Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Hari H pernikahan Zahra


__ADS_3

Vino merasa kesal karena berulang kali menghubungi Reyhan, namun masih saja belum terhubung. Iapun mengirim pesan melalui Whatshap namun statusnya belum di baca, masih centang satu yang berisi,


" Cepatlah ke Batu Malang Zahra sakit dan membutuhkanmu,"


Vinopun mengirim video pertemuan Zahra dan Vanessa yang sempat ia rekam.


Hari semakin malam namun Vino tidak bisa memejamkan mata. Fikirannya tertuju pada satu nama yaitu Zahra. Ia sangat khawatir akan kondisinya. Ponselnya tak pernah lepas dari genggamannya, berharap Reyhan membaca pesannya atau menghubungi balik dirinya. Lama menunggu membuatnya putus asa.


Vino semakin resah tentang keadaan Zahra. Iapun menghubungi Azzam. Benar saja ternyata Azzam memberi tahunya bahwa Zahra semakin parah, padannya panas, berulang kali pingsan bila berdiri mau kekamar mandi. Ia menolak tetap tidak mau di bawa kerumah sakit.


Vinopun segera kembali kerumah Zahra, tidak lagi memperdulikan apa yang akan di katakan orang.


Vino menuju kamar Zahra, disana semua keluarga berkumpul karena mengkhawatirkan keadaan Zahra. Seorang dokter keluarga dan perawat memasang selang infus di tangan Zahra. Karena keadaan Zahra yang sangat lemah apalagi tidak ada makanan yang masuk kedalam perutnya, baru saja ia menelan makanan ia sudah muntah-muntah.


Setelah dokter pulang dan tinggal perawatnya saja, Vinopun berbicara dengan Zahra " Zahra maafkan aku, sebaiknya kita batalkan pernikahan kita, jadi kamu tidak perlu terpaksa menikah, aku tahu kamu terbebani karena urusan pernikahan ini, tenangkanlah fikiranmu sekarang tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Maaf aku sudah memberitahukan semuanya kepada Mama dan juga keluargamu alasan kita menikah."


" Vino mengapa kamu lakukan itu?"


ujar Zahra dengan berbaring lemas.


" Karena aku ingin mengembalikan Reyhan padamu," jawab Vino.


" Sudah terlambat Vino, aku tidak mau mempermalukan keluarga kita, undangan sudah tersebar, apa kamu keberatan menikah denganku?"


" Bukan itu Zahra, ini menyangkut kebahagiaanmu, aku ingin kamu bahagia, sekarang istirahatlah agar cepat sembuh," jawab Vino.


Vino keluar dari kamar Zahra, Zahra di temani Bu maryam dan perawat. Ia masih duduk di sofa ruang tamu menunggu Zahra tidur, baru ia akan pulang.


Bu Maryam turun menemui Vino di ruang tamu, " Sebaiknya kamu pulang Vino, kamu juga harus menjaga kesehatanmu,"


" Biarkan saya di sini Bu, saya tidak bisa tidur memikirkan kondisi Zahra,"


Bu Maryam duduk di samping Vino menepuk bahunya dan berkata, " Beruntung sekali Zahra di cintai oleh laki-laki sepertimu nak, cinta dan perhatianmu begitu besar, andai saja Zahra memiliki perasaan yang sama padamu, maafkan anak Ibu ya nak," ucap Bu Maryam.


" Tidak ada yang perlu di maafkan Bu, saya tulus melakukan semua ini bu," jawab Vino.


Bu Maryampun meninggalkan Vino kembali menemani Zahra.


Vino akhirnya tertidur di Sofa hingga suara adzan subuh dari masjid yang tidak jauh dari rumah Zahra menggema.

__ADS_1


Sebelum pulang, vino naik ke lantai dua, ingin memastikan keadaan Zahra. Kebetulan Bu Maryam keluar dari kamar Zahra, menyapa Vino, " Nak Vino mau melihat Zahra?"


" Iya bu, bagaimana keadaannya sekarang bu?" tanya Vino


" Alhamdulillah sudah mendingan, sekarang Zahra sedang sholat," jawab Bu Maryam.


Vinopun melihat dari depan pintu, Ia melihat Zahra sholat sambil duduk. Vinopun berpamitan dengan Pak Rohman dan Bu Maryam. Sebelum pulang Pak Rohman bertanya padanya, " Bagaimana Vino, apa masih mau melanjutkan acara pernikahan kalian?" tanya Pak Rohman. Raut wajahnya terlihat cemas.


" Bila Reyhan tidak datang saya akan menikahi Zahra, sesuai permintaan Zahra," jawab Vino dengan tersenyum, berusaha menghilangkan kecemasan kedua orang tua Zahra.


Bagaimana tidak cemas, periapan sudah matang, undanganpun sudah tersebar. Rasa malu yang akan mereka tanggung bila pernikahan akan di batalkan.


Vinopun segera masuk kedalam mobilnya dan akan meluncur ke Villa Angrek. Namun ia berhenti dulu di sebuah masjid untuk sholat subuh. Cukup lama ia berdoa, hingga para jama'ah sudah tidak tersisa lagi kecuali dirinya.


