
Zahra, Keyla, dan Nella berjalan menyusuri jalan menuju parkiran, ia melihat Vino bermain basket bersama-sama temannya.
Zahra kemudian duduk di serambi gedung melihat Vino dari kejauhan.
"Kok ngelamun Za?" Tanya Nella
Zahra tersenyum menutup mata dan menghela nafas panjang.
" hem,,,aku akan merindukan kampus ini, suasana disini, merindukan kalian semua, merindukan semuanya."
Kedua temannya kemudian memeluk Zahra.
"Aku juga akan merindukan mu Za."
Tanpa di sadari Vino sudah berada di dekat mereka, lalu berkata. "Aku juga."
Kehadiran Vino mengejutkan mereka semua.
"Hem, Vino aku juga akan selalu merindukanmu, kejahilanmu, rayuan gombalmu," balas Nella seraya mencubit kedua pipi Vino.
Zahra tertawa melihat kedua temannya itu. Ia bicara pada Vino tentang izin cutinya, "He Bos, aku cuti ya, mau pulkam ngabarin ayah dan ibu, sekalian ngasihkan undangan wisuda."
"Hem, gini ya enaknya kalo bosnya temen sendiri," sela Neyla.
"Kan bisa lewat telephon, Za," jawab Vino.
"Tapi aku juga kangen sama Ayah dan Ibuku, masak gak boleh sih?" pinta Zahra memelas.
"Siapa yang bilang gak boleh? boleh-boleh saja, sama aku sih santai, minta anterin? aku anterin kok," ujar Vino seraya memainkan bola basket di jarinya.
"Gitu dong, jadi bos itu yang bai," Nella menyela ikut bicara.
"Trimakasih Vino.m," ucap Zahra, seraya tersenyum, seraya merebut bola dari tangan Vino.
"Apa sih yang nggak buat kamu," balas Vino.
"Cieee,, cieee," goda Nella dan Keyla
Zahra kemudian melempar bola di tangannya kearah mereka berdua, dengan sigap Keyla menangkapnya.
"Za kita ikut lagi kerumahmu ya, kita juga kangen banget, pinta Keyla.
"Iya Za, Nella kangen merampok apel di kebun mu," sahut Nella.
__ADS_1
"Eh Nella kayaknya dulu kamu deh yang makannya paling banyak dan bawa pulangnya juga paling banyak."
Mereka mengingat-ingat kejadian waktu libur semester yang lalu, mereka berdua ikut Zahra pulang kampung. Karena kedekatan mereka, ketiganya sering berkunjung bergantian kerumah masing-masing sahabatnya itu.
"Oke kalian boleh ikut, ya semoga kalian beruntung, semoga saja tanaman apelnya sudah ada yang berbuah," jawab Zahra.
"Aku ikut juga dong, pengen ketemu calon mertua," ujar Vino.
"Gak boleh, kamu mau lihat aku di gantung sama ayahku dikira nanti kita pacaran lagi," jawab Zahra.
"Serem banget ayahmu, kan aku emang pacarmu," jawab Vino.
" Ayahku sudah mewanti-wanti tidak boleh pacaran sebelum lulus kuliah."
"Kolot sekali Ayahmu Za, jadi itu alasannya kamu selalu nolak aku."
"Biarin kolot, itu namanya sayang sama anaknya."
"Hem, anak sholehah, tidak sia-sia aku menunggumu," ujar Vino seraya mencubit pipi Zahra. Zahra segera mengelak.
"Vino, jangan mulai deh, sudahlah Vino jangan berharap padaku," ujar Zahra dengan kesal.
Zahra, Keyla dan Nella berlalu meninggalkan Vino menuju kedai baso di depan kampus.
"Za, emang betul ayahmu gak ngizinin kamu pacaran," tanya Nella.
" Iya, dulu saja waktu SMA, aku dianterin pulang kerumah sama kakak kelasku yang naksir sama aku, aku dimarahi habis-habisan sama Ayah, diancam mau dinikahkan dan di larang sekolah. Sejak saat itu gak berani macam-macam aku."
"Terus, kamu belum pernah pacaran dong?" tanya Nella.
"Pernah sih, sembunyi-sembunyi, tapi gak lama putus, dia lebih milih wanita lain yang bisa diajak jalan bareng, nongkrong bareng, sedangkan aku, pulang pergi sekolah diantar Ayahku."
