
Zahra berlari ke halaman kantor mencari keberadaan mobilnya. Sementara itu Jodi berlari ke basement tempat parkir mobil. Ia menuju mobil merah milik Zahra, namun pemiliknya tidak ada di dalam mobil. Ia segera berlari ke halaman depan, ia terengah-engah di belakang Zahra, " Tunggu Nyonya!"
Zahra menoleh, lalu bertanya dengan kesal, "Mana mobilku?"
" Di basement Nyonya," jawab Jodi.
"Aku sampai lupa dimana aku memarkirkan mobilku, ini gara-gara Tuanmu yang gila itu, aku jadi tidak bisa berfikir normal," Zahra berbalik sambil menggerutu.
" Tunggu Nyonya, sebaiknya anda menemu Tuan dulu, anda salah faham," bujuk Jodi.
" Betul aku harus kembali kesana, aku belum menghajar mereka," ucap Zahra dengan emosi membara.
"Iya Nyonya, maksudnya jangan!"
Zahra kembali ke pos satpam.
" Pak satpam, pinjam senjatanya!" pinta Zarha.
" pistol?" tanya satpam.
" Bukan,"
"Ini," satpam memberikan tongkatnya.
" Iya, saya pinjam ya pak,"
" Iya Nyonya, tapi buat apa?"
" Buat mukul lalat,"
Satpam yang bingung itupun membiarkan istri tuannya membawa tongkat itu. Zahra bergegas kembali ke ruangan Reyhan dengan memukul-mukulkan tongkat ke telapak tangannya dengan geram, ia sudah siap menghajar Reyhan dan wanita itu.
Ceklek!!
Zahra mengangkat tongkat siap menghajar.
" Apa?! kalian masih berani mesrah-mesrahan disini?" ucap Zahra ketika mendapati wanita itu memegang tangan suaminya.
Wanita itupun berdiri dengan keatakutan.
" Dengar dulu sayang," bujuk Reyhan yang masih duduk di sofa.
" Nyonya ini gara-gara ini," ujar Jodi seraya mengangkat sebuah mangga.
" Jangan bilang karena kamu ngidam, seenaknya berbuat mesum disini!"
" Aduh Jodi, jelasin yang benar!" teriak Reyhan yang lemas.
" Ceritanya begini Nyonya, Pak Reyhan tadi melihat pohon mangga yang berbuah di ladang milik warga di dekat kantor. Pak Reyhan meminta mangga tersebut, tapi katanya ingin manjat sendiri, sewaktu mau turun tubuh Pak Reyhan di kerubutin semut, terus karena panik Pak Reyhan terpeleset saat mau turun, akhirnya jatuh dari pohon."
" Terus wanita ini?"
" Saya terapis pijat Nyonya," jawab sang terapis.
" kalau dipijat kenapa harus telanjang gitu suami saya?" tanya Zahra setengah tidak percaya.
" Ini baju Pak Reyhan kotor penuh lumpur, makanya saya ambilkan handuk saja," jawab Jodi.
" Ini gara-gara Jojo tuh, suruh manggil tukang urut malahan panggil terapis dari spa,"
" Maaf saya tidak tahu, saya kira sama saja," jawab Jodi membela diri.
Reyhan mencoba berdiri, tiba-tiba ia berteriak, " Aaagh" kakinya terkilir belum sembuh.
" Aduh sayang maaf, aku salah faham," ucap Zahra seraya menjatuhkan tongkat yang ia pegang, lalu menghambur pada suaminya.
" Jojo tolong kamu bayar wanita itu,"
" Siap Bos," jodipun mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkan pada sang terapis.
" Maaf mbak saya sudah salah faham," ucap Zahra penuh penyesalan.
__ADS_1
" Sama-sama Nyonya, saya permisi,"
Jodipun mengantar terapis turun ke lantai dasar.
