Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Terkuaknya kebenaran


__ADS_3

Zahra menatap hamparan perkebunan apel di samping rumahnya dari lantai dua rumahnya. Air matanya menetes mengingat kisah semalam bersama Reyhan, ia tak menyesali hanya saja ia takut tak bisa berpisah darinya. Kebencian di hatinya nyatanya semalam telah tunduk pada cintanya pada Reyhan.


Bayang-bayang wajah bayi mungil itu terus berputar-putar di pelupuk matanya. Hatinya ingin sekali menjadi egois, tak ingin membiarkan suaminya di miliki wanita lain, namun bagaimana nasib bayi itu? jika hasil tes DNA membuktikan bahwa anak itu benar-benar anak Reyhan. Tanpa sepengetahuan Reyhan dirinya telah memberikan potongan rambut Reyhan secara diam-diam kepada utusan Vanessa, kini ia tengah menunggu kabar darinya.


Reyhan menghampiri Zahra yang tengah melamun, dan memeluknya dari belakang. Reyhan berbisik di telinganya dengan lembut," Sudahlah Zahra, apa kamu menyesali apa yang kamu berikan semalam, jangan menyakiti diri sendiri dengan berusaha membenciku, karena sesungguhnya hatimu tidak sanggup bukan?"


" Kenapa sekarang kamu lebih banyak bicara Mas? Ya nikmatilah rasa yang kini kita rasa, karena aku tidak bisa menjamin besok rasa ini akan tetap ada atau tidak?"


" Apa maksudmu?"


" Sudahlah lupakan!" Zahra berbalik memeluk Reyhan.


" Apa kita perpanjang lagi menginap disini?" tanya Reyhan.


" Kenapa?" Zahra balik bertanya, masih memeluk Reyhan.


" Karena di sini dingin tapi malah banyak sekali aku mendapat ke hangatan,"


" Aku bilang nikmati saja selagi bisa," jawab Zahra sembari berjinjit mendaratkan ciuman di bibir Reyhan.


Akhirnya mereka hanyut dalam hangatnya rasa. Reyhan kembali mengangkat tubuh mungil itu keatas ranjang. Ia seakan mendapatkan kembali istrinya yang lama hilang. Hilang rasa di terpa badai kehidupan.


Keduanya melupakan sejenak masalah yang menerpa, membuka hati saling merasakan kenikmatan cinta. Zahra kali ini mendominasi permainan, dengan begitu ia melepaskan semua beban pikiran, melepaskan sakit, kecewa di hatinya. Menikmati selagi rasa di hatinya belum terganti, karena esok ia tak tahu kejutan apa yang akan ia dapati.


Melepaskan semua beban seolah berlari di tepian pantai dengan belaian lembut angin yang mengurai rambut panjangnya, lalu datang sang pangeran berkuda putih menariknya keatas punggung kuda, berlari menyusuri bibir pantai menikmati hangatnya mentari, birunya laut dan putihnya awan berarak. Terasa surga dunia telah membuai rasa dan imajinya.


Zahra terlelap dalam tidurnya, Reyhan mengecup keningnya dan berbisik, " Trimakasih sayang," Iapun kembali memeluk istrinya. Akhirnya iapun ikut tertidur. Suasana pagi di daerah pegunungan menggoda untuk berlama-lama di bawah tebalnya selimut apalagi bersama orang terkasih dalam dekapan.


Zahra dan Reyhan terbangun mendengar suara seseorang mengetuk pintu. Dari balik pintu wanita itu berbicara," Mbak Zahra, Mas Reyhan, Bu Maryam meminta anda turun untuk sarapan atau bibi bawa ke atas sarapannya?"


" Tidak usah Bi, biar kami turun saja," jawab Zahra dengan suara serak, sembari duduk bersandar di sandaran ranjang, mengumpulkan sukmanya yang tercecer di alam mimpi.


Setelah membersihkan diri, merekapun turun ke lantai satu. Zahra menuju ke meja makan, sementara Reyhan menghampiri Pak Rohman yang sedang memberi makan burung dalam sangkar.


Ayah dan menantu itu terlibat percakapan, sesekali terdengar canda tawa dari keduanya.


Zahra menghampiri Reyhan, " Mas ayo sarapan dulu,"


"Ayo sarapan dulu Yah," pinta Reyhan pada Ayah mertuanya.


" Ayah sudah sarapan, nunggu kalian tidur lagi, mana kuat bapak, bisa-bisa kelaparan, sudah sarapan dulu sana, ini sudah siang" jawab Pak Rohman.


