
Sudah satu minggu setelah kecelakaan kecil yang dialami Zahra, Iapun sudah mulai aktif bekerja lagi. Luka memar dan lecet sudah sembuh meskipun masih membekas ditubuhnya yang putih.
Siang itu usai rapat di salah satu hotel di Ibu Kota bersama Reyhan, Reyhan berpamitan untuk menemui koleganya dan meminta Zahra untuk kembali ke kantor lebih dulu.
Zahra keluar dari lift dan berada di loby sebuah hotel, Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya, hendak memesan taxi online. Suara orang dari belakang membuat ia menoleh. Ternyata Yogi berada tepat di bekakangnya yang kebetulan juga ikut rapat.
" Zahra," sapa Yogi
" Iya Pak ada apa?"
" Bisa kita bicara sebentar, " pinta Yogi.
" ada apa bicara di sini saja," jawab Zahra.
" Cari tempat yang tenang,"
Zahra awalnya ragu menerima ajakan Yogi namun ia akhirnya mengikuti Yogi yang berjalan di depannya. Yogi menuju sebuah tepi kolam renang disana sepi tidak ada orang.
" Kok kesini Pak, Pak Yogi mau berenang, siang-siang gini nanti tambah gosong lo?" canda Zahra.
" Sudah jangan bercanda, mau nginap semalam di sini sama saya," ucap Yogi dengan senyum genitnya.
" Ih Pak Yogi, jangan bercanda deh Pak?"
Yogi mulai mendekat, Zahrapun mulai berjalan mundur.
" Ah kamu sok jual mahal, apa karena jabatan saya tidak setinggi seperti Pak Reyhan atau Zaky?"
" Eh Bapak ngomong apa, mereka semua teman saya, kami tidak pernah melakukan hal buruk seperti di otak Pak Yogi," ujar Zahra dengan suara meninggi, seraya menunjuk Yogi.
Yogi semakin maju dan meraih tangan Zahra, ,
" Lepaskan saya! atau aku akan teriak "
" Ayolah Zahra, aku sudah tergila-gila padamu sejak dulu," seraya menarik tangan Zahra, dan mendekatkan diri ke wajahnya ingin menciumnya. Zahra sekuat tenaga memberontak, kakinya menendang tubuh Yogi. Namun tidak semudah itu ia melepaskannya,
" Tolong!" Zahra mulai teriak
BUG!!
Satu pukulan mendarat di pipi Yogi membuatnya tersungkur. Zahra menghambur ke arah pria yang menolongnya itu. Karena ketakutan Zahra memeluknya dan berkata, " Trimakasih Vino."
Vino meraih gitar yang masih terbungkus tasnya lalu menggendongnya, Ia mengajak Zahra meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi Vino masih melihat Yogi menatapnya dengan tajam. Yogi berusaha berdiri memegang pipinya yang terkena tonjokan Vino.
Vino mendekat kearah Yogi dan berkata, " Sekali lagi kamu menyentuh Zahra, ku patahkan tulang-tulangmu,"
BUG!
__ADS_1
Vino menghadiahi Yogi tendangan di perutnya, membuat Yogi kembali tersungkur.
" Sudah Vino," ucap Zahra menghentikan aksinya menghajar Yogi.
Vino dan Zahra meninggalkan hotel. Vino mengajak Zahra kesebuah cafe yang tidak jauh dari hotel tersebut dengan mengendarai mobil yang ia sewa.
Setelah meneguk minuman Zahra mulai tenang. Vino mulai bertanya tentang pria yang tadi ingin berbuat hal yang tidak senonoh padanya, " Siapa orang itu tadi, apa kamu mengenalnya?"
" Dia atasanku dulu, sebelum aku jadi sekretaris Mas Reyhan, namanya Yogi,"
" Kemana Kak Reyhan sekarang, kenapa Dia tidak bersamamu?"
" Tadi pamit pulang dulu, mau bertemu koleganya,"
" Kan bisa mengantar kamu dulu," ujar Vino.
" Sudahlah, mungkin waktunya mendesak, kasihan yang nunggu. Sudah sekarang ceritakan kenapa kamu kok bisa ada di hotel tadi? Dan ngomong-ngomong baru tahu loh aku dari temanku kamu sekarang lagi Viral dengan lagumu itu."
" Ya karena itu aku ke Jakarta, besok malam ada undangan salah satu acara di stasiun TV swasta," jawab Vino.
