Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Cinta dan Keluarga


__ADS_3

Esok hari tiba, Vino mengantar Zahra kesebuah tempat yang di kirim lewat SMS seseorang dari nomor orang yang tidak ia kenal. Selama perjalanan Zahra menceritakan tentang Vanessa dan semua ancamannya. Zahra meminta agar sementara waktu tidak menceritakan pada siapapun. Karena nasib kakaknya sekarang berada di tangannya.


Sampailah ia di sebuah taman kota. Suasana masih sepi, Zahra keluar berdiri di tepi taman, sementara itu Zahra meminta Vino tetap menunggunya di dalam mobil.


Vanessa keluar dari mobil bersama asistennya dan dua pengawalnya. Vanessa menghampiri Zahra sedangkan kedua pengawalnya mengawasi keadaan.


" Selamat pagi Zahra,"ucap Vanessa dengan senyum kemenangannya.


" Ternyata Anda! sudah saya duga," jawab Zahra penuh emosi.


" O o o, santai gadis kecil, sudah sering kali aku peringatkan tapi rupanya nyalimu cukup besar berhadapan denganku, " ujar Vanessa dengan senyum sinisnya.


" Apa yang kamu inginkan?"


" Aku akan membebaskan kakakmu, dengan syarat pertama, kamu harus keluar dari perusahaan, kedua putuskan hubunganmu dengan Reyhan. Agar Reyhan yakin kamu sudah tidak mencintainya, kamu harus menikah dengan orang lain, paling tidak bertunangan dulu."


" Dasar licik! apa kamu bisa hidup bahagia dengan menghancurkan orang lain,"


" Satu hal lagi Zahra, jangan sampai Reyhan tahu hal ini atau kamu dan keluargamu yang akan menanggung akibatnya,"


" Baiklah, kali ini aku terpaksa setuju dengan permainan kotormu itu, secepatnya bebaskan kakakku, cabut tuntutanmu dan bersihkan nama baiknya," ujar Zahra, kali ini air matanya tak bisa ia tahan lagi.


" Tentu secepatnya,"


Brukk!


Kedua pengawal membekuk Vino dan melemparnya di hadapan Vanessa.


Rupanya pengawal Vanessa mengetahui keberadaan Vino yang mengendap-endap mengikuti Zahra. Ia bersembunyi di balik rimbunnya pagar tanaman, mencoba merekam setiap percakapan. Sialnya pengawal itu mengetahui aksinya


" Vino!" teriak Zahra menghampiri Vino.


" Nona, orang ini berusaha merekam pembicaraan anda dengan ponselnya," ujar salah satu pengawal.


" Ambil ponselnya dan hancurkan!" seru Vanessa pada pengawalnya.


Pengawalnya segera merebut ponsel dari tangan Vino. Ia membanting dan menginjak-injak, hingga hancur berkeping-keping.


Vanessa bergegas meninggalkan Zahra dan Vino. Zahra membantu Vino berdiri, kemudian Vino memunguti kepingan ponselnya berharap masih bisa berguna.

__ADS_1


"Ayo cepat Vino, kita harus segera menemui Mas Azzam dan juga Kak Sofia," pinta Zahra seraya membantu Vino berdiri.


" Mungkin rekaman di kartu memori ini bisa membantu mengeluarkan Azzam," ujar Vino seraya mengeluarkan kartu memori dari bagian ponsel.


" Bukti itu tidak cukup kuat Vino, Kasusnya tetap akan diproses hingga ke pengadilan jika Vanessa tidak mencabut gugatannya. Sedangkan pernikahan Mas Azzam tinggal dua hari lagi. Biarkan aku menuruti apa yang Dia mau, dan hanya kamu yang bisa menolongku Vino,"


Sampailah Zahra di kantor polisi. Seorang polisi mengantar mereka kesebuah tempat untuk menemui Azzam. Zahra tak kuasa menhan tangis, melihat kakak kandungnya yang biasanya rapi, kini terlihat lusuh, lemah tak berdaya. Sorot matanya sayu menandakan ia tidak bisa tidur berhari-hari.


Zahra memeluk Kakaknya dan berkata," Mas Azzam jangan kuatir besok Insyaalloh Mas bisa bebas dan dapat menghadiri pernikahan Mas dan Kak Sofia, aku sudah menemukan pelakunya Mas, semua ini salah Faham," ujar Zahra seraya menangis tersedu-sedu.


" Bagaimana dengan Ayah dan Ibu, Zahra? tentunya mereka terpukul drngan peristiwa ini, "


" Jangan khawatir Mas, Ayah, Ibu dan Aku saling menguatkan, begitu juga dengan Kak Sofia dan keluarganya, semua percaya kalau Mas Azzam tidak bersalah,"


" Kemarin Sofia kesini, Zahra. Dia sangat sedih,"


" Tenanglah, Mas Azzam, semuanya akan segera berakhir dan akan kembali seperti semula," ujar Zahra, menenangkan kakaknya. Meskipun hatinya sendiri hancur. Tidak ada pilihan baginya cinta atau keluarga. Yang kini ia fikirkan hanya kebahagian Azzam, kedua orang tuanya, juga Sofia, itu jauh lebih penting dari pada kebahagiannya sendiri.


