
Reyhan masih berdiri di tempatnya, sementara itu Zahra duduk menundukkan pandangan. Ia tidak tega melihat orang yang ia cintai akan terluka mendengar apa yang akan keluar dari mulutnya.
Sementara Vino menatap kearah tembok dengan tatapan kosong. Iapun tidak tega melihat kakaknya.
" Bicaralah!" pinta Reyhan memecah keheningan.
" Maafkan aku Mas Reyhan, setelah pernikahan Mas Azzam aku akan pulang ke Malang, kami akan menikah. Aku sekarang sadar siapa orang yang lebih aku cintai, aku mencintai Vino," ujar Zahra meneteskan air mata. Ia tak sanggup berbohong kepada Reyhan.
" Apa selama ini kamu mempermainkanku, setelah apa yang kita jalani?" tanya Reyhan dengan kecewa. Sebenarnya ia ingin marah mendengar pernyataan Zahra, namun sekuat tenaga ia menahannya.
" Maafkan aku Mas, bukankah kamu sendiri yang dulu menginginkanku menikah dengan Vino?"
" Dulu aku menyerah dengan keadaan, disaat aku bangkit memperjuangkan cinta kita, ternyata kamu menghianatiku. Pergilah!!" pinta Reyhan, berusaha bicara dengan datar, meskipun hatinya marah, hancur dan kecewa.
Zahra berdiri dari duduknya, melewati Reyhan yang diam terpaku.
" Tunggu!" Reyhan menghentikan langkah kaki Zahra.
" Mungkin aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian," ujar Reyhan.
" Baiklah Mas, aku juga tidak mau memaksamu, sekali lagi maafkan aku," jawab Zahra seraya menyeka bulir-bulir air mata yang menetes membasahi pipi.
Zahrapun pergi meninggalkan Reyhan. Vino akhirnya beranjak meninggalkan Reyhan dan berkata, " Maafkan aku Kak, aku menyakitimu untuk kesekian kalinya. Aku akan kembali menginap di hotel,"
" Terserah apa maumu," jawab Reyhan. Iapun melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Vino di ruang tamu.
Reyhan mengurung diri di kamar sejak ia pulang dari kantor. Tangannya mengalir darah. Entah berapa kali ia meninju cermin yang ada di hadapannya itu untuk meluapkan rasa sakit hati, kecewa dan amarah di hatinya. Mulutnya tak henti-henti menyebut satu nama " Zahra ! Zahra!"
Air mata mulai menetes, Reyhan terduduk bersandar tembok memegang lutut, dengan kepala tertunduk. Hatinya bergumam, "Sesakit inikah patah hati, Zahra? ini rasanya lebih sakit dari perpisahan kita yang pertama Zahra,,"
Sementara itu Zahrapun mengurung diri di kamar, meratapi kisah cintanya. Fikirannya tertuju pada satu nama Reyhan. Sedang apa yang ia lakukan? ia tak bisa membayangkan hancurnya perasaan Reyhan.
Air mata semakin tak terbendung mengingat perlakuan Reyhan akhir-akhir ini kepadanya. Mengingat berulangkali mengajaknya pulang menemui kedua orang tuanya untuk menghalalkannya.
***
Keesokan harinya Zahra betangkat ke kantor menggunakan taxi online. Sesampainya di kantor ia mengundurkan diri dari perusahaan. Ia menemui Vanessa menagih janjinya untuk membebaskan Azzam.
" Saya sudah memenuhi yang anda minta, sekarang penuhi janji anda," ucap Zahra.
__ADS_1
" Baiklah, kamu bisa menjemput kakakmu sekarang!" jawab Vanessa
Zahra melangkah dengan tergesa-gesa, menghubungi Vino kemudian turun ke basment. Di jalan bertemu dengan Silfi dkk.
" Mau kemana Zahra?" tanya Silfi.
Zahra memeluk Silfi, Devi, dan Lita bergantian.
" Trimakasih kakak-kakakku semua selama ini sudah membantu saya, maafkan saya bila selama ini ada salah dan khilafnya," sembari tersenyum.
" Apa maksudmu, seperti mau meninggalkan kami saja?" tanya Devi
" Iya Devi, aku mengundurkan diri dari perusahaan,"
" Kenapa?" tanya Silfi.
" Kapan-kapan ceritanya ya, aku buru-buru," ujar Zahra.
Semua temannya saling berpandanngan, fikirannya sama, pasti ada hubungannya dengan Vanessa seperti cerita Zahra beberapa hari yang lalu.
" Zahra!" Seru Silfi.
***
Sesampainya di kantor polisi Zahra melihat Azzam sudah berada di luar sel. Ia menghambur kepada Kakaknya itu.
" Ayo mas, kita harus segera pulang, kakak harus segera bersiap-siap untuk pernikahan kakak besok," ujar Zahra bersemangat.
