
Reyhan menyesali perbuatan kasarnya kepada Zahra. Ia berencana mengajak Zahra makan siang bersama. Reyhan mengintip Zahra dari pintu kaca. Zahra terlihat melamun. Dering ponsel berbunyi membuyarkan lamunannya. Ia berbicara lewat gawainya, sementara itu Reyhan berusaha menguping pembicaraannya. Zahra merasa ada yang mengawasinya, ia menoleh kearah pintu kaca. Reyhan hampir ketahuan, ia pun sembunyi di balik tembok.
Zahra menutup telephon dan berjalan keluar ruangan. Reyhan bersandar hendak mengintip dan menguping pembicaraan Zahra. Tiba-tiba Zahra membuka pintu, Reyhanpun kehilangan keseimbangan sehingga ia terjatuh menabrak Zahra. Zahra yang bertubuh kecil tidak kuasa menahan tubuh Reyhan. Akhirnya mereka berdua jatuh di lantai. Zahra tertindih tubuh Reyhan. Merekapun berpandangan, Zahrapun melotot kearah Reyhan. Sementara Reyhan hanya senyum-senyum saja menikmati keindahan wajah Zahra. Zahrapun berusaha mendorong tubuh Reyhan. Tanpa di sadari oleh mereka berdua beberapa karyawan lain mengerumuni mereka. Salah satu di antara mereka adalah Zaky yang paling akhir melihat kejadian itu, Ia pun bertanya, " Ada apa ini? Zahra! Pak Reyhan?"
Mereka berdua terkejut dan menoleh kearah kerumunan. Reyhan berusaha berdiri dan membantu Zahra untuk berdiri. Reyhanpun bekata kepada karyawannya, " Sudah tidak apa-apa, ini hanya kecelakaan, kalian boleh kembali pergi!"
Semua karyawan akhirnya pergi, merekapun akhirnya bergunjing membicarakan Zahra dan Reyhan. Terdengar tawa kecil dan bisik-bisik dari karyawan tersebut sembari melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Lain halnya dengan Zaky, ia masih berdiri memandang Zahra dan Reyhan yang tengah mengusap baju, berusaha membersihkan dari debu. Ia pun mendekat kearah Zahra dan bertanya, " Kamu tidak apa-apa Zahra?"
" Tidak apa-apa Pak Zaky?" jawab Zahra.
" Bagaimana kita jadi makan siang bersama?" tanya Zaky.
" Tidak, Zahra akan makan siang bersama saya, " ujar Reyhan seraya menarik tangan Zahra mendekat kearahnya.
Zakypun melihat bosnya itu, wajahnya nampak heran dan terkejut akan sikap Reyhan terhadap Zahra. Zahra melihat kearah Reyhan dengan wajah marah dan berkata, " Kamu masih saja suka memaksakan kehendakmu, kamu tahu? itu yang aku tidak suka darimu. Lepaskan tanganku!"
Zahra melangkah meninggalkan Zaky dan Reyhan. Iapun mempercepat langkahnya. Zaky dan Reyhan saling berpandangan. Zaky dalam otaknya penuh tanda tanya, tentang apa yang terjadi di antara mereka. Reyhan memegang kepala dengan kedua tangannya dan teriak melepaskan kekacauan hatinya, " SssHaaahhrgg!"
Reyhan masih melihat Zaky menatapnya, iapun bertanya padanya, " Ada apa, kenapa kamu masih di sini."
"Tidak Pak, saya akan pergi," jawab Zaky dan bergegas melangkah pergi.
Zahra sampai di cafe sebelah gedung. Silfi dan rekan-rekannya tengah menunggu pesanan, Ia melambaikan tangan padanya, mengajak Zahra bergabung di mejanya. Zahrapun mengulas senyum dan berjalan menuju meja tempat mereka berkumpul. Zahra duduk di kursi yang kosong, kemudian seorang waitress menghampirinya. Iapun memesan semangkuk Baso dan minuman es Jeruk.
Sembari menunggu pesanan, Silfi dan rekan-rekannya membrondong pertanyaan tentang Reyhan. Mereka sangat antusias mendengarkan tentang informasi tentang Bosnya itu dari Zahra. Lita pun bertanya pada Zahra, " Apa Pak Reyhan sudah punya pacar?"
" Saya kurang tahu, kayaknya sudah?" jawab Zahra.
" Gosipnya Nona Vanessa pacarnya?" sahut Silfi.
" Ah masak?" tanya Zahra.
__ADS_1
" Ah masak kamu tidak tahu, bukankah kamu hampir setiap jam bersamanya?" sahut Silfi
" Itukan tentang urusan pekerjaan," jawab Zahra.
" Sejauh ini menurut kamu gimana Pak Reyhan itu orangnya?" tanya Lita antusias.
" Orangnya memang keren, tampan tapi, dengerin ya!" sambil berbisik, membuat mereka nengarahkan kepala berkumpul ketengah meja mendengarkan Zahra yang bicara setengah berbisik.
