Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Jeritan Tengah Malam


__ADS_3

Zahra bermanja di dada Reyhan, perutnya semakin membesar. Setiap malam ia sulit tidur nyaman dengan kondisi perutnya yang mendekati masa persalinan. Reyhan sering terjaga tengah malam untuk mengelus perut istrinya, agar istrinya dapat tidur lebih nyenyak. Ia merasa kasihan melihat istrinya selalu sulit mencari posisi tidur, miring kanan-kiri, dan sering terbangun untuk buang air kecil ke toilet.


" Trimakasih sayang, kamu sudah mau mengandung anakku," ucap Reyhan seraya mengecup kening Zahra.


" Itu sudah kodrat seorang wanita Mas, apa aku boleh meminta imbalan darimu?" ucap Zahra.


" Apapun akan aku berikan, katakanlah!"


" Aku ingin kamu selalu bersamaku, menghabiskan sisa hidupmu bersamaku,"


" Iya sayang, kita kan menua bersama, melihat anak cucu kita kelak menjadi orang yang sukses. Bolehkah besok aku keluar kota sebentar, ada hal yang penting yang harus aku selesaikan, aku janji hanya sehari," ucap Reyhan penuh harap agar istrinya mengizinkannya.


" Tapi mas, kalau tiba-tiba aku melahirkan bagaimana? bukankah kamu berjanji akan menemaniku saat persalinan nanti?" ucap Zahra seraya mengerucutkan bibirnya, seraya menepuk dada Reyhan yang ia jadikan tempatnya bersandar.


" Cuma sebentar sayang, bukankah perkiraan dokter anak kita lahir bulan depan? aku akan segera kembali setelah semuanya beres," ujar Reyhan meyakinkan istrinya.


" Baiklah, segeralah pulang atau aku akan menghukummu,"


" Siap tuan putri, berjanjilah kau akan menjaga dirimu dan calon anak kita" ucap Reyhan seraya memeluk Zahra erat.


Keesokan harinya Zahra melepas keberangkatan Reyhan. Ia memeluk erat suaminya tak mau lepas darinya. Jodi yang berada di dalam mobil memencet klakson berulang-ulang agar Bosnya itu segera masuk ke dalam mobil.


" Sayang aku harus segera berangkat, atau nanti kami akan ketinggalan pesawat,"


" Mas, mengapa rasanya kamu akan pergi lama, jangan pergi Mas, bagaimana jika aku merindukanmu?"


" Maafkan aku sayang, aku harus pergi, aku mencintaimu," ucap Reyhan seraya mengecup kening Zahra.


Zahra akhirnya melepas kepergian suaminya dengan berat hati. Iapun masuk ke dalam rumah. Seharian Zahra menyibukkan berbalas pesan chat di berbagai group whatshappnya.


Malam haripun tiba, baru saja Reyhan menghubunginya akan segera pulang. Zahra sudah sangat merindukannya, ia tak sabar untuk bertemu dengan suaminya itu.


Tengah malampun tiba, Zahra merasa tubuhnya sangat lemah. Ia berusaha bangkit untuk buang air kecil. Setelah ia hendak merebahkan tubuhnya ia merasa perutnya sakit tak tertahankan. Ia menjerit meminta tolong, " Toloooong!"


Seisi rumahpun terbangun, ke dua Art segera menhampiri majikannya itu.


" Ada apa Mbak Zahra?" tanya Bi Ira.

__ADS_1


" Seperti Mbak Zahra mau melahirkan," ujar Bi Siti.


" Pak Yuda cepat siapkan mobil! kita harus segera membawa Mbak Zahra ke rumah sakit," pinta Bi Ira.


Pak Yudapun bergegas menyiapkan mobil. Bi Ira menyiapkan perlengkapan Zahra. Sementara Pak Yanto menghubungi Reyhan. Reyhan sulit di hubungi, ia pun menghubungi Vino.


Pak Yuda mengemudi dengan cepat, teriakan dari kursi di belakangnya membuat sopir semakin panik. Zahra yang duduk di kursi tengah menjerit kesakitan, kedua ART berusaha menenangkanya. Namun cengkraman kuat dari jemari tangan yang mereka dapati.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memberi pertolongan. Zahra sudah masuk ruang pemeriksaan ketika Vino dan Bu Fatma sampai di rumah sakit.


" Dokter bagaimana putri saya?" tanya Bu Fatma menghampiri dokter yang telah selesai memeriksa Zahra. Sementars Zahra sudah tidak lagi berteriak.


" Putri ibu akan melahirkan, tapi masih pembukaan 3, kalau mau melahirkan harus menunggu pembukaan lengkap," ujar Dokter wanita yang berparas cantik itu.


" Dok, kenapa tidak langsung di buka saja, apa dokter tidak punya kuncinya?" tanya Vino yang belum faham maksud dokter.


Dokter hanya tersenyum, sementara Bu Fatma memukul lengan Vino denhan tas yang ia bawa.


" Bapak suaminya kan? Bapak bisa mengajak jalan-jalan di dalam ruangan agar pembukaannya lebih cepat," ucap dokter seraya meninggalkan ibu dan anak tanpa mereka dapat mengklarifikasi pernyataan dokter tersebut.


