Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Surat Kaleng


__ADS_3

Semakin hari perusahaan milik Reyhan semakin berkembang pesat. Banyak proyek besar dapat ia menangkan. Penambahan tenaga ahli terus di lakukan. Salah satu faktor kemajuan perusahaan itu berkembang yaitu karena kecerdasan Novan.


Reyhan mulai mengakui kehebatan Novan. Ia adalah seorang arsitek yang handal. Pemikirannya selalu brilian. Ia juga seorang negosiator yang hebat, yang selalu dapat membantunya memenangkan tender besar.


Hubungan Reyhan dan Zahra semakin hari semakin harmonis. Namun tetap saja masih menyembunyikan identitasnya sebagai istri pemilik perusahaan. Ia juga sangat membantu perusahaan dengan kecerdasannya. Ia juga membawa aura yang baik untuk Reyhan dikala ia penat dalam kesibukannya.


Kebahagiaan mereka belum lengkap tanpa kehadiran buah hati. Namun mereja tetap sabar menantikan anugrah terindah buah cinta mereka. Kebahagian dan keharmonisan mereka membuat iri orang-orang yang telah tersakiti karena cinta mereka.


Siang itu Reyhan tengah berada di ruangannya, suara dering ponsel miliknya menghentikan aktivitasnya. Ia pun mengangkat telephon dan bicara dengan seseorang di ujung telephon.


" Assalamu'alaikum, Mas Reyhan. Bu Fatma jatuh pingsan, sekarang di bawa Mas Vino kerumah sakit," ujar Bi Ijah, ART Bu Fatma.


" Trmakasih, Bi Ijah," jawab Reyhan.


Setelah berbicara dengan Jodi, iapun bergegas menemui Zahra di ruangannya.


" Zahra cepat!" Reyhan memangil dengan nyaring, membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh kearahnya.


Zahrapun berjalan dengan tergesa-gesa mengampiri Reyhan yang terlihat panik.


" Ada apa Mas?" tanya Zahra pelan.


" Mama masuk Rumah Sakit,"


Merekapun berjalan tergesa-gesa menuju mobil mereka yang ada di basement.


Reyhan mengemudi kecepatan tinggi. Tak lama merekapun sudah di Rumah Sakit tempat biasanya di rawat jika sakit.


Reyhan menghubungi Vino, bertanya ruangan Mamanya di rawat. Setelah itu mereka bergegas menuju ruangan tempat Mamanya di rawat.


Reyhan dan Zahra menghampiri Mamanya yang tergolek lemas dengan selang infus di tangannya. Ia masih bisa tersenyum menatap anak dan menantunya hadir di hadapannya meskipun tubuhnya masih lemas.


Setelah mencium pipi Mamanya Reyhan menghampiri Vino yang berdiri di samping Mamanya,


" Apa yang terjadi Vino?"


" Masih di observasi oleh dokter, tapi tekanan darah Mama tinggi " jawab Vino.


Zahra membelai lembut dan menenangkannya" Mama istirahat ya, biar cepat pulih, tenangkan fikiran Mama,"


Ucapan Zahra di jawab dengan senyuman oleh Ibu mertuanya itu.


Reyhan dan Zahra setiap hari bergantian menjaga Bu Fatma di rumah sakit. Namun suatu hari Reyhan harus keluar kota menemui koleganya membahas proyek besar yang akan perusahaan kerjakan.


Reyhanpun meninggalkan Zahra dan Mamanya itu. Sebelumnya ia sudah berkonsultasi dengan dokter akan kondisi ibunya. Dokterpun sudah menjelaskan bahwa kondisi mamanya sudah berangsur membaik.


Keluarga di sarankan agar menjaga Bu Fatma dengan baik. Sebisa mungkin dapat mengontrol emosi, menjaga pola makan dan harus cukup istirahat. Karena tekanan darah tingginya dapat memperburuk kinerja jantungnya.


Pagi itu sebelum berangkat menuju bandara, Reyhan memeluk erat Zahra dan berkata, " Sayang baik-baik di rumah ya, titip mama juga ya,"


" Iya sayang, kamu juga jaga kesehatan, jaga hatimu untuk ku juga," jawab Zahra.