Zahra meninggalkan kantor polisi dan segera meminta Vino mengantarkannya ke rumah Sofia. Setelah perjalanan cukup jauh akhirnya sampai juga mereka di sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar besi yang tinggi.


Setelah menekan bel di samping pagar, seseorang berlari membukakan pintu.


" Bi, saya mau bertemu Kak Sofia,"


" Silahkan Mbak," ujar seorang ART mempersilahkan masuk, seraya membuka pintu gerbang.


ART tersebut jalan di depan Zahra dan Vino, lalu mempersilahkan mereka menunggu di ruang tamu. Sofia dan kedua orang tuanya datang menemuinya.


"Assalamu'alaikum, Pak Bu," sapa Zahra, seraya menganggukkan kepala.


" Wa'alaikumussalam, bukankah kamu adiknya Azzam?" Tanya Ibunya Sofia.


" Iya Bu, kedatangan saya kemari mau memberitahukan bahwa secepatnya Mas Azzam akan bebas, jadi saya mohon, Bapak, Ibu, jangan membatalkan pernikahan Kak Sofia dan Mas Azzam,"


" Apa betul?" tanya Sofia, dengan senyum bahagia


" Betul Kak, jadi acara pernikahan bisa dilaksanakan sesuai rencana, setelah Mas Azzam bebas, pihak perusahaan akan membersihkan juga nama baiknya, jadi semua akan kembali seperti semula,"


" Bagaimana jika nanti di hari H, Azzam belum bebas?" tanya Ayah Sofia, ragu.

__ADS_1


" Pak, saya jamin dengan nyawa saya sendiri pak,"


Selesai menemui Sofia dan keluarganya, Zahra kembali ke apartemen ingin memberi tahu kedua orang tuanya.


Zahra menjumpai wanita paruh baya itu tengah menengadah menggunakan mukenah di atas sajadahnya. Tiada henti-hentinya do'a ia panjatkan.


Bu Maryam mengakhiri do'anya melihat kedatangan Zahra. Zahra memeluk ibunya yang tengah bersimpuh, dengan derai air mata ia berkata, " Ibu, semua sudah berakhir semua akan kembali seperti semula, Mas Azzam akan bebas, bu."


" Betulkah itu, Zahra?"


" Iya Bu, jangan bersedih lagi." Mereka akhirnya berpelukan.


Zahra teringat persyaratan yang di berikan Vanessa, ia kemudian menemui Vino di kediaman Reyhan. Zahra berjalan sembari memeriksa ponselnya, ia melihat banyak sekali panggilan masuk dari Reyhan.


Ia mulai berjalan gontai menyusuri lorong menuju apartemen Reyhan, bibirnya tidak berhenti mengucap, " Maafkan aku Reyhan, maafkan aku," dengan air mata berderai.


Sesampainya di depan pintu ia mengetuk pintu, Vinopun membukakan pintu.


" Vino, aku mohon padamu, maukah kamu membantuku? nikahilah aku,"


"Aku mau membantumu, bagaimana dengan Kak Reyhan? ini tidak adil bagi Kak Reyhan dan juga kamu," ujar Vino, seraya memegang kedua bahu Zahra, menatap bola matanya yang kini redup tak bersinar.


" Ini jalan satu-satunya, Vino, untuk membebaskan Mas Azzam, kehormatan keluargaku lebih penting Vino, aku tahu ini akan melukai hati Mas Reyhan dan hatimu juga, kepada siapa lagi aku meminta tolong, Vino kalau bukan kamu?"


" Baiklah, Zahra, aku bersedia membantumu, meskipun aku sangat mencintaimu dan berharap kamu menikah denganku tapi jalan ini sungguh aku tidak menyukainya. Aku mendapatkanmu dengan keterpaksaan," ujar Vino, menahan air mata.


" Trimakasih Vino, maafkan aku melibatkanmu dalam masalahku," ujar Zahra, tangisnya semakin tak terbendung.


Vinopun mencoba menenangkan gadis tak berdaya itu dengan mendekap dalam pelukannya.


Ceklek!!


Waktu yang tepat, Reyhan masuk kedalam apartemen. Pandangannya tertuju pada dua insan yang tengah hanyut dalam pelukan. Zahra semakin erat memeluk Vino, agar Reyhan menyangka Dia tengah benar-benar mencintai Vino.


Reyhan mematung penuh tanda tanya. Zahra melepas pelukannya dan menyeka air matanya.


" Mas Reyhan, ada yang aku mau bicarakan," ucap Zahra dengan suara sedikit serak karena seringnya menangis akhir-akhir ini.


Vino tak sanggup memandang mata Kakaknya yang berada di hadapannya itu. Ia tak sanggup melihat kakaknya terluka lagi karena dirinya, di sisi lain ia tak bisa menolak permintaan Zahra.

__ADS_1


__ADS_2