Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Ngidam


__ADS_3

Reyhan mengambil alih kembali posisi Zahra dari perusahaan. Sesuai perjanjian diawal jika Zahra hamil maka ia harus berhenti bekerja. Meskipun belum pulih betul kesehatannya, Reyhan sudah mulai bekerja kembali meskipun hanya sesekali ia datang ke kantor. Semua aktifitas pekerjaan ia serahkan pada aaistennya. Bila tidak ada hal yang sangat penting ia lebih memilih berada di rumah untuk pemulihannya kondisi kesehatannya. Asistennya lebih sering datang menemui Reyhan di kediamannya.


Reyhan memiliki banyak waktu untuk menemani istrinya di rumah. Jadwal kontrol ke Dokter di samakan dengan jadwal Zahra kontrol ke dokter kandungan. Reyhan berbaring di pangkuan istrinya menciumi perut istrinya.


" Sepertinya akhir-akhir ini kamu lebih manja Mas, ini akibat cidera di kepalamu atau apa ya?" tanya Zahra.


" Biarin aku kan manjanya sama istri sendiri. Ingat hukumanmu belum terlaksana, tapi karena kamu hamil aku jadi berfikir ulang tentang hukumanmu?" ujar Reyhan.


" Hukuman apa lagi sih sayang, apa kamu belum puas kamu menghukumku, meninggalkanku dengan ketidak pastian, nangis berhari-hari, menungguimu hingga sadar?" jawab Zahra seraya mencubit pipi Reyhan yang bermanja di pangkuan Zahra. Reyhan menjadikan paha Zahra sebagai bantal seraya menciumi perut Zahra. Sesekali mengajak bicara calon anak yang ada di dalam perut Zahra.


" Padahal rencananya hukumannya enak loh, pasti kamu juga suka,"


" Memang apa?" tanya Zahra penasaran.


" Rencananya aku minta jatah ML sehari 5 kali sampai sebulan penuh" ucap Reyhan lalu tertawa.


" Heh! itu sih enak di kamu saja,"


" Kayak kamu gak suka saja, aku kangen seperti yang terakhir kita melakukan di rumah mu dulu. Boleh gak ya kita melakukan lagi, kan kamu hamil?" ucap Reyhan tersenyum genit.


" Nanti kita tanya dokter dulu, kan di trisemester awal katanya rawan ke guguran, tahan sebentar demi calon pangeran kecil kita ya," jawab Zahra seraya mencubit hidung mancung Reyhan.


" Masak gituan tanya dokter, malu dong!"


" He'em,"


Reyhan akhirnya harus berpuasa dulu dari keinginannya, ia hanya bisa mencumbui istrinya.


***


Hari berkunjung dokter telah tiba. Reyhan menemani istrinya kepoli kandungan. Seperti biasa Zahra paling suka sensasi dingin ketika gel di usapkan ke perutnya.


Reyhan menatap monitor, " Mana anak saya dok?"


" ini Pak, masih sebesar biji, belum kelihatan jelas, kan masih 12 minggu," ucap dokter seraya membuat lingkaran dengan cursore yang di pegangnya.


Setelah Dokter menanyakan keluhan yang dirasakn Zahra, dokterpun memberikan resep. Seperti keluhan wanita hamil pada umumnya yaitu mual di pagi hari dan sering pusing.


Sebelum keluar dari ruangan Reyhan teringat hal penting bagi dirinya untuk di tanyakan kepada dokter. Ia ragu untuk bertanya karena malu.

__ADS_1


" Dok, ada yang mau saya tanyakan." Dokter, kedua perawat dan Zahra melihat kearah Reyhan yang berhenti lama tidak melanjutkan pertanyaan. Ia menjadi gugup ketika orang-orang di hadapannya menatap Reyhan,


" Tidak jadi Dok tidak penting, tapi juga sebenarnya penting sih?"


" Kenapa ragu, silahkan ditanyakan," ucap dokter meyakinkan.


" Begini Dok, saya takut melukai anak saya. Apa boleh saya menghubungi, maksud saya melakukan ML dengan istri saya," tanya Reyhan yang sedikit belibet ucapannya.


" Kenapa tidak? kan dengan istri anda sendiri, tapi sebaiknya hati-hati jangan sampai istri anda kelelahan, pintar-pintar mengatur posisi agar tidak menekan bagian perut istri anda," jawab Dokter.


" Baik Dok, terima kasih! ucap Reyhan seraya berdiri lalu menjabat tangan Dokter dengan semangat.


Dokter dan perawat tersenyum melihat tingkah Reyhan. Kini giliran Zahra yang tertunduk malu, terlihat wajahnya memerah seperti udang rebus.


" Trimakasih, Dok," ucap Zahra seraya membungkukkan badan.