Selama perjalan menuju apartemen, Zahra merasa lega. Ia menyembunyikan kesedihannya dari siapapun, yang terpenting baginya kini kehormatan keluarganya
Sesampainya di apartemen kedua orang tua azzam dan Zahra memeluk putranya bergantian. Air mata kebahagian dan syukur nampak di wajah keduanya.
Zahra melihat hal tersebut membuatnya semakin yakin akan keputusannya memenuhi permintaan Vanessa untuk meninggalkan Reyhan. Airmata bahagia dan duka menyimuti hatinya. Ia memeluk ibunya dengan erat.
***
Pria tinggi berbadan tegab berdiri mengenakan stelan Jas Abu-abu berdiri di hadapan Zahra. Zahra tak henti-hentinya memuji kakaknya itu, " Wah gak nyangka ya Mas Azzam ganteng juga,"
" Baru sadar kamu punya saudara yang ganteng," jawab Azzam seraya merapikan jasnya.
__ADS_1
" Iya juga ya, adiknya cantik gini," ucap Zahra memuji diri sendiri.
" Ayo cepat, keburu telat, kasihan mempelai wanita meninggu," ujar Pak Rohman.
Vino mengemudikan mobil yang di tumpangi mempelai pria dan keluarganya. Sementara keluarga besar Azzam sudah berada di hotel tempat mereka akan melaksanakan akhad nikah sekaligus resepsi.
Sesampainya di hotel, seorang perias membawa Azzam kesebuah kamar untuk di beri sedikit riasan agar lebih fresh.
Tiba waktunya acara ijab qobul di mulai. Sofia terlihat sangat menawan mengenakan kebaya muslim warna putih duduk di samping Azzam. Angan Zahra mengembara membayangkan dirinya dan Reyhan yang duduk di sana. Iapun senyum-senyum sendiri. Ia kembali tersadar ketika para undangan melontarkan ucapan 'SAH' bertanda ijab qobul telah selesai dan di akhiri dengan doa.
Sepasang pengantin kini sudah berganti pakaian duduk diatas singgasananya. Senyum tak pernah lepas dari keduanya. Zahra begitu bahagia melihat kakak satu-satunya itu akhirnya bisa melangsungkan pernikahannya juga. Hatinya bergumam "Maafkan Zahra Mas telah melibatkanmu dalam kisah cintaku, tak seharusnya kamu merasakan dinginnya jeruji besi."
Senyum Zahra menghilang ketika melihat kehadiran Reyhan, pria yang tak pernah ia lihat setelah ia menyatakan akan memilih Vino. Reyhan berjalan dengan wajah dingin, lain halnya dengan wanita yang menggandengnya, ia menebar senyuman apalagi ketika bertatap mata dengan Zahra, ia semakin menunjukkan senyum penuh kemenangan.
Kedua orang tua Zahra melihat Reyhan menggadeng wanita lain membuat mereka memandang Zahra penuh tanda tanya. Zahra membalas tatapan kedua orang tuanya dengan senyuman seraya menggandeng Vino. Seolah memberi isyarat siapa pilihannya.
Acara resepsi berakhir juga. Vino mengantar Zahra dan keluarganya kembali keapartemen. Kedua orang tua Zahra menatap putrinya itu penuh tanda tanya.
" Zahra kamu hutang penjelasan kepada kami," ucap Bu Maryam.
" Zahra capek Bu, besok ya," jawab Zahra sembari melangkah ke dalam kamarnya.
Vino berpamitan untuk pulang, kemudian kedua orang tua Zahra tidur di kamar Azzam. Kini ruangan itu sunyi dan sepi. Hanya detakan jam dinding yang memecah kesunyian.
Zahra masih terjaga, berdiri di samping balkon kamarnya. Ia memikirkan perasaan Reyhan. Ingin rasanya ia berlari menghampirinya, memeluknya mengucapkan kata maaf. Ingin rasanya ia menceritakan semuanya, mengungkapkan isi hatinya bahwa saat ini laki-kaki yang ia cintai hanyalah dia. Namun semua hanya angan. Ia tak bisa berkutik dengan ancaman Vanessa.
Sementara itu Reyhan juga berdiri di samping balkonnya. Ia masih tidak percaya tentang ucapan Zahra. Ia kemudian mencoba menelphon Zahra.
Melihat nomor Reyhan muncul di layar ponselnya, Zahra ragu untuk mengangkatnya.
" Hallo ada apa mas?"
"Sepertinya kamu menangis?" tanya Reyhan..
" Tidak,"
" Kalau kamu sudah betul-betul menemukan cintamu, kenapa kamu bersedih?" tanya Reyhan, yang merasakan kesedihan lawan bicaranya.
" Sekali ini Zahra, jawablah yang jujur, sebenarnya ada apa? saya akan mencoba ikhlas bila memang kamu bahagia?? Sekali lagi aku tanya Aku atau Vino? Jujurlah, aku tidak akan bertanya lagi.
__ADS_1