Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Dua Tahun Kemudian


__ADS_3

Hari yang mendebarkan bagi Vino, dua tahun sudah ia menantikan hari ini. Kali ini ia menghubungi Nabila terlebih dahulu akan kedatangannya dengan keluarga besarnya. Vino dan Bu Fatma menuju rumah Zahra dan Reyhan, mereka akan berangkat bersama-sama.


Reyhan bermain dengan Reza anaknya. Vino dan Bu Fatma menghampiri mereka. Reyhanpun mencium punggung tangan Bu Fatma, lalu meminta Reza mengucap salam dan mencium tangan neneknya.


Dengan suara yang masih cedal, Rezapun menirukan Reyhan. Reyhan meninggalkan Reza bersama Vino dan neneknya.


" Ayo buruan!" pinta Vino yang tergesa-gesa dan gugup.


" Tunggu aku panggil Zahra sebentar, tuh jaga Reza, awas jatuh," titah Reyhan.


Vino pun menggendong Reza sambil , "Reza doakan om Vino ya, hari ini om akan bawakan tante cantik buat Reza, gak kalah cantik dari mamamu,"


" ante?" jawab Reza cedal


Reyhanpun menemui istrinya di kamar, memberi tahu kehadiran Vino dan mamanya. Zahra sudah berdandan cantik, membuat Reyhan memeluk lalu menciumnya, " Kalau bukan hari ini hari penting Vino, aku memilih tidak ikut dan menghabiskan hari ini bersamamu, membuat adik untuk Reza,"


Tiba-tiba terdengar dari luar,


" Kak Reyhaaaaannnn," pekik Vino.


" Ada apa Mas?" ujar Zahra terkejut.


Reyhanpun melepas pelukannya, mereka berlari menuju ruang tamu.


Mereka melihat Vino yang mewek, serta Reza dalam gendongannya.


" Ada apa?" tanya Reyhan panik


" Lihat apa yang di perbuat anakmu, dia pipis, bajuku basah semua, padahal aku sudah mempersiapkan untuk hari ini, baju baru, sepatu baru mobilpun baru, khusus untuk menemui Nabilaku tersayang, masak harus pulang, keburu telat,"ujar Vino merengek.


Zahrapun segera mengambil Reza dari gendongan Vino dan berkata, " Maaf Vino, aku lupa memakaikan deapers pada Reza. Sudah gak apa-apa tandanya kamu mau dapat rezeki kena ompol anak yang masih suci."


" Gak emak, gak bapak, gak anak kenapa suka menyiksaku," ujar Vino.


" Sudah ikhlasin saja," ucap Reyhan.


Zahrapun meminta Vino membersihkan diri ke kamar tamu. Ia membawakan baju ganti ke kamar tamu.


" Vino pakailah ini, ini baju kamu yang kamu pesan di butik untuk pernikahan kita yang batal dulu dan belum sempat kamu pakai," ujar Zahra seraya menyerahkan setelan tuxido berwarna navi.


" Kamu menyimpannya?" tanya Vino.


" Ya, orang butik mengirimnya ke rumahku dulu. Pakailah! semoga keberuntungan menyertaimu, seperti pakaian itu, yang menjadi kenangan ketulusanmu padaku. Aku hanya bisa membalasnya dengan doa, semoga kamu bahagia,"


" Trimakasih Kakak ipar," jawab Vino.


Zahra tersenyum, " Tumben kamu panggil kakak? sangat asing di telinga."


"Seharusnya memang seperti itu, kakak ipar, mulai saat ini aku akan memanggilmu kakak ipar, sebagai tanda kehidupanku yang baru akan di mulai bersama cinta yang baru,"


" Trimakasih untuk semuanya Vino," ucap Zahra.

__ADS_1


" Hey hey hey! apa kalian sedang belajar bermain sinetron, lama sekali. Tadi suruh buru-buru kenapa malah kalian ngobrol panjang lebar di sini," sela Reyhan menengahi percakapan mereka. Reyhanpun merangkul pundak istrinya yang sudah berkaca-kaca dan mengajaknya keluar, memberi waktu Vino berganti pakaian.


