Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Galau


__ADS_3

Zahra berdiri dari tempat duduknya, ia berusaha untuk profesional dalam pekerjaannya tidak mencampur aduk antara urusan pribadi dan pekerjaan. Meskipun saat itu ia enggan bertemu dengan Reyhan namun ia tetap harus berurusan dengannya dalam hal pekerjaan. Ia menemui Reyhan di ruangannya. Iapun bertanya pada Reyhan, "Apa sudah siap Pak? Acara rapat sebentar lagi akan di mulai. Para pegawai sudah menunggu Bapak."


" Sudah, kamu berangkat dulu, saya akan menyusul."


Zahra akhirnya meninggalkan Reyhan menuju ke ruang rapat bergabung dengan pegawai yang lain. Tak lama Reyhanpun menyusul ke ruang rapat. Selama rapat ia berkonsentrasi menyimak apa yang di bahas dalam rapat. Tak jarang Reyhan dan Zahra saling mencuri pandang. Sebenarnya Zahra kagum kepada Bosnya itu. Reyhan terlihat karismatik, tampan dan sosok pemimpin tegas.


Seusai rapat Vanessa menghampiri Reyhan. Terlihat mereka berbicara serius. Zahrapun berpamitan untuk pulang lebih dahulu. Zahra akhirnya hendak pulang naik taxi, ia menunggu Taxi di tepi jalan di depan gedung.


Ia melihat mobil Reyhan dan Vanessa duduk disamping Reyhan. Melihat hal tersebut hatinya merasa sakit. Apalagi gosip kedekatan mereka telah tersebar luas, meskipun Reyhan sendiri menyanggah tidak memiliki hubungan spesial dengan putri Presdir tersebut.


***


Malam minggu tiba, Silfi dkk telah menghubungi Zahra untuk jalan-jalan dan nonton bersama. Zahra tengah merias diri sembari menunggu kedatangan teman-temannya itu.


Akhirnya teman-teman Zahra sudah berada di parkiran apartemen untuk menjemputnya. Setelah Zahra berpamitan dengan Azzam, iapun segera turun menggunakan lift menuju parkiran.


Silfi, Devi, Lita dan beberapa teman prianya termasuk Yoga berada dalam satu mobil. Silfi membukakan pintu mobil seraya berkata, " Ayo buruan, saatnya kita refresing. Kami akan memperlihatkan kemeriahan kota Jakarta padamu. Gak bosen di rumah terus?"


Tiba-tiba seseorang menarik tangan Zahra. Zahra menoleh kearah orang tersebut, ternyata orang itu adalah Reyhan. Reyhan berkata," Maaf teman-teman kali ini Zahra belum bisa ikut bersama kalian, kami ada urusan penting."


" Baiklah Pak kami pergi dulu," ujar Silfi. Mereka akhirnya pergi meninggalkan Zahra dan Reyhan.


Zahra menatap Reyhan dengan kecewa, " Ada apa Mas Reyhan, kenapa kamu menghentikanku?"


" Aku kuatir saja, mereka akan mengajakmu ketempat-tempat yang berbahaya," ujar Reyhan santai.


" Apa maksudmu Mas, aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri."


" Oke, kalau gitu malam mingguan sama aku saja ya?"


" Maaf! dengarkan aku Mas aku tidak suka kamu melarang-larang aku seperti ini, aku ingin hidup bebas."


" Apa aku salah kuatir dengan calon istriku sendiri?"

__ADS_1


" Apa calon istri? kapan aku bilang mau kembali melanjutkan hubungan kita? bukankah kamu sendiri yang memutuskan sendiri hubungan kita?" ujar Zahra seraya meneteskan air mata


" Zahra bukankah sudah berkali-kali aku meminta maaf, aku khilaf terbawa emosi, kenapa sulit sekali kamu memaafkan aku?"


Zahra berlari menuju lift, Ia masuk kembali kekamarnya Azzam melihat adiknya kembali dengan menangis. Reyhan menyusul keapartemennya, dan Azzam membukakan pintu untuknya. Azzam mencegah untuk menemuinya dulu, iapun bertanya, " Apa yang terjadi, mengapa dia menangis?"


" Kenapa kamu izinkan Zahra pergi sendiri, apa kamu tahu mereka suka pergi ke club?" Reyhan balik bertanya.


" Tadi Zahra cuma izin cuma ke Mall bareng teman-temannya," jawab Azzam.


Akhirnya mereka duduk di sofa, sementara Zahra di kamar. Azzampun menasehati Reyhan, " Reyhan, sebaiknya kamu jangan terlalu memaksa dan mengekangnya. Kamu perlu tahu sejak kecil Ayah kami terlalu protektif terhadapnya, karena terlalu sayang dan khawatir, Zahra selalu diperlakukan seperti anak kecil. Makanya ia tidak suka kalau di kekang. Setelah kuliah Zahra bisa merasa bebas, sekarang kamu belum jadi suaminya sudah melarang-larang dia," ujar Azzam panjang-lebar.


" Trimakasih sarannya, Zam."


" Sebaiknya kamu beri waktu Zahra jangan terlalu memaksanya."


Reyhan akhirnya meninggalkan kediaman Zahra. Ia merebahkan diri di tempat tidur. Ia merenungi sikapnya selama ini dengan Zahra.