Zahra menghubungi ARTnya untuk menyiapkan baju Reyhan, dan meminta sopir pribadi Reyhan mengambilnya.
Zahra menghubungi Bu Fatma melalui sambungan telephon seluler,
" Assalamu'alaykum Ma,"
" Wa'alaykumussalam, ada apa Zahra?" jawab Bu Fatma.
" Mama tahu tempat tukang urut yang profesional? ini Mas Reyhan kakinya terkilir,"
" Kok bisa?"
" Ceritanya panjang, Ma, nanti saja ya,"
" Oke, bawa kerumah saja, nanti biar saya suruh sopir menjemput tukang pijatnya,"
"Baiklah Ma, trimakasih,"
Zahra menutup sambungan telephon, ia kembali menatap Reyhan yang telanjang. Ia menahan tawa, mau tertawa takut dosa.
" Kamu sih mas aneh-aneh saja, untung tidak parah, seharusnya kamu harus lebih hati-hati jangan ceroboh, bukankah kamu habis cidera parah? Jangan macam-macam lagi! Aku lagi hamil malah bikin ulah, kamu mau aku stres, ngaruh ke anak kita?"
" Sudah ngomelnya?"
" Belum, kalau aku tulis butuh berlembar-lembar untuk mengungkapkan isi hatiku ini,"
" Aku lapar," rengek Reyhan.
Zahrapun membuka rantang yang ia bawa, ia meminta OB mengambilkanya piring di pantry.
" Suapi aku, tanganku sakit,"
Zahrapun menyuapi suaminya, mereka makan sepiring berdua. Selesai makan Reyhan berganti pakaian dan langsung menuju mobil. Jodi memapah majikannya itu yang berjalan terpincang-pincang.
Sampailah mereka di rumah Bu Fatma, Reyhan langsung berbaring di kamar tamu yang berada di lantai satu.
Tak lama sopir datang membawa seorang tukang urut profesional.
" Ma benar itu tukang pijatnya? lebih mirip preman Ma, aku jadi merinding, takut tulangku jadi patah semua," ucap Reyhan yang melihat tukang pijat berwajah garang dengan kumis tebalnya.
" Permisi Nyoya, siapa yang harus saya pijat?" tanya si tukang pijat.
" Ini Pak, kaki kirinya terkilir" jawab Zahra dan Bu Fatma serentak seraya menunjuk kearah Reyhan yang berbaring di ranjang. Raut wajah mereka pun jadi takut juga.
Si tukang pijat mulai memegang kaki kiri Reyhan.
" Aaauuww!!" jerit Reyhan.
" Belum!" ucap si tukang pijat sembari menepuk kaki Reyhan.
" Aaaaaaaarggh!!" teriakan kedua kalinya ketika si tukang pijat menyentuh kaki reyhan memijatnya dengan lembut. Bu Fatma dan Zahra hanya bisa memegangi tangan Reyhan, keduanya mengernyitkan dahi, mendengar jeritan Reyhan yang menyayat kalbu.
" Coba sekarang gerak-gerakkan!"
" Wah hebat sudah tidak sakit,"
" Sekalian pijat badannya Pak, tadi habis jatuh dari pohon," pinta Zahra.
" Oa lah cung ngapain manjat-manjat pohon?" ucap si tukang pijat dengan logat maduranya yang kental.
Reyhan menikmati pijatan, sesekali menjerit ketika tangan pemijat mengenai bagian tubuh yang sakit. Reyhan tertidur pulas ketika si tukang pijat belum mengakhiri pijatannya.
Setelah selesai memijat Bu Fatma membayar tukang pijat itu dan meminta sopir mengantarnya kembali pulang. Zahra akhirnya ikut tidur menemani Reyhan. Ia mencium kepala Reyhan yang tertidur dengan posisi tengkurap, lalu menyelimuti suaminya itu.
Sore hari Vino pulang kerumah, ia menjumpai mamanya tertawa sendiri di ruang keluarga mengingat cerita Zahra tentang keanehan Reyhan.
