
Zahra begitu sibuk memikirkan perusahaan dan juga keadaan Reyhan. Ia tak sempat memikirkan kondisi tubuhnya, lelah tak lagi ia hiraukan. Apalagi persiapan memboyong Reyhan keluar negeri harus segera ia urus.
Tiba-tiba di kantor Zahrapun jatuh pingsan. Jodi dan beberapa pegawai perempuan membawanya kerumah sakit tempat yang sama Reyhan di rawat. Setelah di tangani oleh dokter UGD, Zahra pun tersadar. Ia di sarankan menemui dokter spesialis kandungan. Karena ia mengeluh pusing dan mual.
Jodi menghubungi Vino, Vino pun segera meluncur ke rumah sakit. Vino juga meminta sopir mengantar kedua orang tua Zahra ke rumah sakit. Setelah Pak Rohman dan Bu Maryam datang Vino mendorong kursi roda, membawa Zahra ke ruang dokter kandungan.
Bu Maryam menemani putrinya menemui dokter. Dokter itu bertanya tentang siklus menstruasi Zahra. Zahra memberitahu bahwa sudah hampir dua bulan lebih tidak menstruasi.
Dokterpun malah memarahi Zahra, karena tidak segera memeriksakan diri kedokter. Zahra berfikir karena dirinya mengalami stress atau banyak pikiran sehingga siklus menstruasinya jadi kacau seperti yang sering terjadi sebelum dirinya menikah.
Perawat mengarahkan ke toilet untuk tes urine. Setelah itu dokter memintanya berbaring. Sensasi dingin terasa ketika perawat mengoleskan gel keperutnya. Dokter menatap layar di komputer. Zahrapun melirik layar di depannya yang hanya terlihat hitam putih. Ia sendiri tidak faham apa maksudnya.
Zahra kembali duduk di depan meja dokter. Perawat memberikan hasil tespeck ke pada dokter.
" Selamat Nyonya Zahra anda sedang hamil,"
" Apa dokter?" tanya Zahra tak percaya.
" Selamat sayang, akhirnya kamu akan jadi seorang ibu," ucap Bu Maryam memeluk Zahra.
" Alhamdulillah,"
" Nyonya Zahra harus menjaga kondisi tubuh karena kondisi calon janin masih lemah, hindari stress, kerja berat dan berkendara atau perjalanan jauh," ucap dokter
" Tapi Dok, saya secepatnya harus membawa suami saya berobat ke Jerman," ujar Zahra.
" Sebaiknya tunggu sampai calon janin anda kuat, anda harus melakukan pemeriksaan berkala,"
" Baik Dok! terima kasih," ucap Zahra.
Bu Maryam mendorong Zahra keluar dari ruangan. Wajah Vino dan Pak Rohman terlihat sangat cemas, apalagi setelah melihat Zahra yang masih melamun dengan tatapan kosong. Ia bingung harus senang atau sedih.
" Ada apa Bu?" tanya Pak Rohman.
" Zahra hamil Ayah," jawab Bu Maryam.
" Selamat Zahra, kenapa kamu sedih? harusnya kamu senang," ucap Vino.
" Aku harus banyak istirahat, tidak boleh perjalanan jauh, terus bagaimana rencana kita ke Jerman membawa Mas Reyhan."
" Tenang biar aku yang urus," ucap Vino.
Vino menggantikan Bu Maryam mendorong kursi roda.
" Vino antarkan aku keruangan Mas Reyhan Vino," pinta Zahra.
__ADS_1
Reyhanpun menuruti permintaan Zahra. Zahra masih duduk di kursi roda, ia meraih tangan Reyhan. Air mata tak tertahankan lagi.
" Bangun Mas, aku membutuhkanmu, apa kamu tidak ingin melihat anak ini lahir kedunia ini? jangan biarkan ia lahir tanpa Ayah. Bangun Mas, bukankah kita ingin berlomba dengan Mas Azzam banyak-banyakan anak. Aku hamil Mas. Bangun!!" Air mata membasahi lengan Reyhan.
" Bangun Kak, atau nanti anakmu memanggilku papa," bisik Vino di telinga Reyhan.
Zahra memegang erat tangan Reyhan, air mata tak hentinya mengalir. Tiba-tiba Zahra merasakan gerakan tangan Reyhan.
" Mas, tanganmu bergerak? Vino cepat panggil dokter," pinta Zahra antusias.
Zahra berdiri mrncium pipi Reyhan. Ia melihat Reyhan berusaha membuka mata, namun nampaknya terlalu sulit.
Dalam bayangannya Reyhan berjalan kesebuah taman penuh bunga, namun seorang anak laki-laki kecil menarik tangannya, mengajaknya pulang kerumah.
