
Pagi yang dingin, embun masih menyelimuti. Zahra mengantarkan kopi untuk ayahnya di serambi samping rumahnya.
"Ini kopinya Ayah." Ucap Zahra seraya meletakkan kopi di atas meja.
"Duduklah sini sebentar, Ayah mau bicara," pinta Pak Rohman pada putrinya itu.
Zahrapun duduk di kursi depan ayahnya.
" Ini tentang bos mu itu, apa kamu benar-benar yakin akan menjalin hubungan dengannya? Apa kamu sudah mengenalnya dengan baik?"
"Sudah Ayah, dia orang baik, begitu juga dengan keluarganya."
" Ayah dan Ibu mu hanya ingin kamu bahagia, kami tidak ingin kamu salah pilih orang, sebenarnya keluarga Pak Umar beberapa minggu yang lalu kemari, menanyakan kamu. Beliau berharap kamu bisa berjodoh dengan putranya. Kita sudah sama-sama tahu Pak Umar dan keluarganya sangat baik dan sering membantu keluarga kita."
"Ayah aku tidak mau di jodoh-jodohkan, aku maunya menikah karena cinta."
" Kalau Ayah terserah kamu, kalau memang sudah mantab dengan pilihanmu itu, Ayah hanya bisa mengarahkanmu, mendoakan untuk kebaikanmu."
" Trimakasih Ayah, menurut Ayah bagaimana tentang Mas Reyhan."
"Dia sopan, kelihatannya anak baik-baik. Kalau Dia berani menyakiti putri Ayah ini akan Ayah hajar nanti."
Zahra tertawa mendengar kelakar ayahnya. Zahrapun meminta izin untuk mengajak temannya jalan-jalan mengelilingi desa.
***
Keyla dan Nella sudah bersiap-siap di kamar memakai celana panjang dan jaket
"Hem disini dingin banget ya?" ujar Nella yang kembali menghambur ke atas kasur.
"Ayo, katanya mau jalan-jalan," balas Zahra, seraya membuka lemari mencari kerudung yang senada dengan bajunya.
"Banyak sekali kerudungmu Za," ujar Keyla.
"Ini kalian pilih, coba di pakai pasti akan tambah cantik," pinta Zahra.
Kedua temannyapun memilih kerudung instan sesuai dengan warna baju yang mereka kenakan. Mereka berebut mengaca di depan cermin. Meraka merasa suka dan nyaman menggunakannya. Sebelumnya mereka tidak suka memakai kerudung.
"Waoww cantik sekali kalian," puji Zahra.
" Mungkin saatnya aku berhijab," ujar Keyla
"Aku juga," sahut Nella
"Sip, keren," sahut Zahra.
Mereka akhirnya berjalan kaki menyusuri jalan desa yang naik turun. Pemandangan yang memanjakan mata. Di pekarangan warga banyak di tanam buah apel dan sayur mayur.
Sampailah di ujung persimpangan jalan dari kejauhan nampak seorang laki-laki berbadan tegap berlari menuju kearahnya.
__ADS_1
"Lihat Za, itu kayak pangeranmu," ujar Nella
Zahra dan Keyla menoleh kearah yang Nella tunjuk, merekapun berhenti. Laki-laki itu ternyata Reyhan yang sedang joging, mengenakan kaos pendek putih dan celana sport hitam. Reyhanpun menghampiri Zahra dan kawan-kawannya. Reyhan memberi salam lebih dulu, "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Zahra dkk.
" Kalian mau kemana?" tanya Reyhan.
"Ini teman-teman ngajak jalan-jalan," jawab Zahra.
" Mas Reyhan nginap dimana?" tanya Keyla.
" Di dekat sini, sekitar 50 M dari sini, di Villa Anggrek, kalian mau main kesana?"
Keyla, Nella dan Zahra saling berpandangan. Nella memandang Zahra berharap Zahra mau menerima ajakan Reyhan. Zahrapun bercerita,
"Dulu waktu kecil saya sering main kesana, baiklah ayo sudah lama tidak kesana lagi."
Mereka akhirnya berjalan kaki menuju Villa tempat Reyhan menginap. Nella dan Keyla nampak ngos-ngosan berjalan melewati tanjakan dan turunan. Namun Zahra sudah terbiasa karena sejak kecil Zahra hidup di sana.
Sampailah mereka di Villa Anggrek. Resepsionis yang berada di ruang dekat pintu gerbang membungkuk memberi salam.
Reyhan mengajak mereka kesamping gedung. Kamarnya menghadap ke timur. Nampak perbukitan ketika melihat ke arah barat, sedangkan kearah timur terlihat daerah lebih rendah. Rumah-rumah di perkotaan terlihat kecil dari sana. Di depan Kamar juga ada kolam renang yang besar. Di balik pagar terdapat persawahan yang di tanami sayur selada, wortel dan daun bawang.