Merekapun menikmati sarapan bersama. Reyhan memandangi istrinya yang terlihat ceria. Zahra merasa suaminya menatapnya terus menerus, iapun bertanya, " Kenapa sih lihatin Zahra terus?"

__ADS_1


" Kamu makin hari makin cantik, tapi kok juga rasanya kamu juga makin berisi?"


" Ah masak? Apa aku terlihat gendut?" tanya Zahra sembari memegangi pipi dan melihat tubuhnya sendiri.


" Nggak sih, cuma terasa lebih berat saat kamu naik diatasku tadi, tapi aku suka kok,"


" Hust! pelankan suaramu, kamu ingin semua orang di rumah ini dengar?" ucap Zahra tersipu malu.


Reyhan tersenyum melihat istrinya memerah kedua pipinya karena malu. Zahrapun segera merapikan piring kotor ketempat cucian. Ia mendengar ponsel Reyhan berbunyi. Melihat dari kejauhan suaminya berbicara lewat telephon.


Tiba-tiba wajah Reyhan terlihat tegang, Zahra menghampiri suaminya dengan hati was-was. Reyhanpun menutup sambungan telephon dan berkata," Zahra, kita harus segera pulang, Vino tadi menghubungi, katanya mama jatuh pingsan, sekarang ada di rumah sakit," ujar Reyhan sebelum sempat Zahra bertanya.


Zahra dan Reyhan menghampiri Pak Rohman dan Bu Maryam.


" Ayah, Ibu kami harus segera kembali pulang, Mama Fatma di rumah sakit," ucap Zahra.


" Kenapa Nak?" tanya Bu Maryam.


" Akhir-akhir ini kesehatan Mama sering terganggu Bu, maaf kami pamit lebih awal," jawab Reyhan.


" Tidak apa-apa, kapan-kapan kami akan menjenguk Bu Fatma, semoga lekas sembuh ya," ujar Pak Rohman seraya menepuk bahu Reyhan, menenangkan kegundahan hatinya yang terlihat jelas di guratan wajahnya.


Reyhan dan Zahra segera menuju ke rumah sakit tempat Bu Fatma di rawat. Reyhan mengemudi dengan kecepatan tinggi, berkali-kali Zahra mengingatkannya agar tenang dan mengemudi dengan pelan. Sekitar 45 menit mereka sudah sampai di rumah sakit


Vino terlihat mondar-mandir di depan ruang ICU, menunggu dokter menangani Mamanya. Bu Fatma dalam kondisi kritis setelah terkena serangan jantung.


Bugh!


" Ini semua karena Kakak, aku tidak akan memaafkan kamu jika sampai terjadi hal buruk sama Mama. Apa belum cukup kamu membuat Papa celaka karena ke egoisanmu!" ujar Vino penuh amarah.


" Cukup Vino! Ini Kakak kamu, ini rumah sakit jangan membuat kegaduhan di sini,"


Reyhan mengusap bibirnya yang berdarah. Luka di bibirnya tidak sebanding dengan luka hatinya yang kini kembali menganga karena ucapan Vino yang mengungkit penyebab kematian Papanya.


Ya dialah yang memaksa Papanya datang kepertandingan basketnya di tengah kesibukan Papanya itu, sehingga kecelakaan maut merenggut nyawa Papanya. Ia sangat menyesal dan merasa bersalah walaupun bukan kesalahannya juga.


" Apa yang terjadi dengan Mama Vino?" tanya Reyhan dengan kekhawatiran.


" Mama sedang kritis," jawab Vino.


" Tapi kenapa?" tanya Reyhan.


" Bi Ijah jelaskan padanya apa yang terjadi!" pinta Vino kepada ART yang bersandar di tembok ikut cemas akan kondisi majikanya itu

__ADS_1


Bi Ijah mendekat kearah Reyhan dan Vino, iapun bercerita tentang kronologis kejadian tadi pagi," Tadi pagi ada seorang wanita datang ke rumah menemui Nyonya. Ia membawa seorang bayi, dan mengatakan bahwa bayi itu anaknya Mas Reyhan. Ia juga membawa bukti selembar kertas, katanya tes apa gitu lo Mas. Ia juga meminta Nyonya membujuk Mas Reyhan menikahinya, kalau tidak, ia akan mencemarkan nama baik keluarga Nyonya. Setelah wanita itu pergi Nyonya menangis lalu tiba-tiba pingsan."


Reyhan mengepalkan tangan meninju dinding," Vanessa!"