Sementara itu Azzam tengah menasehati Zahra di Ruang tamu. Adiknya itu duduk menonton Televisi. Azzam berkata padanya, " Zahra, maafkanlah Reyhan, Dia ada benarmya juga, tadi ia hanya kawatir padamu. Kamu tahu ini Jakarta. Kamu belum tahu kehidupan teman-temanmu itu apa lagi dengan para lelakinya. Mungkin saja mereka akan menyesatkanmu ke Bar."


" Apa kamu tidak kangen dengan Ayah dan Ibu?" tanya Azzam.


" Tentu kangen Mas."


" Besok Ayah dan Ibu mau kesini?"


" Ah masak?" tanya Zahra tak percaya.


" Iya, Ayah dan Ibu akan saya ajak, melamar Sofi,"


" Akhirnya kakakku mau menikah juga," ledek Zahra. Kabar kedatangan kedua orang tuanya telah mengobati kegalauan hatinya.


Keesokan harinya Zahra berangkat bekerja sendiri. Azzam telah lebih dahulu berangkat karena mengira Reyhan akan menjemput adiknya seperti biasanya. Zahra berdiri di tepi jalan menunggu taxi yang lewat, tiba-tiba mobil berhenti di hadapannya, yang ternyata itu adalah Reyhan. Reyhan membuka jendela mobilnya dan berkata, " Ayo masuk!"

__ADS_1


Namun Zahra tetap diam dan memalingkan muka. Reyhnan lama menunggu, akhirnya iapun bicara lagi dengan Zahra, " Baiklah aku minta maaf untuk kejadian semalam dan juga yang lalu-lalu, mulai saat ini aku tidak akan memaksamu lagi untuk hal apapun termasuk memaksamu menerima kembali cintaku. Sekarang terserah apa maumu."


Reyhanpun meninggalkan Zahra yang mematung tak bicara sepatah katapun dengannya. Reyhan terlihat kecewa, wajahnya terlihat dingin tak ada senyum sama sekali.


Zahra menatap mobil Reyhan hingga tak terlihat lagi. Air matanya menetes, hatinya merasa seperti dulu lagi ketika Reyhan memutuskan hubungan secara sepihak dan meminta Zahra menikahi Vino. Hatinya merasa sakit, sedih dan kehilangan.


Sebuah taxi berhenti menawarkan tumpangan. Iapun menuju ke kantor dengan hati galau. Ia berfikir apa mungkin dirinya terlalu egois untuk tidak memberi maaf pada Reyhan yang telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Namun hatinya juga merasa benci ketika berulangkali Reyhan memaksakan kehendaknya sendiri.


Sesampainya di kantor Zahra berusaha bersikap profesional, begitu juga dengan Reyhan. Mereka bekerja seperti biasanya seperti tidak terjadi apa-apa. Yang berbeda hanyalah kini mereka tidak banyak bicara kecuali bicara yang berhubungan dengan pekerjaan.


Sepulang kerja Zahra menjumpai kakaknya bersama kedua orang tua mereka di apartemen. Zahra memeluk Bu Maryam. Bu Maryampun berbisik padanya, " Ibu kangen sayang."


" Zahra juga kangen sekali Bu," balas Zahra.


Pak Rohman melihat Ibu dan anak berpelukan begitu lama, Ia pun menyindir putrinya itu dengan berkata, " Gak kangen nih dengan Ayah?"


Zahra melepas pelukan ibunya dan menghambur pada Ayahnya. Zahra berkata," Mana mungkin Zahra tidak kangen Yah? Zahra kangen banget."


Azzam meminta Zahra membuatkan minuman untuk kedua orang tuanya. Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. Azzam membuka pintu, mempersilahkan Reyhan masuk. Azzam sengaja memberi tahu akan kedatangan kedua orang tuanya. Reyhan menyerahkan beberapa bungkusan kepada Azzam. Azzampun berkata, " Kenapa repot-repot Reyhan."


" Tidak apa-apa Zam, aku tahu kalian pasti belum makan kan? apalagi Zahra baru pulang dari kantor belum sempat masak," ujar Reyhan.


Setelah Reyhan bersalaman dengan kedua orang tua Zahra, iapun duduk di sofa.


Zahra membawa minuman keruang tamu, ia terkejut kedatangan Reyhan yang sudah terlihat akrab dengan kedua orang tuanya.


Mereka bertanya tentang kabar masing-masing. Bu Maryam menyangka Reyhan dan Zahra sudah baikan dan hubungan mereka baik-baik saja, sehingga Ia melontarkan ucapan permintaan pada Reyhan, " Reyhan kalau kalian menikah nanti kalin harus kembali ke Malang ya, tinggal bersama kami. Apa kalian tidak kasihan kepada kami, kesepian di usia senja kami nanti? Azzam mendapatkan istri orang Jakarta, bekerjanya juga di Jakarta, tentunya akan tinggal di Jakarta. Kalau kamu kan bisa dengan mudah pindah kerjaan di mana saja Reyhan."


" Insyaalloh Bu, setelah menikah saya akan pindah lagi ke Malang, tapi semua tergantung Zahra, mau apa tidak menikah dengan saya," jawab Reyhan.


" Ibu kok bahas pernikahan Zahra, rampungin dulu urusan Mas Azzam."


" Ibu cuma berharap Zahra kalian nanti kembali ke Malang lagi, cepat atau lambat kalian harus segera menikah," jawab Bu Maryam.

__ADS_1


"Ibu tenang saja deh, sekarang ayo kita makan, makanan sudah siap," jawab Zahra mengalihkan pembicaraan.


Mereka akhirnya makan malam bersama. Zahra dan Reyhan berusaha bersikap wajar menutupi pertengkaran mereka.


__ADS_2