Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Makin Sayang


__ADS_3

Keesokan harinya Zahra bangun, badannya merasa sakit semua, ia bingung mau masuk kerja atau izin saja. Ia berjalan sedikit terpincang-pincang membuka jendela, membiarkan udara pagi menerobos masuk keruangannya. Pandangannya menerawang jauh, di benaknya ia mencurigai seseorang yang mungkin menyuruh orang melukainya. Ia teringat ancaman dari Vanessa, namun ia menepis semua itu, mana mungkin Dia berbuat kotor seperti ini.


Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


" Masuk!" pinta Zahra.


Reyhan membuka pintu dan menghampiri Zahra.


" Hari ini kamu tidak usah masuk kerja, istirahat biar cepat sembuh," ujar Reyhan.


" Iya, Mas," jawab Zahra.


" Apa kamu serius dengan ucapanmu semalam?"


" Yang mana?" tanya Zahra pura-pura lupa.


"Akhir pekan ini kita akan kemalang menemui kedua orang tua mu, aku akan melamarmu,"


" Secapat ini?"


" Ya, kalo bisa kita langsung nikah sekalian hari itu juga."


" Ah Mas Reyhan, jadi ngebut gitu,"


" Iya, aku takut kamu berubah pikiran lagi," ujar Reyhan seraya membetulkan kerudung instan Zahra yang tidak simetris. Hal itu membuat jantung Zahra berdegup kencang, pipinya merona merah.


Reyhanpun berpamitan pergi meninggalkan Zahra, " Aku pergi dulu sayang," seraya menutup pintu.


Ucapan Reyhan membuat Zahra berlompat-lompat kecil kegirangan, "Sayang? Dia panggil aku sayang, Auu!!!"


Ia lupa kakinya terluka, akibatnya rasa nyeri yang ia rasakan. Ia berhenti melompat-lompat dan berbaring di kasurnya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Silfi, ia lupa sudah mengucap terimakasih atau belum.


Zahra mencari nomor kontak Silfi, setelah tersambung akhirnya mereka bercakap-cakap,


"Assalamu'alsikum Fi?"


" Wa'alaikumussalam, Zahra gimana kabar mu, sudah enakan? Padahal aku baru saja mau menghubungimu, eh keduluan kamu,"


" Alhamdulillah sudah agak enakan, Trimakasih ya Silfi, kamu sudah menolongku, sampaikan ucapan trimakasihku juga ke Lita ya,"


" Sama-sama Za, kita kan sohib sist. Oh iya insyaalloh nanti sore kami mau njenguk kamu, mau di bawakan apa?"

__ADS_1


" Sudah gak usah repot-repot, trimakasih, selamat bekerja, Assalamu'alaikum,"


" Wa'alaikumussalam."


Setelah mengakhiri panggilan, Zahra kembali merebahkan diri. Fikiran tentang ucapan Reyhan dan ancaman Vanessa kembali mengganngu fikirannya.


Hari mulai beranjak siang, Zahra tengah menonton TV mengurai kebosanan. Remote control ia pencet berulang-ulang, namun tidak menemukan acara yang menarik baginya. Ia kembali mematikan televisi dan beralih membuka ponselnya. Sebuah notifikasi di whatshap tertera nama Reyhan. Ia membuka pesan itu yang berisi " Sudah makan siang atau belum?"


Zahra bingung mau menjawab apa, kalau dia mau menjawab belum takutnya Reyhan mengajak makan siang dan malah merepotkannya. Lama Zahra tidak membalas pesan, ia masih berfikir. Tiba-tiba suara orang mengetuk pintu mengejutkannya.


Zahra berjalan sedikit menahan sakit dan membuka pintu. Senyumnya mengembang mendapati orang yang baru saja mengirim pesan lewat whatshap tadi sudah muncul di hadapannya membawa dua kotak makan dari rumah makan padang.


"Kenapa lama banget balas chatnya?" Tanya Reyhan.


" Masih mikir,"


" Ayo makan, mau di ruang tamu saja apa di ruang makan?" tanya Reyhan.


" Disini saja," jawab Zahra


Reyhan menuju ke dapur hendak mengambil sendok dan minuman, namun Zahra mencegahnya, " Aku ambilkan mas."


" Kamu duduk saja di situ!" pinta Reyhan seraya menunjuk kearah sofa.


Wajah Zahra mulai pucat pasi, dugaannya tidak salah lagi. Kemungkinan besar Vanessa ada di balik semua ini. Siapa lagi yang terobsesi pada Reyhan selain Dia. Ia bingung haruskah ia mengatakan pada Reyhan atau tidak, sementara ia tidak punya buktinya.


