Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Melamar Pekerjaan


__ADS_3

Setelah menyusuri jalanan kota Malang yang padat, di tambah cuaca semakin panas, akhirnya Novan dan Zahra sampai juga di PT. Prima Karya Sejahtera.


Novan memberhentikan motornya di parkiran. Zahrapun turun dan berkata, " Trimakasih Kak Novan,"


" Sama-sama Zahra,"


" Ayo masuk!" ajak Novan.


" Lho kamu bekerja di sini?" tanya Zahra terkejut.


" Belum, tepatnya hari ini saya ada jadwal interview disini, sama masih melamar pekerjaan seperti kamu "


" Oh gitu semoga sukses ya!" ucap Zahra.


" Sama, semoga kamu juga bisa di terima bekerja di sini. Kan Asyik kita bisa bersama lagi,"


" Hah?"


" Maksudku bisa bersama-sama bekerja disini," ujar Novan menjelaskan dengan gugup.


Sambil berjalan menuju loby, Novan dan Zahra saling bertanya kabar selama mereka tidak bertemu. Mereka berhenti dan duduk di ruang tunggu sebuah ruangan tempat interview calon karyawan. Banyak sekali sebenarnya yang ingin Novan tanyakan pada Zahra, gadis yang selama ini ia cari.


Namun percakapan mereka terhenti ketika seorang karyawan kantor meminta Novan masuk keruangan pimpinannya untuk wawancara.


Zahra baru saja membawa lamaran, namun ia beruntung bisa langsung mengikuti seleksi wawancara dari sekian banyak yang mengantri, meskipun ia pasti mendapat giliran terakhir.


Zahrapun berjalan keluar kantor berkeliling melepas penat karena lama menunggu. Iapun berbicara sendiri,


" Hem kantornya kecil hanya beberapa lantai, tidak sebesar kantor Mas Reyhan yang lama. Maaf Mas demi cintaku, kamu melepaskan karier kamu yang gemilang di sana. Semoga kelak kita bisa membesarkan perusahaan ini bersama-sama,"


Ia kembali masuk ke loby berharap melihat Reyhan, dan berfikir akan mencari ruangan suaminya itu. Setelah berfikir ia teringat kalau meminta Reyhan menyembunyikan identitasnya sebagai istri pemilik perusahaan.


Iapun kembali duduk di loby. Novan yang keluar dari ruangan menghampirinya. Iapun duduk di samping Zahra.


" Bagaimana Kak, diterima?"


" Masih menunggu, nanti di hubungi lagi kalau di terima,"


" Aku masih lama nih, mungkin yang tetakhir,"


" Akan aku temani,"


" Tidak usah kak, Kakak pulang duluan saja sana,"


Tanpa Zahra sadari ternyata Reyhan yang tadinya turun dari lift ingin rapat keluar bersama asisten sekaligus sekretarisnya bernama Jodi itu akhirnya berhenti dan sembunyi dari balik tembok memperhatikan istrinya,


" Pak kita akan terlambat,"


" Hust tunggu dulu!"


Reyhan masih menguping pembicaraan Zahra dan Novan.

__ADS_1


" Zahra sok imut sekali sih Dia, sok-sokan panggil 'Kakak' sama laki-laki itu. Siapa sih Dia sok sok akrab, sok kegantengan banget?"


"Memang ganteng banget Pak, masih muda lagi, lebih muda dari Anda Pak, bukankah itu istri Bapak?" jawab Jodi ikut mengintip di belakang Reyhan.


Tiba-tiba Reyhan yang sedang mengintip berdiri dengan tegap sehingga kepala mereka beradu,


" Auwww!!" rintih keduanya.


" Hust! Kamu mau saya pecat!!! Oh iya ingat! Zahra meminta aku menyembunyikan identitasnya, cukup aku dan kamu yang tahu," ucap Reyhan lirih.


Jodi yang penasaran alasannya, akhirnya mengiyakan permintaan Bosnya itu.


Reyhan akhirnya berjalan tegap dengan gayanya yang sok angkuh melewati Zahra dan Novan yang tengah duduk, seraya berdehem. Jodi mengekor di belakang Reyhan.


Reyhan tiba-tiba berhenti di hadapan mereka. Zahra dan Novan memberi salam, " Selamat siang pak!"


" Selamat siang!"


" Sedang apa kalian disini?"


" Saya menggu interview Mas, eh Pak," jawab Zahra tersenyum.


" Semoga sukses,"


" Trimakasih Pak," jawab Novan.l


Reyhan melanjutkan perjalanannya, Zahra dan Novan kembali duduk.


" Iya mungkin," jawab Zahra yang terasa serat menelan salivanya sendiri. Hatinya bergumam, 'Novan yang kamu kata-katain itu suamiku, pasti lagi acting dia, ya aslinya memang dia dulu seperti itu sih angkuh, sombong dan entahlah apa yang cocok di sematkan padanya dulu.'