Anak kecil itu berkata," Papa jangan tinggalkan aku, aku ingin bermain denganmu, Papa ayo pulang!"
Dalam mimpinya anak laki-laki itu terus menarik tangannya, tidak membiarkannya pergi ke taman bunga.
Zahra penuh semangat memanggil suaminya. Dokter segera datang memeriksa kondisi Reyhan. Kabar baiknya Reyhan telah mekewati masa kritisnya, beberapa jam kemungkinan ia akan segera sadar.
Ucap syukur tak henti-hentinya terucap dari bibir Zahra.
Reyhan tiba-tiba membuka mata, mulutnya seperti ingin memanggil seseorang.
"Za!"
Reyhan telah mendapatkan kesadarannya, Namun dokter meminta agar tidak banyak bicara dulu. Biarkan pasien memulihkan tenaganya dulu.
Senyum kini mengembang di bibir Zahra, ia sabar menanti suaminya benar-benar sadar. Meskipun hanya melihat Reyhan menggerakkan jarinya dan hanya sebentar membuka mata lalu terlelap lagi. Kesempatan Reyhan pulih kini sangat besar. Keberangkatan ke Jermsnpun telah di batalkan.
Hari berganti hari, Zahra memutuskan untuk tidak ke kantor. Jika ada perlu tanda tangannya maka Jodi yang datang ke rumah sakit. Selain ia harus banyak menjaga kondisi calon anaknya.
Suatu pagi seperti biasanya Zahra mengecup pipi Reyhan. Kali ini ia berbisik, " Papa bangun anakmu ingin mangga muda di belakang rumah, tapi anakmu ini ingin Papanya sendiri yang manjat,"
Tiba-tiba mata Reyhan terbuka, Reyhan telah sadar. Dokter datamg memeriksa kondisi Reyhan perawatpun melepas alat pernafasan dan juga alat pendeteksi detak jantung. Kondisi pasien sudah stabil.
" Zahra, aku merindukanmu," ucap Reyhan untuk pertama kalinya
" Aku juga Mas, kamu pergi terlalu lama," jawab Zahra
" Mas ini ada calon anak kita," ucap Zahra seraya mengarahkan telapak tangan Reyhan keperutnya,"
" Alhamdulillah, kamu hamil?" tanya Reyhan.
" Iya Mas," Zahra tersenyum.
__ADS_1
" Sepertinya laki-laki?"
" Kenapa begitu?"
" Dalam mimpiku anak laki-laki itu menarikku pulang ke rumah menemui mu,"
" Benarkah,"
Reyhanpun mengangguk, seraya tersenyum.
Vino datang menemui kakaknya. Ia melihat senyum dari wajah Reyhan.
" Vino maaf aku tidak akan membiarkan anakku memanggil Papa padamu!" ujar Reyhan tiba-tiba.
" Apa kamu mendengarkan ucapanku,"
" Aku mendengar semua, hanya saja aku tak sanggub untuk bangun,"
" Syukurlah, kakak sudah membaik, kali ini anakmu akan memanggil ku Om," ujar Vino di sela tawanya.
Zahra dan Reyhanpun ikut tertawa. Keluarga. Semua keluarga berkumpul kecuali Bu Fatma.
" Mama mana?" tanya Reyhan.
" Aku tidak akan membuat Mama terkena serangan jantung untuk kedua kalinya, aku berbohong tentang keadaanmu," jawab Vino.
" Mas cepat sembuh Mama sangat merindukanmu, apa kau tau istrimu ini sudah jadi pandai berbohong karena ulahmu," ucap Zahra yang pura-pura manyun.
Reyhanpun berusaha bangun lalu duduk memeluk istrinya itu.
"Maafkan aku sayang," ucap Reyhan.
" Sama-sama sayang,"
****
Hampir satu bulan Reyhan di rawat di rumah sakit. Ia masih lemah untuk berjalan. Setiap hari ia berusaha menggerak-gerakkan kakinya.
Zahra setiap hari membantu suaminya belajar berjalan. Ketika ia sudah mulai merasa lelah dan pusing iapun kembali duduk.
Reyhan akhirnya pulang kerumah karena kesehatannya mulai membaik. Ia sudah kuat untuk berjalan beberapa langkah, pusing di kepalanya sudah tidak begitu terasa.
Ia meminta pulang ke rumah Bu Fatma, ia sudah sangat merindukan Mamanya itu.
Sesampainya di rumah Bu Fatma Reyhan memeluk ibunya dan meminta maaf. Bu Fatma hanya di beri tahu kalau Reyhan sedang sakit dan ingin bersama Mamanya.
__ADS_1
bersambung,,,