Nella dan Keyla berlari kearah pagar pembatas." Waow asyik sekali disini," teriak Nella
" Senangnya tinggal disini selalu segar dan asri," ujar Keyla.
Sementara Keyla dan Nella berselfi ria, Zahra dan Reyhan duduk di kursi didekat kolam renang.
"Za, bagaimana semalam, apa kamu bisa tidur? aku gak bisa tidur kangen kamu."
"Ah mas Reyhan lebay, masak baru beberapa jam tidak ketemu sudah kangen," jawab Zahra tersipu malu.
"Iya, namanya baru jadian, masih hangat-hangatnya kangen terus pingin ketemu."
" Berarti kalau jadian sudah lama, gak bakalan kangen-kangenan nih."
" Gak lah," goda Reyhan
"Hah!" Zahra merajuk.
"Gak kangen, kan kita bakal serumah, kamu jadi istriku, masak mau pacaran terus."
Zahra tersenyum mendengar ucapan Reyhan.
" Nanti malam aku jemput ya, kita makan malam berdua."
" Iya Mas Reyhan minta izin dulu sama Ayah."
__ADS_1
***
Malam yang di janjikanpun tiba, Reyhan menjemput Zahra di kediaman orang tuanya.
Reyhan duduk di ruang tamu mengobrol dengan kedua orang tua Zahra.
Sepertinya kedua orang tua Zahra mengintrogasi latar belakang keluarganya. Sedangkan Zahra masih bersiapa-siap di kamarnya.
Zahrapun turun di ikuti oleh kedua sahabatnya.
"Pak apa boleh Zahra saya ajak keluar
sebentar," tsnya Reyhan meminta izin.
"Boleh, tapi ajak kedua temannya juga ya!" perintah Pak Rohman.
"Iya pak," Reyhan menyanggupi.
" Maaf pak saya tidak bisa ikut, saya sakit perut," tolak Nella.
"Saya juga pak, saya kedinginan, meriang," sahut Nella.
Rupanya kedua temannya tidak mau mengganggu kedua pasangan itu, akhirnya mereka menolak walaupun dengan berbohong. Mereka tahu ayah Zahra tidak akan membiarkannya pergi berdua saja dengan Reyhan.
" Baiklah, kalian boleh pergi, ingat jangan malam-malam pulangnya, Zahra! ayah percaya kamu bisa jaga diri. Nella dan Kella kalian istirahat biar ibu bikinin jamu untuk kalian."
" Saya akan menjaga Zahra dengan jiwa raga saya pak," jawab Reyhan
Zahrapun pergi dengan Reyhan mengendarai mobil Reyhan. Zahra mengenakan baju terbaiknya, sedangkan Reyhan mengenakan setelan jas hitam. Zahra nampak anggun dan cantik dengan gaun merah mudanya. Reyhan terlihat gagah, karismatik dan sangat mempesona.
Sampailah mereka di Villa Anggrek. Zahra dan Reyhan turun dari mobil, para pegawai Villa memberi hormat pada mereka. Reyhan mengajak ketempat yang tadi pagi Zahra dan temannya kunjungi yaitu dudepan kamar Reyhan. Zahra terpukau dengan pernak-pernik yang di rancang oleh Reyhan dan di bantu pegawainya. Lampu hias di beberapa sudut taman, bunga-bunga bermekaran menghiasai sepanjang jalan yang mereka lalui. Kolam renang kini bertabur lilin yang terapung. Zahra semakin terpesona dengan rangkaian lilin bertuliskan I LOVE U.
" Mas ini indah sekali," ucap Zahra tersenyum bahagia.
"Semua untuk mu Zahraku."
Reyhan menarik kursi mempersilahkan kekasihnya untuk duduk. Kemudian ia mengeluarkan cincin berlian, dan meminta Zahra mengulurkan tangannya.
Zahrapun mengulurkan tangan, Reyhan memasangkan cincin di jari manis Zahra.
" Ini hadiah untukmu Zahra."
" Mas apa ini tidak berlebihan?" tanya Zahra ragu menerima hadiah dari Reyhan.
"Tidak Zahra, kamulah yang paling berharga di hatiku."
"Trimakasih bosku," ucap Zahra memecah kecanggungannya.
Para pelayan membawakan makanan dan minuman ke meja mereka. Mereka makan malam sembari menikmati suasana taman yang indah. Senyum tak pernah lepas dari keduanya.
__ADS_1
Zahra saat itu merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia, begitu juga Reyhan merasa beruntung Zahra mau menerima menjadi kekasihnya.