Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Kantor Baru


__ADS_3

Zahra dan Reyhan tiba di rumah. Pak yuda terbengong melihat Zahra keluar dari mobil. Ia bertanya-tanya dalam hati dimana sepeda motornya berada.


Zahra menghampiri Pak Yuda," Ya Alloh,,, Pak Yuda, motornya dikantor polisi,"


" Kok bisa mbak?" tanya Pak Yuda terheran-heran.


" Pak Yuda sih, minjamin motor nggak sekalian STNK dan Helmnya, jadinya ketilang deh, maaf ya Pak,"


" Tidak apa-apa mbak,"


" Gini aja Pak, ini aku kasih uang, besok Bapak ambil motornya sekalian bayar tilangnya," ucap Reyhan seraya mengeluarkan beberapa lembar uang.


" Iya Pak Reyhan, trimakasih," balas Pak Yuda.


Zahra sangat antusias untuk bekerja kembali, ia mengajak Reyhan ke Mall untuk membeli baju kerja yang baru.


" Mas nanti malam sibuk nggak?"


" Kenapa sayang?" tanya Reyhan seraya melepas baju kemejanya, lalu berganti kaos oblong.


Sementara Zahra duduk di sofa, meneguk minuman bersoda yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin.


" Aku ingin jalan-jalan ke Mall, mau beli baju untuk kerja,"


" Sudah yakin bakalan di terima?"


" Yakinlah, kalau sampai gak di terima, aku harus nyogok bosnya lagi dong!"


" Pakai apa?"


" Pakai yang dia mau?"


Reyhanpun tersenyum geli mendengar jawaban istrinya itu, bosnya kan Reyhan sendiri.


" Kayaknya Bosnya bakalan minta yang lebih deh kali ini," ujar Reyhan.


" Gitu ya, "


" Iya dong! Oh iya kalau nanti malam jadi keluar, kamu bilang sama Bi Siti sana, tidak usah menyiapkan makan malam untuk kita Kita nanti makan di luar saja,"


" Siap Mas Bosqu!" ujar Zahra dengan centil.


Zahra pun beranjak dari duduk lalu menemui Bi Siti. Ia girang sekali seperti anak kecil yang di janjikan sesuatu oleh orang tuanya.


Reyhanpun berbaring di ranjang, Zahrapun bertanya pada Reyhan, " Mas kok tidur gak balik ke kantor?"


" Tidak, nanggung sudah sampai rumah masak balik lagi, sekali-kali mau tidur siang, sini sayang temani calon Bosmu ini,"


" Ih Mas Bos, ntar kamu ngapa-ngapain aku lagi?"


" Nggak kok," ujar Reyhan seraya menarik Zahra dalam pelukannya, dan berbisik di telinga Zahra,


" Nggak janji!" sambung Reyhan.


" Tuh kan!" ujar Zahra, ketika menyadari tangan Reyhan mulai bergerilya.


***


Malampun tiba, Reyhan dan Zahra tengah berada di pusat perbelanjaan di kota Malang. Sengaja Zahra memberi tahu kedua sahabatnya itu untuk menyusulnya.

__ADS_1


Reyhan dengan sabar menemani Zahra memilih baju. Tak Jarang Zahra bertanya pada Reyhan, pantas atau tidak baju yang ia coba. Kesabaran Reyhan mulai berkurang ketika Zahra berputar-putar mencari barang yang bagus dan lebih murah.


" Sayang, gini ya, daripada ini kakiku capek tak berguna, lebih baik aku ikut jaga parkir saja lebih berfaedah. Cepat ambil baju yang kamu suka! jangan lihat harganya! kamu membuat harga diriku jatuh saja, dengan label-label yang tertera itu. Aku akan bayar semua."


"Kan kita harus belajar berhemat Mas," ujar Zahra menjawab tanpa melihat muka Reyhan yang memerah antara capek dan menahan marah.


" Andai di tarik garis lurus, kamu muter-muter dari tadi sepertinya sudah sampai rumah Ayahmu di Batu sana," ujar Reyhan kesal


" Maaf," ucap Zahra yang manyun menyadari suaminya itu mulai kesal.


" Cepat ambil yang bagus, yang terbaik yang kamu suka dan jangan lagi lihat harganya! atau kamu mau lihat suamimu ini jadi tukang parkir di luar sana."


" Aduh mas, apa sih hubungannya baju sama tukang parkir?"


" Zahra!" ujar Reyhan yang mulai geram, gemas ingin mencubit pipi merahnya.


" Iya-iya!" jawab Zahra ikut kesal


Hatinya bergumam, " Betul memang kalau cowok di ajak belanja bikin emosi, kenapa tadi tidak menunggu Keyla dan Nella saja. Biarin deh Mas Reyhan nunggu di luar. Mau jadi tukang parkir kek, mau jadi tukang cilok kek terserah dia,"


Tanpa di sadari Zahra mengambil banyak pakaian tanpa pikir panjang, tau-tau isi kantong belanjaan penuh.


"Kalau emosi ya gini mau belanja bebas tidak ada beban, yang penting bisa senang", ujarnya dalam hati.


" Banyak banget?" tanya Reyhan.


" Makanya jangan buat cewek marah. Cewek kalau belanja dalam keadaan marah, bisa-bisa semua isi toko ia beli," jawab Zahra.


