
Zahra menerima surat dari atasannya. Ia membuka surat tersebut berisi tentang penempatan posisi kerja yang baru. Ia terperanjat dengan isi surat tersebut. Ia menanyakan kebenaran surat itu kepada Zaky.
Zahra menemui Zaky di ruangannya. Namun sebelum bertanya, Zaky sudah bisa menebak maksud kedatangan Zahra di ruangannya. Ia pun berkata kepada Zahra, " Zahra sekarang kamu pergi ke ruangan direktur baru itu. Bukan saya menakut-nakuti, tapi kamu harus berhati-hati dengan Pak Reyhan."
" Tapi Pak Zaky."
" Sudahlah, ini sudah keputusan perusahaan, seharusnya kamu senang, bisa pindah ke bagian yang lebih baik."
" Baiklah, saya permisi dulu pak."
Akhirnya Zahra menuju ruangan direktur Reyhan dengan hati berdebar-debar. Hingga sampailah ia di depan pintu ruangan direktur.
Zahra mengetuk pintu dan mengucap salam.
" Assalamu'alaikum."
"Masuk!"
Zahra membuka pintu dan menjumpai laki-laki yang duduk di kursi menghadap ke luar jendela. Zahra hanya melihat punggungnya, dan dia begitu familiar dengan suara dan postur tubuh laki-laki itu. Namun ia ingin memastikan tebakannya itu benar. Hatinya semakin berdebar kencang.
Reyhan memutar kursinya menghadap kearah Zahra. Reyhan tersenyum pada Zahra. Namun Zahra sangat terkejut hingga diam mematung menatap Reyhan yang benar-benar ada di hadapannya. Kedua pasang mata itupun cukup lama berpandangan.
Zahra tidak bisa menggambarkan perasaannya. Ia bingung bagaimana bersikap. Hatinya merasakan perasaan bercampur aduk. Ia merasa bahagia, kesal, dan juga bingung.
" Zahra apa kamu akan diam mematung sepanjang hari menatapku?" tanya Reyhan kepada Zahra yang masih mematung.
" Mas Reyhan?" ucap Zahra dengan terbata-bata.
Reyhan beranjak dari tempat duduknya. lalu melangkah mendekat kearah Zahra.
"Aku merindukanmu Zahra, apa kamu tidak mau memelukku, bukankah kamu juga merindukanku."
"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Zahra bingung.
" Ceritanya panjang, kapan-kapan aku akan cerita."
__ADS_1
" Apa kamu juga yang mengatur semua ini? kamu diam-diam mengikutiku?"
" Bukankah aku sudah berjanji akan menemukanmu dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu, "ujar Reyhan.
" Pak Bos Reyhan, entah mengapa dimanapun aku bekerja, kamu di takdirkan jadi Bosku." Zahra menarik nafas dalam-dalam mencoba menghilangkan rasa canggungnya.
" Sekarang duduklah, kita akan bicara tentang pekerjaan dulu atau reonian dulu?" goda Reyhan sembari menarik kursi di depan mejanya, bermaksud mempersilahkan Zahra untuk duduk.
Zahrapun duduk, begitu juga dengan Reyhan. Reyhan tak berhenti tersenyum menatap Zahra. Namun Zahra masih nampak marah di wajahnya. Ia masih begitu gengsi untuk luluh di hadapan Reyhan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Vanessa masuk keruangan Reyhan tanpa mengetuk pintu.
Ia mendekat kearah Reyhan, berdiri di samping Reyhan serta memegang bahu Reyhan. Kali ini Reyhan sengaja tidak mengelak tangan Vanessa. Rupanya Reyhan sengaja ingin membuat Zahra cemburu.
" Reyhan, aku dengar kamu mengganti sekretarismu yang lama, kenapa?" tanya Vanessa manja.
" Tidak apa-apa, biar ada penyegaran saja." jawab Reyhan ringan seraya menatap Zahra.
Zahra berdiri dan memalingkan muka.
" Iya bu, saya sekretaris barunya Pak Reyhan," ujar Zahra seraya tersenyum dan membungkukkan badan memberi hormat.
" Lumayan, aku harap kamu tidak akan menggoda bosmu ini!" ujar Vanessa dengan sinis.
Reyhan berdiri melepas pegangan tangan Vanessa, dan ia bertanya kepada Vanessa, "Apa tujuanmu kesini hanya untuk menanyakan tentang sekretaris baruku? atau ada urusan lain yang berhubungan dengan pekerjaan?"
" Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu makan siang nanti sekalian meninjau proyek secara langsung," jawab Vanessa.
" Maaf pak, apa saya boleh kembali keruangan saya?"
" Kamu boleh tetap disini. Saya akan memberitahu tugas kamu. Bu Vanessa akan segera kembali keruangannya." Ujar Reyhan mengusir Vanessa secara halus.
Vanessapun akhirnya pergi meninggalkan Reyhan dan Zahra.
