
Pagi yang cerah udara pegunungan daerah Batu yang dingin tidak menyusutkan Pak Rohman dan para buruh perkebunan untuk memanen buah-buah apel yang telah ranum. Reyhan terlihat membaur dengan Pak Rohman dan para buruh. Ia terlihat ikut tertawa mendengar para buruh bercanda tawa.
Sementara Zahra memandang Reyhan dari balkon rumahnya. Senang sekali rasanya ia melihat keakraban dengan ayahnya. Ingatannya kembali pada rencana perceraian mereka. Ia mulai merasa iba pada suaminya yang sejak dulu merindukan sosok ayah, dan kini ia begitu akrab, seakan mereka ayah dan anak kandung. Akankah ia menjadi sangat egois tidak memberi maaf padanya, bahkan kesalahan yang ia buat karena frustasi akibat kehilangan dirinya.
Bu Maryam menyentuh pundak Zahra, membuatnya terkejut dan menyadarkannya dari lamunan. Insting keibuannya merasakan bahwa putrinya sedang mengalami masalah. Bu Maryam mengusap lembut rambut Zahra yang ia biarkan terurai.
" Zahra, setiap kamu memiliki masalah dengan Reyhan, Ibu harap kalian menyelesaikan dengan kepala dingin. Setiap rumah tangga pasti ada ujiannya, hanya masing-masing rumah tangga berbeda ujuannya,"
" Trimakasih bu, do'akan Zahra agar bisa melewati semuanya," jawab Zahra seraya tersenyum. Seakan mendapat tambahan kekuatan.
" Setiap masalah pasti akan ada hikmahnya, selain mendewasakan berfikir kalian juga menguatkan ikatan diantara kalian," imbuh Bu Maryam.
" Ibu, apakah kita harus memaafkan jika kesalahan itu sangat fatal?"
" Semua orang punya kesalahan, Alloh saja Maha Pemaaf, kenapa kita sulit memaafkan?"
Bu Maryam meninggalkan Zahra setelah memeluk putrinya. Zahra kembali melihat kearah kebun namun tidak melihat Reyhan di sana. Zahrapun mengedarkan pandangannya berusaha mencari keberadaannya. Ia kemudian turun menyusuri tangga kemudian pergi ke perkebun apel.
Zahra berada di tengah-tengah perkebunan, ia berusaha mencari diantara buruh perkebunan yang tengah sibuk memanen buah apel. Iapun merasa terganggu ketika seseorang melempar bekes gigitan apel ke kepalanya. Ia sontak mendongakkan kepala, ia terkejut ketika Reyhan berada di atas pohon sembari menikmati buah apel segar.
" Mas Reyhan!!"
" Hai sayang, sini yuk, hem nikmatnya!!" ujar Reyhan seraya memamerkan gigitan apelnya.
Zahra menggoyang-goyangkan pohon apel yang tidak begitu besar, membuat Reyhan ketakutan dan memegang erat ranting pohon. Iapun berteriak, " Zahra hentikan! apa kamu mau membunuhku?"
" Pohon setinggi ini tidak akan membunuhmu, hanya sedikit mematahkan tulangmu," jawab Zahra.
" Awas kamu Zahra, teganya mengerjai aku,"
Zahra masih saja menggoyang-goyangkan pohon, mendengar teriakan Reyhan para buruh menertawainya. Zahrapun ikut tertawa, dan pergi meninggalkan Reyhan setelah meledekinya.
Reyhan bergegas turun dan berteriak, " Zahra tunggu!"
__ADS_1
Zahra menoleh ke belakang, melihat Reyhan mengejarnya iapun berlari. Merekapun berkejar-kejaran di hamparan rimbunnya tanaman apel layaknya anak kecil. Reyhan berteriak, " Awas Zahra ada ulat di kerudungmu,"
" Memangnya aku percaya, kamu menggunakan tipu muslihat lagi untuk menangkapku," jawab Zahra.
Zahra berhenti berlari karena kelelahan, tiba-tiba ia menjerit, " Aaargg ulat!"
Reyhan berlari kearahnya lalu menyingkirkan ulat dari kerudung Zahra dengan ranting kering, ia pun berkata, " Sudah ku bilang, gak percaya,"
" Makanya jangan sering bohong, kalau mau di percaya orang, " jawab Zahra dengan kesal.
Reyhan mengambil ranting menyodorkan padannya dan berkata, " Sudah di tolong, tidak terimakasih, sini aku balikin saja ulatnya,"
" Jangan! kamu jahat," Zahra semakin manyun.
Reyhan tertawa melihat ketakutan Zahra, Zahra merasa kesal, " Mas lihat siapa itu?"
Reyhan pun menoleh kebelakang, namun tidak ada siapa-siapa, " Mana?"
ketika menoleh kembali ternyata Zahra sudah berlari.
" Auww!" Zahra berteriak.
Reyhan melompat dari atas pohon tepat di hadapannya, langsung memeluk Zahra, dan berkata, " Aku menangkapmu,"
" Lepas!" ucap Zahra.