" Mama kok tertawa sendiri, ada apa Ma?"
__ADS_1
" Sini duduk apa kamu belum tahu kalo Reyhan ngidam?"
" Reyhan hamil Ma?"
" Ngawur, Zahra yang hamil,"
" Kok bisa?"
Akhirnya Bu Fatma menceritakan kisah ngidamnya Reyhan, merekapun jadi tertawa bersama.
Mendengar suara tawa, Reyhan dan Zahrapun terbangun dan bergabung duduk di sofa ruang keluarga.
" Ada apa Mama dan Vino, seru sekali ketawa bareng?" tanya Reyhan.
" Lagi ngomongin kamu," jawab Bu Fatma.
" Mama," rengek Reyhan.
" Vino tolong dong belikan es krim di swalayan di sebrang jalan kompleks!" pinta Reyhan.
" Suruh sopir saja sana!" tolak Vino.
" Aku maunya kamu!" ucap Reyhan.
" Tuh apa mama bilang, sudah belikan sana, kamu mau ponakan kamu ileran?" ucap Bu Fatma.
" Iya-iya! situ yang ngidam, sini yang susah," ucap Vino seraya berdiri.
" Jangan lupa yang stik dan yang cup,"
" Iya, kalau perlu aku belikan sama tokonya sekalian," ucap Vino.
Tak begitu lama, terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman. Vinopun datang dengan satu kantong es krim penuh berbagai rasa es krim.
" Kamu mau jualan es krim? beli sebanyak ini?" tanya Reyhan.
" Habisnya aku lupa tanya, kakak mau rasa apa?"
" Wah mau dong!" ujar Zahra bersemangat.
" Eits tunggu dulu!" ujar Vino seraya menyembunyikan es krim di belakang punggungnya.
" Apa?" tanya Zahra.
" No HP Nabila dulu," pinta Vino seraya menggerakkan alisnya ke atas ke bawah.
" Nih cari sendiri! No ayahnya juga ada," ucap Zahra seraya menyodorkan ponselnya. Merekapun barter sekantong es krim dengan HP Zahra, tepatnya nomor ponsel Nabila.
Reyhan dan Zahra menikmati es krim. Bu Fatmapun memanggil semua asisten rumah tangga dan sopir untuk ikut menikmatinya, karena es krim yang di beli Vino sangat banyak, bila di masukkan Fresherpun akan penuh dengan es krim.
Vino mencari nomor nabila, lalu mencari namanya untuk di kirim lewat whatsapp.
" Zahra, nomorku kamu simpan dengan nama apa kok gak ada?" tanya Vino ketika melihat namanya tidak ada dalam daftar kontak.
" Si Playboy," jawab Zahra santai.
" Benar-benar kamu ya, aku sudah tobat tahu?"
" Maaf itu kan nyimpannya waktu kuliah dulu," jawab Zahra.
Vinopun sudah mengirim nomor ponsel Nabila ke nomornya. Iapun penasaran nama yang di berikan untuk kakaknya.
" Cuih, 'Bosq tampan', nomor siapa ini?"
" Vino kembalikan ponselku, sini, privacy tau!" pinta Zahra. Vinopun mengembalikan ponsel milik Zahra.
" Kamu serius mau mendekati Nabila?" tanya Reyhan.
" Kenapa tidak? semua kriteriaku ada pada dirinya," jawab Vino.
" Belajar ngaji dulu yang benar, anak pesantren, anaknya ustadz, dan calon ustadzah juga tuh yang kamu incar," ucap Reyhan.
__ADS_1
" Kakak tenang, aku kan nanti belajar ngajinya langsung sama Nabila," jawab Vino tak mau kalah.
Zahra tersenyum menatap Vino, ia bahagia akhirnya laki-laki yang cinta mati dengannya itu akhirnya bisa move on juga.