
Zahra terisak membuat Reyhan melepaskan pelukannya, dan mengurungkan niatnya. Ia hanya melampiaskan kekesalannnya
Reyhan keluar rumah mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia berhenti di Cafe D'Amor. Ia meminta Gita untuk menyuruh seseorang mengantar segelas kopi untuknya, lalu berjalan menaiki tangga menunju lantai dua.
Reyhan duduk di tempat favoritnya yaitu di kursi samping balkon.
Vino mengetahui kedatangan Reyhan, iapun menghampirinya. Ia duduk di hadapan kakaknya itu, lalu bertanya " Apa yang kamu lakukan pada Zahra, hampir saja ia bunuh diri di pantai. Untungnya aku membuntutinya tadi siang.Ia menangis sepulang dari taman mengantar Mama,"
"Apa?" Reyhan terkejut.
" Bukankah kamu sudah berjanji akan membuatnya bahagia?"
" Semua ini ulah Vanessa lagi, di mengirimkan foto-foto saat kami tidur seranjang."
" Apa? kapan kalian melakukannya?" Vino terkejut, ia bangkit dari duduknya penuh emosi.
" Semua terjadi karena aku sedang mabuk, dulu waktu kalian bertunangan. Saat itu aku frustasi. Aku merasa tidak melakukan apa-apa. Setelah aku terbangun aku mendapati Vanessa disampingku tanpa busana."
" Pantas Zahra marah, kalau kamu bukan kakakku mungkin sudah aku hajar."
Seorang waitress mengantar secangkir kopi, meletakan di meja lalu pergi.
" Apa dia hamil?"
"Entahlah, aku mencarinya tapi dia menghindar. Tapi aku yakin tidak berbuat apa-apa dengannya," ujar Reyhan.
" Bagaimana bisa tahu, bukankah kamu mabuk saat itu?"
Ucapan Vino makin membuatnya ragu akan dirinya sendiri. Ia meneguk secangkir kopi lalu pergi.
Vino menatap langit, hatinya bergumam, " Vanessa, apa aku harus turun tangan lagi,"
Sementara itu Zahra semakin gelisah, ia merasa bersalah telah mengacuhkan Reyhan. Bagaimanapun ia masih seorang istri. Rasa sakit dan kecewa telah menutupi rasa cinta dan rindunya.
Di lubuk hati terdalam ia merindukan hari-hari indah bersama Reyhan. Hatinya tidak bisa memungkiri masih sangat mencintai pria yang menikahinya hampir satu tahun itu.
Malam semakin larut ia masih terjaga. Iapun mikirkan tentang Reyhan yang keluar rumah dengan rasa marah dan kecewa. Hatinya bertanya-tanya, dimanakah dia, sedang apa dan bersama siapa?
Reyhanpun kembali pulang. Ia mrnjumpai Zahra tertidur meringkuk di sofa kamarnya. Pipinya basah, bertanda ia habis menangis.
Reyhan menatap iba pada wanita yang telah mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan, canda tawa hari penuh gairah. Kini ia sedang terluka karena ulahnya di masa lalu. Reyhan merasa bersalah telah membuatnya bersedih.
Reyhan mengangkat tubuh Zahra ke atas ranjang. Ia berbaring di sampingnya. Meskipun ia tahu Zahra akan marah ketika bangum ia ada di sampingnya. Wanita yang jadi candu baginya itu kini tak sudi tidur bersamanya lagi.
Reyhan masih terjaga memandangi wajah mungil istrinya itu. Tiba-tiba Zahra memiringkan badan memeluk Reyhan. Matanya masih terpejam namun bibirnya menciumi pipi Reyhan
__ADS_1
Reyhan bertanya-tanya, apakah ia sadar atau hanya mengigau. Iapun tak peduli lagi. Ia sudah sangat merindukan belaian lembut istrinya. Iapun melancarkan aksinya membalas ciuman Zahra bertubi-tubi. Tangannya bergerilya keseluruh tubuh. Herannya Zahra tak menolak, ia semakin bergairah.
Zahra baru tersadar ketika Reyhan sudah menindihnya, " Apa yang kamu lakukan?" teriak Zahra.
Reyhan terus melanjutkan aksinya, Zahra tak bisa berkutik melawan pria berbadan kekar itu. Kedua tangannya telah terkunci oleh kedua tangan Reyhan. Reyhan kembali berbaring memejamkan mata, senyum kemenangan nampak di wajahnya.
Sementara itu Zahra terduduk menutupi tubuhnya dengan selimut, " Kenapa kamu memperkosa aku sewaktu aku tertidur?"
Reyhan bangun dan mendekatkan wajah kehadapan Zahra dan menjawab," Bukan aku yang memulai, kamu yang mulai mencium dan meraba-raba tubuhku, aku hanya mengikuti keinginanmu."
" Apa? aku rasa tadi cuma mimpi," ucap Zahra dengan malu menutup sebagian wajahnya dengan selimut.
" Apa? jadi kamu mimpi berhubungan dengan seorang pria? katakan siapa pria dalam mimpimu itu?" tanya Reyhan yang semakin mendekatkan wajahnya kearah Zahra.
