
Vino sudah beberapa hari tidak datang ke cafe. Zahrapun gelisah, apakah Vino semarah itu sehingga tidak mau melihatnya lagi. Ia berfikir mungkin sebaiknya ia mengundurkan diri secepatnya.
Sementara itu Bu Fatmapun gelisah karena putra kesayangannya itu tidak pulang kerumah berhari-hari. Ia meminta Reyhan mencarinya. Reyhan sudah menanyakan pada teman-teman Vino, namun hasilnya masih nihil. Teman-teman Vinopun berusaha mencari informasi keberadaannya.
Akhirnya Radit berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Vino, segera ia memberi tahukan kepada Reyhan. Setelah mendapatkan petunjuk lokasi keberadaan Vino, Reyhan segera mengajak Zahra mencarinya. Ia berharap Zahra dapat membujuk adiknya itu untuk pulang kerumah.
Vino ternyata tengah kembali menggeluti hobi lamanya yaitu olah raga estrim mengendarai sepeda motor tril. Ia melampiaskan emosinya pada hobinya itu. Rasa takut seolah lenyap dari fikirannya ketika melintasi area perbukitan yang curam, jalanan setapak yang penuh rintangan.
Vino mengendarai dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba Vino tidak dapat menjaga keseimbangannya, Iapun terjatuh. Sepeda motor menyeretnya hingga berhenti setelah menabrak pohon besar. Rekan-rekan dalam timnya melihat kejadian itu, merekapun segera menolongnya dan menghubungi rumah sakit untuk mengirim mobil ambulance. Salah satu rekan Vino memeriksa kondisi denyut nadinya, ternyata Vino masih hidup. Lokasi tidak dapat di lintasi mobil sehingga beberapa orang mengangkat tubuh Vino, membawanya ketempat pos penjagaan.
__ADS_1
Beberapa menit ambulancepun tiba di lokasi, bersamaan dengan mobil yang di kendarai Reyhan. Reyhan melihat keadaan Vino yang telah berada di ambulance. Reyhan dan Zahra terkejut dengan keadaan Vino yang berlumuran darah. Zahrapun meminta untuk menemani Vino di ambulance. Mobil ambulance segera meluncur ke Rumah sakit, Reyhan mengikuti dengan mobilnya.
Zahra terus memegangi tangan Vino, ia tidak bisa berhenti untuk menangis. Air matanya terus mengalir, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu. Ia merasa bersalah karena dirinyalah Vino pergi dari rumah hingga peristiwa tragis itu terjadi. Ia terus menciba berbicara dengan Vino, "Vino bangun Vino! Maafkan aku."
Perawat yang ikut mendampinginya menenangkan Zahra. Sampai di Rumah sakit Vino segera mendapatkan perawatan intensif. Reyhan menunduk lemas melihat kondisi Vino. Iapun meras bersalah karena menyebabkan Vino pergi dari rumah.
Bu Fatma segera menghambur memeluk anaknya itu yang penuh perban. Reyhan berusaha menenangkannya. Zahra pun memeluk Bu Fatma dan meminta maaf atas kejadian Vino. Reyhan mencoba menenangkan Zahra untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Zahra, Bu Fatma dan Reyhan bergantian menjaga Vino. Bu Fatma dan Reyhan keluar kamar untuk sholat. Di dalam kamar tinggal Zahra yang memandangi Vino yang belum sadarkan diri. Iapun berbicara sendiri berharap Vino segera sadar.
__ADS_1
" Vino maafkan aku, bukankah kamu telah berjanji, kita bersahabat selamanya apapun yang terjadi?Vino apa kamu tahu dulu pertama masuk kuliah kamu menggodaku, kamu dulu pernah membuatku sempat mencintaimu, namun kamu ternyata sudah punya pacar dan sering berganti pacar. Sehingga aku menepis perasaanku," ucap Zahra sesekali menyeka air matanya. Reyhan ternyata berdiri di samping pintu, kangkah kakinya terhenti mendengar kata-kata Zahra. Sehingga ia mendengarkan semua ucapan Zahra.
"Vino bangun Vino, aku kangen kejahilanmu, kangen kamu yang sok romantis padaku, berjanjilah kita akan bersahabat selamanya."
Reyhan akhirnya masuk keruangan, dan meminta Zahra untuk pergi sholat. Ketika Zahra pergi Air mata Vinopun mengalir, ternyata Vino dari tadi sudah sadar dan mendengar ucapan Zahra.
"Vino kamu sudah sadar?" tanya Reyhan.
Vino berusaha membuka matanya berlahan. Vino merintih kesakitan. Bu Fatma menghambur kearahnya, ia merasa lega melihat putra keduanya itu tekah sadar.
__ADS_1