Akhirnya setelah sekian lama jarum jam berkeliling, mengitari angka yang sama tiada bosannya, giliran Zahrapun tiba. Untungnya wawancara berjalan lancar. Iapun mempunyai kualifikasi yang di harapkan perusahaan yaitu memiliki pengalaman kerja, sehingga harapan diterimapun sangat besar.


Kalaupun tidak di terima bekerja, iapun sudah menyiapkan jurus meskipun harus menurunkan harga dirinya sedikit di hadapan suaminya itu. Jurus apalagi kalau bukan 'jurus rayuan seribu pulau' dan kalaupun belum berhasil terpaksa mengeluarkan 'jurus seribu bayangan tak kasat mata', alias mgambek.


Novan ternyata masih menunggunya, Ia berniat mengantar Zahra pulang. Zahrapun dengan sopan menolak dengan alasan sopirnya sudah menunggu. Padahal ia belum menghubungi Pak Yuda. Novan akhirnya menyerah dan pulang lebih dulu.


Zahrapun menuju ke sebuah rumah makan yang tak jauh dari kantor Reyhan. Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi suaminya,


Setelah terhubung, Zahra mulai bicara, " Maass!! aku kena tilang, motornya Pak Yuda di kantor polisi," rengek Zahra.


" Ha ha ha ha, kok bisa, lagian ngapain naik motor, tidak minta di antar Pak Yuda saja, kamukan juga bisa nyetir sendiri?"


"Sudah mengejeknya, kamu dimana? Masih sibuk apa tidak?" ujar Zahra kesal.


" Ini mau balik ke kantor, kamu di mana?"


" Di Warung apa ya ini? pokoknya rumah makan dekat kantormu," jawab Zahra yang clingak-clinguk mencari nama rumah makan yang ternyata hanya tertulis di depan, sementara Zahra sudah duduk manis di kursi menunggu pesanan.


Zahra menikmati es jeruk, menyeruput dengan penuh kenikmatan. Seakan dia baru saja menemukan minuman setelah lari maraton berkilo-kilo meter.


Apalagi cuaca panas membuat rasa hausnya bagaikan di gurun sahara. Tak butuh waktu lama, es jerukpun tinggal nama menyisakan sedotan berdua-duaan dengan sebongkah es batu.

__ADS_1


Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah makan. Reyhan dan Jodi turun dari mobil kemudian menghampiri Zahra.


" Zahra,"


" Mas Reyhan," Zahra menghambur kearah Reyhan lalu melepas pelukannya karena baru menyadari ada orang di belakang suaminya itu.


" Selamat siang Nyonya,"


" Selamat siang," balas Zahra, ekspresi wajahnya tergambar jelas kalau hatinya bertanya-tanya siapa laki-laki yang seumuran dengan suaminya itu.


" Zahra kenalkan ini sekretaris dan asisten saya, namanya Jodi," ucap Reyhan menjawab rasa penasaran istrinya.


" Senang berkenalan dengan anda pak Jojo," ucap Zahra.


" Jodi Nyonya, Jojo terlalu imut untuk saya, bisa-bisa menurunkan pamor saya di hadapan para wanita,"


" Ayo aku antar pulang!"


" Ayo Mas," jawab Zahra.


" Jodi kamu balik ke kantor saja," perintah Reyhan kepada asistennya itu.


" Tapi mas, aku belum bayar minumannya,"


" Jodi tolong bayarkan dulu ya," pinta Reyhan.


" Siap Pak!"


" Trimakasih Jojo," ucap Zahra dengan senyuman khasnya.


Jodi akhirnya mengeluarkan uang untuk membayar minuman istri bosnya itu. Ia mempunyai firasat kalau wanita itu kelak akan sering menyusahkannya bila betul ia jadi bekerja di kantor tempatnya bekerja.


Reyhan meluncur mengantar pulang istrinya. Selama perjalanan Reyhan tak henti-hentinya tertawa mendengar kronologi penilangan dan penyitaan motor yang Zahra kendarai.


Tiba-tiba Reyhan berhenti tertawa ketika menanyakan pria yang bersamanya di loby


" Siapa laki-laki yang bersamamu tadi? sepertinya kalian sudah saling kenal. Sok-sok an panggil ' Kakak' hem sok imut kamu,"


" Memang aku imut, Wah Mas Reyhan cemburu ya?"


" Nggak, dikit sih,"


" Dia itu kakak kelasku sewaktu di SMA,"


" Ooo, Kakak kelas apa mantan?" goda Reyhan.


" Apaan sih Mas Reyhan? Memang kalau mantan kenapa? Tahu sendirikan istrimu ini cantik apalagi waktu SMA, Hemm banyak yang ngejar aku. Emang situ?" ujar Zahra dengan sombongnya.


" Aku pastikan dia tidak di terima kerja,"


" Wah ini gak Fair, masak urusan pribadi di bawa ke urusan pekerjaan. Kalau sampai mas Reyhan menjegal dia, berarti mas Reyhan terbukti cemburu dan terbukti takut bersaing dengan dia," ujar Zahra

__ADS_1


Reyhan hanya tersenyum menanggapi ucapan Zahra.


__ADS_2