Reyhan duduk di samping Reyhan membawa kotak dan sendok, ia hendak menyuapi Zahra. Melihat ekspresi Zahra yang tadinya ceria berubah menjadi murung, iapun bertanya, " Ada apa Zahra?"


" Tidak apa-apa Mas, aku makan sendiri saja, kamu juga belum makan, dan harus segera kembali ke kantor.


" Ayo cepat habiskan makananmu, segera minum obatmu!" pinta Reyhan.


" Mas.." Zahra ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


" Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Reyhan. Ia tahu wanita di sampingnya sedang memikirkan sesuatu dari mimik wajahnya.


" Mas, aku tidak tahu sedekat apa hubungan persahabatanmu dengan Vanessa, tapi bila suatu saat kamu di hadapkan pilihan memilih aku atau dia siapa yang kamu pilih?"


" Tentu kamu, apa kamu masih ragu?"


" Tidak, saya percaya kamu, tapi aku tidak percaya dia, bagaimana kalau dia berbuat macam-macam untuk mendapatkan kamu. secara aku lihat dia begitu terobsesinya padamu."

__ADS_1


" Jangan cemas, dia tidak akan berbuat macam-macam, aku cukup mengenalnya. Dia hanya anak manja yang semua keinginannya harus di turuti."


Zahra semakin tidak yakin ingin mengatakan dugaannya terhadap Vanessa.


Mereka makan siang bersama, Reyhan masih saja curiga dengan perubahan Zahra yang seperti orang bingung dan sering melamun. Sesekali mereka beradu pandang yang membuat Zahra semakin salah tingkah.


Setelah Reyhan kembali ke kantor. Zahra mencoba menghubungi nomor yang tadi mengirim pesan, namun nomor sudah tidak aktif.


***


Sore hari seperti janjinya Silfi mengunjungi Zahra, bersama Difa dan Lita. Rumah yang tadinya sepi menjadi ramai karena kedatangan mereka. Mereka saling bertanya kabar. Percakapan dan senda gurau mereka dapat mengalihkan rasa sakit yang Zahra rasakan. Namun tidak dengan rasa penasarannya terhadap Vanessa.


Zahra memberanikan diri bertanya tentang Vanessa dan menceritakan perbuatannya padanya. Semua temannya terkejut dengan apa yang mereka dengar.


" Zahra kami tidak begitu kenal dengan Nona Vanessa, tapi kamu juga harus hati-hati. Secara dia punya segalanya, uang dan kekuasaan," ujar Silfi.


Tiba-tiba kehebohan Lita ketika melihat ponselnya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.


" Hem!! keren banget, gemes deh," pekik Lita.


" Apaan sih?" tanya Devi penasaran.


Mereka memperlihatkan pada teman-temannya.


" Ah kalian Kudet sih, ini nih lagi trending topic. Penyanyi pendatang baru yang baru-baru ini viral terkenal karena mengunggah videonya di akun You tube,"


" Ah iya aku juga suka dia," sambung Devi setelah melihatnya.


" Coba lihat," pinta Zahra seraya meraih ponsel Lita.


" Keren," ujar Silfi yang ikut melihat.


" Vino, ini sih temanku, Vino yang sempat aku ceritakan dulu, adiknya Mas Reyhan. Gak nyangka sekeren ini dia sekarang."


" Mau balikan?" tanya Silfi menggoda.


" Ah apaan sih!" jawab Zahra.


" Haaaa, gak adil kenapa yang keren-keren sukanya sama kamu, " ujar Lita memukul bahu Zahra, dengan ekspresi pura-pura menangis. Sontak membuat ke tiga sahabatnya tertawa lepas.


" Kayaknya tipe cowok keren-keren sudah ganti selera yang hijab-hijab," ujar Devi.

__ADS_1


" Makanya lo cepat tobat sana," ujar Silfi seraya melempar bantal sofa, yang akhirnya mereka saling lempar.


" Lo lo juga," jawab Devi menunjuk Silfi dan Lita. Zahra terkekeh melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu. Zahra merasa beruntung memiliki mereka, entah kapan mereka jadi begitu dekat. Hal itu mengalir begitu saja, karena sikap Zahra yang ramah tidak membeda-bedakan teman. Meskipun berhijab teman-temanya berfikir Zahra cukup gaul, dan asyik di ajak seru-seruan.


__ADS_2