Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Kejutan dari Reyhan


__ADS_3

Reyhan memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Zahra meneteskan air mata menceritakan kejadian di cafe. Ia berkata, "Mas Reyhan, saya tidak mau kembali ke cafe, turunkan saya disini! Untuk masalah pengembalian uang kuliah saya, Mas boleh ambil motor saya."


Reyhan hanya diam berkonsentrasi memgemudikan mobil.


"Memang saya yang salah menerima perjanjian kita, yang akhirnya merusak nama baik dan kehormatan saya sendiri," ujar Zahra dengan meneteskan air mata.


Mobil mendadak berhenti. Reyhan berkata, "Kalau gitu saya juga salah, percayakan padaku aku akan mengatasi semuanya."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Kamu cukup diam saja, aku akan menyelesaikan semuanya. Hapus air matamu, tak ku kira kamu selemah itu."


Reyhan dan Zahra tiba di cafe. Reyhan melihat kondisi cafe yang masih sepi pengunjung, kemudian meminta salah satu karyawannya menutup cafe, meskipun belum waktunya tutup.


Semua karyawan, baik bagian waitress, koki, asisten koki, kasir, manager yaitu Karin diminta hadir di ruang utama cafe.


Rayhan menarik tangan Zahra kearah bagian tempat band cafenya manggung. Posisi sedikit lebih tinggi dari lantai pengunjung.


Semua karyawan memandang penuh tanya, beberapa ada yang ketakutan akan amarah bosnya itu, mengingat perbuatannya terhadap Zahra. Lain halnya dengan Karin ia memandang dengan kesal, karena harus berurusan dengan pesaingnya itu.


Reyhan mulai bicara dengan suara lantang,


"Saya mengumpulkan anda semua karena ada beberapa pengumuman penting hari ini.


pertama saya menyesal sekali karena beredarnya gosip antara saya dan Zahra.


Saya tegaskan saya dan Karin tidak ada hubungan apa-apa, jadi tidak ada istilah perebut calon suami orang. Siapa yang bergosip ataupun mengusik kenyamanan Zahra maka akan berurusan langsung dengan saya karena dia calon istri saya."


"Mas Reyhan!!" teriak Zahra terkejut dengan pernyataan Reyhan yang sepihak. Reyhan hanya mengangangkat tangan tanda meminta Zahra diam.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu Vino masuk keruang cafe.


"Apa?" tanya Vino kecewa.


Begitu juga dengan Karin yang terkejut dan semakin kesal, membuatnya antara ingin marah dan menangis.


Reyhan menatap Vino dan melanjutkan pengumumannya, " Yang kedua, saya akan mengganti posisi manager Resto dan Cafe D'amor. Sudah Saatnya Adik saya memimpin disini, karena kuliahnya pun sudah selesai hanya menunggu wisuda saja. Vino akan menjadi manager disini, dan Gita akan membantu Vino menjalankan tugasnya menjadi asisten manager. Zahra akan membantu di kasir."


Zahra terkejut untuk kedua kalinya, mendengar pengumuman itu. Ia tidak menyangka Vino dan Reyhan adalah adik dan kakak. Padahal sering sekali Zahra mengadukan sikap Reyhan kepadanya. Bahkan menjelek-jelekkan Reyhan dihadaoan Vino. Hati Zahra berkecamuk dengan kejutan dari Reyhan itu.


Apa? mereka bersaudara, mengapa vino tidak pernah cerita, awas kamu Vino, terus ini apaan, Reyhan ngaku-ngaku calon suamiku lagi.


Vino dan Zahra berpandangan, terlihat Vino kecewa, begitu juga dengan Zahra. Semua terdiam, saling berpandangan. Reyhan melanjutkan berbicara, lalu menunjuk Karin dan berkata, " Untuk kamu Karin, terserah kamu mau tetap bekerja disini atau keluar"


"Reyhan aku tidak menyangka kamu memperlakukan aku seperti ini," ujar karin dengan sangat kecewa, Ia menahan air matanya agar tidak menetes. Ia bergegas keluar dari cafe.


"Kak, aku butuh penjelasan tentang semua ini?" tegas Vino.


Zahra menunggu di ruang kerja Reyhan, Reyhan dan Vino naik ke lantai dua. Mereka berdiri di samping balkon, Reyhan menggandeng bahu Vino.


"Tentang aku dan Zahra, aku melakukannya karena terpaksa, untuk membersihkan namaku dan Zahra sendiri?" seraya menepuk bahu Vino.


"Tapi mengapa harus menjadi calon suaminya, bukan kakak tahu perasaanku pada Zahra?"


"Vino, mungkin perasaan ku dengan Zahra sama dengan perasaanmu padanya, jadi mulai sekarang kita bersaing secara sehat, siapa nanti yang akan dia pilih, aku ikhlas kamu juga harus demikian."


"Apa! kakakku ini jatuh cinta? tapi kenapa harus dengan Zahra, oke kita bersaing secara sehat. Tega sekali nikung kekasih adikya sendiri, ujar Vino dengan tertawa kecil.


"Vino aku percayakan cafe ini padamu, ingat ini cafe peninggalan almarhum ayah, jadi kamu harus menjaga dengan baik dan lebih memajukan bisnis keluarga kita, sudah saatnya kamu serius, jangan main-main saja. Aku akan terus memantau kerjamu meskipun akhir-akhir ini aku akan sering keluar kota." Pesan Reyhan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan lebih membuat cafe ini lebih baik dari sebelumnya,"


Mereka mengepalkan tangan, saling mengepalkan tinju pada tangan kemudian Reyhan memeluk Vino dan berbisik.


"Maaf Vino kali ini kakakmu ini tidak mau mengalah lagi dengan mu, selama ini aku mengalah untuk apapun, namun tidak untuk urusan Zahra," bisik Reyhan.


Mereka kemudian tertawa bersama. Vino tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala tidak menyangka harus bersaing dengan kakaknya sendiri merebutkan hati seorang wanita.


Sementara itu Zahra duduk melamun di sofa, di kepalanya sudah berjubel pertanyaan yang akan ia tanyakan pada dua orang yang ternyata bersaudara itu.


Reyhan masuk keruangan dimana Zahra duduk termenung. Zahra beranjak dari duduknya. Reyhan tersenyum melihat Zahra yang terlihat kesal. Sepertinya Reyhan sudah tahu apa isi kepala Zahra, Ia pun berjata keoadanya, "Maaf Zahra, aku terpaksa melakukan ini, untuk membersihkan nama baik kita."


"Tapi mengapa harus berbohong seperti itu, pakai acara ngumumin aku calon istrimu lagi."


"Aku tidak bohong, aku benar-benar ingin kamu jadi istriku. Kamu maukan jadi istriku?"


"Apa?" Zahra heran dan juga terkejut atas pernyataan Bosnya itu.


"Oke, aku akan menunggu jawabanmu, menunggu hatimu untukku, aku pastikan kamu jatuh cinta padaku. rayu Reyhan dengan tersenyum, dan mengerlingkan mata menggoda Zahra.


Vino masuk keruangan, Iapun menyahut, "Eh apaan kak?"


Zahra menjewer telinga Vino dan berkata, "Vino kenapa kamu tidak cerita kalau dia kakakmu, padahal aku selalu cerita semuanya padamu?"


"Kamu gak pernah tanya, sekarang tinggal pilih aku atau Kak Reyhan," jawab Vino dengan entengnya.


Zahra makin kesal. Ia memegangi kepalanya sendiri dengan kedua tangannya dan keluar ruangan sambil berteriak, " Tidak dua-duanya."


Reyhan dan Vino berpandangan dan tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2