" apa?" tanya semua temannya.
" Orangnya galak, suka maksa pokoknya kejam, jadi gak usah deh kalian ngefans-ngefans sama dia," ujar Zahra.
Tiba-tiba semua mata mendongak keatas, melihat kearah belakang Zahra, sementara Zahra terus berbicara menjelek-jelekkan bosnya itu. Seolah-olah ia sedang menumpahkan semua amarahnya. Ia pun akhirnya menyadari kalau ekspresi teman-temannya berubah, begitu juga pandangan matanya tertuju pada satu obyek di belakangnya, iapun bertanya " ada apa?"
Teman-teman Zahra tak ada yang menjawab, namun hanya berusaha mengkode dengan mengedipkan mata, dan menunjuk dengan jari dengan ekspresi ketakutan. Zahra pn menoleh kearah belakang, ia terkejut dan berteriak, " Hah!"
" Sudah puas?" tanya Reyhan seraya mengambil kursi kosong di meja samping dan ikut duduk bersama mereka.
"Boleh-boleh Pak ," jawab Silfi dkk secara bersamaan dengan senang hati, wajah-wajah ketakutan berubah tersenyum, namun lain halnya dengan Zahra yang terlihat manyun.
" Kalau mau kenalan dengan saya, kenapa kalian tidak langsung ke saya saja, jangan tanya sembarang orang. Kadang orang itu hati dan mulutnya bisa berbeda," ujar Reyhan menyindir Zahra yang berada di sampingnya. Zahra membuang muka dengan manyun.
" Ah Bapak bisa saja, mana berani kami begitu," ujar Lita.
" Baiklah hari ini aku traktir semua," ujar Reyhan.
" Trimakasih Pak," jawab Silfi dkk dengan kompak.
Zahra melihat Zaky mendekat kearah mereka duduk. Zahrapun berpamitan dengan teman-temannya, " Maaf teman-teman saya tinggal dulu, ada janji tadi dengan Pak Zaky, silahkan nikmati makan siang dengan idola kalian!"
Zahra berdiri dan menghampiri Zaky. Merekapun duduk di tempat yang tidak jauh dari teman-temannya tadi. Reyhan melihat sinis kearah Zahra yang tengah asyik mengobrol dengan Zaky. Zahra dan Zaky tertawa bersama, terlihat keakraban diantara mereka. Zahra sengaja membuat Reyhan cemburu. Reyhanpun menyadari hal tersebut, Ia membalasnya dengan meladeni kegenitan teman-teman Zahra.
Zahra melihat Lita memberikan tisyu kepada Reyhan, namun Reyhan minta tolong membantu melap pipinya yang terkena makanan.
__ADS_1
Zahra pun menggerutu," Dasar kegenitan semua."
" Ada apa?" tanya Zaky.
" Enggak, cuma heran tuh teman-temanku kegenitan sama Pak Reyhan, semua ngefans dengannya," jawab Zahra.
" Kalo kamu?" tanya Zaky.
" Ah apaan sih?" jawab Zahra salah tingkah
" Ngefansnya, sama aku saja," ujar Zaky menggoda.
" Hem,,,gimana ya?" jawab Zahra tersenyum.
" Akukan ngefansnya sama kamu?" ujar Zaky.
" Ha,,ha,, bisa aja Mas Zaky?" balas Zahra.
Merekapun melanjutkan makan
Reyhan berjalan menuju arah Zahra dan Zaky. Sesampai di meja mereka, Reyhanpun berbicara, " Sudah pacarannya? Kalau sudah cepat kita ke kantor, kamu lupa, kita ada rapat?"
" Baik Pak Bos, Bapak sendiri sudah kegenitannya, dengan para gadis?"
" Hust, Zahra!" sahut Zaky, memberi isyarat agar Ia bekata sopan.
Reyhanpun meninggalkan mereka berdua. Zaky dan Zahrapun bergegas menghabiskan makanan mereka. Setelah itu mereka kembali ke kantor.
Zahra kembali keruangannya mempersiapkan perlengkapan yang akan ia bawa mendampingi Reyhan rapat.
Ia juga menyiapkan hati untuk berhadapan lagi dengan Reyhan. Hari itu ia malas bila berdua semobil dengan Reyhan.
Ia duduk termenung di kursi. Hatinya galau, ia bimbang harus bagaimana menghadapi Reyhan. Sebelumnya hatinya sangat mencintai Reyhan. Ia begitu bahagia bertemu kembali dengannya. Entah kenapa hatinya gamang menerima kembali Reyhan, bimbang menjalin hubungan yang serius lagi dengannya. Hatinya ternyata masih tak siap untuk terluka lagi. Terlalu takut untuk terluka, apalagi terlalu banyak godaan di kantornya. Banyak wanita mengejar-ngejar Reyhan. Terlebih lagi sering ia melihat kedekatannya dengan Vanessa.
__ADS_1