
Waktu beranjak siang Zahra kembali sendiri di Apartemen. Silfi, Devi dan Lita baru saja pamit pulang. Azzam mengantar tunangannya pulang kerumah juga. Zahra tengah asyik video call bersama Keyla dan Nella.
Mereka berencana akan reoni bersama karena sudah saling rindu. Tanpa Zahra sadari Reyhan tengah duduk di hadapannya. Ia baru menyadari ketika mematikan panggilan video call nya.
Zahra melihat Reyhan duduk mengangkat kaki sebelah dengan menyandarkan diri di sofa, dan melipat kedua tangannya. Zahrapun teriak, " Hah!"
Reyhan hanya senyum melihat reaksi Zahra, lalu berkata, " Kaget ada orang ganteng di sini"
" Aduh aku mau muntah," ujar Zahra seraya memegang perut dan mulutnya.
" Kenapa perutnya sakit?" tanya Reyhan serius.
Gurauan Zahra dianggap serius oleh Reyhan. Padahal Zahra cuma bercanda menanggapi ucapan Reyhan yang selalu terlalu percaya diri menilai dirinya ganteng. Zahrapun tertawa melihat ekspresi Reyhan yang terlihat cemas. Iapun berkata, " Iya nih sakit perut dengar orang kelewat percaya diri muji diri sendiri."
Reyhan gemas melihat Zahra menertawai dirinya, Iapun mencubit hidung Zahra, sontak Zahra menjerit kesakitan.
"Aw sakit tau!?" ujar Zahra.
Reyhan jadi tertawa melihat kekasihnya itu kesakitan. Reyhanpun meminta maaf kepada Zahra. Zahra masih manyun, Iapun menggelitikinya, hingga Zahra memohon ampun. Mereka tertawa lepas. Reyhan menanyandarkan diri ke bahu Zahra, Iapun berkata, "Mungkin kita butuh refresing, ayo jalan-jalan!"
" Kemana?" tanya Zahra
__ADS_1
" Sudahlah kamu ikut saja, aku tunggu di bawah kamu cepat ganti baju," jawab Reyhan seraya berdiri.
Zahra akhirnya turun ke basement apartemen. Ia terlihat cantik dengan balutan hijab pasmina, mengenakan baju santai kaos panjang berwarna pink dan celana panjang. Ia juga membawa tas slempang kecil. Reyhan mengemudi mobil, Zahrapun duduk di sampingnya. Reyhan mengajak Zahra untuk kesebuah tempat yang ia rahasiakan.
Setelah beberapa jam mengemudi sampailah ia di sebuah pantai. Zahra melepas sepatu dan menjinjingnya ketika berjalan di tepian pantai. Kali ini Reyhan sering memotretnya diam-diam dan mengajak berselfi.
Mereka duduk di pasir sembari menikmati es kelapa muda. Senjapun tiba, jingga merona di ujung barat. Reyhan memandang wajah Zahra yang tersenyum memandang mentari yang sebentar lagi terbenam, Iapun bertanya pada Zahra. "Apa kamu menyukainya"
" Tentu saja, aku suka keindahan alam, membuat hati damai. Apalagi ketika senja tiba. Senja tiba melambangkan kedamaian setelah berpacu dengan siang yang terik. Senja tiba saatnya istirahat dalam kedamaian melepas beban."
"Aku berharap kamu mau menemaniku hingga senja nanti, senja yang damai bersama anak cucu kita, aku berjanji padamu akan selalu menjagamu, setia sampai akhir hayatku" ujar Reyhan seraya memegang tangan Zahra.
" Hem aku rindu malang, aku rindu dinginnya batu," ujar Zahra.
" Bagaimana kalau bulan depan kita pulang ke Malang?"
" Bulan depankan pernikahan Mas Azzam dan Kak Sofi. Semua keluarga besarku akan berkumpul di Jakarta. Pesta resepsinya hanya akan di gelar di pihak perempuan saja. Kata Ayah nanti kalau mantu saya baru akan menggelar pesta di rumah."
" Pernikahan kita dong?" tanya Reyhan sembari tersenyum.
" Hem,, mungkin, kalau kamu menepati janjimu," ujar Zahra seraya berdiri.
__ADS_1
Haripun mulai gelap, Reyhan mengajak Zahra untuk kembali pulang. Di tengah jalan Ia mengajak Zahra untuk mampir ke Masjid yang berada di tepi jalan untuk menunaikan ibadah. Setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan.
Perjalanan cukup jauh hingga Zahra kelelahan dan tertidur di dalam mobil. Di tengah perjalan ban mobil yang ia kendarai kempes. Reyhanpun menepi ke pinggir jalan yang lebih luas. Sementara Zahra masih terlelap. Reyhanpun menelpon Azzam mengabarkan kalau mereka mungkin akan terlambat pulang karena inseden kecil itu.
Reyhan mulai mencari dongkrak dan peralatan lain untuk mengganti ban mobilnya. Zahra terbangun melihat ke arah kemudi namun tidak menemukan Reyhan. Ia pun melihat keluar ternyata Reyhan sudah memasang dongkrang di bagian roda belakang. Zahrapun turun dan menuju kearah Reyhan, " Kenapa Mas?"
" Bannya kempes"
" Apa sebaiknya kita mencari bantuan saja?"
" Tenang saja, kamu tunggu saja di mobil aku akan segera mengganti rodanya, aku bisa sendiri."
Zahrapun hanya berdiri melihat Reyhan mengganti roda mobilnya sendiri. Badannya yang kekar itu berusaha sekuat tenaga mengganti sendiri, rupanya Reyhan tidak mau terlihat lemah dihadapan kekasihnya itu. Melihat Reyhan berkeringat, Zahra melap wajah Reyhan dengan tisyu. Reyhanpun ikut tersenyum melihat Zahra tersenyum.
Zahra melihat kearah tepi jalan, beberapa meter ia melihat toko. Zahrapun meminta izin kepada Reyhan untuk meninggalkannya sebentar pergi ketoko tersebut. Reyhanpun berpesan agar berhati-hati. Tak lama kemudian Zahra kembali dengan membawa satu kantong plastik berisi beberapa air mineral dan air minum lainnya.
Reyhan akhirnya telah selesai mengganti roda belakangnya. Wajahnya terlihat kotor terkena debu dengan keringat mengucur deras dan tangannya kotor semua. Zahrapun meminta Reyhan mencuci tangan dengan air mineral yang telah Ia beli. Zahra kemudian melap wajah Reyhan.
Reyhan menatap Zahra ketika ia melap wajah Reyhan. Postur tubuh Reyhan yang menjulang tinggi membuat Zahra harus berjinjit. Reyhanpun menarik tubuh Zahra dalam pelukannya dan berkata, " Kalo seperti ini aku rela ban mobilku bocor setiap hari, biar kamu selalu memperlakukan aku semanis ini,"
" Nih bersihkan sendiri!" Zahra mendorong tubuh Reyhan dan menyerahkan tisyu kepada Reyhan. Iapun masuk kedalam mobil dengan manyun, lalu iapun senyum-senyum sendiri. Reyhan menyusulnya duduk di depan kemudi, melihat Zahra kembali manyun. Reyhan tersenyum melihat Zahra. Ia kemudian melanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah restoran. Mereka berhenti untuk makan sebentar lalu melanjutjan perjalanan kembali.
__ADS_1