Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Bekerja kembali


__ADS_3

Reyhan sudah bersiap untuk berangkat ke kantornya. Perusahaan kecil yang ia rintis sewaktu masih bekerja di Perusahaan Indah Raya Property. Meskipun tidak sebesar perusahaan yang lama, namun perusahaan Reyhan mulai berkembang.


Reyhan sudah bertekat membesarkan perusahaannya sendiri, yang bergerak di bidang kontruksi bangunan. Bidang yang masih berhubungan dengan property juga.


Selesai sarapan Reyhan ia kembali ke kamar di ikuti oleh Zahra. Zahra merapikan dasi dan jas Reyhan.


" Aku akan merindukanmu Mas, aku ikut kekantor ya," ucap Zahra.


" Jangan dulu, hari ini banyak pekerjaan, nanti banyak yang akan aku urus, nanti kamu bosan menungguku. Sabar ya jam 3 sore saya janji sudah di rumah. Aku juga bakalan kangen," jawab Reyhan seraya memeluk istrinya, mencium pipi dan keningnya. Zahrapun membalas mencium Reyhan serta mencium punggung tangannya.


Zahra mengantar Reyhan hingga masuk kedalam mobil. Ia baru masuk ke dalam rumah setelah mobil Reyhan sudah tak terlihat lagi.


****


Reyhan tiba di kantor, para pegawai memberi hormat padanya. Perusahaan kecil bernama PT. PRIMA KARYA SEJAHTERA yang ia rintis kini akan menjadi prioritasnya untuk di kembangkan.


Hari itu hari yang melelahkan. Apalagi dalam rapat ia mendapat laporan bahwa banyak sekali tender proyek besar yang gagal mereka menangkan. Hal itu semakin memacu adrenalin Reyhan untuk fokus memajukan perusahaan.


Selesai rapat ia bersama asistennya mengecek langsung gudang peralatan dan bahan pembangunan. Disana ia juga mendapat laporan dari petugas gudang bahwa banyak peralatan yang harus di ganti dan di perbaiki.


Ternyata Reyhan sedang mendapati perusahaannya sedang tidak baik-baik saja. Ia harus segera mendapatkan tambahan modal usaha. Ia harus berfikir untuk menambah tenaga ahli, agar dapat memajukan perusahaan. Ia bertekad untuk mendapatkan harus mendapatkan tender besar.


Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, ia sampai lupa menghubungi Zahra. Ia segera menghubungi istrinya itu.


" Assalamu'alaikum, sayang,"


"*Wa'alaikimussalam Mas,"


" Maaf saya telat pulangnya, mau pesan apa?"


" Tidak apa-apa Mas, pesan hatimu saja bawa pulang kerumah,"


Percakapan singkat itu membuat suasana hati Reyhan menjadi sejuk di saat terjebak kemacetan.


Setelah hampir satu jam terjebak macet, akhirnya Reyhanpun tiba di rumah. Zahra berlari menuruni anak tangga mendengar mobil suaminya datang. Bu Maryampun sampai memperingatkannya untuk hati-hati menuruni anak tangga, " Hati-hati Zahra! kamu masih saja bertingkah seperti anak kecil,"


Zahra hanya tersenyum menanggapi ke khawatiran ibunya itu. Zahra membuka pintu dengan senyuman manisnya, berlari menghambur pada suaminya, " Aku kangen," ucapnya manja.


Reyhan mengecup kening Zahra, lalu menggandengnya masuk kedalam rumah. Ia menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tua Zahra yang tengah duduk bersantai di ruang tamu.


Selesai sholat maghrib semua keluarga berkumpul di meja makan. Rutinitas wajib yang ia jalani selama tinggal bersama keluarga Zahra. Kini Reyhan mulai merasa nyaman tinggal bersama keluarga istrinya itu. Rasanya kehadiran keluarga lengkap Zahra telah mengisi kekosongannya selama ini.


Selesai makan mereka berbincang-bincang sekedar bertanya aktivitas Reyhan di kantornya. Reyhanpun berkesempatan berdiskusi dengan Zahra dan keluarganya tentang keinginannya mengajak pindah Zahra kerumah baru yang lebih dekat dengan kantornya.


Kedua orang tua Zahrapun terpaksa merelakan putrinya bila harus tinggal di Kota Malang, apalagi mereka bisa kapan saja menjenguk mereka. Begitu juga Reyhan berjanji bila hari Sabtu dan Minggu akan menginap di rumah orang tuanya itu.


Setelah makan malam Reyhan meminta izin untuk mengajak Zahra ke Kota Malang menemui Vino karena ada urusan bisnis, sekalian mereka akan melihat rumah baru milik Reyhan. Ia juga berpamitan mungkin akan menginap di sana.


Reyhan mengemudi dengan hati-hati melintasi jalan berkelok tanjakan dan turunan. Zahra melihat wajah Reyhan yang terlihat lelah dan banyak beban, ia pun bertanya pada suaminya, " Kamu terlihat letih dan banyak pikiran Mas, kenapa tidak besok saja menemui Vino. Apa ada masalah di kantor?"


" Tidak sayang, mungkin mulai sekarang aku harus lebih bekerja keras memajukan perusahaan saja," jawab Reyhan. Ia berusaha tidak membuat istrinya ikut terbebani dengan masalah perusahaan.

__ADS_1


" Ada urusan apa Mas menemui Vino?"


" Saya mau ngajak dia untuk investasi di perusahaan,"


" Memang Vino punya banyak uang?" tanya Zahra.


"Ha ha ha, rupanya kamu belum begitu mengenal Vino. Meskipun anaknya terlihat santai, slengehan, tapi uangnya banyak."


" Saya kira dia anak mami yang manja," ujar Zahra.


