
Vanessa di taman bersama bayinya. Ia berusaha menenangkan bayi kecil dalam dekapanya itu yang tiba-tiba menangis. Usahanya tidak membuahkan hasil, ia masih menangis. Seorang wanita di sampingnya mengambil alih bayi tersebut, bayi itupun lsngsung terdiam.
Zahra masih berdiri mengamati Vanessa dan bayinya. Ia merasa curiga kenapa bayi yang seharusnya dekat dengan ibunya namun terus menangis dalam gendonganya, namun dalam sekali sentuhan wanita di sampingnya, bayi itu berhenti menangis.
" Apa kamu bisa membuktikan kalau dia anak mas Reyhan?" tanya Zahra ragu.
" Tentu saja kita akan melakukan tes DNA. Apa kamu bisa meyakinkan Reyhan untuk menikahiku jika terbukti anak ini adalah darah dagingnya?" jawab Vanessa penuh percaya diri.
" Tentu aku akan memintanya bertanggung jawab,"
" Baiklah, aku percaya padamu. Kamu orang baik tentu takkan membiarkan seorang anak hidup tanpa seorang ayah bukan?"
" Kalau kamu bisa berfikir seperti itu, kenapa tidak dari dulu kamu meminta pertanggung jawaban dari laki-laki yang menghamilimu?"
" Awalnya aku berfikir bisa hidup bersama anakku sendiri, namun setelah dia lahir aku merasa kasihan padanya, bagaimanapun dia butuh seorang ayah,"
Zahra bergegas menuju kantornya, kali ini ia terlambat datang karena menemui Vanessa. Ia tidak memperdulikan Vino yang ada di sampingnya. Vanessa pun bergegas masuk kedalam mobil setelah Zahra pergi meninggalkannya.
Vino mencegah Vanessa menutup pintu," Tunggu! aku sama sekali tidak percaya padamu ratu drama. Pasti semua ini hanya rekayasamu lagi untuk mendapatkan Reyhan. Kenapa kamu tidak tahu malu, bukankah kamu kaya raya, tidak sulit bukan mendapatkan laki-laki yang sepadan denganmu?"
Vanessa tersenyum simpul mendengar ucapan Vino lalu berkata, " Bukankah kita senasib, seharusnya kita dapat bekerja sama. Aku akan mendapatkan Reyhan dan kamu dapat mendapatkan Zahra kembali."
" Tahu apa kamu soal hidupku, aku takkan membiarkanmu membuat kekacauan lagi dalam kehidupan Zahra," ucap Vino emosi. Pengawal Vanessa segera memegangi tangan Vino dan menutup pintu mobil majikannya itu. Mobil Vanessa berlalu meninggalkan Vino sendiri.
***
Reyhan tidak menyerah begitu saja dengan Vanessa. Ia meminta Jodi untuk menyelidiki tentang Vanessa. Ia harus bertindak cepat sebelum waktu 30 hari yang ia minta pada Zahra berakhir. Waktu yang sengaja ia minta untuk mengulur waktu agar Zahra tidak segera memintai cerai, agar diapun bisa berfikir tenang menyelesaikan masalah ini tanpa harus ada pertengkaran setiap kali bertemu dengan Zahra.
Jodi memasuki ruangan Reyhan. Reyhanpun bertanya pada asistennya itu, " Informasi apa yang kalian dapatkan?"
__ADS_1
" Vanessa menemui Zahra di taman pagi tadi Pak,"
" Vanessa cepat atau lambat akan menemui Zahra. Rupanya dia hanya pura-pura tidak menginginkanku, tapi dia punya cara lain agar aku datang meminta menikahinya," ujar Reyhan seraya memainkan bolpoint di tangannya.
" Pak Vino datang di tengah perbincangan Vanessa dengan istri anda,"
" Vino?! Saatnya aku yang akan jadi pemeran utama dari kisah cintaku sendiri. Apa yang mereka obrolkan dengan istriku,"
" Intinya Vanessa meminta istri anda untuk meyakinkan anda untuk menikahi Vanessa jika terbukti tes DNA adalah bayi itu anak Bapak,"
" Tes DNA? Bahkan Vanessa menolaknya ketika aku memintanya, kenapa sekarang dia sendiri yang mempunyai ide itu. Jodi pastikan anak buahmu bisa mendapatkan sampel dari tubuh bayi itu, kita akan melakukan tes itu tanpa sepengetahuan Vanessa. Aku tidak percaya dengannya. Uang dan kekuasaannya bisa saja merekayasa hasi tesnya nanti,"
" Baik pak, aku akan memerintahkan anak buah saya menyusup kerumah Vanessa,"
" Itu tidak mudah, pengawalan rumah itu sangat ketat. Suruh anak buahmu memanfaatkan salah satu pelayan wanita disana,"
" Iya Pak," jawab Jodi.
