Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Inikah hukumanku?


__ADS_3

Zahra terduduk lemas di depan ruang oprasi. Reyhan tengah berjuang hidup dan mati di dalam ruangan itu. Mulutnya mengutuki dirinya sendiri, " Maafkan aku Mas, tidak percaya padamu, aku pantas di hukum, tapi mengapa kamu menghukumku dengan cara seperti ini?"


Bu Maryam menghampiri putrinya mengajak duduk di kursi, " Berdiri sayang, istghfar, sebaiknya kamu berdoa untuk suamimu, kamu harus kuat,"


Pak Rohman turut memeluk putrinya. Menguatkan hati semampu yang ia bisa. Sedangkan Vino hanya bisa menatapnya iba.


Setelah melewati jam yang panjang, dokter keluar dari ruangan oprasi. Zahra dan Vino mengikutinya sampai keruangan. Dokter itu menjelaskan dengan bahasa kedokteran yang sulit mereka cerna. Intinya operasi sudah dilakukan tinggal menunggu kesadaran pasien. Dokter hanya menyarankan keluarga untuk terus berdo'a meminta keajaiban Tuhan.


Zahra berjalan gontai keluar dari ruangan dokter, setelah mendengar bahwa suaminya masih belum melewati masa kritisnya. Tubuh Zahra lemas dan akhirnya pingsan lagi. Vino membopong Zahra keruangan UGD kedua orang tuanya yang terlihat sangat cemas mengikutinya dari belakang.


Setelah siuman Zahra kembali berlari mencari keberadaan Reyhan dimana ia di rawat. Vino dan kedua orang tuanya tidak bisa mrncegah. Vinopun mengantar Zahra ke ruangan ICU, mengintip suaminya dari jendela kaca yang tirainya tersibak sedikit. Keluarga pasien brlum boleh menemuinya.


Vino meninggalkan Zahra bersama orang tuanya, ia hendak menemui mamanya yang sejak pagi ia tinggalkan.


" Zahra aku mohon kuatkan dirimu, dan jangan sampai Mama tahu keadaan Kak Reyhan. Aku akan bilang kalau Kakak keluar kota,"


" Trimakasih Vino," jawab Zahra lemah.


Vino kembali menemui Bu Fatma diruangannya. Vino segera memasang senyum cerianya di hadapan Bu Fatma.


" Kok baru datang? mana kakakmu?" tanya Bu Fatma.


" Maaf Ma, Vino ada sedikit urusan. Oh iya tadi Mama tidur pulas ketika Kak Reyhan mau pamit, dia titip salam katanya mau keluar kota sebentar, ada proyek besar katanya," ujar Vino berbohong .


" Zahra mana?"


" Zahra mungkin besok menemui Mama, tadi katanya nggak enak badan "


" Oh gitu, kenapa dari tadi perasaan Mama gak enak ya?"


" Ingat pesan dokter Ma, kalau Mama mau sembuh jangan banyak fikiran."


***


Hari berganti hari penantian tak kunjung menemui ujungnya. Reyhan masih dalam kondisi koma tak sadarkan diri. Zahra berada di sisi Reyhan mengajaknya bicara berharap laki-laki di hadapannya itu membuka matanya.


" Mas, bangunlah! aku sudah tak sanggup, hukumanmu terlalu berat,"

__ADS_1


Sesorang membuka pintu, menundukkan kepala memberi hormat lalu berkata," Nyonya ada hal penting yang harus saya bicarakan,"


Zahrapun keluar ruangan, menemui asisten Reyhan bernama Jodi.


" Nyonya, hasil rapat direksi meminta anda menggantikan posisi Pak Reyhan sementara waktu,"


" Tapi aku harus menunggui suamiku, bagaimana bila di gantikan yang lain."


" Tidak bisa Nyonya, pemilik saham terbesar atas nama anda, Pak Reyhan dulu sempat menghibahkan sahamnya atas nama anda. Sebaiknya anda setujui saja demi Pak Reyhan dan Perusahaan yang sudah susah payah ia rintis," bujuk Jodi panjang lebar.


" Apa aku bisa Pak Jodi?"


" Anda pasti bisa Nyonya, aku akan membantu anda," ucap Jodi penuh percaya diri.


" Baiklah, ini demi Pak Reyhan aku harus bangkit menyelamatkan perusahaan," balas Zahra penuh semangat, kebanangan kegigihan Reyhan merintis perusahaannya memberi asupan semangat hidupnya untuk bangkit dari keterpurukannya.


***


Hari pertama di kantor dengan jabatan baru.