" Tidak lagi, siapa suruh kamu ngerjai aku,"
" Apa kamu lupa kalau istrimu ini masih nakal?"
" Iya aku ingat, aku akan menghukummu atas kenakalanmu ini,"
Reyhan memeluk erat tubuh Zahra lalu mendaratkan ciuman di bibir Zahra. Membuat Zahra tak bisa berkutik, hingga iapun larut dalam desiran rasa yang telah lama ia coba bunuh ketika berdekatan dengan Reyhan. Ciuman panas itupun membuat Zahra terengah-engah.
__ADS_1
Merasakan pelukan Reyhan sedikit longgar iapun berontak dan melepasksn diri. Ia berlari sekencang-kencangnya menuju rumah, hatinya mengutuki dirinya sendiri bagaiman ia bisa larut dalam ciuman itu, padahal ia sudah mencoba membunuh rasa di hatinya untuk Reyhan. Antara malu dan sedih bercampur menjadi satu. Jarak yang ia coba bangun dengan mudah ia runtuhkan sendiri. Hatinya terus bergumam,
" Haruskah aku memaafkannya, kebencian, kecewa mengapa sulit menghalau rasa cintaku padanya,"
***
Matahari yang dari pagi lembut menyinari kini tertutup kabut di sore hari. Dinginnya suasana semakin menyeruak kedalam sendi-sendi ketika rintik hujan mengguyur daerah pegunungan ini. Membuat penghuninya ingin berlama-lama bersembunyi di dalam selimut tebal. Aroma kopi dan gorengan lebih menggoda untuk mencicipinya, apalagi dalam suasana hangatnya berkumpul keluarga.
Pak Rohman, Bu Maryam, Zahra dan Reyhan tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka sekedar mengobrol sembari menikmati camilan sebagai pelengkap minum kopi dan teh. Televisi yang menyala hanya sebagai pemeriah suasana, karena sedari tadi tak ada yang menghiraukan acara TV tersebut, mereka lebih larut dalam obrolan mereka.
Malam semakin larut, dinginpun srmakin akut. Reyhan meringkuk di bawah selimutnya, sementara Zahra bersandar di ranjang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia menoleh kearah Reyhan yang sengaja menggigil dengan suara yang keluar dari mulutnya.
" Apa mau aku ambilkan selimut lagi agar tidak kedinginan? maaf di rumahku tidak ada alat pengatur suhu ruangan seperti di rumahmu," ucap Zahra.
" Tidak perlu, berlapis-lapis selimut tidak akan menghangatkanku, kecuali pelukanmu,"
" Jangan mulai deh! jangan modus! kamu pura-purakan agar aku bersimpati padamu?" ujar Zahra yang kembali fokus pada ponselnya.
Zahra meletakkan ponselnya di atas meja di sampingnya. Ia juga mulai kedinginan, rupanya udara panas selama ini telah menurunkan daya tahan tubuhnya pada suhu dingin di kampung halamannya sendiri.
" Rasanya aku hipotermia", ujar Reyhan yang menggigil kedinginan
Zahrapun mendekat kearah Reyhan, lalu memegang tubuhnya," Apa dingin sekali? aku buatkan minuman yang hangat ya?"
" Tidak perlu peluk aku saja," ucap Reyhan, dan tangannya sudah mendekap perut Zahra yang hendak turun dari ranjang.
Zahrapun kembali merebahkan diri dalam pelukan Reyhan. Kehangatan ketika bersentuhan dengan tubuh Reyhan membuatnya merasa nyaman dalam kehangatan. Rasanya ia tak sanggup memberontak lagi melihat Reyhan yang sudah nyaman tidak menggigil lagi. Ia melirik kewajah Reyhan yang ternyata tengah terlelap.
Kehangatan yang ia rasakan berganti desiran aneh yang selalu ia rasakan ketika laki-laki di sampingnya itu menyentuhnya. Hatinya bergumam, " Apa begini rasanya Mas Reyhan ketika sedang menginginkanku, setiap kali melihatku tanpa bisa menyentuhku?"
Reyhan tiba-tiba memindahkan tangannya tepat di dada Zahra, tanpa terkontrol, Zahrapun mendesah, namun segera ia menutup mulutnya takut pria di sampingnya terbangun apalagi sampai mendengar suara yang keluar dari mulutnya tentu ia akan sangat malu.
Reyhanpun menoleh kearah istrinya yang masih terjaga, iapun mulai mempererat pelukannya. Ia tiba-tiba mencium leher Zahra, Zahra mendesah namun tak menolak. Iapun beralih mencium bibirnya, namun Zahra lebih bersemangat sehingga iapun melanjutkan aksinya. Tangannya bergerilya kemana-mana, melihat Zahra menikmati tanpa penolakan akhirnya jarak yang tengah Zahra bangun telah runtuh malam itu.
__ADS_1
Mereka sama-sama melepaskan kerinduan selama berhari-hari. Dinginnya pegununngan Batu telah menghangatkan hubungan mereka kembali.