***
Berpura-pura tanpa masalah tentulah sulit bagi Zahra. Iapun berbicara pada Reyhan yang tengah berbaring di sampingnya, " Mas aku sudah bertemu drngan Vanessa dan,,"
" Aku sudah tahu semuanya, apa kamu lupa perjanjian kita, biarkan aku menyelesaikan sendiri, aku berjanji sebelum genap 30 hari kita akan mendapatkan jawabannya," ujar Reyhan memotong ucapan Zahra.
" Apa kamu memata-mataiku?" tanya Zahra.
" Sudahlah, jangan bicara lagi. Lebih baik kamu siap-siap, bukankah besok hari sabtu, waktunya kita berkunjung ke rumah Ayah dan Ibu di Batu," ujar Reyhan, seraya meraih bahu Zahra membenamkan dalam pelukannya. Sontak Zahra berontak.
" Apa kamu lupa perjanjian kita? jangan menyentuhku,"
__ADS_1
" Aku hanya memelukmu, aku tidak akan melakukan apa-apa, Meskipun sebenarnya aku sangat rindu sekali, apa kamu tidak rindu, bukankah kamu sangat menyukainya. Kasihan si junior berapa hari tidak bisa bermain-main di tempat Favoritnya,"
Zahra langsung membenamkan diri dalam selimut tebal, menutupi wajahnya yang merona merah karena malu.
" Sudah jangan merayuku," ujar Zahra yang berada di bawah selimut
" Bila aku bisa membuktikan aku tidak bersalah, aku akan menghukummu karena sudah tidak percaya padaku, dan juga nenghukummu karena penyiksaanmu padaku,"
" Apa maksudmu menyiksamu?" tanya Zahra seraya menyingkap selimut yang menutupi kepalanya.
" Kamu tidur di sampingku setiap hari, berpakaian tipis dan terbuka seperti itu, tapi kamu melarangku menyentuhmu, kalau bukan penyiksaan apa namanya?" ucap Reyhan seraya berusaha mencium Zahra, namum dengan sigap Zahra menutup selimut kembali.
" Besok aku akan beli baju tidur baru yang tertutup, atau lebih baik kamu tidur di kamar lain," ucap Zahra dari balik selimut.
" Tidak mau, ingat perjanjian kita,"
" Iya! kamu juga ingat janjimu, aku hanya menjaga hal yang kelak akan membuat kita sulit untuk berpisah jika terbukti kamu bersalah. Aku juga tidak mungkin menarik kata-kataku lagi untuk bercerai jika benar bayi itu anakmu,"
Zahra takut jika dirinya hamil, karena bila itu terjadi akan sulit baginya untuk lepas dari Reyhan jika benar terbukti laki-laki di sampingnya itu telah memiliki anak hasil hubungannta dengan Vanessa.
30 hari yang menyiksa Zahra. Ia harus menahan sakit bertahan di sisi Reyhan, sakit menahan cinta di atas rasa bencinya. Menahan ketidak pastian hasil akhir yang di janjikan Reyhan. Namun ia sudah berusaha menyiapkan hati dan mental untuk hasil terburuk yaitu jika benar bayi itu anak Reyhan maka ia akan meminta cerai dari Reyhan.
****
Pagi-pagi sekali Reyhan dan Zahra menemui Bu Fatma di kediamannya untuk melihat kondisinya sekaligus berpamitan akan berkunjung ke Batu.
Kondisi Bu Fatma sudah kembali sehat, Reyhan dan Zahra meninggalkan Bu Fatma tanpa rasa khawatir.
Mereka mrlewati jalanan padat Kota Malang- Batu yang padat karena hari libur. Banyak para wisatawan yang menuju berbagai obyek wisata di daerah Batu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit sampailah mereka di halaman rumah milik orang tua Zahra. Dinginnya pegunungan membuat mereka selalu merindukan tempat ini.