Kini Zahra penuh percaya diri memimpin sebuah rapat membahas tender besar, setelah memperkenalkan diri di hadapan para pegawainya. Semua tidak menyangka bahwa wanita ramah yang selama ini mereka kenal sebagai karyawan biasa adalah istri pemilik dan pemimpin perusahaan.


Zahra tiba-tiba meneteskan air mata ketika meminta doa kepada seluruh pegawainya untuk kesembuhan suaminya yang tengah terbaring koma di Rumah Sakit. Suasana rapat menjadi hening, semua pegawai larut dalam kesedihan.


Zahra meninggalkan ruangan menuju ruangan Reyhan yang kini jadi ruang kerjanya. Ia menatap foto dirinya dan Reyhan di dalam pigora kecil. Senyum keduanya merekah, jepretan kamera yang mereka ambil di tepi pantai sewaktu di Bali.


" Permisi Nyonya," tegur Jodi setelah mengetuk pintu yang tak terbuka lebar.


" Masuklah!"


Jodi menyodorkan berkas-berkas untuk meminta tanda tangan Zahra.


" Jodi aku mengandalkanmu," ucap Zahra.


" Siap Nyonya!"


" Aku belum sempat menanyakan tentang keadaan Vanessa, bagaimana dia?"

__ADS_1


" Orang tuanya mengirimnya ke Rumah Sakit di singapura Nyonya, cediranya sangat parah, Papanya Vanessa menitipkan salam permohonan maaf untuk anda dan keluarga. Beliau juga akan membiayai pengobatan Pak Reyhan sampai sembuh, maaf saya baru menyampaikan sekarang karena melihat kondisi Nyonya dulu, saya tidak bisa membahas tentang hal ini,"


" Apakah maaf bisa mengembalikan Mas Reyhan?"


"Saya permisi!" Jodi meninggalkan ruangan.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Zahra.


" Masuklah!"


" Saya turut berduka atas kecelakaan yang Pak Reyhan alami. Bu Zahra," ucap Novan kaku.


Zahra tertawa kecil mendengar ucapan Novan yang terdengar kaku di telinganya


" Kamu kenapa? panggil aku seperti biasanya saja Kak Novan! terdengar aneh tau?"


" Maaf selama ini aku tidak tahu kamu istri pemilik perusahaan ini. Apa kamu bercerita sama Pak Reyhan kalau aku sering membicarakan kejelekannya?"


" Seharusnya sih aku harus cerita ya? Padahal asal kamu tahu suamiku itu selalu memuji-muji hasil kerjamu loh, katanya kamu andalannya. Trimakasih ya sudah membantu perusaahaan sampai sebesar ini."


" Masak?" tanya Novan tidak percaya.


" He'em," jawab Zahra.


" Di pikir-pikir baik juga suamimu, aku anak baru di beri jabatan setinggi ini, sebagai manger perusahaan, apa yang lain tidak iri?"


" Dulu aku yang iri, tapi semua itu berkat kerja kerasmu," ucap Zahra di sela tawanya.


***


Rutinitas baru yang Zahra jalani sepulang kerja adalah pulang kerumah hanya sekedar mandi dan ganti baju, lalu kembali ke rumah sakit menunggui suaminya yang terbaring tidak berdaya. Sesekali ia mengunjungi Bu Fatma untuk sekedar mengecek keadaannya.


Hal yang terberat baginya ialah mengarang kebohongan ketika mertuanya itu bertanya tentang Reyhan. Ia terpaksa merahasiakan semua kejadian, takut Mamanya terkena serangan jantung lagi.


Sementara Bu Maryam dan Pak Rohman masih tinggal di rumah Zahra. Mereka tidak tega meninggalkan putrinya yang tengah terpuruk tertimpa musibah.


Zahra memasuki ruangan yang seakan sudah jadi rumah keduanya. Mencium suaminya, membisikkan rayuan cinta, dan berbicara apa saja. Harapannya hanya satu Reyhan membuka matanya.

__ADS_1


Zahra menemui dokter yang merawat suaminya. Jawaban dokter masih sama, menunggu keajaiban Tuhan. Berbagai alat penunjang hidup menempel di tubuh Reyhan, bila alat itu di lepas nyawanyapun akan terlepas juga.


Zahra dan Vino meminta saran dokter untuk Reyhan mendapatkan perawatan di luar negeri. Dokterpun merekomendasikan rumah sakit di Jerman. Zahra dan Vino berencana memindahkan perawatan Reyhan sesuai rekomendasi dokter.


__ADS_2