Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Tetangga


__ADS_3

Zahra melihat Reyhan mengikutinya, Iapun berhenti dan memohon agar Reyhan berhenti mengikutinya. Namun Reyhan tidak memperdulikannya, dan terus saja berjalan di belakang Zahra. Hingga mereka sampai di depan lift.


" Pak Reyhan yang terhormat, please deh, jangan ikuti saya, silahkan Bapak pulang!"


" Sekarang sudah tidak di kantor, kok masih panggil 'Mas'?"


" Oke, Mas Reyhan, silahkan pulang!" ujar Zahra dengn kesal.


" Saya akan pulang, terserah aku dong mau pulang kemana?"


goda Reyhan.


Zahra tidak mau berdebat lebih lama dengan Reyhan, Iapun masuk kedalam lift. Reyhanpun ikut masuk, secara spontans mereka memencet nomor bersamaan menuju lantai 6. Di dalam lift Reyhan hanya melirik Zahra, begitu juga Zahra meliriknya.


Pintu lift terbuka, Reyhan dan Zahra keluar dari dalam lift. Reyhan masih saja mengikutinya. Sampailah Zahra di depan pintu apartemennya.


"Berhenti!" teriak Reyhan.


"Ada apa?"


" Ingat janjimu tadi siang ya, nanti malam kita makan malam bersama?"


" Siapa yang berjanji? itu sih jebakanmu saja Mas."


Reyhan berjalan melewati Zahra yang terdiam. Ia membuka pintu apartemen di sebelah apartemennya Zahra. Zahra terkejut dan terus menatap Reyhan. Melihat Zahra terbengong Reyhan melambaikan tangan seraya tersenyum genit kepada Zahra.


Zahra terkejut ternyata Ia bertetangga dengan Reyhan. Iapun masih melihat Reyhan yang menutup pintu dan menghilang dari balik pintu. Zahra masih terkejut dan bicara sendiri.


Ternyata selama ini dia tetanggaku. Pantas saja selama ini aku merasa selalu melihat dia. Berarti dia sudah memata-mataiku sejak dulu. Hem dasar licik.


Zahrapun akhirnya masuk kedalam apartememennya. Ia bingung harus senang atau sedih karena keberadaan Reyhan. Sepertinya Reyhan berhasil membuat hati Zahra berdebar-debar lagi seperti dulu.


Azzam melihat Zahra tersenyum-senyum sendiri di dapur ketika memasak untuk makan malam. Ia melihat tingkah adiknya itu sedikit berbeda dari biasanya. Wajahnya lebih ceria dan sering tersenyum, iapun menghampirinya.


" Tumben sih kok ceria sekali, senyum-senyum sendiri. Sepertinya ada yang lagi kasmaran nih, ujar Azzam menggoda Zahra.


" Enggak, biasa saja kok," jawab Zahra.


" Jangan bilang kamu dan Zaky jadian ya!"


" Tidak Mas. Mas Zaky sudah saya anggap seperti kakak sendiri kok, emang kenapa dengan Mas Zaky?"


" Iya gak apa-apa sih, Mas gak mau saja kamu dipermainkan, dia kan playboy."


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Azzam sudah mengira itu adalah Zaky yang sering tiba-tiba datang. Azzampun meninggalkan Zahra untuk membuka pintu. Azzam terkejut ternyata bukan Zaky, melainkan atasannya.


" Pak Reyhan, ada apa kok kesini?"

__ADS_1


tanya Azzam heran.


" Saya yang seharusnya bertanya pada Pak Azzam, kenapa kamu ada disini? di apartemen calon istri saya?" blas Reyhan dengan emosi.


"Siapa yang Bapak maksud?"


Zahra mendengar keributan di depan pintu, ia pun mematikan kompor dan segera menuju arah suara.


" Mas Reyhan kenapa kemari?" tanya Zahra.


" Bukankah kamu sudah berjanji kita akan malam bersama?"


"Maaf dia tidak boleh keluar dari sini tanpa seizin saya. Meskipun Bapak atasannya Zahra, apalagi ini sudah diluar jam kerja." Sahut Azzam


" Pak Azzam ini siapanya Zahra? suaminya? kok berani melarang Zahra?" jawab Reyhan dengan Kesal.


" Aduh sudah dong! kok bertengkar? biar Zahra bicara dulu. Mas Reyhan, Mas Azzam ini kakak Zahra, dan Mas Azzam Reyhan ini dulu calon suami Zahra."


" Ingat masih calon suami," ujar Reyhan dengan ngototnya.


"Jadi ini laki-laki yang telah menyakiti adik saya? Biar saya hajar dia!" ujar Azzam dengan mengepalkan tinju hendak memukul Reyhan.


" Mas Azzam jangan!" cegah Zahra seraya memegang tangan Azzam.


"Maaf Mas Azzam, calon kakak iparku. Semua hanya kesalah fahaman. Saya mencari Zahra untuk minta maaf dan bermaksud memperbaiki hubungan kami yang dulu."


