
Zahra sudah berangsur sembuh, tidak ada lagi hal yang di keluhkan Ia pun diperbolehkan pulang oleh dokter.
Semua admistrasi sudah beres, selang infuspun sudah di lepas, Zahra sudah bersiap pulang dari rumah sakit. Azzam, Pak Rohman dan Bu Maryam ikut menjemput Zahra.
Reyhan menggendong Zahra menuju mobil, Zahra sempat menolaknya Ia ingin berjalan sendiri namun Reyhan tidak mau menurunkannya.
Sesampainya dirumah Vino dan Bu Fatma tengah berada di ruang tamu.
Zahra turun dari dalam mobil, lagi-lagi Reyhan mengangkat tubuh Zahra dan meletakkan nya di sofa. Zahra menghampiri Bu Fatma lalu mencium punggung tangannya, Bu Fatma lalu memeluk Zahra.
" Bu Fatma sudah lama tiba disini? tanya Zahra.
" Baru saja Zahra. Oh iya kan sudah jadi menantu mama jadi Zahra juga panggil 'mama ' dong seperti Reyhan," jawab Bu Fatma.
" Iya Mama," ujar Zahra.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Zahrapun tiba-tiba melontarkan pertanyaan tentang Vanesa pada, Reyhan, " Mas apa Vanessa tahu kamu menikahi saya?"
" Saya sudah membatalkan pertunangan dengannya sekaligus mengundurkan diri dari perusahaan,"
" Bagaimana kamu bisa sampai tiba-tiba muncul di hari pernikahanku?"
" Semua berkat Vino," jawab Reyhan. Ia kemudian menceritakan kejadian sebelum ia memutuskan untuk datang kerumah Zahra.
Flash back on
Malam sebelum pernikahan Zahra, Vino menghubungi Reyhan, namun tidak ada jawaban.
Reyhan pulang dari rapat dengan dengan dewan direksi tempatnya bekerja di lanjutkan dengan acara makan lama.
Sewaktu pulang ke apartemennya ia langsung tidur. Malam-malam ia terbangun mencari ponselnya, iapun baru tersadar jika ponselnya tertinggal di mobil.
Reyhan turun ke basment menuju mobilnya, membuka mobil lalu mencari ponselnya. Ia melihat notifikasi panggilan dari Vino, awalnya Reyhan mengabaikan. Namun akhirnya melihat pesan dari Vino dan melihat rekaman pertemuan Zahra dan Vanessa.
Emosi Reyhan memuncak ia pun mengendarai mobil menuju rumah Vanessa.
Sesampainya di rumah Vanessa, Reyhan meminta tolong pada satpam untuk memberitahu kedatangannya pada Vanessa.
Seorang ART membukakan pintu Vanessa yang baru akan tidur keluar dari kamarnya di lantai dua, ia menuruni anak tangga dengan perlahan. Ia penasaran apa gerangan yang membawa calon suaminya itu ingin menemuinya.
Reyhan berdiri dengan wajah penuh amarah, Vanesa berhenti di hadapannya.
" Ada apa sayang malam-malam begini kesini, kangen ya?" ujar Vanessa dengan manja seraya ingin menyentuh pipi Reyhan, dengan sigap Reyhan menepisnya.
" Aku kira kamu sahabatmu, tapi ternyata aku salah, kamu tidak sebaik yang aku kira," ucap Reyhan dengan tatapan tajam.
__ADS_1
" Apa maksudmu Reyhan?"
" Jangan pura-pura lagi, kamu sengaja memisahkan aku dengan Zahra. Kamu memaksanya meninggalkan aku dan meminta menikah dengan orang lain. Kamu licik kamu gunakan ancaman kepada keluarganya untuk menakutinya, kamu menggunakan kekuasaanmu untuk merekayasa kasus kakaknya,"
" Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan, aku mencintaimu Reyhan,"
" Bagaimana dengan ini?" Reyhan menunjukkan rekaman yang di kirim Vino.
Vanessa tidak dapat lagi mengelak, Reyhanpun melepas cincin pertunangannya. meraih tangan Vanessa dan memberikannya.
" Aku tidak bisa menikah denganmu, aku juga mulai detik ini mengundurkan diri dari perusahaan," Reyhan berbalik dan melangkah pergi.
Vanessa mengejarnya, " Reyhan tunggu! kamu akan menyesal memperlakukan aku seperti ini," ujar Vanessa, air matanyapun mengalir.
Reyhan kembali ke apartemennya, mencoba memesan tiket pesawat yang ada pada malam hari, namun ternyata sudah penuh semua, ia pun memesan tiket untuk pagi hari.
Tidak butuh waktu lama perjalanan dari Jakarta-Malang. Sesampai di depan rumah Zahra, ia pun putus asa. Mungkin dia sudah terlambat, Zahra sudah menikah dengan Vino. Namun ternyata Vino membawanya kehadapan Zahra.
Flash back off
Reyhan yang berada di samping Zahrapun langsung memeluk Zahra istrinya itu, " Maafkan aku ya sayang,"
" Aku juga minta maaf Mas," jawab Zahra.
" He he iya sih pengantin baru, gak lihat-lihat kondisi main peluk-pelukan di depan umum, gak punya perasaan sama sekali ada jomblo akut disini, Woi!!" teriak Vino meledek.