" Aku akan selalu merindukanmu," ucap Reyhan.


" Aku juga," balas Zahra.


Mereka begitu berat melepas satu sama lain. Maklum lah baru kali ini mereka akan berpisah sejak pernikahan mereka. Pelukan erat mereka berdua rasanya tak ingin terlepaskan.


Suara klakson berbunyi berulang-ulang membuat mereka terpaksa melepas pelukannya. Entah berapa lama Jodi sudah berada di halaman rumah Reyhan.


Reyhanpun akhirnya berangkat bersama dengan Jodi menuju Bandara. Jakarta adalah tujuan mereka. Meskipun proyek yang akan mereka kerjakan berada di Surabaya, namun rekan bisnisnya meminta Reyhan ke Jakarta untuk membicarakan proyek tersebut, karena ia hanya punya waktu beberapa hari di Jakarta dan akan segera keluar negeri mengurus bisnisnya yang lain.


Seperti biasa Zahra masih datang ke kantor. Rekan-rekan seruangannya menanyakan perihal kejadian kemaren, dimana Reyhan memanggilnya dengan tergesa-gesa. Ia sampai lupa memikirkan alasan yang tepat. Ia pun memilih menghindari mereka.


Novan yang juga menyaksikan kejadian itupun bertanya kepada Zahra," Kenapa kemaren Pak Reyhan memanggilmu dengan tergesa-gesa?"


Zahra kebingungan harus menjawab apa. Ia tidak pandai dalam hal berbohong.


" Biasa Pak Reyhan memintaku memintaku mengambil makan siang,"


" Kan ada OB ada asistennya juga ada?"

__ADS_1


" Sudahlah mungkin orangnya mau ngerjain aku,"


" Kamu harus hati-hati dengan Dia!"


" Kenapa?"


" Dulu aku pernah melihat Pak Reyhan menyembunyikan wanita di ruangannya,"


" Apa!? kapan itu?" Zahra terkejut, ia memegangi dada, rasanya jantungnya mau copot.


" Waktu itu aku memperlihatkan rancanganku kepada Pak Reyhan, bibir dan pipinya bekas lipstik wanita, Dia segera menhapusnya ketika aku terdiam dan mengamatinya," ujar Novan lirih agar apa yamg di bicarakannya tidak terdengar orang lain.


" Mungkin lipstik istrinya," ujar Zahra membela suaminya.


" Masak kalau istrinya sembunyi di bawah meja,"


" Apa? kamu melihatnya?"


" Tidak begitu jelas, karena hanya terlihat sedikit pakaiannya saja, karena terhalang oleh meja.


Zahrapun bernafas lega, Reyhan tidak benar-benar selingkuh. Ternyata Novan membicarakan dirinya waktu itu. Ia tertawa dalam hati, ternyata ada yang melihatnya waktu itu.


" Sudahlah anggap saja tidak pernah lihat. Sudah sana ayo kerja lagi!" ucap Zahra mengusir Novan.


Zahra masih bekerja setiap hari.ketika pulang bekerja ia akan menggantikan ART Bu Fatma untuk menjaga mama mertuanya. Vinopun kadang ikut menjaga Mamanya.


Meskipun Vino masih mencintai Zahra tak lantas ia memanfaatkan ketidak beradaan Reyhan, ia mencoba menjaga jarak dengan Zahra.


Reyhan selalu menghubungi Zahra ketika ia ada waktu. Percakapan singkat, hanya bertanya kabar mampu menenangkan jiwa keduanya, namun tak menghilangkan rindu yang menggebu di hati mereka.


Hari itu hari ketiga setelah kepergian Reyhan, biasanya pagi, siang dan malam hari ia selalu menghubungi Zahra. Kali ini tidak ada kabar sama sekali dari Reyhan.


Zahra berjalan mondar-mandir di depan kamar rawat inap tempat Bu Fatma di rawat. Ponsel tak pernah lepas dari genggamannya. Ia berulangkali menghubungi Reyhan namun tak ada jawaban. Perasaan bingung, penasaran, rasa khawatir bercampur jadi satu.


Vino yang sedang berada di dalam kamarpun melihat Zahra yang kebingungan. Ia menghampiri Zahra dan bertanya, " Ada apa Zahra?"