Semua sudah terkondisikan akhirnya mereka meluncur menuju rumah Nabila. Setelah beberapa menit sampailah di sebuah desa, terlihat bangunan megah, gedung sekolahan Madrasah aliyah, setingkat SMA. Zahra bertanya pada Reyhan, " Apa ini yang di bangun Vino untuk di hibahkan ke Aba Ismail,"


" Iya sayang,"


" Kakak jangan bocorkan ke Nabila ya!" sahut Vino yang duduk di samping sopir.


" Siap adikku sayang," jawab Zahra.


Merekapun sampai di depan rumah Nabila. Namun ternyata sudah ada mobil mewah yang terparkir di sana.


Merekapun mengucap salam, lalu duduk di karpet yang sengaja di gelar.


" Silahkan masuk nak Vino," ucap Pak Ismail yang terlihat agak bingung.


Tepat di hadapannya uztad Mirza dan kedua orang tuanya. Sejenak mereka bertatap mata. Keduanya saling menduga, kemungkinan datang dengan niat yang sama.


Zahra berbisik di samping Reyhan," Mas itu uztad Mirza yang terkenal itu, aku dan Nabila mengidolakannya,"


" Kakak ipar kenapa kamu menumpahkan oli di hatiku yang oleng ini, kamu membuatku semakin terpeleset dan tersungkur," bisik Novan yang terdengar jelas oleh ibu dan kakaknya.


" Pasrah Vino," Bisik Bu Fatma.


Pembicaraan pentingpun di mulai. Pak Ismail membuka percakapan, " Silahkan Vino kamu mengutarakan niatmu datang kesini,"


" Seperti janji saya dua tahun lalu Pak, saya datang kesini untuk melamar putri Bapak yang bernama Nabila," ucap Vino dengan bergetar.


Hati Vino semakin menciut, melihat wajah rivalnya yang menurutnya sempurna, di tambah setara dengan keluarga Nabila sama-sama keluarga Kyai.


Bu Hanifah, membawa Nabila ke ruang tamu. Wajahnya tertunduk, kemudian menyatukan tangan ke depan dada memberi salam pada keluarga Vino dan keluarga uztad Mirza. Pak Ismail bertanya pada putrinya, " Nabila, Vino dan Uztad Mirza sama-sama mempunyai niat baik melamarmu, Aba serahkan keputusannya ke padamu Nak. Saya mohon apapun keputusan putri saya, kita semua masih saling menyambung silaturrohim,"


Sejenak Nabila menatap kedua laki-laki yang harap-harap cemas menunggu keputusannya. Nabilapun mulai bicara dengan lembut, " Mas Vino trimakasih kamu telah menepati janjimu untuk datang kesini, meskipun saya sudah membebaskan janjimu itu,"


Deg! jantung Vino rasanya mau meledak.


Nabila melanjutkan bicara, " Kak Mirza, trimakasih kamu juga memiliki niat baik kepada saya. Selama ini Kak Mirza sudah saya anggap kakak sendiri. Semua kriteria laki-laki idaman nyaris sempurna sudah Kakak miliki. Tentunya banyak wanita yang menginginkan Kak Mirza jadi pendampingnya,"


Ucapan Nabila bagaikan silet yang menyayat hati Vino. Wanita yang ia impikan jadi miliknya memuji-muji laki-laki lain di hadapannya. Rasanya ia ingin bangkit dari duduknya lalu pergi sejauh mungkin. Reyhan melihat Vino yang sedih, menepuk bahu adiknya dan berbisik, " Sabar."


Nabila melanjutkan kata-katanya setelah berhenti sejenak," Kak Mirza mengajarkanku untuk sholat istiharoh dan melibatkan Alloh dalam mengambil keputusan bukan? Saya harap tidak akan ada yang berubah hubungan kekeluargaan kita. Maafkan Kak, saya memilih Vino untuk menjadi pendamping saya,"


" Alhamdulillah," ucap Vino seketika mendengar ucapan Nabila. Semua memandang ke arah Vino.


" Nabila aku akan tetap jadi Kakakmu, semoga Alloh melimpahkan rahmat untukmu, aku doakan kalian bahagia sampai surga bersama," ucap Mirza.