Reyhan meminta Zahra mencatat tugas apa saja yang harus dia kerjakan sebagai sekretarisnya. Diantara tugas Zahra yaitu mengatur jadwal pertemuan dengan kliannya. Mengikuti Reyhan kemanapun Reyhan bertugas, sekalipun keluar negri, mengikuti rapat dan mencatat hasilnya.
__ADS_1
Zahra sudah sedikit faham akan tugasnya. Pastinya Zahra akan sering bersama Reyhan kemanapun bosnya itu pergi.
Reyhan akan meninjau proyek pembangunan barunya, namun sebelumnnya ia mengajak Zahra makan siang. Reyhan membukakan pintu mobil untuk Zahra duduk di sampingnya. Zahrapun menuruti permintaan bosnya itu. Tiba-tiba sebelum Reyhan masuk ke dalam mobilnya, Vanessa menghentikannya, " Tunggu! Bukankah kita akan menuju lokasi yang sama, bagaimana kalau kita menggunakan satu mobil saja, biar aku ikut bersamamu.
Vanessa melirik Zahra yang sudah duduk di dalam mobil. Reyhanpun berkata, " Silahkan Nona Vanessa." Reyhan menyetujui permintaan anak Bosnya itu.
Zahra hendak turun dari mobil ingin pindah kebelakang, namun Reyhan mencegahnya. Ia berkata, " Zahra kamu tetap duduk di tempatmu, biar Nona Vanessa duduk di belakang."
Akhirnya dengan perasaan kesal Vanessa duduk di belakang Reyhan. Mereka meluncur ke Restoran yang dekat pembangunan proyek. Setelah sampai di halaman parkir restoran Reyhan segera membukakan pintu untuk Zahra, hingga melupakan Vanessa yang menunggu mendapat perlakuan yang sama seperti Zahra. Zahrapun akhirnya menyadari kalau Vanessa belum keluar dari mobil. Zahra segera membukakan pintu mobil untuk Vanessa. Ia mempersilahkan Vanessa untuk turun, " Silahkan turun Nona."
Vanessa memandang Zahra dengan tatapan cemburu. Kemudian Reyhan, Zahra dan Vanessa duduk dalam satu meja. Mereka menyantap makan siang bersama. Reyhan tiba-tiba tersedak, secara spontan Zahra mengambilkan dan menyodorkan segelas air putih di hadapannya, seraya berkata, "Pelan-pelan makannya!"
" Trimakasih," balas Reyhan setelah meneguk segelas air putih yang di berikan Zahra.
Hal tersebut membuat Vanessa yang berwajah sinis makin sinis terbakar api cemburu, namun ia berusaha menyembunyikan perasaan cemburunya itu pada Zahra. Bagi Vanessa, Zahra tak selevel dengannya untuk di cemburui.
Selesai makan siang mereka menuju proyek pembangunan. Reyhan melakukan tanya jawab dengan seorang arsitek sambil berkeliling melihat-lihat ke berbagai sudut bangunan yang hampir selesai itu.
Tiba-tiba Zahra yang dari tadi mendampingi Reyhan tanpa sengaja menabrak beberapa tumpukan pipa yang berdiri menyandar di tembok yang tidak beraturan. Dengan sigap Reyhan menarik Zahra hingga jatuh dalam pelukannya. Beruntung Zahra segera di selamatkan oleh Reyhan sehingga tumpukan pipa itu tidak menimpanya.
" Kamu masih saja ceroboh, untung kamu tidak tertimpa tumpukan pipa itu," ujar Reyhan dengan suara keras.
Zahra yang masih terkejut akhirnya meneteskan air mata karena Reyhan membentaknya. Reyhan melihat Zahra menangis, Ia menyadari ucapannya yang kasar. Ia kemudian berusaha menenangkan Zahra dengan berkata, "Maafkan aku Zahra, aku tidak bermaksud membentakmu."
Namun Zahra malah tambah menangis.
" Mana mandor bangunan ini?" tanya reyhan kepada para pekerja yang kebetulan ada di lokasi kejadian.
Reyhan terbawa emosi atas kejadian tersebut. Mendengar suara benda berjatuhan dan suara orang yanh ribut, beberapa tukang bangunan dan mandor menghampiri mereka.
"Maaf Pak, saya yang bertanggung jawab disini, ujar salah satu orang diantara mereka dengan wajah ketakutan.
" Tolong bapak peringatkan kepada pekerja bapak agar berhati-hati dalam meletakkan barang, jaga agar tetap aman dan rapi. Ini untuk keselamatan mereka sendiri," ujar Reyhan dengan sedikit emosi.
" Iya Pak, kami mohon maaf, kami akan memperbaiki kinerja kami."
__ADS_1
Reyhan dan Zahra segera menghampiri Vanessa yang sedang berteduh. Merekapun kembali ke kantor.