Matanya segera mencari keberadaan Zahra. Ia mendapati Zahra terduduk di kursi panjang, di sudut rumah sakit. Air matanya tak tertahankan, entah siapa yang ia tangisi? Ibu mertuanya ataukah dirinya sendiri. Yang pasti kini perasaannya hancur seakan berjuta ton batu menghujaninya. Meskipun hampir berminggu-minggu ia sudah mempersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk, tapi nyatanya ia masih belum sanggup menerima kenyataan hasil tes DNA itu.


Reyhan ingin mendekati istrinya, namun langkahnya tertahan. Ia segera menghubungi asistennya, " Jodi bagaimana usaha yang kalian lakukan?"


" Saya sudah mendapatkan sampel untuk tes DNA, paling lambat besok Pak. Tapi sepertinya tanpa melakukan tespun kita akan mendapatkan buktinya, tapi saya perlu ijin Pak Reyhan untuk mengucurkan dana membuka mulut asisten rumah tangga Vanessa."


" Lakukan apapun yang perlu kamu lakukan, kita harus bertindak cepat, Vanessa telah membawa bukti ke hadapan Ibu ku, tapi aku yakin itu palsu,"


" Siap Pak!"


Reyhan menutup sambungan ponselnya, Ia memiliki kekuatan untuk menemui istrinya.


" Zahra apa kamu ingat perjanjian kita, bukankah ini belum genap 30 hari,"


" Bukti sudah di depan mata, aku sudah mengirim potongan rambutmu atas permintaan Vanessa, dan bibi bilang Vanessa membawa surat bukti bahwa bayi itu anakmu Mas,"


" Aku yakin surat itupun rekayasanya saja, secepatnya akan aku buktikan bahwa bayi itu bukan anakku," ucap Reyhan berusaha memeluk Zahra. Namun Zahra menolaknya.


Vino memandang Reyhan dan Vino dari kejauhan. Hatinya ikut bersedih melihat orang yang ia cintai bersedih lagi. Rasanya ia ingin menghampiri, memeluk dan menenangkannya. Langkah kakinya terhenti, wanita yang menangis di sudut ruangan itu kini terlarang baginya.


Reyhan meminta sopir mencari dan mengambil surat yang di bawa Vanessa ke hadapan mamanya. Menurut petunjuk Bi Ijah, kertas itu masih di meja ruang tamu.


Setelah beberapa lama sopir itu membawa kertas hasil tes DNA ke hadapan Reyhan. Reyhan membawa kertas itu menemui seorang dokter.


Tak lama Reyhan keluar ruangan dokter dan kembali menemui Zahra. Vino, Zahra dan Reyhan berjalan cepat menemui dokter yang baru keluar dari ruangan ICU.


" Dokter bagaimana keadaan Mama kami?" tanya Vino.


" Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya, tapi masih belum sadarkan diri," jawab Dokter.


" Apa kami boleh menjenguknya?" tanya Reyhan.


" Belum boleh banyak orang, satu orang saja ya!" pinta dokter.


Reyhan akhirnya masuk keruangan seorang diri, Ia tak dapat menahan tangis ketika melihat Bu Fatma dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.


Ia memegang tangan Bu Fatma dan berkata, " Maafkan Reyhan Ma, aku mohon bangunlah Ma, jangan biarkan aku jadi anak durhaka untuk kedua kalinya, jangan biarkan aku tenggelam dalam rasa bersalah ini untuk kedua kalinya."


Laki-kaki yang biasanya tegar itu kini menangis di hadapan mamanya yang tak berdaya. Air matanya menetes hingga membasahi jemari Bu Fatma yang ia genggam dan ia cium berulang-ulang, hingga menyadarkan mamanya dari koma.

__ADS_1


Bu Fatma menggerakkan jarinya dan mengedipkan matanya menoleh kearah Reyhan lalu tertidur kembali. Dokter kembali memeriksa Bu Fatma. Dokter memberi saran agar membiarkan Bu Fatma istirahat terlebih dulu. Reyhanpun menyeka air mata lalu keluar ruangan. Ia mencegah Vino untuk masuk ke ruangan agar Mamanya istirahat setelah tersadar dari koma.


Hingga malam hari Zahra dan Reyhan masih menunggu di rumah sakit. Ia masih menunggu kabar baik dari dokter mengenai kesehatan mamanya. Mereka diam tak banyak bicara hanyut dalam fikiran masing-masing. Begitu juga Vino yang baru di izinkan menemui Mamanya, namun Mamanya masih terlelap. Ia memandang Iba wanita yang selalu menyayanginya itu, menerima dengan lapang dada tentang semua kenakalannya. Fikirannya juga tak bisa lepas dari Zahra yang sejak siang hingga malam terlihat bersedih.


__ADS_2