Reyhan hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar jawaban istrinya itu. Ia kemudian mengambil barang-barang belanjaan dari tangan Zahra


" Sini! Kemana lagi?"


Nella, Keyla, Radit dan Revan telah duduk di sudut ruangan. Zahra dan Reyhan segera menghampiri mereka.


" Hai!!" sapa Nella dan Keyla. Seperti biasa kalau mereka bertiga bertemu jadi heboh sendiri.


" Sudah lama menunggu kalian?"


" Baru saja sampai?"


" Okr deh kalian mau makan apa? ayo pesan. Mumpung ada Pak Bos," ujar Zahra sembari melirik suaminya itu. Reyhan pura-pura membuang muka, hatinya bergumam, " Yah kena palak deh gue,"


Selesai makan malam bersama teman-teman Zahra, Reyhanpun mengajak mereka menonton Film di bioskop, sekalian nostalgia pikirnya, sekalian pula biar puas istrinya malak suaminya sendiri.


Merekapun asyik menonton drama yang menguras air mata. Maunya sih ingin romantis-romsntisan dengan Zahra. Sepertinya ia salah pilih judul Film. Alhasil mulai awal hingga akhir Zahra di buat sesenggukan ikut menangis. Sampai-sampai Reyhan harus berdusah payah membujuknya untuk diam tak menangis.


Reyhan menghela nafas panjang setelah keluar dari bioskop. Lain halnya demgam Zahra, matanya merah karena kebanyakan menangis.


" Aduh Zahra, lihat matamu sampai merah. Orang-orang fikir kamu habis menangis karena bertengkar denganku," ujar Reyhan.


" Habisnya Filmnya bikin sedih Mas,"


Waktu semakin larut, merekapun akhirnya pulang kerumah masing-masing


***


Baju sudah siap, semangatpun sudah membara tinggal menunggu berita dari kantor tempatnya akan bekerja.


Setelah dua hari, pihak HRD baru menghubungi kalau Zahra di terima bekerja. Besoknya Zahra harus hadir di kantor, hari itu juga merupakan hari pertama ia bekerja di kantornya yang baru.

__ADS_1


Sesuai permintaan Zahra sendiri, Reyhan harus berpura-pura tidak saling kenal. Zahra berangkat tidak bersama dengan Reyhan. Ia meminta Pak Yuda untuk mengantarnya.


Sesampainya di kantor, Zahra melihat kehadiran Novan juga. Ia pun menghampiri Novan," Hei, apa kamu juga diterima?"


" Iya, kamu juga kan?"


"Iya,"


" Wah senang sekali bisa sekantor dengan kamu," ucap Novan.


" He he, aku juga senang,"


Setelah seorang leader menunjukkan tugas dan memberi tahu meja masing-masing pegawai, merekapun mulai duduk di kursi masing. Merekapun mulai menjalani masa training. Belum banyak tugas-tugas untuk mereka, hanya membantu pegawai senior untuk belajar mendalami tugas yang akan mereka emban.


Zahra merasa beruntung teman satu timnya ramah-ramah. Hanya ada beberapa pegawai wanita, kebanyakan pegawai pria.


Jam istirahatpun tiba, para karyawan menuju ke kantin yang di sediakan perusahaan.


Novanpun menghampiri Zahra untuk ke kantin bersama.


Reyhan bersama asistenyapun ikut ke kantin. Disini semua sama tidak membeda-bedakan antara atasan dan bawahan.


Reyhan mrlihat Zahra bersama Novan yang ingin mengambil makan, ia pun memanggil Zahra, "Hei kamu kesini!"


" Saya Pak?" tanya Zahra. Ia berfikir rasa-rasanya suaminya bakal ngerjain dia lagi.


" Kamu pegawai baru bukan? tolong bawakan makan siang saya bawa ke ruangan saya, cepat!" perintah Reyhan kepada Zahra, lalu iapun pergi.


" Baik pak,"


Zahra segera meminta pada pelayan kantin makanan untuk dirinya dan juga untuk Bosnya itu.


Iapun meninggalkan Novan di kantin dan menuju ruangan Reyhan. Hatinya bergumam kesal, " Awas kau Mas beraninya bicara jeras padaku, tunggu pembalasanku ,"


Zahra mengetuk pintu ruangan Reyhan, Reyhanpun mempersilahkannya masuk.


" Selamat siang Nyonya," sapa Jodi


" Selamat siang Pak Jojo,"


Jodipun meninggalkan ruangan, tinggal Reyhan yang berada di kursi kebanggaannya.


" Ayo makan Mas?" ajak Zahra.


Reyhanpun menghampiri Zahra yang duduk di Sofa.


" Suapin!"


" Idih sejak kapan jadi manja gini?" tanya Zahra mengetnyitkan dahi.


" Sejak hari ini,"


Zahrapun mulai menyuapi Reyhan, Reyhanpun membalas menyuapi Zahra juga.


" Apa harus kamu bicara keras seperti tadi?" tanya Zahra kesal dengan menyuapkan satu sendok penuh nasi, membuat Reyhan kesulitan untuk mengunyah.


" Apa harus kamu ke kantin berdua-duan dengan kakak kelasmu itu?" Reyhan bertanya balik.


" Bukan berdua, tepatnya rame-rame satu kantor, kalau cemburu cemburu lihat-lihat dong.

__ADS_1


__ADS_2