" Ih Vino keren deh!" ujar Zahra seraya memukul lengan Vino.
" Kamu baru sadar kalau aku keren, dari dulu kalee," ujar Vino seraya memegang dagunya berlagak sok sombong.
" Hem, Sombong," ujar Zahra seraya menyebikkan bibir dan mendaratkan pukulan lembut di pipi Vino.
" Aku kangen kamu Vino,"
" Hem masak sih?"
" Iya, kangen nonjoki kamu," ucap Zahra yang lagi-lagi memukul lengan Vino. Kali ini Vino menangkap tangan Zahra.
Vino menatap mata Zahra, begitu pula Zahra menatap Vino lekat-lekat. Ada kerinduan yang mendalam terlihat dari sorot mata keduanya.
" Aku juga kangen, kangen sekangen kangennya," ucap Vino, membuat Zahra menarik paksa tangannya. Zahrapun mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba mereka terlihat sangat canggung.
Akhirnya pesanan makanan sudah datang, mengusir kecanggungan keduanya.
" Ayo makan Zahra, kamu pasti lapar?" bujuk Vino.
" Kamu juga kan? tadi habis ngeluarin tenaga buat hajar Yogi," pinta Zahra.
" Itu mah kecil,"
" Ah lo sombong kok di pelihara," sahut Zahra.
" Wuidiiih, sudah jadi orang jakarte nih ceritanya, ngomongnya pake lo gue?" ejek Vino. Mereka pun tertawa bersama dan menikmati makan siang.
__ADS_1
Setelah makan siang Vino mengantar Zahra ke kantornya. Setelah mengatur aplikasi GPSnya, Vino mulai mengemudi dengan kecepatan rendah. Meskipun ini bukan yang pertama kali Ia datang ke Jakarta, namun Ia belum hafal arah jalanan Jakarta.
Sesampainya di loby kantornya, Zahra di kejutkan oleh para karyawan wanita yang masih mida-muda.
"Hei Vino! Selfie yuk!" pinta dalah satu pegawai, yang di ikuti pegawai wanita lain. Zahra kini melihat Vino yang berselfie ria dengan para fansnya. Dengan senang hati Vino meladeni ajakan para pegawai.
Zahrapun merasa di abaikan oleh Vino, ia bergumam, " Hem dasar Vino, tambah ganjen saja, setenar itukah dia sekaran?"
Silfi, Devi, Lita dan Mery melintasi Zahra yang diam mematung.
" Ada apa sih kok rame-rame?" tanya Lita.
" Tuh Vino" jawab Zahra seraya menunjuk dengan dagunya.
" Hei, bubar - bubar!" teriak Lita mengusir pegawai yang mengerubuti Vino.
"Hemm!" gerutu para pegawai yang rata-rata masih junior.
"Vino!" teriak Lita seraya memeluk Vino.
"hem, kirain, ternyata sama saja," gerutu Zahra.
Kini ganti Devi dan Silfi ikut bergabung dengan Lita yang sedang berfoto Ria.
Zahra dibuat Kesal lihat kelakuan Vino dan teman-teman kantornya, Ia pun segera menarik tangan Vino masuk ke dalam Lift.
" Tunggu Vino, ikut " teriak Lita.
Akhirnya mereka bertiga menyerobot masuk ke dalam lift.
Di dalam lift Zahra mengenalkan Vino kepada ketiga temannya itu
" Kapan-kapan ajakin ngevlog bareng dong," pinta Lita.
" Tuh Vin, teman-temanku, bisa-bisanya nge fans sama kamu," ejek Zahra.
" Gue kan ganteng, keren dan populer," jawab Vino.
" Iya nih, resek deh Zahra, gak seneng lihat temen seneng " ujar Devi
" Terserah deh, sono bawa pulang, laminating sekalian pajang di tembok," ujar Zahra kesal.
" Cieee cemburu," ujar Vino mencolek pipi Zahra.
Zahra menuju lantai 6 tujuannya keruang Reyhan. Sesampainya di ruangan ternyata kosong.
Zahra mencoba menghubungi Reyhan. Setelah berhasil tersambung merekapun bercakap-cakap. Intinya Zahra bertanya Bosnya itu ada di mana.
__ADS_1
Reyhan tidak memberi tahu keberadaannya kepada Zahra. Namun ia berpesan kalau nanti pulang Zahra di minta bareng dengan Azzam.