Zahra di pindahkan ke ruang perawatan khusus untuk persalinan. Vino tentunya meminta perawat menempatkannya di ruang VVIP.


" Sedikit, tapi sakitnya muncul tiba-tiba, dimana Reyhan?"


" Ibu masih mencoba menghubunginya," jawab Vino.


Raut muka Zahra berubah sedih dan kecewa. Suami yang di harapkn datang tak kunjung menampakkan. batang hidunhnya.


" Ayo jalan-jalan, aku bantu. kata dokter agar pembukaannya bertambah dan ponakanku akan cepat lahir," bujuk Vino. Ia baru faham setelah Bu Fatma menjelaskan pembukaan apa yang di bahas dokter tadi.


Vino memegangi Zahra untuk berjalan pelan. Zahra tiba-tiba merasakan sakit, tangannya mencekram tangan Vino kuat-kuat, bahkan sampai mencakarnya karena menahan sakit. Namun sakitnya tiba-tiba menghilang. Kejadian itu berulang hingga tangan Vino penuh dengan cap kuku dan cakaran. Vino pun hanya bisa pasrah hatinya bergumam," Kak cepatlah pulang! Singa betinamu telah mencabik-cabik tubuhku. Kamu curang Kak. giliran enak-enak tidak melibatkanku, giliran sakit kenapa aku yang harus menanggungnya."


Di sudut lain di sebuah bandara hujan lebat di sertai badai mengguyur kota Jakarta. Semua maskapai penerbangan mengundur jadwal penerbangannya.


Reyhan nampak gelisah. Istrinya tidak menerima panggilannya. Ponsel itu berdering tergeletak di atas kasur, sementara pemiliknya ada di rumah sakit. Raut muka Reyhan menjadi bertambah gelisah ketika menerima panggilan dari Bu Fatma di tengah malam begini.


" Reyhan dimana kamu? istrimu mau melahirkan, sekarang di rumah sakit," ucap Bu Fatma dengan panik.

__ADS_1


" Kami harus menunggu penerbangan Ma, semua penerbangan di tunda, sampai kondisi aman. Tolong Ma jaga Zahraku ya, sampaikan padanya aku akan segera datang,"


Reyhan semakin gelisah, ia mengutuki dirinya sendiri. Ia merasa menjadi suami yang egois, lebih mementingkan pekerjaan dari pada istrinya. Padahal istrinya sudah melarangnya pergi.


" Jodi! bagaimana kalau kita melalui jalur darat saja,"


" Percuma Pak, Jakarta sedang di kepung banjir di mana-mana." jawab Jodi.


" Terus kita harus bagaimana? apa sampai pagi kita harus menunggu. Sementara istriku sedang berjuang hidup dan mati. Aku di sini tidak bisa berbuat apa-apa,"


" Sabar Pak, lebih baik Pak Reyhan berdoa saja," bujuk Jodi.


Reyhan berdoa semoga hujan badai ini cepat berlalu. Ia juga tidak henti-hentinya memohon agar Zahra dan bayinya selamat.


Subuh menjelang, setelah perjuangan panjang antara hidup dan mati akhirnya tangisan bayi laki-laki memecah keheningan. Perawat membersihkan bayi setelah memotong tali pusarnya.


Kepanikan tiba-tiba terjadi di ruangan bersalin, Zahra tergolek lemas tidak berdaya, ia mengalami pendaharan hebat pasca melahirkan. Iapun membutuhkan banyak darah, sementara golongan darah AB negatif telah habis stoknya.


" Kita harus cepat mendapatkan pendonornya," ucap dokter.


Perawat memberi tahu kondisi Zahra pada bu Fatma, berharap keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama dapat mendonorkan darahnya.


" Maaf Bu, kondisi pasien kurang baik, pasien mengalami pendarahan hebat, kebetulan stok darah AB negatif kosong, jadi secepatnya kita harus mencari pendonor," ucap perawat.


" Saya suster, golongan darah saya AB negatif," ucap Vino.


Vino pun menjalani pemeriksaan, kemudian tusukan jarum di lipatan tangannya membuat meringis menahan sakiit.


" Suster ambil saja seluruh darahku untuk Zahra ku tercinta," ucap Vino.


Reyhan berlarian di koridor rumah sakit, ia menemui Bu Fatma,


" Mama, dimana istriku?"


" Sayang, sabar istrimu sedang berjuang di dalam sana, selamat sayang kamu jadi seorang ayah,"


Bu Fatma meminta perawat membawa Reyhan menemui bayinya untuk di adzani.

__ADS_1


Reyhan telah berganti pakaian steril, ia ingin mengumandangkan adzan di telinga bayi mungil itu. Perawat telah membersihkan bayinya, ia pun memindahkan bayi ke tangan Reyhan. Reyhan masih gugup belum faham cara menggendongnya, setelah di ajari perawat, ia pun mulai percaya diri untuk menggendongnya. Reyhan mengumandangkan Adzan di telinga bayi mungil itu.


__ADS_2