" Tidak ada apa-apa Vino?" jawab Zahra.


" Kamu tidak bisa membohongi aku," ucap Vino.


" Jangan khawatir, mungkin dia sedang sibuk," hibur Vino.


" Semoga saja," balas Zahra.


" Lucu ya manusia itu?"


" Kenapa?"


" Dulu kamu membencinya sekarang kamu sangat mencintainya,"


" Apa menurutmu itu lucu?"


Vino hanya tersenyum dan mendengus


" Hem!"


" Senang sekali melihatmu sudah berubah, tidak playboy lagi, aku berharap kamu menemukan cinta sejatimu Vino,"


" Ya,,, rasanya tak mudah, tak mudah melupakan sesorang yang telah merubah hidupku," ujar Vino seraya bersandar di tembok dengan memdongakkan kepala.


" Vino aku masuk dulu, kasian Mama sendirian," Zahra berusaha menghindari percakapan lebih lanjut, karena ia tahu arah pembicaraan itu ialah dirinya. Zahrapun bergegas masuk mrnemani Bu Fatma. Sementara Vino duduk di kursi memejamkan mata. Hatinya masih berusaha menerima keadaannya.


****


Hari yang di tunggupun tiba, Reyhan pulang kerumah. Zahra sengaja pulang lebih awal karena ingin menyambut suaminya. Sosok ia tunggupun berada di hadapannya Zahra memeluk suaminya itu, " Mas kangen!"


" Aku juga sayang,"


" Bohong! kenapa kemarin seharian tidak memberi kabar? Aku khawatir mas," ujar Zahra merajuk.


" Maaf, sibuk sekali. Sampai aku lupa menge cash HP ku "

__ADS_1


Reyhan yang melihat istrinya masih merajuk, iapun segera mengangkat Zahra menuju kamar tidur. Zahrapun tidak bisa berlama-lama merajuk. Ia takhluk dengan rayuan suaminya.


Keesokan harinya adalah hari minggu, Zahra dan Reyhan berencana menemani Bu Fatma di rumah sakit. Seorang ART mengetuk pintu kamar Zahra.


Tok! tok! tok!


" Mbak ada paketan," ucap Bi Ira.


Zahra membuka pintu kamarnya, dan bertanya "Dari siapa Bi?"


" Tidak ada Mbak, tapi itu tertera untuk anda."


Bi Ira kembali mengerjakan kegiatan bersih-bersihnya. Zahra menutup pintu lalu berjalan menuju tempat tidurnya. Ia membolak-balik amplop coklat yang tidak bertuan itu. Sementara Reyhan masih mandi setelah berolah raga joging.


Zahra sangat penasaran apa isi amplop coklat itu. Ia membuka dengan merobek ujung atas amplop lalu mengeluarkan isinya.


Tiba- tiba ia bersimpuh lemas di lantai, memandangi satu persatu foto-foto yang ia pegang.


Ia tak sanggup melihat keseluruhan foto. Lembaran foto-foto itupun jatuh dari genggaman tangannya, dan berserakan di lantai.


Zahra merasakan sesak di dadanya, air matanyapun jatuh tak tertahankan. Ia masih duduk bersimpuh ketika Reyhan keluar kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Reyhan menatap heran istrinya, iapun bertanya," Zahra ada apa?"


Zahra diam membisu tatapannya kosong, air mata semakin mengalir deras. Reyhan mendekati Zahra. Ia pun memungut lembar demi lembar foto yang berserakan di lantai itu.


Matanya nanar penuh amarah ia pun meremas foto dirinya dan Vanessa yang tengah tidur di ranjang dengan bertelanjang dada. Sebagian tubuhnya tertutup selimut tebal berwarna putih. Dalam foto Reyhan terlihat terpejam, dan terlihat Vanessa yang mencumbui dirinya.


Reyhan memegang pundak istrinya yang membisu " Zahra aku tidak tahu foto ini, aku tidak melakukan apa-apa, percayalah padaku,"


Zahra berusaha berdiri dengan sekuat tenaga, hatinya hancur hingga kakinya gemetar tak sanggup melihat apa yang ia lihat.


