TERGODA

TERGODA
Tergoda 50


__ADS_3

Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!


(IG: asriainunhasyim)


Selamat Membaca😘


.


.


.


Keamanan melerai keributan tersebut. Sedangkan Debby memutar balik tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan keramaian yang mempermalukannya.


Dia keluar menuju mobilnya. Wanita itu menutup pintu dengan kasar. Tangisnya pecah. Debby menangis meraung-raung. Dia memukul kemudi hingga tangannya memerah.


"Aaarrgggghhh!"


Kenapa keadaan sekejam ini padanya? Kenapa tidak ada yang menerimanya dengan baik?


Semenjak pernikahan dengan Akmal, masalah bertubi-tubi datang menemuinya. Apakah ini balasan yang harus diterima?


Debby menenggelamkan wajahnya pada kemudi. Kepalanya sakit, sangat sakit memikirkan semua. Dia betul-betul stres menghadapinya.


Akmal juga tak pernah memperhatikan. Pria itu sibuk dengan dunianya sendiri. Tanpa pernah mempertanyakan tentang dia dan janinnya.


*****


Akmal menghisap rokok. Dia duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian, dorongan pintu kasar terdengar. Namun tak mengubah posisi pria itu. Dia masih sangat santainya. Akmal tahu jika yang datang adalah sang istri.


Debby melangkah masuk menghampiri Akmal sejurus dengan suara tangisnya.


"Apa kamu bisa bertindak untuk melindungiku?! Orang-orang menghinaku di depan mantan istrimu!" lantangnya wanita itu disertai isakan.


Mendengar kata mantan istri, Akmal menghentikan aktivitasnya. Dia menengadah menatap Debby. "Arumi? Kau bertemu dengan Arumi? Dimana?"


Debby menutup wajahnya sesegukan. Bukannya marah, tapi pria yang telah direbut malah balik mempertanyakan sang mantan.


Akmal menyimpan batang rokok pada asbak lalu berdiri. Dia memegang erat lengan Debby. "Dimana kau berte-"

__ADS_1


"Cukup! Hiks ...." Debby mendorong Akmal. "Aku capek. Aku sangat lelah ...." Debby meremas rambutnya.


Akmal menelan ludah.


"Tidak ada orang yang menerimaku! Hiks .... semua orang mengaggapku rendah, mencemohku dan menyudutkanku." Debby memutar tubuhnya meninggalkan sang suami yang masih diam dan termangu.


Sedangkan Akmal hanya memikirkan Arumi. Ingin rasanya dia bertemu dengan wanita itu, namun rasa bersalah yang begitu besar memudarkan percaya dirinya.


*****


Arumi dan Dini telah berada dalam mobil. Mereka tak menyangka jika harus bertemu dengan Debby ditempat itu.


"Aku salut sama kamu, Mi. Setidaknya kau tak terpancing dengan ucapan wanita itu."


Arumi hanya menghela napas berat. Sekuat tenaga dia menahan gejolak di dalam dadanya.


Dia mengangguk lemah. "Ini semua berkatmu. Terima kasih selalu ada." Dini berbalik menatap sahabatnya.


"Berlatihlah untuk kuat. Dunia terlalu kejam jika kau sangat lemah," ucap Dini.


Namun ada yang mengganjal pikiran Arumi. "Mengapa orang-orang tahu?"


Arumi menuruti ucapan Dini. Dia mengangguk mantap. Tak ada gunanya juga dia harus mencari tahu semua.


*****


Akmal menatap ponselnya. Banyak panggilan tak terjawab dari kantornya. Asisten Rian juga tak pernah absen mengiriminya pesan. Sudah puluhan hari pria itu tak masuk kerja.


Akmal menelpon balik Asisten Rian. Selang beberapa detik panggilan itu terhubung.


"Hallo, Pak." Terdengar jelas bagaimana suara Rian menerima telpon dari orang yang selama ini dicari-cari.


"Bagaimana?" Akmal tak menjawab sapaan. Dia balik bertanya.


Asisten Dian tahu arah pembicaraan bosnya. "Mohon maaf, Pak, keadaan di kantor sangat kacau. Para karyawan terus mendesak meminta gajinya," jelas Asisten Rian. "Sebentar lagi, memasuki tanggal gajian selanjutnya."


Akmal hanya mendengus mendengar. Pria itu memijat pangkal hidungnya. Dia pusing. Bagaimana tidak, permainan haram yang dilakukannya setiap hari betul-betul menguras rupiahnya. Hingga berani menggunakan dana usahanya.


"Kemarilah!" ucap Akmal. Dia memutuskan sambungan telpon.

__ADS_1


Dia mengusap kasar wajahnya. Otaknya betul-betul berputar tujuh keliling memikirkan langkah selanjutnya.


Istri yang seharusnya diajak berdiskusi ketika mendapat masalah, sekarang hanya bisa marah dan menangis.


Untuk saat seperti ini, dia benar-benar membutuhkan sosok Arumi. Wanita sabar nan cerdas yang selalu memberikan jalan keluar dan semangat ketika ada kendala. Duduk di samping seraya mengusap pundaknya dan berkata 'Tenanglah. Kamu pasti bisa'


"Arumi," gumamnya dengan suara parau.


Meskipun memang Arumi jarang mendampingi kemanapun dia bepergian tapi ada dukungan sebagai pengiring langkahnya.


Pepatah mengatakan, panas setahun dihapus hujan sehari. Kebaikan yang Arumi taburkan hilang seketika hanya karena secuil kesalahan. Tak ada yang sempurna. Manusia diciptakan berpasang-pasangan agar saling melengkapi satu sama lain.


Seharusnya Akmal mampu menerima kekurangan Arumi. Sebagaimana Arumi demikian. Bukan membandingkan dengan wanita lain bahkan mencari pelabuhan baru.


*****


Tak lama kemudian kendaraan Asisten Rian telah terparkir di depan rumah bosnya. Pria berperawakan tinggi itu keluar dari mobilnya dan melangkahkan kaki sampai depan pintu. Meski melihat benda tersebut terbuka, tapi dia punya etika untuk tidak menerobos.


Asisten Rian memencet bel guna memberi tahu kepada pemilik rumah akan keberadaannya.


Yang dicari pun muncul. "Masuklah!"


Asisten Rian mengikuti langkah Akmal. Keduanya masuk ke dalam bangunan tersebut. Mereka duduk di ruang tamu. Saling berhadapan satu sama lain.


Asisten Rian menunggu Akmal membuka percakapan. Namun pria itu tampak berpikir. Dia terdiam dan menatap benda di depannya.


.


.


.


.


.


Salam Sayang


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2