" Luar biasa, uztad ganteng, kata-katanya menyejukkan," ucap Zahra lirih, membuat Reyhan terbakar api cemburu. Iapun mendapat tatapan mata elang dari suaminya. Zahrapun berbisik," Maaf."


" Alhamdulillah, niat yang baik harus di segerakan, dua tahun menanti, sebaiknya kita nikahkan hari ini juga Ustadz Ismail," ucap Kyai Makruf.


" Bagaimana Nak Vino?" tanya Pak Ismail.

__ADS_1


" Bagaimana Ma, Kak?" tanya Vino


" Tidak apa-apa Pak, tapi kami belum siap semuanya," jawab Bu Fatma.


" Tidak apa-apa Bu, yang penting sah dulu, surat-suratnya menyusul," jawab Kyai Makruf.


" Tapi saya belum menghafalkan ijab qobulnya Kyai," jawab Vino malu-malu. Nabila yang tertunduk ikut tersipu malu.


" Masih ada waktu, ba'da maghrib, kita lakukan akhad nikahnya," jawab Pak Ismail.


" Tapi Aba, kita kan belum siap-siap sajiannya bila kita mengundang tetangga," ucap Bu Hanifah.


" Tenang Bu, semua akan saya kirim kesini, ba'da maghrib," ucap Reyhan.


Reyhan segera menghubungi Jodi, meminta datang ke cafe D' amor dan mengirimkan makanan beserta karyawannya, sesuai lokasi yang ia kirim.


Semua akhirnya bernafas lega, kecuali Vino yang mondar-mandir di teras musholla meminta Kakaknya mengajari cara Ijab Qobul, karena gugup hafalannya lolos begitu saja dari ingatannya.


" Mengapa jadi gini Kak, tiba-tiba seenaknya suruh nikahi anaknya hari ini," ujar Vino yang gugup.


" Sudah terima saja, rezeki jangan di tolak, nanti juga kamu sendiri yang merasakan enaknya," ujar Reyhan meledek.


Setelah sholat maghrib rumah Pak Ismail du penuhi tamu undangan.


Vinopun gugup duduk bersanding Reyhan yang berulang kali menenangkannya.


Pak Ismail menjabat erat tangan Vino, " Alvino Rafa Syah, saya nikahkan engkau dengan putri saya yang bernama Nabila khoirunnisa' binti Ismail Marzuki dengan maskawin sebuah cincin emas seberat 5 gr dan satu unit mobil di bayar tunai,"


" Saya terima nikah dan kawinnya Nabila Khoirunnisa' binti Ismail Marzuki dengan mas kawin tersebut di atas di bayar tunai,"


" Bagaimana saksi?"


SAH


Doa berkumandang mengakhiri prosesi akhad nikah. Wajah yang gugup kini nampak senyum mengembang. Sama halnya Nabila yang sama-sama gugup menunggu di kamar.


Vino memasuki kamar yang tidak begitu luas, seorang gadis berbalut gaun muslim tertunduk malu. Vinopun semakin malu ketika mau mendekat. Iapun bergumam Ya ampun dimana jiwaku yang dulu penakhluk wanita, ini ada yang halal kok aku jadi grogi gini. Tuhan tolong aku,


" Assalamu'alaikum ya khumairoh," ucap Vino


Zahra dan Reyhan rasanya ingin tertawa mendengar kata Vino yang canggung dan grogi.


" Wa' alaikumussalam," jawab Nabila.


" Pegang ubun-ubunnya lalu baca doa yang aku ajarkan," bisik Reyhan.


Vinopun mendekati Nabila lalu melakukan yang Reyhan ajarkan. Nabilapun mencium tangan Vino, membuat Vino salah tingkah, tiba-tiba hendak mencium Nabila,


" Hey tunggu ada anak kecil," ucap Reyhan.


" ate antik, za mau sana," ucap Reza cedal yang ada dalam gendongan Zahra, kemanapun Reyhan pergi ia tak mau ketinggalan, tapi tiba-tiba ingin ikut Vino masuk kamar.

__ADS_1


" Anak kecil tau aja, cewek cantik," ujar Reyhan, lalu menutup kamar Nabila. Membiarkan sepasang pengantin baru berduan.


__ADS_2