"Kasihan," jawab Nella dan Keyla kemudian mereka tertawa lepas.
***
Zahra, Nella dan Keyla pagi-pagi sekali berangkat menuju rumah Zahra di daerah Batu mengendarai sepeda motor masing-masing. Melewati jalan pegunungan yang berkelok, naik-turun. Udara yang segar dengan pemandangan yang memanjakan mata. Kurang lebih 30 menit mereka sampai di rumah Zahra.
Rumah Zahra cukup besar. Rumah bercat putih dengan dua lantai, di samping rumah dan belakang rumah terhampar perkebunan apel yang luas.
Setelah bersalaman dengan kedua orang tua Zahra, mereka duduk di kursi tamu melepas lelah. Ibu Zahra yang bernama Maryam keluar membawakan teh panas, dan mempersilahkan mereka minum, "Silahkan di minum nak!"
"Trimakasih bu," jawab Nella dan Keyla.
__ADS_1
Ayah Zahra yang bernama Pak Rohman pun ikut bergabung bersama mereka. Ia bertanya kepada Zahra, "Kok nggak ngabarin kalau mau pulang? kan bisa Ayah jemput Za."
"Zahra bisa pulang sendiri Yah, biar gak ngerepotin Ayah terus."
"Alhamdulillah anak Ayah sudah besar."
"Iya dong Yah. sebentar lagi kan Zahra jadi sarjana, Ini undangan wisudanya, Ayah sama Ibu harus datang," ujar Zahra dengan manja.
"Tentu saja Za," jawab Pak Rohman.
"Maaf Nak, aku terpaksa menuruti perintah ayahmu, membuatmu bekerja keras kuliah sambil bekerja," ujar Ibu Maryam.
"Apa maksud Ibu?"
"Ibu berbohong soal kebangkrutan ayahmu."
"Ayah, teganya sama anak sendiri, ucap Zahra seraya memanyunkan bibirnya.
"Itu demi kebaikanmu, agar kamu bisa belajar mandiri, tidak menghambur-hamburkan uang keluar masuk Mall setiap hari," jawab pak Rohman.
"Kata siapa Ayah aku keluar masuk Mall tiap hari, Ayah bisa tanya Nella sama Keyla, mereka selalu bersamaku," ujar Zahra membela diri.
"Iya Om kami tidak sering kok main ke Mall, cuma Sabtu, minggu, atau pas dosennya gak masuk," jawab Nella.
"Nella!" teriak Zahra, karena jawabannya malah membuktikan kebenaran omongan Ayahnya.
"Tuh benar kan, Ada mata-mata ayah yang bilang kamu kuliahnya banyak mainnya, jadi ayah terpaksa, biar kamu bisa lebih bertanggung jawab, lagian sekarang ayah bangga sama putri ayah satu-satunya ini yang bisa lulus kuliah sambil bekerja," ujar Ayahnya
" Ya Alloh, ayah tega sekali, lebih percaya omongan orang dari pada anak sendiri. Tau gak Yah, anak ayah ini banting tulang siang malam, punya bos yang jahat, suka marah-marahin Zahra, Zahra di siksa Ayah." ujar Zahra sambil pura-pura menangis, membalas ayahnya yang telah berbohong padanya.
" Betul? kamu di apain Za? biar nanti Ayah samperin ketempat kerjamu, akan ayah hajar bosmu yang jahat itu," Ujar Pak Rohman dengan marah.
" Enggak Yah, Zahra bohong, mereka baik kok."
" Dasar nakal," ucap Pak Rohman seraya menjewer telinga putri kesayangannya itu.
Kedua sahabatnya tertawa melihat perilaku anak dan Ayah tersebut.
"Ampun Ayah." Zahra meringis kesakitan.
"Ayah ingin kamu seperti kakak kamu Azzam , bisa sukses, mandiri, kuliah S2 sambil bekerja."
Kakak Zahra bernama Azzam sedang menempuh kuliah S2 dan bekerja di perusahaan ternama di Jakarta. Azzam adalah Putra pertama Pak Rohman, sedangkan Zahra anak ke dua, mereka hanya memiliki dua anak. Tak heran Ayahnya Super protektif terhadap Zahra.
__ADS_1