Azzam mulai dapat mengontrol emosinya, Iapun memberi jalan kepada Reyhan untuk masuk kedalam ruang tamu. Mereka bertiga duduk bersama.


" Tenang Azzam, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Oh iya ngomong-ngomong lebih baik kita berteman, dan panggil saja saya Reyhan bila di luar kantor. Oke!" ujar Reyhan dengan nada lebih santai sembari mengulurkan tangan, mengajak Azzam berjabat tangan, Azzampun menyambut jabat tangannya dengan menekan kuat-kuat tangan Reyhan.


" Ingat Reyhan, tidak mudah mendapatkan adik saya, anda harus lulus dari penilaian saya," ujar Azzam yang masih ketus.


" Siap Kakak Ipar!" jawab Reyhan dengan tersenyum. Lalu Ia melepas tangan Azzam.


"Oh iya, maaf kali ini silahkan malam malam disini saja, Zahra sudah terlanjur memasak, cukup untuk kita bertiga," ujar Azzam.


" Oh iya, kalian tunggu, saya lanjutkan memasaknya," ujar Zahra lalu menuju kearah dapur.


" Baiklah aku akan membantumu, kamu tahu sendiri kan aku lebih jago memasak dari pada kamu?" ujar Reyhan berdiri mengikuti Zahra ke dapur


Sementara Zahra dan Reyhan berjibaku didapur, diam-diam Azzam mengambil gambar mereka berdua dengan kamera dari ponselnya. Ia mengirim foto mereka kepada Ibunya. Azzam berbicara dengan Ibunya lewat sambungan telephon seluler secara diam-diam di kamar agar tidak terdengar Zahra dan Reyhan. Ibunya membenarkan bahwa kaki-laki dalam foto tersebut adalah betul Reyhan calon suami Zahra dulu. Azzam menceritakan tentang posisi Reyhan dan Zahra di perusahaan kepada Bu Maryam. Bu Maryam berpesan agar menjaga adiknya serta meminta menasehati adiknya agar mengambil keputusan yang tepat akan hubungannya dengan Reyhan.


Reyhan dan Zahra memasak di dapur. Mereka sudah terlihat akur. Sesekali terdengar tawa dari keduanya.


" Kakak ternyata sama galaknya dengan kamu?"


" Itu bukan galak, namanya sayang, emang kamu."

__ADS_1


" Sini aku sayang, "ujar Reyhan seraya memoncongkan bibir.


" Dasar mesum, jangan macam-macam ya, jangan samakan aku dengan pacarmu yang genit itu," balas Zahra seraya mengangkat teflon yang hendak ia gunakan untuk menggoreng telur.


" Siapa, bukankah kamu pacarku?" tanya Reyhan


" Jangan bilang kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Nona Vanessa ya!"


" Memang tidak ada hubungan apa-apa? Kamu cemburu?"


" Hem tidak, buat apa cemburu."


" Hei kalian akan memasak atau bertengkar saya sudah kelaparan, "teriak Azzam dari ruang tamu, yang dari tadi mendengar percakapan mereka.


" Iya Mas," ujar Reyhan dan Zahra bersamaan.


Reyhanpun melanjutkan mengaduk nasi goreng yang hampir gosong. Sedangkan Zahra di sampingnya menggoreng telur mata sapi.


Setelah selesai Zahra dan Reyhan menata hidangan di meja makan. Azzampun menghampiri mereka lalu duduk di kursi.


Merekapun makan malam bersama.


Azzam terlihat Lahap menyantap nasi goreng.


" Tumben enak sekali masakanmu Zahra," ujar Azzam.


"Huk uhuk!" Reyhan terbatuk, seolah memberi isyarat.


" Bukan saya yang masak Mas, itu masakan Mas Reyhan," ujar Zahra.


" Hem, lumayan, enak juga masakanmu."


" Tenang Zam, aku akan sering mampir untuk masak disini."


" Oh gak usah repot-repot. Itu sih modus kamu saja untuk mendekati Zahra."


Setelah makan malam Zahra dan Reyhan bercakap-cakap di ruang tamu. Sementara Azzam kembali kekamar melanjutkan pekerjaannya. Setelah melihat arloji di pergelangan tangannya Reyhan berpamitan untuk pulang.


" Sudah malam sebaiknya aku pulang. Selamat istirahat Zahra, sampai jumpa besok, " Reyhan beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Zahra.


" Baiklah, sampai jumpa besok Mas Reyhan."


" Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumussalam."


Reyhanpun pulang meninggalkan Zahra. Zahra masih senyum- senyum sendiri. Azzam pun menghampirinya dan menggoda adiknya itu.

__ADS_1


" CLBK nih ceritanya, ujar Azzam


" Apaan sih Mas Azzam, ujar Zahra seraya melempar bantal sofa yang di pegangnya kearah Azzam. Ia pun lalu berlari ke kamar dengan tersipu malu.


__ADS_2