
Zahra tiba di cafe segera memarkirkan motor maticnya di parkiran. Ia melangkah dengan senyum lega. Ia berfikir akan meminta imbalan berapa kepada Reyhan untuk tugasnya membujuk Ibunya itu.
Ponsel Zahra berbunyi, ia segera membuka dan mendekatkan pada telinga kirinya.
" Cepat naik keatas!" suara Reyhan di ujung telephon.
Sebelum menjawab, sambungan sudah terputus, Zahra mendongak ke atas, ternyata Reyhan melihatnya dari balkon. Zahra bergegas menaiki anak tangga, ia melihat sekeliling ruang atas yang baru pertama ia lihat. Nampak dua kamar yang cukup besar.
Reyhan masih menatap keluar, ketika Zahra tiba. Zahra berdiri di sampingnya menoleh ke muka Zahra dengan sangat dekat
" Kamu apakan ibu saya gadis nakal," tanya Reyhan seraya menekan jarinya ke dahi Zahra.
"Nggak saya apa-apain mas bos, fotonya sudah saya kirim kan? Ibunya mas bos makan," jawab Zahra seraya mundur menjauhi Reyhan.
"Memang saya tidak tahu, kamu nakut-nakutin ibu saya," tegas Reyhan seraya mengikuti Zahra yang berjalan mundur.
Zahrapun berbalik dan berlari dengan tertawa kecil, Reyhan mencoba mengejar namun tidak berhasil, ia pun jadi ikut tertawa.
***
Jam 10 malam setelah lelah bekerja Zahra hendak pulang, lagi-lagi ponselnya berdering.
Ia membaca pesan.
" Temani aku malam ini"
Zahrapun berguman dalam hatinya,
Apa-apan mas bos ini, awas kalau macam-macam, belum tahu aku pegang sabuk hitam pencak silat.
Semua karyawan sudah pulang, menyisakan dirinya dan satpam. Zahra menemui Reyhan di ruangannya.
__ADS_1
" Tugas kamu, menemani saya kalau saya lembur di sini."
"Hemm, baiklah, asal bapak tidak berbuat macam-macam kepada saya."
Zahra mengambil kertas kosong di atas meja Reyhan, sementara Reyhan masih asyik dengan laptopnya.
Zahra menempelkan di dinding dengan perekat, ia mulai menulis dan membaca keras-keras.
" Membujuk makan 500 ribu, menemani lembur 500 ribu"
" Hem dasar licik, buatkan saya kopi"
"Membuatkan kopi 500ribu," lanjut Zahra menulis dan membacakannya.
"Hey gadis licik, kopi kopi saya, mengapa semahal itu?"
"Oke, ganti 100 ribu"
"50"
"Hem"
" Terakhir 10 ribu" ujar Zahra kesal. Reyhan hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Zahra melangkahkan kaki menuju dapur, menyalakan lampu mencari-cari kopi dan gula. Ia kebingungan karena tugasnya selama ini hanya di depan, akhirnya ia menemukannya.
Klap!!!
"Aaaaaaa" Zahra histeris. Listrik padam, gelap gulita.
Reyhan segera mengeluarkan ponsel menyalakan senter.
__ADS_1
"Zahra,,,Zahra" teriak Reyhan menuju dapur.
Tiba-tiba Zahra menghambur memeluk Reyhan. Zahra menangis.
"Mas, takut mas" Memeluk erat Reyhan dengan erat. Reyhan salah tingkah. ia membalas memeluk Zahra. Ada desiran hebat di hatinya, jantungnya berdebar kencang.
" Jangan takut Zahra, aku akan menyuruh satpam menyalakan gensetnya," jar Reyhan menenangkannya.
" Aaaa,, aku iku," teriak Zahra yang ketakutan. Sejak kecil Zahra takut gelap.
Sambil menggandeng tangan Zahra, Reyhan keluar ruangan mencari satpam untuk menyalakan genset listrik.
Lampu dapat menyala kembali. Reyhan mengantar pulang ke kos-kos. Sebelumnya Zahra menolak.
"Ayo saya antar pulang," pinta Reyhan
" Tidak usah mas, saya bawa motor"
"Motornya biar disini"
Zahra menyerah dan mengikuti permintaan Reyhan. Ia masuk kedalam mobil duduk di belakang.
" Memang aku supir kamu"
" Bapak sendiri yang minta."
"Pindah ke depan!" gertak Reyhan.
"Iya bos"
Sesampainya di depan gerbang kos, Zahra turun dan mengucapkan trimakasih. Dari kejauhan terlihat Keyla dan Nella duduk di teras. Dalam hati Zahra bergumam,
__ADS_1
Aduh bakal di interogasi deh aku.