" Sudah, bukan urusanmu!" ucap Zahra seraya menenggelamkan wajahnya di bawah selimut. Ia terlalu malu menerima kenyataan bahwa dirinya yang merayu Reyhan tanpa sadar padahal berkali-kali ia sudah menolak Reyhan dan melarang mendekatinya. Hatinya bertanya-tanya "mengapa aku bisa bermimpi yang aneh-aneh, pakai ngelindur lagi."
***
Seperti biasa selesai sarapan Reyhan berangkat terlebih dahulu kekantor. Ia mencium kening dan kedua pipi istrinya, meskipun tak mendapat balasan. Jangankan balasan ciuman mesrah, senyumpun kini hampir tak terlihat dari wajah Zahra.
Zahra menyusul berangkat ke kantor dengan mengemudi mobil sendiri. Sesampainya di kantor ia merasa kurang bersemangat. Iapun melamun duduk di sudut loby seorang diri menatap keluar jendela.
Novan melihat Zahra lalu ikut duduk di sampingnya dan berkata, " Apa aku hajar saja suamimu yang telah membuatmu bersedih? katakan siapa dia?" tutur Novan berapi-api.
Reyhan yang sejak tadi mengamati Zahra dari balik tembok menjadi geram mendengar perkataan Novan. Iapun bicara sendiri, "Dasar bocah ingusan beraninya mau menghajar aku, untung saja, kalau bukan karena Zahra meminta menyembunyikan identitasnya sudah aku hajar kamu,"
" Hei pegawai baru sini?" panggil Reyhan pada istrinya.
Zahra berhenti dan berbalik arah.
" Ada apa ?"
" Bawakan kopi!"
" Nanti aku bilang OB,"
" Aku maunya kamu,"
Zahra dengan kesal membuatkan minuman untuk bosnya itu.
Reyhan kembali keruangannya, tak lama Zahra menyusul dengan secangkir kopi. Reyhan meminta Zahra duduk.
"Aku harap kamu bersabar, aku sedang berusaha mencari Vanessa kita akan menyelesaikan semuanya,"
" Aku melihatnya di taman dengan membawa bayi,"
__ADS_1
"Belum tentu itu bayinya, aku masih dengan perasaanku, aku tidak melakukan apa-apa dengannya."
" Terserah, bila terbukti, aku tetap juga dengan keputusanku, bercerai!!"
***
Reyhan menemukan titik terang keberadaan Vanessa. Ia menunda semua pekerjaannya, segera ia menuju lokasi yang di informasikan oleh orang bayarannya
Ia menuju sebuah perumahan elit. Seorang satpam masih belum mau membukakan pitu gerbang. Satpam itu menghubungi Vanessa terlebih dahulu. Ia baru di buksksn pintu gerbang setelah satpam itu menutup telepon.
Reyhan masuk kerumah besar itu, hatinya gemetar setelah mendengar tangisan bayi. Ia masih dengan pendapatnya tidak mungkin ia melakukannya. Tidak mungkin bayi itu anaknya.
Vanessa turun dari tangga, menatap pria yang beberapa bulan lalu memutuskan hubungan pertunangannya karena wanita lain.
" Bayi siapa itu?" tanya Reyhan ketika mendengar suara tangisan bayi.
" Apa perlu aku beritahu? aku tidak akan memperlihatkan anakmu padamu "
" Jangan main-main Vanessa, mana mungkin dia anakku? kita tidak pernah melakukan apa-apa?"
" Bagaimana bisa ingat? kamu dalam kondisi mabuk,"
" Kita buktikan dengan tes DNA,"
" Aku sudah menduga kamu akan meminta itu, aku tidak akan mau melakukannya,"
" Terus apa tujuanmu, kenapa kamu baru muncul, setelah anak itu lahir?"
" Apa kamu mau bertanggung jawab bila aku beri tahu aku hamil?"
" Tentu saja,"
" Oh maaf sayang, aku bukan wanita seperti di cerita novel dan sinetron. Aku terlanjur sakit hati," ujar Vanessa semakin mendekati Reyhan, jarinya membelai punggung Reyhan. Reyhan hanya diam penuh amarah.
" Terus apa tujuan mu tiba-tiba muncul di sini, mengirimkan foto-foto itu?"
" Aku akan membuat kalian mrnderita seperti apa yang aku rasakan. Aku akan menyiksamu pelan-pelan dengan rasa bersalahmu pada anakmu dan rasa penasaranmu," ujar Vanessa sinis membisikkan pada telinga Reyhan.
" Dasar wanita gila!" Teriak Reyhan seraya mengibaskan tangan Vanessa yang bergelayut di lengannya.
" Iya aku memang gila! aku tergila-gila padamu. Dan kini kalau aku tidak bisa memilikimu maka orang lainpun tidak boleh memilikimu,"
" Jangan macam-macam! kalau kamu sampai menyentuh Zahra seujung kuku, aku akan membunuhmu," acam Reyhan.
" Lihat saja apa yang akan aku lakukan, aku pastikan kamu akan menyesal telah menyakitiku, Pergi!!" Vanessa mengusir Reyhan.
__ADS_1
Reyhanpun keluar dari rumah Vanessa dengan perasaan kacau.