
Reyhan dan Zahra kini tengah dalam puncak kebahagian. Kehadiran buah cinta menyempurnakan kebahagian mereka. Akhirnya acara aqiqoh telah di gelar, ' Reza Afnan Haidar' merupakan nama yang di sematkan pada putra pertama mereka, harapan dan doa semoga putra mereka menjadi pangeran yang tampan baik fisik maupun akhlaknya, serta menjadi pemberani, berani menghadapi tantangan hidup yang tetap berpegang teguh pada kebenaran.
Vino tengah duduk di sebuah bangku taman kampusnya dulu. Sepenggal kenangan tentang Zahra. Bagaimana nasib Vino, apakah sudah saatnya ia harus melepaskan Zahra dalam hatinya? Sedangkan wanita yang selama ini menjadi ratu dalam hatinya telah menemukan kebahagiannya sendiri. Janjinya dalam hati untuk selalu melindunginya kini sudah seharusnya ia berikan pada yang berkewajiban dan berhak yaitu suaminya.
Vino duduk memejamkan mata, entah angin apa yang membawa kepelupuk matanya seorang gadis tersenyum padanya, seketika ia membuka mata. " Nabila,"ingatannya tiba-tiba teringat sosok gadis lemah lembut itu.
Vino segera menaiki motornya menuju kediaman Nabila. Ia membulatkan tekat ingin melamar Nabila.
Tok! tok !
Suara ketukan pintu di rumah sederhana itu membuat penghuninya tergesa-gesa membuka pintunya, " Assalamu'alaikum,"
" Wa'alaikumsalam, Nak Vino? Silahkan masuk!" jawab wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Nabila.
" Silahkan duduk, mau bertemu siapa?" tanya Bu Hanifah.
" Saya mau bertemu, Pak Ismail dan Nabila," jawab Vino canggung.
" Sebentar saya panggilkan Aba ya, tapi kalau Nabila belum pulang kuliah, mungkin sebentar lagi pulang," ucap Bu Hanifah lalu masuk kedalam memanggil suaminya.
Tak lama Pak Ismail pun masuk keruang tamu. Vino segera mencium punggung tangannya. Setelah duduk Pak Ismail bertanya pada Vino yang nampak mulai gugup.
" Ada apa nak Vino?" tanya Pak Ismail.
Vino semakin gugup, bingung mau mulai dari mana. Melihat sorot mata kedua orang tua di hadapannya serasa ia berhadapan dengan dosen killer sewaktu sidang skripsi.
Vinopun akhirnya membuka suara, " Mohon maaf Pak, Bu, bila kedatangan saya mengganggu, tujuan saya kemari untuk melamar Nabila,"
Brakk!!
Semua mata memandang kearah pintu, Nabila terkejut mendengar ucapan Vino sehingga ia tanpa sengaja menjatuhkan map yang ia bawa. Nabila segera memungut map yang terjatuh.
" Masuklah Nabila! ada yang ingin Aba bicarakan," pinta Pak Ismail.
Nabilapun duduk di samping Bu Hanifah.
" Nabila, Nak Vino ingin melamarmu, bagaimana menurutmu nak?" tanya Nabila.
" Tapi Ba, Nabila kan masih kuliah." jawab Nabila tertunduk.
" Bagaimana nak Vino? Nabila masih kurang dua tahun lagi, apa kamu mau menunggu?"
" Iya Pak, apa boleh kami bertunangan dulu?" ujar Vino memberi penawaran.
" Tidak," jawab Nabila.
" Apa kamu menolak Vino?" tanya Bu Hanifah.
__ADS_1
" Bukan maksud saya menolak Ummi, apa boleh saya bicara sebentar dengan Mas Vino?" ucap Nabila.
Pak Ismail mengangguk memberi persetujuan. Nabila berdiri, Vinopun mengekor di belakangnya. Nabila menuju samping rumah, di teras sebuah TPQ.
" Maafkan saya datang mendadak tidak memberitahumu terlebih dahulu,"
" Mas apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" tanya Nabila menunduk.
" Iya, aku mencintaimu?"
" Bagaimana perasaanmu kepada Kak Zahra?"
Vino diam tidak bisa menjawab, sebenarnya ia masih berusaha mengusir perasaannya terhadap Zahra dengan mencintai Nabila.
" Kenapa kamu diam?" tanya Nabila melihat Vino terdiam.
" Zahra sudah jadi masa laluku,"
" Aku butuh waktu untuk bisa jatuh cinta padamu," ucap Nabila.
" Kita bisa bertunangan dulu, aku yakin tak butuh waktu lama untuk membuatmu jatuh cinta," ujar Vino penuh percaya diri.
Sejenak mereka bertatap mata, lalu Nabila mengalihkan pandangannya, menatap bunga dahlia yang bermekaran di depan rumahnya.
" Apa kamu mau menungguku?"
" Berapa lama?"
" Apa tidak kurang lama, maksudku kenapa lama sekali, apa kamu sebenarnya menolakku secara halus? Maaf aku memang yang tidak tahu malu datang kesini, aku memang tidak pantas untukmu, aku hanya seorang brandal sedangkan kamu dan keluargamu dari kalangan Kyai,"
" Aku tidak pantas menilai seseorang, ada yang lebih pantas menghakimi. Dua tahun itu kamu bisa berfikir, benar-benar mencintaiku atau tidak, akupun tidak akan mengikatmu dalam sebuah hubungan. Kalau kamu setuju datanglah dua tahun lagi, namun antara aku dan kamu tidak ada hubungan, kamu atau aku bebas, anggap saja berteman,"
" Maksudmu kalau aku datang dua tahun lagi, terus kamu sudah jatuh cinta pada orang lain, terus nasibku bagaimana? Akan sia-sia penantianku selama dua tahun."