Dengan lirih dan tulus ia berdoa hingga meneteskan Airmata," Ya Alloh, hamba mohon sembuhkanlah batin dan dzohir Zahra, kembalikan kebahagian dan keceriaannya. Hamba tidak ingin menikah karena terpaksa, jika memang Dia jodoh hamba maka pertemukanlah kami dengan sebaik-baik keadaan, dan hamba akan menunggunya. Bila memang bukan jodoh hamba maka pisahkan kami dengan keadaan sebaik-baiknya pula. Kembalikanlah Reyhan di sisi Zahra Ya Alloh,"


****


Waktu yang di tentukan tiba, pukul 10.00 WIB acara ijab kabul akan segera di laksanakan.


Zahra dirias di kamarnya, selang infuspun sudah di lepas. Ia mengenakan kebaya putih modern, dengan balutan hijab berhiaskan melati. Dalam sakitnya ia masih bisa tersenyum menunggu calon suaminya mengucap ijab kabul lalu akan menemuinya di kamar membawanya ke kursi pelaminan.


Vino menoleh kebelakang, sekilas ia melihat bayangan Reyhan di depan gerbang rumah. Ia meminta izin kepada Pak Rohman dan penghulu agar menunda sebentar acara ijab kabulnya.


Ia berjalan setengah berlari mengejar sosok pria yang mirip dengan Reyhan.


" Berhenti!" pinta Vino


Pria itu menoleh dan ternyata itu benar-benar Reyhan.


" Sudah terlambat bukan?" tanya Reyhan.


" Belum, ayo ikut aku!"


" Bukankah kamu juga mencintai Zahra? bukankah ini kesempatanmu untuk mendapatkannya?" tanya Reyhan dengan putus asa.


" Aku tidak seegois yang kamu pikirkan Kak, aku memang sangat mencintai Zahra, tapi aku lebih menginginkan dia bahagia dari pada terpaksa menikah denganku. Kakaklah yang Dia tunggu, kebahagiannya bila bersamamu. Sudalah aku tidak mau berdebat, cepat ikuti aku."


Reyhan akhirnya menuruti kata Vino. Mereka masuk kedalam rumah melalui pintu samping. Sesampainya mereka dikamar Zahra, alangkah terkejutnya mereka, Zahra tengah pingsan. Bu Maryam berusaha membangunkannya dengan menciumkan aroma minyak, namun belum berhasil.

__ADS_1


Reyhan berjalan gontai mendekati Zahra yang terbaring di kasur tak sadarkan diri, air matanya tak terasa membasahi pipinya.


Ia duduk di lantai, tangannya membelai kepala Zahra dan berkata, " Zahra, maafkan aku,"


Tangan kirinya memegang erat jemari Zahra. Zahra mulai membuka matanya perlahan, dan berkata dengan sangat lirih, " Mas Reyhan?"


" Bangunlah Zahra aku sudah datang, aku sangat mencintaimu," ujar Reyhan dengan meneteskan airmata.


" Vino?" tanya Zahra.


Vinopun mendekat ke arah Zahra dengan tersenyum, " Lihatlah tuan putri Zahra, aku sudah membawa pangeranmu kembali padamu, menikahlah dengannya!"


" Tapi Vino?" tanya Zahra pelan.


" Tidak ada tapi-tapi, jangan khawatirkan aku, semuanya baik-baik saja,"


Pak Rohman, masuk ke kamar Zahra untuk mencari keberadaan Vino karena para undangan dan penghulu sudah lama menunggu.


Pak Rohman terkejut akan keberadaan Reyhan di samping Zahra yang terbaring lemah.


" Maafkan saya Pak," ujar Reyhan berdiri meraih tangan Pak rohman lalu mencium punggung tangan.


" Pak ini menantu anda yang sebenarnya pak, dialah yang akan menikahi Zahra," ujar Vino.


Pak Rohman tidak bisa berkata-kata melihat pengorbanan Vino, iapun memeluk Vino erat, lalu berkata, " Trimakasih Vino kamu telah mengorbankan perasaanmu sendiri untuk kebahagian putri kami, kamu tetap anak kami Nak, trimakasih," ujar Pak Rohman yang berkaca-kaca.


Pak Rohman memgajak Reyhan kedepan penghulu. Vino mengikuti dari belakang, namun langkahnya terhenti ketika Zahra memanggil, " Vino tunggu!"


Vinopun berbalik dan mendekat kearah asal suara. Zahra berusaha bangun di bantu oleh Bu Maryam.


" Vino, bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu ini? Aku tidak menyangka cintamu padaku begitu besar. Aku berharap, semoga kamu segera mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, dan sangat mencintaimu," ujar Zahra, air matanya menetes.


" Sudah jangan menangis nanti make upnya luntur, sudah terlalu banyak kamu menangis, berbahagilah maka aku akan ikut bahagia" jawab Vino.


Bu Maryam memeluk Vino, kini ganti Bu Maryam dan Vino yang menangis. Vino segera kembali keluar lalu duduk di samping Bu Fatma. Bu Fatma memeluk putranya itu, " Anak ibu sudah menjadi dewasa sekarang, aku bangga padamu Nak,"


Suara Ijab kabul terdengar hingga kamar Zahra.


Saya terima nikah dan kawinnya Zahra Aulia Rahma binti Rohman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.

__ADS_1


__ADS_2