"Nanti aku tunjukkan usahanya, kita nanti melewatinya,"


Setelah memasuki kota Malang, Reyhan menunjukkan sebuah show room mobil milik Vino, " Itu milik vino."


Setelah itu ia juga menujukkan dealer sepeda motor dan juga bengkel milik adiknya itu.


" Kaya juga Vino ternyata," ujar Zahra.


Sekitar satu jam perjalan akhirnya mereka sampai juga di cafe D'Amor. Rupanya Vino sudah menunggu kedatangan mereka.


Akhirnya Zahra menginjakkan kaki di cafe setelah sekian lama. Ia memandang Reyhan, kenangan masa lalu bersama Reyhan membuatnya senyum-senyum sendiri.


" Kenapa?" tanya Reyhan.


" Enggak, cuma keinget masa lalu saja," jawab Zahra dengan cengar-cengir.


Reyhanpun tersenyum lalu menggandeng tangan istrinya itu menuju ruangan Vino. Pegawai menyapa mereka berdua. Kebanyakan masih pegawai yang lama jadi mereka sudah mengenali siapa yang datang itu.


Vino melihat senyum Zahra, membuatnya ikut tersenyum, namun ketika melihat tangan Reyhan menggandengnya, senyum itupun padam. Ia sadar tak seharusnya merindukan Zahra, rindu terlarang sudah baginya.


" Gak nyangka ternyata kamu keren juga sekarang, pekerja keras juga, aku kira selama ini kamu anak mami yang manja,"


" Baru tahu kan, nyesel kamu nolak aku,ha ha ha,"


" Week,, apaan sih, cepat nikah sana apa aku cariin?" goda Zahra.


" Kalo Nabila sih mau aku," jawab Vino.


" Kamu suka? tapi diakan masih kecil, lagian apa dia mau sama kamu, diakan anak pesantren," jawab Zahra.


" Belum-belum bikin down hati aku saja Zah," ujar Vino yang berubah masam wajahnya.


Reyhan dan Zahra berpamitan untuk menuju rumah barunya.


Beberapa menit ia sudah sampai di perumahan elit Kota Malang. Sebuah rumah berpagar tinggi menjulang nampak mewah. Seorang satpam membukakan pintu gerbang dan memberi salam.


Reyhan turun dari mobil membukakan pintu untuk Zahra. Zahra turunpun dari mobil, matanya mengendar kesegala penjuru.


" Ini rumah apa istana?" tanya Zahra


" Istana kita berdua sayang," seraya menggandeng Zahra masuk kedalam rumah. Seorang ART menyapa mereka,

__ADS_1


" Selamat datang Pak Reyhan dan Bu Zahra, kamar sudah saya siapkan pak,"


" Trimakasih Bi," jawab Reyhan.


Reyhan mengajak Zahra menuju kamar utama, kamar mereka berdua. Reyhan sengaja mendesain kamarnya lebih luas dari kamar yang lain.


Zahrapun di buat terpukau oleh kemewahan kamar mereka itu.


" Kenapa? kamu senang? kamu bisa lari-larian disini, main petak umpet juga bisa," ujar Reyhan seraya memeluk Zahra dari belakang."


Zahra masih tidak bisa berkata-kata, ia hanya tersenyum.


Zahra menuju lemari pendingin berharap menemukan sesuatu untuk di minum.


Setelah membuka lemari pendingin ia melihat beraneka minuman disana.


" Kamu mau yang hangat, telephon saja, biar Bi Siti mengantar kesini," ucap Reyhan.


" Tidak usah Mas, ini saja, Mas mau minum?"


" Air putih saja," jawab Reyhan.


Zahrapun menyodorkan sebotol air mineral pada suaminya itu. Selesai minum Reyhan melepas kemejanya dan hanya menggunakan kaos pendek dan celana pendek.


" Ganti baju sana! coba lihat di lemari semoga cocok," pinta Reyhan seraya menunjuk kearah lemari besar di dekat kamar mandi dalam.


Zahra membuka lemari lalu berkata dengan keras karena jarak ranjang dengan lemari cukup jauh, " Mas kok banyak baju disini? bajunya siapa?"


" Ya baju kamu lah sayang,"


" Kok bisa, kamu yang nyiapin ini semua?" tanya Zahra takjub.


" Mama yang nyiapin," jawab Reyhan yang sedang rebahan di ranjang seraya menyalakan TV.


Zahra pun kekamar mandi untuk membersihkan diri dan ganti baju. Baju tidur berenda berwarna merah maroon jadi pilihannya. Sebenarnya tidak ada pilihan lagi, tidak ada piyama yang tertutup, semua model baju tidurnya sama, berenda, transparan, dan tak berkancing.


Zahra berjalan menuju kearah suaminya dengan malu-malu. Membuat Reyhan bertanya-tanya," Kenapa?"


" Malu,"


" Apa?! malu? setelah kamu sudah berani memperkosa aku, waktu itu baru saja tiba dari Bali, kamu bilang malu?!" ujar Reyhan tersenyum genit.


Zahra segera menghambur kearah suaminya dan membungkam mulut Reyhan dengan kedua tanganya," Ih jangan keras-keras nanti ada yang dengar!"


" Sekarang kamu pakai baju sexi gini mau menggoda aku lagi ya?" tanya Reyhan.


" Siapa yang mau menggoda, gak ada pilihan lain semuanya sama seperti ini," jawab Zahra.


" Wah mama tahu banget kesukaan anaknya "


" Ah, Mas Reyhan," ujar Zahra manyun.

__ADS_1


Reyhan mematikan TV, lalu menghampiri Zahra yang bersembunyi di balik selimut tebal.


Selanjutnya terserah mereka berdua, kan sudah mendapat cap HALAL dari KUA. he he he.


__ADS_2