" Sini anak mama yang ganteng yang katanya penakhluk kaum hawa, sini mama peluk!" ujar Bu Fatma seraya memeluk Vino, membuat semua keluarga tertawa
Semua keluarga berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan acara unduh mantu, yaitu membawa mempelai putri ke rumah keluarga mempelai laki-laki. Melihat kondisi Zahra yang sudah sehat, Bu Fatma mengusulkan untuk hari minggu depan acaranya. Semua keluarga akhirnya menyetujuinya.
Bu Fatma dan Vino beranjak dari duduk dan berpamitan pulang, Reyhan, Zahra mengantar sampai teras rumahnya.
Sebelum Bu Fatma pulang iapun berpesan pada menantunya, " Zahra mulai sekarang jaga kesehatan ya, mama ingin kamu datang kerumah mama menjadi pengantin yang tercantik," sembari memeluk Zahra.
" Iya ma, minta do'anya ma, biar Zahra selalu sehat," jawab Zahra seraya mencium punggung tangan Bu Fatma.
" Iya sayang,"
" Kak, mulai sekarang aku percayakan Zahra padamu, jangan sampai lepas lagi, aku tidak janji lain kali bisa membawanya kembali pada mu, jika sampai Dia lepas lagi," ujar Vino
" Tidak akan Vino mulai sekarang aku yang akan menjaganya, trimakasih selama ini sudah menjaga Zahra, sekarang dia bukan temanmu lagi panggil dia kakak ipar!" jawab Reyhan.
" Zahra akan jadi temanku sekaligus kakak iparku, bukan begitu kakak iparku tersayang," ujar Vino seraya ingin memeluk Zahra.
Reyhanpun menarik kerah baju Vino, " Sini kakak peluk kamu, jangan nakal ya sama kakak ipar!"
__ADS_1
Reyhanpun memeluk Vino dan menepuk-nepuk pundaknya. Zahra dan orang yang menyaksikannya pun ikut tertawa.
Vinopun melepas pelukan kakaknya itu, dan menuju mobil yang di parkir di halaman rumah, Bu Fatma sudah masuk kedalam mobil. Vino sebelum masuk mobil ia berbalik lagi dan berkata," Kakak jangan lupa buruan ya buatkan aku ponakan, kasihan sudah seminggu pengantinya belum malam pertama," ujar Vino meledek.
" Hust dasar anak kecil, sudah sana pergi," jawab Reyhan. Alhasil Zahra yang berada di samping Reyhan jadi tersipu malu.
***
Pak Rohman mengajak Zahra sholat di Masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Selesai sholat iapun berjalan keluar masjid bersama pak Rohman.
Di barisan belakang ibu-ibu juga berjalan beriringan. Mereka sedang berbisik-bisik membicarakan menantu baru keluarga baru Pak Rohman.
" He itu tuh, menantunya Pak Rohman," ujar seorang ibu.
" Iya ganteng, katanya kaya juga, kemaren aku belum sempat lihat, katanya memvawa Zahra ke rumah sakit," ujar ibu lainnya
" Kasihan ya pengantin baru nginepnya di rumh sakit, jangan-jangan?" seorang wanita muda menimpali.
" Hust!" wanita di sampingnya menyenggolnya.
Reyhan dan Pak Rohman menyadari mereka sedang membicarakan Zahra, merekapun menoleh. Serombongan ibu-ibu itupun berjalsn lebih cepat merasa obrolannya di dengar oleh orang yang sedang mereka bicarakan.
Seorang ibupun bertanya, " Pak Rohman bagaimana keadaan Zahra, sakit apa kok sampai menginap di rumah sakit?"
" Alhamdulillah sudah sehat Bu, itu Zahra sakit tipes,"
" Ooo," sahut ibu-ibu serentak. Mereka mengira kalau Zahra hamil duluan.
Sesampainya di rumah Reyhan menuju kamar Zahra tanpa mengetuk puntu. Zahra yang berdiri di depan cermin terkejut langsung lari, melilitkan tubuhnya ke korden kamarnya yang panjang menjuntai hampir menyentuh lantai.
" Apa yang kamu lakukan disitu?" tanya Reyhan seraya mendeka kerah Zahra.
" Berhenti! aku tadi baru membuka-buka kado dari teman-temanku. Ini aku coba kado dari Nella, baju tidur tapi tipis sekali mana tidak ada kancingnya, cuma celana dalam dan bajunya ada talinya saja," ujar Zahra menjelaskan.
" Coba aku lihat," ujar Reyhan sembari tersenyum genit.
" Jangan!aku malu, tolong ambilkan handukku ," pinta Zahra.
" Kenapa malu aku sudah lihat semyanya," jawab Reyhan kini makin mendekat berusaha membuka kain korden yang menyelimuti tubuh Zahra.
" Kapan?"
" Memang siapa yang mengganti baju pengantinmu waktu kamu pingsan dulu?" tanya Reyhan, kali ini melilitkan tangan ke pinggang Zahra yang masih tertutup kain Korden.
" Apaa?"
__ADS_1
Reyhan menggoda dengan menggelitikki pinggangnya.