Setelah dari poli kandungan kini giliran Zahra mengantar Reyhan ke dokter yang menangani Reyhan. Sepanjang koridor tak henti-hentinya Zahra menggerutu, " Apaan sih Mas, urusan begituan kok ditanyakan, aku kan jadi malu,"


" Bukannya kamu sendiri yang bilang, suruh tanya dokter?"


" Iya sih, tapi bisakan kita searching di gogle?"


" Kenapa sih ribet amat, yang pasti-pasti saja, itu kan dokter yang merawat kamu, yang tahu kondisi kamu, itu juga kebutuhan pokok kita,"


" Kita,"


" Kamu,"


" Ya iya, aku, awas nanti kamu minta duluan, aku kerjain baru tahu rasa,"


" Amit-amit jabang bayi, Nak nanti kalau lahir niru mama ya, sudah cantik, baik hati, cerdas, jangan aneh-aneh kayak papa ya," ujar Zahra seraya mengelus perutnya.


" Gantengnya niru Papa dong," ujar Reyhan tak mau kalah.


Percakapan mereka terhenti ketika seorang perawat memintanya masuk ke ruangan. Setelah melalui pemeriksaan yang cukup lama akhirnya mereka pulang dengan hati senang mendapat berita bahwa hadil CT Scan otak Reyhan sudah kembali normal tidak ada hal yang serius lagi.


Sopir mengantar mereka pulang kerumah menyusuri jalanan kota Malang yang padat. Reyhan melihat seorang abang tukang cilok yang msngkal di tepi jalan, ia tiba-tiba ingim mencicipi dagangannya, " Pak berhenti sebentar, mundur sedikit, aku mau beli itu!"


" Cilok?" tanya Zahra.

__ADS_1


" Iya," jawab Reyhan.


" Kamu biasanya kan tidak suka jajan sembarangan? apalagi kamu kan baru sembuh," cegah Zahra.


" Pokoknya aku mau itu?" ucap Reyhan kekeh menunjuk gerobak tukang cilok di sampingnya.


" Tuh kan kumat manjanya, jangan-jangan otak kamu bergeser karena kecelakaan itu?"


" Jangan kurang ajar!" ucap Reyhan menunjuk kening Zahra dengan sedikit menekan karena gemas.


" Pak sopir, tolong belikan 10ribu saja," pinta Zahra seraya memberikan uang lembaran 10 ribuan.


" Pak yang pedas," teriak Reyhan dari dalam mobil kepada tukang cilok di sampingnya.


Setelah mendapatkan yang di inginkan Reyhan menikmati cilok dengan antusias. Zahra hanya bisa menelan ludah melihat kebiasaan baru suaminya itu.


" Mau?" Reyhan menawarkan satu tusukan cilok kepada Zahra.


" Gak mau,"


Reyhanpun menghabiskan satu bungkus cilok sendirian.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Reyhan kembali melihat pedagang rujak manis, tiba-tiba ia meminta menghentikan mobil, " Berhenti! Menepi Pak! Mundur" Reyhan memberi aba-aba.


" Pak tolong berikan rujak manis, ingat minta banyakin mangga mudanya, yang pedas ya," Reyhan memberi perintah. Zahra menatap suaminya dengan heran. Hatinya bergumam, "Ya Alloh ada apa dengan suamiku ini, cobaan apa lagi yang Egkau berikan, kenapa dia berubah seperti ini, apa karena kecelakaan itu,"


Reyhan membalas tatapan istrinya dengan senyuman yang di buat sok imut.


Tak lama rujakpun sudah berpindah tangan ke tangan Reyhan. Sopir kembali memgemudikan mobil. Reyhan menikmati rujak sepanjang jalan dengan sampai terengah-engah kepedasan.


" Ini sayang enak sekali kenapa kamu tidak mau? biasanya wanita hamil suka yang masam-masam," bujuk Reyhan.


" Aku kurang berselera mas," tolak Zahra. Reyhanpun kembali menikmati rujak manis dengan aneka buah segar, berbumbu gula merah dan kacang yang pedas.


" Sepertinya Pak Reyhan lagi ngidam Mbak Zahra," sahut Pak sopir


" Kan saya yang hamil Pak?" jawab Zahra.


" Banyak Mbak kejadian seperti itu, laki-lakinya yang mual yang ngidam pingin ini, pingin itu," jawab Pak sopir.

__ADS_1


" Lah ini yang mual saya, kenapa Mas Reyhan yang ketiban enaknya, kok gak sekalian mualnya dia juga, yang hamil siapa? yang ngidam siapa?" ucap Zahra. Sementara Reyhan tak memberi komentar apa-apa fokus dengan rujak manis yang pedas, sesekali terdengat desisannya karena cabai membakar lidahnya.


sepanjang jalan yang mereka lewati ketika melihat jajanan pedagang kaki lima Reyhan meminta berhenti.


__ADS_2