
Reyhan meminta Vino untuk tinggal sementara dengannya. Awalnya Vino menolaknya dengan alasan tidak mau merepotkan kakaknya itu. Ia lebih nyaman tinggal di hotel, meskipun hatinya menginginkannya agar lebih dekat dengan Zahra. Namun ia berfikir lebih baik menghindari Zahra agar tidak terjadi kesalah fahaman lagi.
Keinginan untuk melindungi Zahra membuat Vino memutuskan mengikuti saran dari kakaknya itu. Ia tinggal bersama Reyhan sampai urusan di Jakarta selesai. Apalagi banyak stasiun TV yang mengundang dI salah satu acaranya.
Malam di kediaman Reyhan.
Zahra dan Azzam mendapat undangan makan malam di rumah Reyhan. Bibi Mina memasak menu-menu spesial atas permintaan Vino. Ia mau merayakan kesuksesannya telah tampil di berbagai acara Televisi.
Zahra ikut membantu menyiapkan hidangan keatas meja. Reyhan, Vino, Azzam dan Zahra menikmati hidangan. Gelak tawa terdengar, seperti biasa kekonyolan Vino membuat seisi ruangan tertawa.
Keseruan cerita Vino berlanjut di ruang tamu. Azzam ternyata sangat menyukai Vino yang humoris. Ia meladeni kekocakan Vino yang bercerita tentang mantan-mantannya,
" Eh Vino, pacarmu sih banyak, sayangnya gak ada yang mau dinikahi," ujar Azzam meledek.
"Eh jangan salah, pada ngantri semua," jawab Vino.
" Harusnya kamu balas budi sama aku Vin, setiap cewek yang kamu tinggal selingkuh, tanya nya sama aku. Sebenarnya aku ikut berdosa, membantumu berbohong. Aku harus cari alasan kerja kelompok sama aku, dan banyak lagi alasan ," ujar Zahra mengenang masa-masa kuliah mereka. Reyhan hanya kadang tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
" Sebenarnya sih Mas Azzam sepertinya aku kena karma, diantara semua wanita cuma satu yang tidak bisa aku dapatkan, maunya akan kunikahi eh ketikung kakak sendiri, ha ha ha"
" Makanya jangan suka nyakitin hati wanita, kena karma kan lo," sahut Azzam.
" Aduh kasihan, maaf ya Vino, andai aku jadi cowok dan kamu ceweknya, pasti deh aku jadikan istriku juga, ha ha ha," ujar Zahra. Ucapan Zahra yang bercanda menarik perhatian Reyhan, membuatnya mendapat tatapan tajam dari Reyhan.
Vinopun segera mecairkan suasana,
" Eh Mas, sorry ya gue gak mau di madu," canda Vino menirukan gaya bicara wanita. Tak elak candaannya mengundang tawa yang mendengarnya.
***
Sepulang kerja Reyhan menghubungi Vino untuk menjemput Zahra karena dia sedang ada urusan. Reyhan sudah percaya kalau Vino tidak akan terbawa perasaannya lagi dan merelakan Zahra untuknya. Karena itu setiap Reyhan ridak bisa menjemput atau mengantar Zahra, ia meminta bantuan Vino.
Vino telah sampai di basment gedung perusahaan tempat Zahra bekerja. Ia menunggu Zahra turun dari kantornya.
Senyum mengembang dari bibir Vino melihat Zahra mendekat kearahnya. Langkah Zahra terhenti, Vanessa dan asistenya menghampiri nya dan berkata, " Rupanya masih belum kapok ya kamu. Sekali lagi tinggalkan Reyhan atau Reyhan akan aku pecat, dan akan aku buat karirnya hancur,"
__ADS_1
" Nona bukankah Reyhan tidak mencintai anda, mengapa kamu memaksa. Ancamanmu ini tidak akan membuat aku meninggalkan aku meninggalkannya lagi, maaf nona saya permisi " jawab Zahra seraya melangkah pergi meninggalkan Vanessa yang kesal.
Bukan namanya Vanessa kalau ia menyerah. Ia memikirkan cara agar Zahra mau melepaskan Reyhan.
Vinopun penasaran dengan denhan wanita yang menghampirinya tadi, " Siapa dia?"
" Oh wanita itu? Namanya Vanessa, Dia putri pemilik perusahaan ini," jawab Zahra.
" Kelihatannya dia tidak menyukaimu?"
" Iya, dia juga mencintai Mas Reyhan, sudah jangan bahas lagi ayo cepat pulang," pinta Zahra.
Sesampainya dirumah, Zahra di kejutkan dengan kehadiran kedua orang tuanya. Azzam baru saja menjemput mereka dari bandara.
