dan menangis sejadi-jadinya. Wanita itu terduduk.


Akmal acuh, dia meninggalkan Debby dan beranjak pergi. Sungguh! Pernikahannya tak pernah damai.


Dulu jika melihat wanita itu menangis dia akan meraupnya dalam dekapan. Tapi sekarang dia tak perduli. Dia memilik menghindar karena lelah.


*****


Di dalam mobil Akmal terus memutar musik kesukaannya dengan Arumi.


*Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan


Cinta datang dan bertakhta


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tak bisa jelaskan


Karena hati ini telah bicara*.

__ADS_1


Akmal kembali mengenang masa-masanya dengan Arumi. Dia tak bisa melupakan wanita itu barang sejenak saja. Surat pemanggilan dari pengadilan tak pernah ditanggapi.


Pria itu akan merobek dan membuangnya di tempat sampah. Yah, tidak mau menghadiri sidang sialan itu.


Tiba-tiba telponnya berdering. Dia melihat nama yang tertera di layar. Pria itu segera mengangkatnya.


"Hallo."


"Kamu dimana? Jadi kesini?" ucap seseorang dari seberang.


"Iya! Pasti!" jawab Akmal.


"Oke! Aku tunggu sekarang juga!"


Sambungan telpon terputus. Dia melempar benda tersebut ke samping. Mobilnya menuju arah tempat yang sering dikunjunginya belakangan ini.


*****


Asisten Rian berkali-kali menelpon bosnya namun tak diangkat. Kemana Akmal selama ini? Semenjak drama yang terjadi di rumahnya, pria itu jarang masuk kantor.


Terkadang Asistem Rian berkunjung ke rumah itu namun istri barunya mengatakan dia sudah berangkat. Asisten Rian bingung, kalau memang bosnya berangkat tapi kenapa tak ada di kantor.


Banyak masalah yang harus diselesaikan. Terlebih gaji karyawan belum diberikan untuk bulan ini. Yah, tentu hal itu dipertanyakan.


Yang jadi sorotan dirinya selaku asisten orang nomor satu di tempat tersebut. Banyak karyawan yang mendesak Rian, tapi mau bagaimana, dia sama sekali tak tahu.


.


.


.


.


.


Follow IG : asriainunhasyim


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2