" Tapi kamu tahu wanita dalam foto itu. Kapan kalian melakukan perbuatan hina itu? Apa kamu kemarin Ke Jakarta untuk menemuinya?" ucap Zahra dengan menekan kata-katanya berusa menaham agar tidak berteriak seraya menatap tajam mata Reyhan.


" Aku bersumpah Zahra, aku kemarin tidak menemuinya," ucap Reyhan dengan memegang pundak Zahra, namun Zahra memalingkan muka.


" Semua bukti sudah ada, kamu tidak bisa mengelak, aku sangat kecewa padamu mas," ujar Zahra seraya pergi meninggalkan Reyhan.


" Tunggu Zahra, berhenti," teriak Reyhan ketika Zahra sampai di pintu depan rumahnya.


Zahrapun berhenti, namun matanya enggan menatap Reyhan yang terus memohon agar jangan pergi.


" Zahra aku mohon kita selesaikan baik-baik jangan pergi."


Zahra tak menjawab, ia pun melangkah menuju mobilnya.


" Zahra, kalau kamu pergi, bagaimana jika mama menanyakanmu? apa kamu mau dia meninggal karena shock memikirkan kejadian ini?"


Zahrapun berbalik melihat kearah Reyhan dan berkata," Kalau kamu memikirkan perasaan mama, seharusnya kamu berfikir ulang sebelum melakukan perbutan bejatmu itu mas,"


" Sudah aku bilang aku tidak melakukannya," teriak Reyhan.


Zahra tidak memperdulikan ucapan Reyhan. Ia pun pergi mengendarai mobilnya tanpa arah. Di dalam mobil ia menangis sekencang-kencangnya. Mobil terus melaju berputar-putar tanpa arah. Ia tak mungkin pulang ke rumah orang tuanya karena tidak ingin kedua orang tuanya ikut bersedih.


Setelah berputar-putar sampailah ia di depan cafe D' Amor yang di kelola Vino. Ia melihat Vino bercakap-cakap dengan seseorang di serambi cafe. Zahra ingin turun menemuinya namun ia berfikir ulang. Ia tak ingin melibatkan Vino lagi, terlalu sering ia merepotkan sahabatnya itu.


Iapun kembali menyalakan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan cafe. Sementara itu Vino samar-samar telah melihat Zahra duduk di kemudi. Ia hendak menghampiri namun keburu ia pergi. Rasa penasaranpun mengganngu pikirannya.


Zahra masih melaju hingga berhenti di rumah sakit, ia pun memikirkam Bu Fatma. Ia tidak mau menjadi penyebab kesedihan apalagi penyebab kematian mertuanya itu. Zahra sudah menyayangi Bu Fatma seperti ibunya sendiri.


Zahra kembali pulang kerumah. Ia membuka kamarnya, tak di sangka Reyhan masih di rumah, belum berangkat ke rumah sakit. Reyhan terduduk di sisi tempat tidurnya, tangannya memegang kepalanya. Ia gelisah harus menjelaskan apa pada Zahra.


Melihat kedatangan istrinya, ia berdiri dan berusaha memeluknya, " Zahra maafkan aku, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tak bisa hidup tanpamu,"


" Lepaskan aku! Jangan menyentuhku. Rasanya aku jijik saat membayangkanmu telah menyentuh wanita lain selain aku," ucap Zahra, kali ini ia berteriak meluapkan amarahnya.


" Zahra," ucap Reyhan lirih. Baru kali ini ia melihat istrinya semarah itu.


" Aku kembali hanya demi mama, kalau mama sudah sembuh, ceraikan aku,"


" Tidak Zahra, tidak akan,"

__ADS_1


Mereka akhirnya duduk saling membelakangi, Reyhan mulai menata hati ingin bicara sejujurnya tentang Vanessa. Berulangkali ia menarik nafas sekuat-kuatnya. Mungkin pengakuannya akan membuat Zahra kecewa dan yang terburuk ialah tidak mendapat maaf darinya. Karena hatinya sebenarnya gamang akan peristiwa pada malam itu, ia melakukannya atau tidak.


Sedangkan Zahra berusaha menata hatinya agar bisa menerima kenyataan sepedih apapun ketika Reyhan akan membuat pengakuan.


__ADS_2