" Tidak ada yang sia-sia di dunia ini, pasrahkan jodoh kita di tangan Alloh," ucap Nabila.
" Baiklah aku akan menerima kesepakatan ini, dua tahun? aku akan berusaha memantaskan diri untukmu, tapi apa masih boleh aku menemui mu setiap saat," ucap Vino penuh harap.
" Silahkan, tapi ingat, tidak ada istilah 'pacar' kita hanya akan bertemu sebagai seorang teman," ucap Nabila.
" Baiklah temanku tercantik," ucap Vino bersemangat.
Kedua insan itupun kembali masuk ke dalam rumah, menemui Pak Ismail dan Bu Hanifah. Vino mulai bicara lebih rilex, " Pak saya menerima keputusan Nabila, menunggunya sampai lulus kuliah. Saya Insyaalloh akan melamar kembali dua tahun lagi, semoga kelak kami berjodoh,"
" Maafkan kami nak Vino," jawab Pak Ismail.
Vinopun berpamitan, meskipun kecewa Vino sudah merasa lega sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Nabila dan kedua orang tuanya. Kini Vino akan berjuang lagi mendapatkan cinta Nabila.
__ADS_1
Setelah kepergian Vino, Bu Hanifah bertanya kepada Zahra, " Kenapa kamu menolak Vino? bukankah kalian sudah akrab, kitapun sudah mengenal keluarganya? apa kamu minder karena dia orang kaya?"
" Tidak Ummi, Vino masih sangat mencintai Kak Zahra, saya hanya ingin memberinya waktu agar ketika kami kelak bersatu, tidak ada bayang-bayang wanita lain di hatinya," jawab Zahra.
" Dua tahun itu lama Nabila, bagaimana kalau dia tidak mau menunggu mu?"
" Anggap saja kami tidak berjodoh Ummi,"
" Sudahlah Ummi, kita pasrahkan jodoh anak kita di tangan Alloh," ucap Pak Ismail seraya mengusap lembut kapala Nabila.
Sementara itu di kediaman Reyhan, Vino menemui Bu Fatma. Ia menceritakan kedatangannya ke rumah Nabila. Mendengar cerita putra kesayangannya, Bu Fatma mengusap lembut kepala Vino yang bersandar di pahanya.
Tanpa mereka sadari Reyhan dan Zahra mendengar percakapan mereka. Reyhan menggendong putranya ikut duduk di ruang tengah.
" Kalau kamu serius dengan Nabila. aku mendukungmu," ujar Reyhan.
" Aku juga Vino, Nabila gadis yang baik, semoga kalian berjodoh," sahut Zahra.
" Kak aku butuh bantuanmu, aku ingin membangunkan gedung sekolahan untuk Pak Ismail, aku pernah dengar dari Nabila, Abanya ingin mengembangkan yayasan pendidikan Islam kejenjang yang lebih tinggi, setingkat SMP dan SMA."
" Kamu mau menyogok, biar di terima lamaranmu?" tanya Reyhan.
" Tidak lah, saya akan merahasiakan penyumbangnya. Aku ingin perusahaan kakak yang mengerjakan, kalau kakak ingin beramal juga boleh ikut bantu pendanaannya, hitung-hitung tabungan akhirat, bukankah saudaranya Zahra juga saudara Kakak juga," ujar Vino.
" Iya, beres tumben adik gue pikirannya benar,"
" Lahannya sudah ada di samping Madin dekat rumah Zahra, aku akan mrmbelinya,"
" Baiklah, nanti aku akan minta Jodi mengurusnya,"
Satu Bulan kemudian.
Seorang utusan menemui Nabila dan kedua orang tuanya. Jodi menyerahkan surat tanah kepada Pak Ismail.
" Pak kami dari perusahaan Prima Karya Sejahtera, klien kami ingin menyumbang tanah dan gedung untuk yayasan pendidikan yang Bapak pimpin. Letak tanahnya di lahan kosong sebelah Madin Bapak. Proyeknya dari perusahaan kami yang mengerjakan," ucap Jodi.
Pak Ismail terkejut, belum percaya dengan yang di dengarnya," Lalu siapa orang dermawan itu?"
" Maaf pak kami di minta merahasiakannya, karena beliau ingin beramal, hanya ingin Tuhan saja yang tahu, itu yang saya dengar Pak, dan ini amanat yang harus saya jaga. Satu lagi ini kunci mobil dan surat-suratnya, untuk kebutuhan oprasional Yayasan," ucap Jodi.
" Saya masih bingung, bagaimana saya bisa menerimanya."
" Trima saja Pak, secepatnya gedung sekolahan itu akan segera kami bangun secepatnya,"
" Sampaikan trimakasih kami pada beliau semoga niat beliau di terima oleh Alloh sebagai ladang ibadah,"
" Saya akan sampaikan, saya permisi,"
__ADS_1
Sementara Pak Ismail, masih tidak percaya cita-citanya mengembangkan yayasan pendidikan bisa terwujud, Nabila menebak-nebak siapakah orang yang telah menghibahkan tanah dan mobil itu. Ia pun berfikir mungkin Vino, Reyhan atau mungkin keluarga ustad Mirza yang selama ini dekat dengan keluarganya.
Ustad Mirza merupakan anak dari Kyai Ma'ruf, pengasuh pondok pesantren di daerah Malang. Sejak lama ustad Mirza menaruh hati pada Nabila. Beberapa hari setelah kedatangan Vino, ia pun datang menyampaikan niat yang sama. Sama seperti Vino iapun mendapat jawaban yang sama. Menolak secara halus karena masih kuliah.