Zahra memeluk ibu dan ayahnya bergantian.
" Ih Mas Azzam kok gak bilang-bilang kalau Ibu dan Ayah datang sekarang?"
" Kejutan!" jawab Azzam.
Reyhan dan Vinopun datang menyambut keluara Zahra. Reyhan mengungkapkan niatnya untuk pulang ke Malang bersama mereka setelah pernikahan Azzam, untuk melamar Zahra.
Kedua orang tua Zahra ikut senang, ternyata putrinya sudah memaafkan Reyhan dan melanjutkan pertunangan.
***
Suasana kantor yang hening tiba-tiba jadi riuh ramai. Beberapa orang berseragam polisi membawa Azzam. Semua karyawan menjadi penasaran dengan apa yang terjadi.
Zahra bersama Reyhan melihat Azzam yang di apit dua polisi dengan tangan di borgol. Zahrapun berlari ke arah mereka.
" Pak ada apa ini, mengapa anda membawanya?"
" Maaf nona, Kakak anda terjerat kasus penggelapan dana perusahaan, untuk lebih jelasnya silahkan datang kekantor polisi," ujar salah satu polisi.
" Tidak, tidak mungkin, jelaskan padanya Mas Azzam, tidak mungkin kakak melakukannya," ujar Zahra dengan menangis histeris.
__ADS_1
" Zahra dengar Mas! Kamu tahu kan siapa kakakmu ini? sudah jangan menangis, aku akan mengatasi semua ini. Aku tidak salah," senyum yang dipaksakan keluar dari bibir Azzam untuk menenangkan Zahra.
Zahra terduduk lemas, mengapa cobaan datang di kala pernikahan kakaknya tinggal beberapa hari lagi.
Reyhan membantu Zahra berdiri, Ia berjanji akan membantu Azzam dengan meminta bantuan pengacara. Reyhan mengantar Zahra pulang, selama perjalanan Zahra tak henti-hentinya menangis. Reyhanpun tak sanggup menenangkannya
Zahra pulang dengan hati hancur, bingung dan sedih. Apalagi setelah menatap kedua orang tuanya. Dia tidak sanggup menceritakan kejadian di kantor kepada kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Zahrapun mengetahui kalau ada hal yang mengganggu fikiran putrinya itu.
Tiba-tiba Sofipun datang dengan menangis.
Zahrapun menceritakan kejadian dikantornya. Kedua orang tua Zahra terkejut. Mereka terduduk lemas. Kini Zahra lebih harus menguatkan diri untuk menguatkan kedua orang tuanya.
***
Hari berganti, akhirnya kedua orang tua Sofi calon mertua Azzam mengetahui kasus yang membelit calon menantunya. Merekapun menemui orang tua Azzam di apartemennya. Mereka berdiskusi tentang pernikahan putrinya dan Azzam.
Orang tua Sofia memberikan penegasan akan membatalkan pernikahan mereka jika terbukti Azzam bersalah. Meskipun mereka harus menahan malu karena undangan sudah terlanjur menyebarkan undangan.
Kedua orang tua Azzam masih tetap dengan pendapatnya bahwa putranya tidak bersalah.
" Pak saya mrngenal putra kami dengan baik, saya sakin ini cuma salah faham pak," ujar bu Fatma.
" Maafkan kami Pak jika memang anak kami memang bersalah, kami menerima segala konsekwensinya bila pernikahan harus batal, dan jika memang putra kami nantinya tidak bersalah, kami mohon Bapak mempertimbangkan pernikahan Azzam dan Sofi," ujar Pak Rohman dengan tegas.
Zahra tiba-tiba mendapat sms dari nomor yang tidak dikebal, berisi " Nasib kakakmu ada di tanganmu, temui aku besok, tunggu kabar selanjutnya, jangan sampai Reyhan tahu atau kakakmu meringkuk di penjara selamanya"
Zahra terperanggah melihat SMS tersebut.
Malam semakin larut Zahra tidak bisa memejamkan mata. Pada siapa ia harus berbagi keluh kesahnya. Bersimpuh diatas sajadah, tangisnya pecah. Segala isi hatinya ia tumpahkan kepada Alloh Sang Maha Adil. Doa-doa tak henti-hentinya ia panjatkan untuk keselamatan orang-orang yang ia cintai. tak lupa ia memohon kekuatan hati menerima semua cobaan.
Ia tak sabar menunggu esok tiba, ingin segera membebaskan Kakaknya. Ia sudah siap kemungkinan yang di minta oleh pengirim SMS itu.
Zahra menghubungi Vino agar besok menhantarkannya menemui seseorang.
__ADS_1